Sadabumi, Majenang, Cilacap

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Sadabumi
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Cilacap
Kecamatan Majenang
Kodepos 53257
Luas -
Jumlah penduduk -
Kepadatan -

Sadabumi adalah desa di kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.

Sekilas tentang Sadabumi[sunting | sunting sumber]

Desa Sadabumi adalah salah satu desa dari 17 (tujuh belas) desa di Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah Indonesia. Berada di ujung Utara Kabupaten Cilacap dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Brebes. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sadahayu dan Sepatnunggal, sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pangadegan dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Jumbarang.

Hawa sejuk di siang hari dan dingin di malam hari merupakan salah satu ciri desa ini karena letaknya yang berada di pegunungan dengan ketinggian sedang yakni sekitar mulai 300 m sampai dengan 800 m diatas permukaan laut. Panorama alamnya begitu indah, hasil perpaduan hutan hijau luas yang menutupi perbukitan yang menjulang tinggi--yang de sela-selanya muncul mata air yang mengalir jernih menuju lika-liku kali--dengan sawah tersering subur dan kebun-kebun petani yang luas menyatu membalut kaki bukit. Di kejauhan sebelah Barat Laut tampak setiap pagi dan sore kabut putih menyelimuti puncak Gunung Geni. Tanpa bantuan teropong cuaca dari desa ini dengan mata telanjang bisa menyaksikan hujan turun dari mulai awan hitam melintas menutupi sinar mentari hingga memudar berubah putih dan turun mebasahi wilayah tertentu.

Sebelum desa lain memiliki "Lapangan Bola", di tengah desa Sadabumi sudah sejak lama terhampar tanah lapang di puncak bukit yang dijadikan lokasi berolah raga dan kegiatan massal masyarakat desa dan anak-anak sekolah. Tanah Lapang itu juga sering menjadi lokasi dari ajang kompetisi sepak bola antar desa. Tidak jauh ke arah Timur berdiri kokoh Sekolah Dasar Sadabumi I, sebuah sekolah yang punya arti sejarah penting bagi pendidikan penduduk desa. Kebawah sedikit ada pertigaan jalan yang membelah perbukitan dan menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya.

Tanah subur, air melimpah, tanah pertanian yang luas dan keuletan bekerja penduduk ; menjadikan penduduk desa ini tidak pernah mengalami "paceklik". Berbagai macam hasil pertanian melimpah, ada yang dijual ke pasar selain terutama untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Pohon-pohon kayu hutan dan kayu perkebunan banyak dihasilkan, sebagian untuk keperluan perumahan dan sebagian lagi untuk menyuplai pabrik-pabrik pengolahan kayu.

Penduduk desa Sadabumi "berkarakter unik" dibanding karakter penduduk desa lainnya. Karakter unik itu bisa dilakukan berupa hal dan berakibat positif/baik bisa juga berupa hal negatif/buruk ; tergantung kepada hal apa digunakan, proses dan tujuannya. Saya tergoda untuk membahasnya di sini, tetapi sepertinya akan lebih baik jika dibahas secara tersendiri dan lebih luas pada bagian lain di tulisan selanjutnya. Dan untuk anda yang penasaran terhadap karakter itu, sebutannya adalah "Ubed Sadabumi".

Kata (tepatnya phrase) "Sadabumi" sendiri terdiri dari dua kata yaitu kata "sada" dan "bumi". Dalam Bahasa Sunda kata sada berarti "bunyi" atau "suara", dan dalam Bahasa Jawa kata "sada" berarti "lidi". Sedangkan kata "bumi" --dalam Bahasa Sunda--bisa berarti "rumah" (rumah tempat tinggal), juga bisa berarti "bumi" dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Tidak tahu pasti arti/maksud apa yang dikehendaki dengan phrase "Sadabumi" itu, akan lebih baik bila hal ini dibahas tersendiri dan dikaitkan dengan "dongeng" atau "cerita rakyat" yang dituturkan turun-temurun oleh masyarakat setempat yang konon didapat dari nenek-moyang (karuhun).

Itulah suntai kata tentang desa Sadabumi, bukan untuk membuktikan kebenaran sejarahnya dan bukan pula untuk menyatakan harapan-harapan masyarakatnya, tetapi sekedar rangsangan kepada "Orang-orang yang lebih mengerti dan menghayati perihal desa Sadabumi" untuk menuliskan pemikiran-pemikirannya--agar ada informasi yang lengkap dan akurat yang bermanfaat terhadap khususnya masyarakat Sadabumi dan umumnya untuk umat manusia (Mankind).

Tulisan ini sangat terbuka dari kritik, saran dan koreksi dari siapapun yang bersifat konstruktif, bermafaat dan menambah khazanah pemikiran. Ada satu permintaan, bila hendak koreksi atau merubah tulisan ini, maka sebaiknya anda menyimpan (backup) seperti apa adanya (sesuai aslinya) terlebih dahulu (terserah dalam bentuk/media apapun), sebab setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya.

Peninggalan Karuhun[sunting | sunting sumber]

Desa Sadabumi tidak dilepaskan dari desa-desa lain disekitarnya baik yang masuk wilayah Kabupaten Cilacap maupun yang masuk wilayah Kabupaten Berebes, diperkirakan di wilayah ini dulunya adalah ibu kota dari suatu kerajaan. Kerajaan Apa, sangat sulit menentukannya karena tidak ada petunjuk yang dapat mengarahkan ke suatu nama atau waktunya. Yang tidak bisa dibantah adalah ada beberapa peninggalan fisik dan penggunaan nama tempat yang membuktikan bahwa dahulu di wilayah ini merupakan pusat pemerintahan. Walau ini masih kesimpulan yang bersifat dugaan (hipotesa), tetapi ada beberapa petunjuk yang bisa disebutkan, antara lain :

  1. Gunung Balekambang (sebelah Utara desa Sadabumi). Kata "Bale Kambang" mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa dulu di daerah ini ada tempat persidangan/pertemuan para petinggi kerajaan yang dilakukan di atas air / bendungan. Sungai yang dibendung diperkirakan sungai Cileumueuh di dekat kampung Ciledug. "Ciledug" berasal dari dua kata, yaitu "Cai" (yang berarti Sungai atau Air) dan "ledug" (suatu keadaan tempat yang banyak meninggalkan jejak / bekas pijakan manusia atau kendaraan). Instana / Tempat Pertemuan Mengambang (Bale Kambang) ada di bendungan tersebut, dan selesai melakukan pertemuan Bale Kambang tersebut para pejabat lalu pulang melewati Ciledug menuju ke tempat pemandiannya di "Sindang Raja".
  2. Kampung Sindangraja (desa Sadabumi) diperkirakan merupakan tempat pemandian dari para pejabat pemerintahan. Di daerah ini ada mata air sangat jernih dan sejuk yang mengalir sepanjang tahun di tengah-tengah rimbunnya hutan belantara dengan debit yang cukup besar. Dari mata air dialirkan ke hilir +/- 3 km di Selatan ke Istana atau Gedung-gedung Pemerintahan yang terletak di "Kampung Siluman" sekarang.
  3. Kampung Siluman (masuk wilayah desa Sadahayu) adalah suatu nama yang "aneh" dari segi makna, karena konotasi kata siluman sendiri adalah kata yang mewakili untuk menyebut makhluk yang tidak kasat mata / ghaib (dalam kacamata keyakinan Islam dikategorikan sebagai "Bangsa Jin"). Tetapi mungkinkah daerah/kampung itu merupakan tempat kediaman para jin? Bukankah Jin itu ada di semua tempat di permukaan Bumi ini? Lalu apa istimewanya tempat itu hingga dikatakan "Kampung Siluman"? Perkiraan yang masuk akal adalah adanya indikasi untuk menghilangkan jejak tertentu atau menutupi/merahasiakan sesuatu di daerah itu. Bila diperkirakan dahulunya merupakan komplek istana / pusat pemerintahan, dan ketika akan mengalami perpindahan / dipindahkan atau mengalami keruntuhan kekuasaan--demi tujuan keamanan/melindungi sesuatu--, maka untuk kamuflase diciptakanlah sebutan "Kampung Siluman" sehingga menimbulkan kesan seram dan menakutkan, supaya dijauhi oleh penduduk. Apakah sesuatu yang dilindungi / dirahasiakan itu, tentu sangat misterius seperti misteriunya siluman. Bila anda mau "iseng", cobalah bertanya kepada penduduk setempat saat ini, apakah diantara mereka ada yang pernah bermimpi melihat komplek istana di Kampung Siluman?
  4. Bekas Jalan di sepanjang punggung / puncak pegunungan / perbukitan yang memanjang dari Gunung Meruyung sampai Gunung Padon Telu (Pojok Tiga). Kondisinya sekarang; sebagian masih berupa jalan setapak, sebagian lainnya sudah menjadi hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Dahulunya diperkirakan merupakan jalan raya / jalur utama untuk lalu lintas manusia dan barang.
  5. Bekas bendungan di sungai Cijalu (di kampung Babakan desa Sepatnunggal). Bila penduduk kampung Babakan turun ke arah sungai Cijalu, mereka mengatakan menuju ke "Sarongge". Mungkin dulu bendungan di di daerah ini bernama "Bendungan Sarongge". Bekas bendungan itu berupa sebuah bukit yang melintang sungai Cijalu yang ujung sebelah Baratnya seperti longsoran yang diakibatkan oleh gerusan air yang sangat deras. Elevasi bukit itu sekitar 25 meter, sedangkan material penyusunnya berupa batu-batu berbentuk menyerupai balok dengan ukuran rata-rata 20 cm x 12 cm x 6 cm. Batu-batu itu lebih tampak seperti "bikinan manusia" yang disusun untuk dinding bendungan, dan hanya ada di bukit itu saja. Diperlukan penelitian untuk menelusuri jejak arkeologi dan sejarahnya. Desa --dengan nama--"Sepatnunggal" (tempat bukit Sarongge berada) mungkin ada kaitannya dengan fungsi bendungan, yaitu tempat perikanan dimana ikan / "sepat" dibudidayakan (disamping fungsi irigasi). Sepatnunggal mungkin bisa diartikan pusat budidaya ikan; dan indikasi ini masih bisa dirasakan oleh penduduk sepanjang sungai bahwa sebelum ekosistem rusak berbagai jenis ikan hidup di sungai Cijalu.
  6. Sungai Cinagara (desa Sadahayu). Sekali lagi, kata "Cinagara" (terdiri Cai dan Nagara) mengindikasikan bahwa sungai ini letaknya dekat dengan pusat pemerintahan (negara).
  7. Di sebelah Utara (masuk wilayah Kabupaten Berebes) ada desa bernama "Tembong Raja". Dalam bahasa Sunda kata "tembong" berarti "tampak". Mungkin di daerah inilah tempat peristirahatan Sang Raja, tempat yang indah dan berhawa sejuk. Pemandangan dari tempat ini sungguh sangat indah; di sebelah Utara berjajar dari Barat ke Timur tampak menjulang tinggi Gunung Pojok Tiga, Gunung Bongkok, Gunung Lio hingga Gunung Kumbang; dan di bawah tampak hamparan sawah yang luas sepanjang sungai Cigunung.
  8. Menyebar dan merata di setiap desa di seluruh wilayah pegunungan pegunungan yang meliputi Kecamatan Cimanggu, Kecamatan Majenang, Kecamatan Majenang Wanareja dan Kecamatan Dayeuh Luhur serta Kecamatan Salem (Kab. Brebes) ada peninggalan berupa "Makam/Kuburan Kuno" (orang setempat menyebutnya "Pasarean") yang sebagian besar anonim, hanya sebagian kecil yang diketahui namanya--tetapi juga tidak diketahui silsilahnya. Umur kuburan itu tidak diketahui, namun dilihat dari pohon-pohon besar yang mengelilinginya yang ukurannya sangat besar dan umurnya sudah sanga tua bahkan sebagian sudah meranggas, bahkan ketidak tahuan para "Juru Kunci" tentang sejarah dan silisilahnya, dapat dipastikan kuburan itu umurnya sudah sangat tua. Dilihat dari perlakuan penduduk setempat yang "mengkeramatkannya", dapat diperkirakan bahwa sebagaiannya adalah kuburan "Orang Penting" pada jaman dahulu.