Rumpun bahasa Japonik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Japonik
Distribusi
geografis:
Jepang
Rumpun bahasa:Salah satu rumpun bahasa utama di dunia
Pembagian:
ISO 639-5:jpx
Glottolog:japo1237[1]
{{{mapalt}}}
Rumpun bahasa Japonik

Rumpun bahasa Japonik atau Jepang-Ryukyu adalah sebuah rumpun bahasa utama di dunia. Bahasa Jepang yang dipertuturkan di pulau-pulau utama Jepang serta bahasa-bahasa Ryukyu yang dipertuturkan di Kepulauan Ryukyu merupakan bagian dari rumpun bahasa ini. Istilah "bahasa-bahasa Japonik" pertama kali digunakan oleh Leon Serafim, dan klasifikasi rumpun ini diterima secara luas oleh ahli bahasa.[2] Nenek moyang dari bahasa-bahasa ini adalah Proto-Japonik.[3] Teori ini, membedakan antara bahasa Jepang dan bahasa-bahasa Ryukyu. Shiro Hattori berpendapat bahwa perpecahan ini terjadi pada zaman Yamato (250-710).[4]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa-bahasa yang termasuk ke dalam rumpun Japonik (atau Jepang-Ryukyu) adalah:

  • Bahasa Jepang (日本語, Nihon-go)
    • Dialek Jepang daratan (本土方言, Hondo hōgen): Bahasa Jepang yang dipertuturkan di Honshu, Kyushu, Shikoku, dan Hokkaido
      • Dialek Jepang Timur (東日本方言, Higashi Nihon hōgen): Hampir seluruh dialek dari Nagoya ke timur, termasuk dialek yang menjadi acuan bahasa Jepang baku, dialek Tokyo.
      • Dialek Jepang Barat (西日本方言, Nishi Nihon hōgen): Hampir seluruh dialek dari Nagoya ke barat, termasuk dialek Kyoto.
      • Dialek Kyushu (九州方言, Kyūshū hōgen): Dipertuturkan di pulau Kyushu.
    • Bahasa Hachijō (八丈方言, Hachijō hōgen): Dipertuturkan di Hachijō-jima dan Kepulauan Daito, termasuk Aogashima
  • Bahasa-bahasa Ryukyu (琉球語派, Ryūkyū-goha): Bahasa-bahasa yang berasal dari, dan secara tradisional dipertuturkan di Kepulauan Ryukyu, sebagian besar di antaranya dianggap "sangat terancam" atau "terancam secara kritis" karena pengaruh dari bahasa Jepang, terutama setelah Kerajaan Ryukyu dikuasai oleh Kekaisaran Jepang. Bahasa-bahasa ini sering dianggap sebagai sekadar dialek di Jepang, meskipun tingkat kesalingpahaman antara bahasa-bahasa ini dengan bahasa Jepang, atau bahkan sesama mereka, sangat kecil.
    • Rumpun bahasa Ryukyu Utara (北琉球語群, Kita Ryūkyū-go-gun): Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di bagian utara Kepulauan Ryukyu, termasuk di Amami dan Okinawa.
      • Bahasa Amami (奄美語, Amami-go)/dialek-dialek Amami (奄美方言, Amami hōgen)/Shimayumuta (シマユムタ・島口): Bahasa yang dipertuturkan di hampir seluruh Kepulauan Amami, terutama di Amami Ōshima, Kikaijima, and Tokunoshima.
        • Bahasa Amami Ōshima Utara (北奄美大島語, Kita Amami Ōshima go)/dialek Kita Amami Ōshima (北奄美大島方言, Kita Amami Ōshima hōgen)
        • Bahasa Amami Ōshima Selatan (南奄美大島語, Minami Amami Ōshima go)/dialek Minami Amami Ōshima (南奄美大島方言, Minami Amami Ōshima hōgen)
        • Bahasa Kikai (喜界語, Kikai-go)/dialek Kikai (喜界方言, Kikai hōgen)/Shimayumita (シマユミタ)
        • Bahasa Tokunoshima (徳之島語, Tokunoshima-go)/dialek Tokunoshima (徳之島方言, Tokunoshima hōgen)/Shimayumiita (シマユミィタ)
      • Bahasa Kunigami (国頭語, Kunigami-go)/dialek-dialek Okinoerabu-Yoron-Okinawa Utara (沖永良部与論沖縄北部諸方言, Okinoerabu Yoron Okinawa Hokubu syohōgen)/Yanbaru Kutuuba (山原言葉(ヤンバルクトゥーバ)): Bahasa yang dipertuturkan di bagian utara Pulau Okinawa dan pulau-pulau tetangga Okinoerabujima dan Yoronjima. Dialek utamanya dipertuturkan di Nakijin dan Nago.
        • Bahasa Kunigami (国頭語, Kunigami-go)/dialek Kunigami (国頭方言, Kunigami hōgen)/Yanbaru Kutuuba (山原言葉(ヤンバルクトゥーバ))
        • Bahasa Okinoerabu (沖永良部語, Okinoerabu-go)/dialek Okinoerabu (沖永良部方言, Okinoerabu hōgen)/Shimamuni (島ムニ)
        • Bahasa Yoron (与論語, Yoron-go)/dialek Yoron (与論方言, Yoron hōgen)/Yunnu Futuba (ユンヌフトゥバ)
      • Bahasa Okinawa ((中央)沖縄語, (Chūō) Okinawa-go)/dialek Okinawa (沖縄方言, Okinawa hōgen)/Uchinaa-guchi (沖縄口・ウチナーグチ): Bahasa yang dipertuturkan di bagian tengah dan selatan dari Pulau Okinawa, serta pulau-pulau tetangga. Dialek utama dipertuturkan di Naha.
    • Rumpun bahasa Ryukyu Selatan (南琉球語群, Minami Ryūkyū-gogun): Bahasa yang dipertuturkan di bagian selatan Kepulauan Ryukyu, termasuk Kepulauan Sakishima.
      • Bahasa Miyako (宮古語, Miyako-go)/dialek Miyako (宮古方言, Miyako hōgen)/Myaaku-futsu (ミャークフツ・宮古口)/Suma-futsu (スマフツ・島口): Bahasa yang dipertuturkan di Kepualauan Miyako, dengan beberapa dialek di Irabu dan Tarama.
      • Bahasa Yaeyama (八重山語, Yaeyama-go)/dialek-dialek Yaeyama (八重山方言, Yaeyama hōgen)/Yaima-muni (ヤイマムニ・八重山物言): Dipertuturkan di Kepulauan Yaeyama, dengan dialek yang berbeda-beda tiap pulau, tapi dialek utamanya dipertuturkan di Ishigaki, Iriomote, dan Taketomi. Dikenal pula sebagai Teedun-muni (テードゥンムニ・竹富物言).
      • Bahasa Yonaguni (与那国語, Yonaguni-go)/Dialek Yonaguni (与那国方言, Yonaguni hōgen)/Dunan-munui (ドゥナンムヌイ・与那国物言): Dipertuturkan di Pulau Yonaguni, bagian dari Kepulauan Yaeyama, namun bahasanya berbeda dari bahasa Yaeyama.

Christopher Beckwith menambahkan nama-nama tempat di Korea Selatan sebagai bukti tambahan bahasa Japonik kuno yang pernah dipertuturkan di sana:[5]

  • Yayoi
    • Jepang
    • Pra-Kara
  • Ryukyu

Tidak jelas apakah "bahasa pra-Kara" berkaitan dengan bahasa yang dipertuturkan pada masa Konfederasi Gaya.

Proto-Japonik[sunting | sunting sumber]

Proto-Japonik, bahasa purba leluhur dari seluruh bahasa dan dialek Japonik, telah direkonstruksi menggunakan metode komparatif oleh Martin (1987)[6] dan Vovin (1994).[7] Dibawah ini adalah sebagian hasil rekonstruksi Proto-Japonik dari Vovin (1994: 109-111).

Glos Proto-Jepang
semua *múCí-nà
abu *pápÍ
kulit *kàpà
perut *pàrà
besar *ò̱pò̱-
burung *tó̱rí
gigit *kàm-
hitam *kùrwò
darah *tí
tulang *pone
dada *ti/*titi
bakar *dák-
awan *kùmù[C]à
dingin *sàmù-
datang *kò̱-
mati *sín-
anjing *ìnù
minum *nò̱m-
kering *káw(V)rá-k-
telinga *mìmì
makan *kup-
mata *mà-n
bulu *рánÉ
api *pò-Ci
ikan *(d)íwó
terbang *tó̱np-
kaki *pànkì
penuh *mìt-
beri *ata[-]pa-Ci
pergi *káywóp-; *dik-
baik *dò̱-
lemak *à(n)pùrá
hijau *àwò; *míntórì
rambut *ká-Ci
tangan *tà-Ci
kepala *tumu-; *kàsìrà
dengar *kí[-]k-
hati (jantung) *kòkòró
tanduk *tùnwò
aku (1tg.) *bàn[u]
bunuh *kó̱ró̱s-
lutut *pínsá; Proto-Ryukyu *tubusin
tahu *sír-
darat *tùtì
daun *pá
bohong *ná-
hati (liver) *kímwò
panjang *nànkà-
kutu *sìrámí
manusia *bò
banyak *mana-Ci
daging *sìsì
bulan *tùkú-
gunung *dàmà
mulut *kútú-Ci
kuku *túmá-Ci
nama *ná
baru *àrà-ta-
malam *dùCà
hidung *páná
bukan *-an[a]-
satu *pito̱
orang *pítò̱
hujan/langit *àmâ-Ci
merah *áká-
akar *mò̱tò̱
bundar *márú/*máró̱
pasir *súná
sebut *(d)i[-]p-
lihat *mì-
biji *tàná-Ci
pendek *m-ìnsìkà-
duduk *bí-
tidur *ui-
kecil *tìpìsà-
asap *kái[-]npúrí
tegak *tàt-
bintang *pósí
batu *(d)ísò
matahari *pí
berenang *ò̱yò̱-
ekor *bò̱
itu *ká-
ini *kó̱-
lidah *sìtà
gigi *pà
pohon *kò̱- < *ko̱no̱r
dua *puta
hangat *àta-taka-
air *mí
jalan *mítí
kita *bàn[u]
apa *nà[-]ní
putih *sírà-Cu
siapa *tá-
perempuan *-mina/*míCá
kuning *kú-Ci
kamu (2tg.) *si/*so̱-; *na

Angka-angka Proto-Japonik (Vovin 1994: 106):

Gloss Proto-Jepang
satu *pito̱-
dua *puta-
tiga *mi-
empat *do̱-
lima *itu-
enam *mu-
tujuh *nana-
delapan *da-
sembilan *ko̱ko̱no̱
sepuluh *to̱bo
seratus *mwomwo

Asal-usul dan klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Hubungan rumpun Japonik dengan rumpun bahasa lainnya dianggap kontroversial. Ada banyak hipotesis, namun tidak ada yang diterima secara luas. Japonik adalah rumpun bahasa yang berdiri sendiri[8] dan rekonstruksi bentuk purbanya mengisyaratkan kesamaan kuat dengan bahasa-bahasa Asia Tenggara.[9]

Diskusi ilmiah tentang asal-usul rumpun bahasa Japonik masih menghasilkan banyak pertanyaan.[10] Hubungan paling jelas tampaknya adalah dengan toponim dari selatan Korea, yang mungkin berasal dari bahasa Gaya (Kara), sebuah bahasa isolat purba, atau bahasa lainnya yang belum pernah diketahui.[11] Alexander Vovin (2008, 2013)[12][13] menemukan banyak toponim yang diduga berasal dari bahasa-bahasa Japonik di Semenanjung Korea, terutama di Silla dan Paekche. Masyarakat agrikultural berbahasa Japonik mungkin pernah tinggal di bagian tengah dan selatan Semenanjung Korea, sebelum ditaklukkan oleh penutur bahasa Koreanik dari utara. Kelompok penakluk ini kemungkinan berasal dari tengah dan selatan Manchuria, yang akrab dengan perang berkuda ala Asia Tengah. Sejak ke-6 atau ke-7, bahasa-bahasa Japonik menjadi terpinggirkan di Silla (bagian tenggara Korea Selatan) (Vovin 2013:227-228). Beberapa penutur bahasa Japonik ini beremigrasi ke kepulauan Jepang, sementara yang lain membaur ke dalam masyarakat Korea.

Vovin tidak menganggap bahwa rumpun Japonik memiliki hubungan dengan Koreanik; ia percaya bahwa penutur Japonik digantikan seluruhnya oleh penutur Koreanik di Asia daratan. Vovin (2014)[14] berpendapat bahwa penutur bahasa Japonik awalnya berdiam di Cina Selatan sebelum bermigrasi ke Jepang melalui Semenanjung Korea, sementara bahasa-bahasa Koreanik, yang menunjukkan berbagai kesamaan tipologis dengan rumpun bahasa Paleosiberia berasal dari Siberia (Vovin 2015)./> (Vovin 2015).[15] Selain itu, Vovin (1998)[16] juga menganggap bahwa bahasa Japonik digunakan oleh kebudayaan Kofun dan bukan Yayoi. Orang-orang Yayoi diduga menggunakan bahasa Austroasia atau Tai-Kadai, berdasarkan rekonstruksi istilah Japonik *(z/h)ina-Ci 'padi (tanaman)', *koma-Ci 'gabah', dan *pwo 'pelepah/kulit biji-bijan' yang menurut Vovin berasal dari istilah pertanian Yayoi.

Vovin (2013) juga mencatat bahwa nama lama untuk Pulau Jeju adalah tammura, yang dapat dianalisis sebagai bahasa Jepang tani mura たにむら ( 'pemukiman lembah') atau tami mura たみむら ( 'pemukiman orang-orang'). Dengan demikian, Vovin menyimpulkan bahwa penutur Japonik pernah ada di Pulau Jeju sebelum digantikan oleh penutur Koreanic yang datang sekitar sebelum abad ke-15, yaitu pada saat negara Tamna di Jeju dikuasai oleh Dinasti Joseon.

Peneliti lain, seperti Paul K. Benedict, menyatakan bahwa bahasa Jepang berhubungan dengan bahasa Austronesia, sesuai dengan teori rumpun bahasa Austro-Tai-Jepang yang diajuakannya. Namun, pengelompokan Austro-Tai-Jepang ini tidak diterima secara luas oleh ahli bahasa. Meskipun Vovin (2014)[14] tidak mempertimbangkan adanya hubungan genetik (hubungan bahasa yang bisa diusut hingga ke leluhur bersama) antara bahasa Japonik dan Tai-Kadai, ia menduga bahwa penutur Japonik purba pernah pernah melakukan kontak intensif dengan penutur Tai-Kadai, sesuai hipotesisnya tentang asal rumpun Japonik di Cina Selatan.

Ada bukti tipologis yang mengisyaratkan bahwa Proto-Japonik bersifat monosilabis, memiliki pola kalimat SPO dan merupakan sebuah bahasa isolatif, kesemuanya merupakan fitur yang umum dalam rumpun Tai-Kadai.[17]

Teori lain dikemukakan oleh ahli bahasa berkebangsaan Jepang Īno Mutsumi. Setelah menganalisis hasil rekonstruksi bahasa-bahasa Sino-Tibet, ia berpendapat bahwa bahasa Jepang berhubungan dengan bahasa Sino-Tibet, terutama bahasa Myanmar. Karena memiliki tata bahasa serupa (SOV, sintaksis), kosa kata dasar non-pinjaman dan fakta bahwa bentuk purba Sino-Tibet adalah non-tonal seperti di sebagian kecil dari bahasa Sino-Tibet hari ini, ia mengusulkan bahwa bahasa Jepang berasal dari rumpun Sinitik.[18][19]

Analisis tahun 2015 yang dilakukan menggunakan Automated Similarity Judgment Program mengelompokkan bahasa-bahasa Japonik dengan Ainu dan kemudian dengan bahasa-bahasa Austroasia.[20] Namun, kesamaan antara Ainu dan Japonik lebih karena kontak ekstensif antara keduanya. Konstruksi gramatikal analitis yang dikembangkan oleh bahasa Ainu mungkin saja disebabkan kontak dengan bahasa Jepang dan bahasa-bahasa Japonic lainnya, yang memiliki pengaruh besar pada bahasa Ainu dengan sejumlah besar kata-kata dipinjamkan ke dalam bahasa Ainu, dan dalam skala lebih kecil, dari bahasa Ainu ke bahasa-bahasa Japonik.[21] Belum dibuktikan adanya hubungan silsilah antara Ainu dengan semua rumpun bahasa lainnya. Oleh sebab itu, Ainu dianggap sebagai bahasa isolat.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nordhoff, Sebastian; Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2013). "Japonic". Glottolog. Leipzig: Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology. 
  2. ^ Shimabukuro, Moriyo. (2007). The Accentual History of the Japanese and Ryukyuan Languages: a Reconstruction, hlm. 1.
  3. ^ Miyake, Marc Hideo. (2008). Old Japanese: a Phonetic Reconstruction. hlm. 66., hlm. 66, di Google Books
  4. ^ Heinrich, Patrick. "What leaves a mark should no longer stain: Progressive erasure and reversing language shift activities in the Ryukyu Islands" Archived 2011-05-16 di Wayback Machine., First International Small Island Cultures Conference di Universitas Kagoshima, Centre for the Pacific Islands, 7–10 Februari, 2005; mengutip Shiro Hattori. (1954) Gengo nendaigaku sunawachi goi tokeigaku no hoho ni tsuite ("Concerning the Method of Glottochronology and Lexicostatistics"), Gengo kenkyu (Journal of the Linguistic Society of Japan), Vol. 26/27.
  5. ^ Christopher Beckwith, 2007, Koguryo, the Language of Japan's Continental Relatives, hlm 27–28
  6. ^ Martin, Samuel E. 1987. The Japanese Language through Time. New Haven & London: Yale Univ. Press.
  7. ^ Vovin, Alexander. 1994. "Long-distance Relationships, Reconstruction Methodology, and the Origins of Japanese". Diachronica 11(1): 95-114.
  8. ^ Kindaichi, Haruhiko (2011-12-20). The Japanese Language (dalam bahasa Inggris). Tuttle Publishing. ISBN 9781462902668. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-22. 
  9. ^ Alexander, Vovin,. "Proto-Japanese beyond the accent system". Current Issues in Linguistic Theory (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-05-11. 
  10. ^ Blench, Roger M. (2008). {{google books|DWMHhfXxLaIC|Archaeology and language, Vol. 2, hlm. 201.|page=201}
  11. ^ Christopher I. Beckwith, Empires of the Silk Road: A History of Central Eurasia from the Bronze Age to the Present (Princeton University Press, 2009: ISBN 978-0-691-13589-2), hlm. 105.
  12. ^ Vovin, Alexander. 2013. "From Koguryǒ to T'amna: Slowly Riding South with the Speakers of Proto-Korean". Korean Linguistics, 15.2: 222–240.
  13. ^ Vovin, Alexander. 2008. "高句麗에서 耽羅까지ᅳ韓国祖語를 말한 騎馬人들과 함께 南쪽을 향하여 천천히 내려오면서ᅳ" ("From Koguryo to Tamna: Slowly Riding South with the Speakers of Proto-Korean"). Dibawakan dalam perkuliahan di Seoul National University pada 15 Mei 2008.
  14. ^ a b Vovin, Alexander. 2014. "Out of Southern China? – Philological and linguistic musings on the possible Urheimat of Proto-Japonic". Journées de CRLAO 2014. 27-28 Juni 2014. INALCO, Paris.
  15. ^ Vovin, Alexander (2015). "Korean as a Paleosiberian Language". 알타이할시리즈 2. ISBN 978-8-955-56053-4. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-11-06. Diakses tanggal 2016-11-06. 
  16. ^ Vovin, Alexander. 1998. Japanese rice agriculture terminology and linguistic affiliation of Yayoi culture. In Archaeology and Language II: Archaeological Data and Linguistic Hypotheses. Routledge.
  17. ^ Vovin, Alexander. "Out of Southern China?". academia.edu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-11-22. 
  18. ^ 飯野睦毅 (1994)『奈良時代の日本語を解読する』東陽出版
  19. ^ Taw Sein Ko 1924, p. viii.
  20. ^ Jäger, Gerhard (2015). "Support for linguistic macrofamilies from weighted sequence alignment". PNAS. 112 (41): 12752–12757. doi:10.1073/pnas.1500331112. PMC 4611657alt=Dapat diakses gratis. 
  21. ^ Tranter, Nicolas (25 June 2012). "The Languages of Japan and Korea". Routledge. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 July 2017 – via Google Books. 

Referensi[sunting | sunting sumber]