Lompat ke isi

Roma 9

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Roma 9
Surat Roma 8:12-22 pada fragmen terbesar dari dua potongan yang membentuk naskah Papirus 27 (27), sisi depan (recto), dari abad ke-3 M. Yang terlestarikan seluruhnya hanya memuat Roma 8:12-22,24-27; 8:33-9:3,5-9. .
KitabSurat Roma
KategoriSurat-surat Paulus
Bagian Alkitab KristenPerjanjian Baru
Urutan dalam
Kitab Kristen
6
pasal 8

Roma 9 (disingkat Rom 9) adalah bagian Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Surat ini ditulis oleh Rasul Paulus, ketika ia berada di Korintus pada pertengahan tahun 50-an M,[1] dengan bantuan seorang amanuensis (sekretaris), Tertius, yang menambahkan salamnya sendiri dalam Roma 16:22.[2][3][4]

Bab ini membahas pembenaran Paulus tentang "kesetiaan Allah".

Reformator Martin Luther menyatakan bahwa "dalam bab 9, 10, dan 11, Rasul Paulus mengajarkan kita tentang pemeliharaan abadi Allah. Sumber asli inilah yang menentukan siapa yang akan percaya dan siapa yang tidak, siapa yang dapat dibebaskan dari dosa dan siapa yang tidak."[5]

Penulis Metodis Joseph Benson merangkum bab ini:

Setelah rasul Paulus menyiratkan, dalam Roma 3:3, bahwa Allah akan menolak orang-orang Yahudi karena ketidakpercayaan mereka, seorang Yahudi seharusnya keberatan di sana, bahwa penolakan mereka akan menghancurkan kesetiaan Allah. Rasul Paulus menjawab, bahwa kesetiaan Allah akan diteguhkan, bukan dihancurkan, oleh penolakan orang-orang Yahudi karena ketidakpercayaan mereka.[6]

Fragmen c sampai h yang memuat bagian-bagian Surat Roma pada naskah Papirus 40, yang dibuat sekitar tahun 250 M.

Pembagian isi pasal:

Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.[7]
Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin![8]
Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel,[9]

Menurut 1 Raja–Raja 19:18 dari seluruh umat pilihan Allah pada zaman nabi Elia, hanya tujuh ribu orang dipilih secara individu sehingga mereka tidak sujud menyembah Baal. Banyak sekali dari mereka adalah warga umat pilihan Allah tetapi tidak termasuk tujuh ribu yang dipilih secara individu. Menurut Rasul Paulus proses pilihan secara individu masih berlangsung pada zaman ini juga.

"Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel."

Untuk membuktikan apa yang dikatakan di atas Paulus membedakan orang yang berasal dari Israel dari orang Israel. Orang yang berasal dari Israel adalah semua orang yang keturunan jasmani dari Yakub, sedangkan yang disebut orang Israel, atau secara harafiah, Israel, adalah sebagian dari orang yang keturunan jasmani dari Yakub. Paulus bermaksud untuk menegaskan bahwa di dalam umat pilihan Allah, sepanjang masa ada suatu proses ilahi di mana warga-warga tertentu dari umat pilihan Allah dipilih sebagai pribadi untuk dibenarkan sesuai dengan apa yang telah diuraikan dalam pasal 1-4.[10]

Dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu."[11]

Sama seperti di ayat 6 di mana "orang yang berasal dari Israel" dibedakan dari "orang Israel", demikian juga anak-anak Abraham dibedakan dari semua keturunan Abraham. Maka dalam ayat ini, anak-anak Abraham adalah mereka dari umat pilihan Allah yang dipilih sebagai individu.

"Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu."[12]

Dalam Kejadian 21:12 Allah berkata kepada Abraham bahwa bukan yang berasal dari Ismael yang menjadi keturunan Abraham, tetapi yang berasal dari Ishak. Ini dikutip untuk menyatakan bahwa bukan semua yang lahir dari Abraham, Ishak, dan Yakub adalah individu yang ditebus. Prinsip ini, bahwa anak-anak tertentu yang dipilih, dan yang lain lagi tidak dipilih, sudah dinyatakan sebelum Yakub mempunyai keturunan.[10]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hill 2007, hlm. 1084.
  2. Donaldson, Terence L. (2007). "63. Introduction to the Pauline Corpus". Dalam Barton, John; Muddiman, John (ed.). The Oxford Bible Commentary (Edisi first (paperback)). Oxford University Press. hlm. 1077. ISBN 978-0199277186.
  3. Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN 9789794159219.
  4. John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN 9794159050.
  5. Luther, M., Preface to the Letter of St. Paul to the Romans, translated by Andrew Thornton, OSB, 1983, accessed on 14 October 2024
  6. Benson's Commentary on Romans 9, accessed 22 September 2016
  7. Roma 9:4
  8. Roma 9:5
  9. Roma 9:6
  10. 1 2 Hagelberg, Dave. Tafsiran Roma: dari bahasa Yunani. Jakarta: Yayasan Kalam Hidup. 2004.
  11. Roma 9:7
  12. Kejadian 21:12

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]