Lompat ke isi

Robek rahim

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Robek rahim
Nama lainUterine rupture' atau ruptur uteri
Robek transversal dinding rahim
SpesialisasiKandungan
GejalaRasa sakit yang terus meningkat, perdarahan vaginal, perubahan kontraksi[1][2]
Awitan umumSaat persalinan[3]
Faktor risikoPersalinan vaginal setelah sesar, bekas luka di rahim, persalinan yang terhalang, persalinan induksi, trauma fisik, penggunaan kokain[1][4]
Metode diagnostikDetak jantung bayi ikut turun secara cepat[1]
PengobatanSurgery[1]
Prognosis6% risiko kematian janin[1]
Frekuensi1 dari 1.000 persalinan vaginal dari rahim yang kondisinya normal[1]
1 dari 280 untuk kelahiran vaginal setelah sebelumnya sesar[1]

Robek rahim terjadi ketika dinding otot rahim robek selama kehamilan atau persalinan.[3] Gejala klasiknya meliputi peningkatan rasa sakit, pendarahan vagina, atau perubahan kontraksi, tetapi tidak selalu ada.[1][2] Hal ini dapat mengakibatkan kecacatan atau kematian pada ibu atau bayi.[1][3]

Faktor risiko termasuk kelahiran normal setelah operasi caesar (VBAC), bekas luka rahim lainnya, persalinan macet, induksi persalinan, trauma, dan penggunaan kokain.[1][4] Meskipun biasanya pecahnya rahim terjadi selama persalinan, tetapi terkadang juga dapat terjadi pada awal kehamilan.[1][3] Diagnosis dapat diduga berdasarkan penurunan cepat denyut jantung bayi selama persalinan.[1][4] Dehiscence rahim merupakan kondisi yang tidak terlalu parah di mana hanya terjadi pemisahan yang tidak tuntas dari bekas luka lama.[1]

Penanganannya meliputi pembedahan cepat untuk mengendalikan pendarahan dan melahirkan bayi.[1] Histerektomi mungkin diperlukan untuk mengendalikan pendarahan.[1] Transfusi darah dapat diberikan untuk mengganti kehilangan darah.[1] Wanita yang pernah mengalami robek rahim sebelumnya, disarankan untuk menjalani operasi caesar pada kehamilan berikutnya.[5]

Angka robek rahim saat persalinan vaginal setelah satu kali operasi caesar sebelumnya, yang dilakukan dengan teknik operasi caesar standar, diperkirakan sebesar 0,9%.[1] Angka kejadiannya lebih tinggi pada mereka yang pernah menjalani operasi caesar beberapa kali atau operasi caesar jenis atipikal.[1] Bagi mereka yang mengalami jaringan parut di rahim, risiko kejadian saat melahirkan secara normal adalah sekitar 1 per 12.000.[1] Risiko kematian bayi sekitar 6%.[1] Masyarakat di negara-negara berkembang nampaknya lebih sering terkena dampak dan memiliki dampak yang lebih buruk.[3][6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Toppenberg, KS; Block WA, Jr (1 September 2002). "Uterine rupture: what family physicians need to know". American Family Physician. 66 (5): 823–8. PMID 12322775.
  2. 1 2 Lang, CT; Landon, MB (March 2010). "Uterine rupture as a source of obstetrical hemorrhage". Clinical Obstetrics and Gynecology. 53 (1): 237–51. doi:10.1097/GRF.0b013e3181cc4538. PMID 20142660.
  3. 1 2 3 4 5 Murphy, DJ (April 2006). "Uterine rupture". Current Opinion in Obstetrics & Gynecology. 18 (2): 135–40. doi:10.1097/01.gco.0000192989.45589.57. PMID 16601473.
  4. 1 2 3 Mirza, FG; Gaddipati, S (April 2009). "Obstetric emergencies". Seminars in Perinatology. 33 (2): 97–103. doi:10.1053/j.semperi.2009.01.003. PMID 19324238.
  5. Larrea, NA; Metz, TD (January 2018). "Pregnancy After Uterine Rupture". Obstetrics and Gynecology. 131 (1): 135–137. doi:10.1097/AOG.0000000000002373. PMID 29215521.
  6. Berhe, Y; Wall, LL (November 2014). "Uterine rupture in resource-poor countries". Obstetrical & Gynecological Survey. 69 (11): 695–707. doi:10.1097/OGX.0000000000000123. PMID 25409161.