Sarung Samarinda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Aktivitas penenunan Sarung Samarinda

Sarung Samarinda atau Tajong Samarinda adalah jenis kain tenunan tradisional yang bisa didapatkan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sarung ini ditenun dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang disebut Gedokan. Produk yang dihasilkan untuk satu buah sarung memakan waktu 15 hari.[1] Ciri khas Sarung Samarinda adalah bahan bakunya yang menggunakan sutera yang khusus didatangkan dari Cina.[2] Sebelum ditenun, bahan baku sutera masih harus menjalani beberapa proses agar kuat saat dipintal.[2]

Sehelai sarung yang dihasilkan pengrajin biasanya memiliki lebar 80 centimeter dan panjang 2 meter.[2] Dengan ukuran sarung sebesar itu pasti ada jahitan sambungan di bagian tengahnya yang dibuat dengan menggunakan tangan.[2] Sarung asli tidak pernah disambung dengan menggunakan mesin jahit. Inilah salah satu cara untuk membedakan kain yang asli dari yang palsu atau buatan mesin pabrik.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kerajinan tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi yang berdiam di kawasan Tanah Rendah (sekarang bernama Samarinda Seberang) pada tahun 1668.[3] Meskipun Samarinda berada di Kalimantan Timur, rupanya kebudayaan menenun sarung di Samarinda tersebut dibawa oleh masyarakat Bugis yang mencari suaka di Kerajaan Kutai Kartanegara akibat perjanjian Bungaja antara Kerajaan Gowa dan Belanda sekitar abad ke-16.[4] Orang Bugis pendatang inilah yang mengembangkan corak asli tenun Bugis menjadi tenun Samarinda.[4]

Alat Tenun[sunting | sunting sumber]

Seorang perempuan mengenakan sarung samarinda

Alat tenun tradisional Sarung Samarinda secara keseluruhan terbuat dari kayu, tanpa ada yang bermesin.[5] Semua peralatan tersebut dibuat secara sederhana, dan seluruh proses menenun dikerjakan oleh tenaga manusia, dari memberi warna benang, memintal, menenun sampai mencuci, tidak ada yang dilakukan oleh mesin. secara keseluruhan peralatan tenun sarung samarinda terbagi atas 4 bagian [5] :

  1. Unuseng (alat pemintal)
  2. Saureng (alat penyusun corak)
  3. Apparising (alat tempat memasukkan benang)
  4. Pemalu (alat tempat penggulung benang)

Bahan[sunting | sunting sumber]

Bahan yang digunakan untuk membuatan Sarung Tenun Samarinda adalah[5] :

  1. Benang Sutra alam atau Warm Silk
  2. Benang Sutra Import yang disebut Spoon silk
  3. Bahan pewarna yang bermacam-macam warna Import

pada umumnya bahan-bahan tersebut diimport dari Jerman dan Jepang.

Corak dan Warna[sunting | sunting sumber]

Warna yang dominan adalah warna-warna tua dan kontras. warna-warna yang dominan adalah: hitam, putih, merah, ungu, biru laut, dan hijau. sedangkan warna lain hampir tidak pernah tampil.[5] Corak yang dibuat dalam Sarung Samarinda sangatlah beragam, serta memiliki makna dan nilai filosofi masing-masing, berikut beberapa corak sarung Samarinda yang umum di tenun[5]:

Lebba Suasa[sunting | sunting sumber]

Corak labba suasa adalah corak yang pertama kali dibuat oleh para pengerajin tenun Samarinda.[5] Namun kini corak lebba suasa tidak dikeluarkan lagi, hal tersebut dikarenakan corak lebba suasa jarang yang menggemari dipasaran, didaerah asalnyapun (Sulawesi Selatan) sorak ini jarang lagi terlihat. corak labba suasa terdiri dari 2 warna, yaitu warna hitam dan putih. pada tepi atau sisi sarung diberi corak warna merah.[5]

Kamummu (Hatta)[sunting | sunting sumber]

Corak Kamummu (Hatta) yaitu warna biru yang dikombinasikan dengan warna hitam.[5] corak kamummu disebut juga corak Hatta, penamaan corak Hatta ini tidak terlepas dari faktor sejarah. Dimana pada saat Dr. Mohammad Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pada saat itu berkunjung ke Samarinda, dan oleh Koperasi RUWI (Rukun Wanita Indonesia) Cabang Samarinda menyerahkan sarung samarinda bercorak Kamummu kepada Moh. Hatta. sejak saat itulah corak Kamummu disebut juga corak Hatta.[5]

Anyaman Palupuh (Tabba)[sunting | sunting sumber]

Corak anyaman palupuh disebut juga corak tabba. corak ini terdiri dari 2 macam: yaitu tabba biasa dan tabba galak. disebut anyaman palupuh karena corak ini menyerupai bambu. Tabba atau palupuh artinya bambu.[5]

Assepulu Bolong[sunting | sunting sumber]

Pulu atau pulut artinya ketan. bolong artinya hitam. Assepulu bolong artinya Ketan Hitam. Disebut demikian karena corak ini warnanya hitam, sehitam beras pulut hitam. Warna hitam yang bersih dan bercahaya indah.[5]

Rawa-rawa Masak[sunting | sunting sumber]

Rawa-rawa yaitu nama sejenis buah jambu. Rawa-rawa yang masak berwarna merah muda atau lembayung. Dinamakan demikian karena corak ini berwarna lembayung seperti warna rawa-rawa masak.[5]

Coka Manippi[sunting | sunting sumber]

Corak ini mempunyai latar belakang cerita tentang putri bangsawan Kutai yang suatu hari bermimpi masuk kedalam surga loka.[5] di dalam mimpi tersebut sang putri melihat warna-wani yang sangat menawan hatinya, dan ketika terbangun dari mimpinya sang putri sangat gundah dan merindukan warna yang ada dalam mimpi tersebut. Kemudian sang putri memanggil penenun untuk menenun sarung dengan warna-wani yang ada dalam mimpinya.[5] Corak tersebut selanjutnya disebut Coka Manippi yang artinya ditaklukkan oleh mimpi. Menurut riwayatnya bahwa pada zamanya dulu corak Coka Manippi dilarang dipakai oleh masyarakat biasa. Corak ini khusus untuk dipakai oleh keluarga bangsawan Kutai.[5]

Billa Takkajo[sunting | sunting sumber]

Corak ini dalam bahasa Indonesia artinya cahaya kilat. Billa Takkajo artinya kilat memintas. Dengan dominan warna merah, biru dengan garis putih.[5]

Garanso[sunting | sunting sumber]

Corak ini hanya terdiri dari 2 warna yaitu warna hitam dan biru tua. Garanso artinya garang atau galak. Paduan warna hitam biru merupakan warna yang galak.[5]

Burica[sunting | sunting sumber]

Corak Burica artinya merica atau sahang. Corak ini seperti butir-butir sahang, bunga bulat-bulat kecil sebesar sahang, oleh sebab itu disebut corak burica.[5]

Siparape[sunting | sunting sumber]

Siparape artinya merapat yang artinya merapat. Corak ini sengaja dibuat untuk penganting baru. Kedua pengantin saling merapat dan berkasih mesra dalam masa-masa bulan madu mereka.[5]

Kudara[sunting | sunting sumber]

Sama dengan corak hatta, corak ini adalah corak yang awalnya adalah sebuah corak sarung yang dihadiahkan kepada Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Samarinda. Kudara artinya negara. Dinamakan demikian karena corak ini adalah corak yang diberikan kepada Negara.[5]

Sabbi[sunting | sunting sumber]

Corak ini merupakan corak kreasi baru. corak sabbi dibuat untuk dipakai untuk wanita. Untuk kelengkapannya ditambahkan dengan selendang dengan corak yang sama.[5]

Pucuk[sunting | sunting sumber]

Sama dengan corak sabbi. corak pucuk adalah hasil kreasi baru dan dibuat khusus untuk wanita lengkap dengan selendangnya.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kaltim Post - Hidup dari Warisan Budaya. Diakses pada 13 Februari 2011
  2. ^ a b c d e IndonesiaKaya.com - Sarung Samarinda. Diakses pada 14 Maret 2015
  3. ^ Bongkar - Pudarnya Sarung Samarinda Asli
  4. ^ a b Rappang.Com - Lipa Sa'bbe (Sarung Bugis). Diakses pada 14 Maret 2015
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v Semibaru (1991-1992).Sarung Samarinda.Tenggarong:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hal.10