Sangiang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Sangiang adalah roh-roh leluhur (manusia ilahi) selaku utusan Tuhan yang dapat diundang kehadirannya oleh seorang basie/basir (pendeta adat) dengan menggunakan mantra-mantra dalam bahasa Sangiang/bahasa Sangen (bahasa Dayak kuno) pada suatu upacara agama Kaharingan yang dilakukan suku-suku Dayak di Kalimantan. Basir (Basie) artinya banci (tetapi sebenarnya bukan pendeta waria) karena lelaki yang menjadi pendeta adat ini menggunakan sejenis busana bawahan mirip rok (bandingkan dengan bissu - pendeta waria pada suku Bugis).

Suku Ngaju[sunting | sunting sumber]

Dalam upacara kematian (Mandung) roh-roh leluhur atau Sangiang utama yang dipanggil ada dua, yaitu Sangiang Duhung Mama Tandang-Langkah Sawang Mama Bangai dan Rawing Tempon Telu. Kedua Sangiang Utusan Tuhan itu turun untuk melepaskan pali atau tabu dari pribadi atau keluarga atau desa yang melaksanakan upacara. Melepaskan pali juga untuk membebaskan orang yang mati dari kesalahan selama dia hidup. Dalam sastera suci suku Dayak Ngaju, Panaturan. Digambarkan disana, Raja Banjar yang bernama Raja Maruhum beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya yang bernama Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka berdua juga diproyeksikan sebagai sangiang (manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan juga ada masjid.

Suku Benuaq[sunting | sunting sumber]

Sangiang yang dikenal dalam budaya Dayak Benuaq yaitu Taman Rukung dan Dian Imur.

Suku Maanyan[sunting | sunting sumber]

Peristiwa langka pernah terjadi pada pertengahan abad ke-17, sewaktu Ijambe di desa Balawa. Dua buah tengkorak suami-isteri yang sedang dibakar ditempat pembakaran yang disebut Papuyan terlempat keluar. Setelah dimasukkan kembali pada nyala api hingga tujuh kali, namun tengkorak itu selalu terlempar keluar. Maka kedua tengkorak itu disimpan sebagai benda keramat dan menjadi Nanyu Saniyang adalah roh pelindung warga desa dari serangan musuh, wabah penyakit dan lain-lain. Kedua tengkorak yang menjadi Nanyu Saniyang itu dari Datu Janggot Mariang dan isteri disimpan di desa Ipo-Mea 24 km dari Tamiang Layang di Barito Timur.


Lihat pula[sunting | sunting sumber]