Sakka (Agama Buddha)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sakka (bahasa Sanskerta: शक्र Śakra; bahasa Pali: सक्क Sakka) merupakan seorang dewa yang menguasai dan memimpin Tāvatiṃsa Bhummi yang merupakan alam dari 33 dewa dalam kosmologi agama Buddha, dia juga sering disebut sebagai Sakka, raja para dewa (bahasa Pali: Sakka devānaṁ inda).

Dalam pelbagai literatur agama Buddha, dewa Sakka sering digambarkan sebagai seorang dewa yang selalu mencari keterangan mengenai moralitas kepada Sang Buddha.

drawing of Buddha in lotus position with followers in woods by stream
Lukisan dari salah satu Kuil di Laos yang menggambarkan Sang Buddha sedang melakukan Pertarakan dengan dewa Sakka di sisinya.

Karakter dan mitologi mengenai dewa Sakka dijelaskan dalam Kanon Pali, yakni pada bagian Sakka Saṁyutta dalam Saṁyutta Nikāya. Dalam Tipitaka, dewa Sakka juga diceritakan memiliki peran yang penting dalam pelbagai cerita Jataka.

Dalam Mahaparinibbana Sutta, dewa Sakka mengatakan suatu syair dalam ayat berikut yang kemudian selalu dibacakan dalam setiap ritual upacara pemakaman agama Buddha.[1]

 Teks bahasa Pali
Parinibbute bhagavati saha parinibbānā sakko devānamindo imaṁ gāthaṁ abhāsi: "Aniccā vata saṅkhārā uppādavayadhammino, Uppajjitvā nirujjhanti tesaṁ vūpasamo sukho" ti[2].

Teks bahasa Indonesia
Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini: “Segala yang berbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam, setelah timbul akan hancur dan lenyap, bahagia timbul setelah gelisah lenyap.[3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]