SMP Negeri 4 Salatiga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search


SMPN 4 Salatiga
Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Salatiga
Lambang
Informasi
Jenis Sekolah Negeri
Akreditasi A
Kepala Sekolah Haryati S,Pd.M,Pd.
Jumlah kelas 24 kelas
Rentang kelas VII , VIII . IX
Kurikulum KTSP 2006
Status Sekolah Standar Nasional
Alamat
Lokasi Jl. Pattimura, No.47, Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
Tel./Faks. (0298) 326785
Moto
Moto Harmoni, Etika, Bestari, Aktif dan Taqwa

SMPN 4 Salatiga merupakan sebuah Sekolah Menengah Pertama yang ternama di Kota Salatiga. SMPN 4 Salatiga sering disingkat Nepatza. Pada tahun ajaran 2014/2015 Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Salatiga memiliki 67 orang guru. Sebelum pulang sekolah, Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Salatiga rutin mengajak siswa-siswinya untuk Sholat Dzuhur berjamaah bagi siswa Islam, persekutuan Do'a bagi siswa Kristen dan Katolik, dan Pujabhakti bagi siswa Buddha. Khusus siswa kelas 9 bila 1 bulan menjelang UN selalu diadakan pembinaan 4 mata pelajaran yang di UN-kan hingga jam 3 sore. Setiap tahun rutin SMPN 4 Salatiga selalu mengadakan kemah besar. Kemah besar ini biasanya diadakan di Bumi Perkemahan Umbul Songo, Kopeng.

Smp 4 Salatiga adalah Satu-satunya Sekolah yang tidak memiliki Situs Official atau Resmi seperti Sekolah Sekolah lain. Sehingga pembagian info Pendaftaran atau lainnya masih melalui mulut ke mulut, Pendaftarannya pun masih "Mengandalkan" situs PPDB Pemerintah.

Insiden salah tangkap[sunting | sunting sumber]

Pada Kamis 18 September 2015, salah satu siswa SMPN 4 yang bernama Alif Arya Pradana, 15, Pelakunya adalah tiga anggota polisi yang bertugas di Polsek Tingkir Salatiga. Arya yang merupakan anak kandung dari Kapten TNI Giyarno ini dianiaya dan dihajar di dalam mobil sembari mata serta mulutnya ditutupi lakban. Akibatnya, korban mengalami luka serius dan harus dirawat di RS Dokter Asmir Kota Salatiga.

Kapten TNI Giyarno, ayah kandung korban mengungkapkan, anaknya dituduh telah melakukan pencurian sepeda motor. Tuduhan ini merupakan pengakuan dari tersangka Angga, warga Tingkir yang telah ditangkap anggota Polsek Tingkir sebelumnya. Dari pengakuan itu, akhirnya empat anggota Polsek Tingkir menjemput Arya ke sekolahnya di SMP Negeri 4 Salatiga, Kamis (18/9) pagi sekitar pukul 06.30 WIB kemarin.

Begitu ditangkap, kedua tangan korban langsung diborgol di hadapan teman-teman sekolahnya. Kemudian dipaksa harus mau masuk mobil Daihatsu Xenia yang dibawa keempat anggota Polsek Tingkir. Di dalam mobil itulah, mata dan mulutnya dilakban lalu dipukul berkali-kali pada kepala, maupun bagian tubuh yang lain.

"Tanpa izin dulu ke guru, langsung mencari saya. Begitu ketemu, tas saya dibawa langsung digeledah. Lalu, saya dibawa ke ruang guru dan dipaksa mengaku jika telah mencuri. Wong saya nggak mencuri, saya tetap tidak mengaku," kata Arya saat terbaring di Ruang Tulip 1 RS Dokter Asmir Salatiga didampingi ayahnya Jumat (19/9) siang."Setelah itu dipaksa dibawa masuk mobil yang dibawa polisi itu. Dalam perjalanan tangan saya sudah diborgol, mata dan mulut saya dilakban, bahkan saya langsung dipukuli berkali-kali menggunakan tangan dan sandal saat di dalam mobil. Saya dibawa ke daerah Kebun Karet Setro."

Kedua polisi itu bahkan menyatakan berani melakukan ini karena jabatannya dipertaruhkan. Usai dipukuli sampai lemas, kurang lebih pukul 08.30 WIB Arya langsung dikembalikan ke sekolahnya di SMPN 4 Salatiga.

Kapten Giyarno, ayah korban yang berdinas di Bagian Logistik Kodam IV/Diponegoro Kota Semarang mengaku bahwa mendapatkan kabar anaknya diduga dianiaya polisi dari sang istri.

"Saya sendiri mendapat laporan dari istri saya sekitar jam dua siang. Istri mengatakan jika Arya telah dihajar dua orang polisi," kata Giyarno menambahkan.

"Saat itu istri saya memberitahu kejadian ini melalui telepon sambil menangis. Anehnya lagi, pihak guru tidak ada yang memberitahukan kejadian kepada saya atau istri saya serta saat Arya dibawa keluar oleh polisi itu, tidak ada guru yang melarangnya ataupun yang mengikuti kemana dibawa. Katanya, gurunya ketakutan dan dilarang mengikuti atau mendampingi Arya," jelasnya.

Mendengar kabar itu, Giyarno mengaku emosi. Menurutnya saat itu masih pada jam belajar dan menjadi tanggung jawab sekolah atau guru. Namun, anehnya pihak sekolah masih tetap bungkam.

"Terus terang, anak saya yang masih di bawah umur diperlakukan seperti itu, saya tidak terima. Saya mendesak agar diproses sesuai hukum yang ada dan berjalan apa adanya. Yang saya pertanyakan, anggota polisi dalam mencari informasi mengapa nekat melakukan pemukulan dan pemaksaan. Sekali lagi, proses hukum harus tetap berjalan," tandasnya.

Sementara itu, Wakapolres Salatiga Kompol Yunaldi mengaku anggotanya memang melakukan pemukulan terhadap pelajar SMP tersebut. Mereka dari Polsek Tingkir, masing-masing Ipda AR, Aiptu TH dan Brigadir ED serta seorang anggota lagi sebagai sopir.

"Kami mengakui, itu adalah kesalahan prosedur yang dilakukan anggota dan sekarang masih diproses atau dimintai keterangan. Harusnya, gaya-gaya lama tidak dilakukan polisi, jika memang tidak ada pengakuan, maka alat bukti lain yang diperbanyak," akunya.[1]

Alamat[sunting | sunting sumber]

Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Salatiga

  • Jl. Pattimura, 47 Salatiga 50711.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

  1. Laboratorium Komputer
  2. Kantin
  3. Koperasi
  4. Toilet
  5. UKS
  6. Lapangan Upacara
  7. Ruang Guru
  8. Ruang Kepala Sekolah
  9. Tata Usaha
  10. Ruang BP
  11. Perpustakaan
  12. Ruang OSIS
  13. Ruang Kurikulum

Ekstrakurikuler[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]