Robek rahim
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
| Robek rahim | |
|---|---|
| Nama lain | Uterine rupture' atau ruptur uteri |
| Robek transversal dinding rahim | |
| Spesialisasi | Kandungan |
| Gejala | Rasa sakit yang terus meningkat, perdarahan vaginal, perubahan kontraksi[1][2] |
| Awitan umum | Saat persalinan[3] |
| Faktor risiko | Persalinan vaginal setelah sesar, bekas luka di rahim, persalinan yang terhalang, persalinan induksi, trauma fisik, penggunaan kokain[1][4] |
| Metode diagnostik | Detak jantung bayi ikut turun secara cepat[1] |
| Pengobatan | Surgery[1] |
| Prognosis | 6% risiko kematian janin[1] |
| Frekuensi | 1 dari 1.000 persalinan vaginal dari rahim yang kondisinya normal[1] 1 dari 280 untuk kelahiran vaginal setelah sebelumnya sesar[1] |
Robek rahim terjadi ketika dinding otot rahim robek selama kehamilan atau persalinan.[3] Gejala klasiknya meliputi peningkatan rasa sakit, pendarahan vagina, atau perubahan kontraksi, tetapi tidak selalu ada.[1][2] Hal ini dapat mengakibatkan kecacatan atau kematian pada ibu atau bayi.[1][3]
Faktor risiko termasuk kelahiran normal setelah operasi caesar (VBAC), bekas luka rahim lainnya, persalinan macet, induksi persalinan, trauma, dan penggunaan kokain.[1][4] Meskipun biasanya pecahnya rahim terjadi selama persalinan, tetapi terkadang juga dapat terjadi pada awal kehamilan.[1][3] Diagnosis dapat diduga berdasarkan penurunan cepat denyut jantung bayi selama persalinan.[1][4] Dehiscence rahim merupakan kondisi yang tidak terlalu parah di mana hanya terjadi pemisahan yang tidak tuntas dari bekas luka lama.[1]
Penanganannya meliputi pembedahan cepat untuk mengendalikan pendarahan dan melahirkan bayi.[1] Histerektomi mungkin diperlukan untuk mengendalikan pendarahan.[1] Transfusi darah dapat diberikan untuk mengganti kehilangan darah.[1] Wanita yang pernah mengalami robek rahim sebelumnya, disarankan untuk menjalani operasi caesar pada kehamilan berikutnya.[5]
Angka robek rahim saat persalinan vaginal setelah satu kali operasi caesar sebelumnya, yang dilakukan dengan teknik operasi caesar standar, diperkirakan sebesar 0,9%.[1] Angka kejadiannya lebih tinggi pada mereka yang pernah menjalani operasi caesar beberapa kali atau operasi caesar jenis atipikal.[1] Bagi mereka yang mengalami jaringan parut di rahim, risiko kejadian saat melahirkan secara normal adalah sekitar 1 per 12.000.[1] Risiko kematian bayi sekitar 6%.[1] Masyarakat di negara-negara berkembang nampaknya lebih sering terkena dampak dan memiliki dampak yang lebih buruk.[3][6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Toppenberg, KS; Block WA, Jr (1 September 2002). "Uterine rupture: what family physicians need to know". American Family Physician. 66 (5): 823–8. PMID 12322775.
- 1 2 Lang, CT; Landon, MB (March 2010). "Uterine rupture as a source of obstetrical hemorrhage". Clinical Obstetrics and Gynecology. 53 (1): 237–51. doi:10.1097/GRF.0b013e3181cc4538. PMID 20142660.
- 1 2 3 4 5 Murphy, DJ (April 2006). "Uterine rupture". Current Opinion in Obstetrics & Gynecology. 18 (2): 135–40. doi:10.1097/01.gco.0000192989.45589.57. PMID 16601473.
- 1 2 3 Mirza, FG; Gaddipati, S (April 2009). "Obstetric emergencies". Seminars in Perinatology. 33 (2): 97–103. doi:10.1053/j.semperi.2009.01.003. PMID 19324238.
- ↑ Larrea, NA; Metz, TD (January 2018). "Pregnancy After Uterine Rupture". Obstetrics and Gynecology. 131 (1): 135–137. doi:10.1097/AOG.0000000000002373. PMID 29215521.
- ↑ Berhe, Y; Wall, LL (November 2014). "Uterine rupture in resource-poor countries". Obstetrical & Gynecological Survey. 69 (11): 695–707. doi:10.1097/OGX.0000000000000123. PMID 25409161.