Sabun Aleppo
Sabun Aleppo atau juga dikenal dengan sabun ghar (bahasa Arab: صابون غَار, ṣābūn ghar, berarti "minyak laurel") atau sabun Suriah adalah sabun yang terbuat dari minyak zaitun alami (metraf) dan minyak laurel (ghar) yang diproduksi dengan buatan tangan di Aleppo, Suriah, Asia Barat.[1]
Sabun Aleppo tidak terbuat dari bahan kimia. Dengan berbentuk batangan, sabun ini dianggap sebagai sabun pertama yang pernah dibuat dan terkenal di kawasan Timur Tengah.[2]
Pada 2024, UNESCO menetapkan sabun Aleppo sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan dunia asal Suriah.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Tradisi pembuatan sabun Aleppo diyakini telah ada lebih dari 2.000 tahun lalu yang diciptakan oleh kaum perempuan di Aleppo. Saat itu mereka ingin membersihkan diri. Mereka lalu menggabungkan bahan alami seperti tanaman Anabasis liar dengan minyak zaitun untuk menghasilkan busa yang dapat membersihkan. Sejak itu, sabun Aleppo lahir dan diwariskan secara turun temurun.[3] Beberapa catatan sejarah bahkan menyatakan bahwa Ratu Cleopatra di Mesir dan Ratu Zenobia di Suriah menggunakannya untuk merawat kulit dan kebersihan mereka.[4]
Sabun Aleppo mulai mengalami masa kejayaannya saat pertama kali diperkenalkan ke Eropa oleh Tentara Salib pada abad ke-11. Industri sabun Aleppo baru menghadapi kendala saat terjadi perang Suriah dan gempa bumi 2023.[3]
Cara pembuatan
[sunting | sunting sumber]Langkah paling awal dalam membuat sabun Aleppo adalah dengan menyediakan buah laurel liar terlebih dahulu. Buah ini dipetik oleh keluarga pada saat musim gugur dengan melibatkan anak-anak. Buah laurel direbus hingga pecah, kemudian minyak yang keluar dari proses perebusan akan disaring sebagai bahan produksi sabun.[1] Banyaknya minyak laurel menentukan kualitas dan harga sabun. Semakin banyak minyak laurel yang digunakan, maka semakin tinggi kualitas dan harga sabun yang dijual.[3]
Pada musim dingin, sabun Aleppo memasuki tahap produksi. Sabun tradisional ini dibuat dengan cara mencampurkan larutan alkali alami, minyak zaitun dan laurel jadi satu. Setelah dimasak, campuran larutan dituangkan ke lantai pabrik kemudian dibiarkan hingga dingin. Sabun lalu dipotong dengan menggunakan garu menjadi bentuk kubus, kemudian dicap satu per satu agar memiliki identitas keluarga pembuat sabun.[1]
Seluruh sabun yang selesai dicetak lalu ditumpuk menjadi bentuk menara kemudian disimpan selama enam hingga sembilan bulan. Tujuannya adalah agar sabun teroksidasi dan berubah warna dari hijau tua menjadi kuning.[1]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 "Craftsmanship of Aleppo Ghar soap - UNESCO Intangible Cultural Heritage". ich.unesco.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-06.
- ↑ "Aleppo soap: War threatens an ancient tradition". BBC News (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2013-05-15. Diakses tanggal 2025-11-06.
- 1 2 3 Suleiman, Ali Haj. "Aleppo's soap makers, now making their soaps in a free Syria". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-06.
- ↑ D’Ignoti, Stefania (2025-02-27). "The Resilient Artisans Keeping Aleppo Soap Alive". New Lines Magazine (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-06.