Riset tentang meditasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Riset atau penelitian tentang proses dan efek meditasi merupakan bidang anakan dari penelitian neurologis yang sedang berkembang.[1][2][3][4] Teknik dan instrumen ilmiah modern, seperti fMRI dan EEG, telah digunakan untuk melihat apa yang terjadi dalam tubuh manusia ketika mereka bermeditasi, dan bagaimana tubuh dan otak mereka berubah setelah bermeditasi secara teratur.[5][6]

Sejak tahun 1950-an ratusan kajian mengenai meditasi telah dilakukan, meskipun banyak dari studi awal yang cacat dan dengan demikian menghasilkan hasil yang tidak dapat diandalkan.[7] Ulasan yang lebih baru telah menunjukkan banyaknya kekurangan itu dengan harapan membimbing penelitian saat ini ke arah yang lebih bermanfaat.[8] Lebih banyak laporan yang menilai bahwa penelitian lebih lanjut perlu diarahkan menuju landasan dan definisi teoretis mengenai meditasi.[9]

Meditasi dalam psikologi Barat[sunting | sunting sumber]

Respon relaksasi[sunting | sunting sumber]

Dr. Herbert Benson, pendiri Mind-Body Medical Institute, yang berafiliasi dengan Universitas Harvard dan beberapa rumah sakit Boston, melaporkan bahwa meditasi menginduksi sejumlah perubahan biokimia dan fisik dalam tubuh yang secara kolektif disebut sebagai "respon relaksasi."[10] Respon relaksasi meliputi perubahan-perubahan dalam metabolisme, denyut jantung, pernapasan, tekanan darah dan kimia otak. Benson dan timnya juga telah melakukan studi klinis di biara-biara Buddha di Pegunungan Himalaya.[11] Benson menulis The Relaxation Response untuk mendokumentasikan manfaat dari meditasi, yang pada tahun 1975 masih belum dikenal luas.[12]

Efek menenangkan dari meditasi[sunting | sunting sumber]

Menurut sebuah artikel pada bulan Maret 2006 dalam Psychological Bulletin, aktivitas EEG mulai melambat sebagai akibat dari latihan meditasi.[13] Sistem saraf manusia terdiri dari sistem parasimpatis, yang bekerja untuk mengatur denyut jantung, pernapasan dan fungsi-fungsi motorik involunter lainnya, dan sistem simpatis, yang membangkitkan tubuh, mempersiapkannya untuk kegiatan bertenaga. National Institutes of Health (NIH) telah menulis, "Diperkirakan bahwa beberapa jenis meditasi mungkin bekerja dengan mengurangi aktivitas pada sistem saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas dalam sistem saraf parasimpatis," atau sama dengan meditasi yang menghasilkan pengurangan ketegangan dan peningkatan relaksasi.

Penggunaan terapi Barat dan MBSR[sunting | sunting sumber]

Meditasi telah memasuki arus utama perawatan kesehatan sebagai metode untuk mengurangi stres dan rasa sakit. Sebagai metode pengurangan stres, meditasi telah digunakan di rumah sakit dalam kasus penyakit kronis atau terminal untuk mengurangi komplikasi yang terkait dengan peningkatan stres yang mencakup menurunnya sistem kekebalan. Ada kesepakatan yang berkembang dalam komunitas medis bahwa faktor mental seperti stres secara signifikan berkontribusi pada kurangnya kesehatan fisik, dan ada gerakan yang berkembang dalam ilmu arus utama yang mendanai penelitian di bidang ini. Sekarang ada beberapa program perawatan kesehatan utama yang membantu mereka, baik sakit ataupun sehat, dalam mempromosikan kesehatan batin mereka, terutama program-program berbasis perhatian seperti Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR).

Sebuah meta-analisis pada tahun 2003 menemukan bahwa MBSR, yang melibatkan kesiagaan untuk terus-menerus dalam kesadaran, tanpa berusaha menyensor pikiran, menyimpulkan bahwa bentuk meditasi mungkin secara luas berguna bagi individu yang sedang berupaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan klinis dan non-klinis. Diagnosa yang ditemukan bisa dibantu dengan menggunakan MBSR termasuk di dalamnya untuk sakit kronis, fibromyalgia, pasien kanker dan penyakit arteri koroner. Perbaikan juga dicatat untuk ukuran kesehatan fisik dan mental.[14]

Aliran perhatian[sunting | sunting sumber]

Meditasi perhatian, anapanasati, dan teknik-teknik terkait, dimaksudkan untuk melatih perhatian demi memprovokasi wawasan. Rentang perhatian yang lebih luas dan lebih fleksibel menjadikan lebih mudah untuk waspada terhadap suatu situasi, lebih mudah untuk bersikap objektif dalam situasi-situasi sulit secara emosional atau moral, dan lebih mudah untuk mencapai keadaan responsif, kesiagaan kreatif atau "aliran". Penelitian dari sekolah kedokteran Harvard juga menunjukkan bahwa selama meditasi, sinyal-sinyal fisiologis menunjukkan adanya penurunan respirasi dan peningkatan denyut jantung dan tingkat kejenuhan oksigen darah.[15]

Penelitian berdasarkan gaya meditasi[sunting | sunting sumber]

Meditasi wawasan[sunting | sunting sumber]

Sebuah studi yang dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Yale, Harvard, Massachusetts telah menunjukkan bahwa meditasi meningkatkan materi abu-abu di daerah tertentu dalam otak dan dapat memperlambat kerusakan otak sebagai bagian dari proses penuaan alami.

Penelitian ini melibatkan 20 orang dengan pelatihan “meditasi wawasan” Buddha intensif dan 15 orang yang tidak melakukan meditasi. Scan otak menunjukkan bahwa orang-orang yang bermeditasi memiliki peningkatan ketebalan materi abu-abu di bagian otak yang bertanggung jawab untuk perhatian dan pengolahan masukan sensoris. Beberapa peserta bermeditasi selama 40 menit sehari, sementara yang lain telah melakukannya selama bertahun-tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ketebalan otak tergantung pada jumlah waktu yang dihabiskan dalam meditasi. Peningkatan ketebalan berkisar antara 0,004 dan 0,008 inci (0.1016 mm - 0.2032 mm).[16][17]

Meditasi yoga Kundalini[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa studi pendahuluan yang telah dilakukan pada beberapa dari banyak jenis meditasi yang ditemukan dalam cabang Yoga yang dikenal sebagai Kundalini. Satu studi menunjukkan pendinginan tangan meditator saat mereka berlatih meditasi Sahaja Yoga dan studi lain menunjukkan adanya relaksasi ketika meditator memperhatikan napas mereka.

Sebuah studi membandingkan praktisi meditasi Sahaja Yoga dengan sekelompok non meditator yang melakukan latihan relaksasi sederhana, mengukur penurunan suhu kulit meditator dibandingkan dengan kenaikan suhu kulit non-meditator ketika mereka santai. Para peneliti mencatat bahwa semua studi meditasi lain yang telah mengamati suhu kulit telah mencatat adanya kenaikan dan tak ada satupun yang mencatat adanya penurunan suhu kulit. Hal ini menunjukkan bahwa meditasi Sahaja Yoga, dengan menjadi pendekatan keheningan mental, mungkin berbeda baik berdasarkan pengalaman dan fisiologis dari relaksasi sederhana.[18]

Pelatihan integratif tubuh-pikiran[sunting | sunting sumber]

Sebuah penelitian yang melibatkan partisipasi dari sekelompok mahasiswa, yang diminta untuk menggunakan teknik meditasi yang disebut integrative body-mind training (IBMT) melibatkan relaksasi tubuh, citra mental, dan pelatihan perhatian), menyimpulkan bahwa “bermeditasi dapat meningkatkan integritas dan efisiensi koneksi tertentu di otak” melalui peningkatan jumlah dan ketahanan koneksi tersebut.[19] Scan otak menunjukkan perubahan materi putih yang kuat di korteks singulat anterior.[20]

Zazen[sunting | sunting sumber]

Dr. James Austin, seorang neurofisiolog di Universitas Colorado, melaporkan bahwa meditasi Zen “memperbaiki sambungan sirkuit” otak dalam bukunya Zen and the Brain (Austin, 1999).

Theoria[sunting | sunting sumber]

Lima belas biarawati Carmelite datang dari biara ke laboratorium dan menggunakan mesin fMRI sambil bermeditasi, membiarkan para ilmuwan di sana untuk memindai otak mereka menggunakan fMRI saat mereka berada dalam keadaan yang dikenal sebagai Unio Mystica (dan juga Theoria). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian pelosok otak direkrut dalam mempertahankan persatuan mistis dengan Tuhan.[21] Film dokumenter Mystical Brain oleh Isabelle Raynauld menguji penelitian ini.[22]

Meditasi kasih sayang non-referensial[sunting | sunting sumber]

Rekaman electroencephalograph (EEG) terhadap meditator-meditator terampil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam aktivitas gelombang gamma selama meditasi, yang berada pada kisaran 80 sampai 120 Hz. Juga ada kenaikan pada kisaran 25 hingga 42 Hz. Para meditator ini memiliki pengalaman 10 sampai 40 tahun pelatihan dalam pelatihan meditasi kasih sayang dan terlibat dalam meditasi kasih sayang non-referensial selama penelitian tersebut. Para meditator berpengalaman juga menunjukkan peningkatan aktivitas gamma ketika sedang beristirahat dan tidak bermeditasi. Beberapa kontrol yang tidak berlatih meditasi sebelumnya diperbandingkan dengan para bhikkhu yang sangat terlatih dan secara signifikan menunjukkan sedikit peningkatan aktivitas gamma selama meditasi.[23]

Meditasi Transendental[sunting | sunting sumber]

Saat ini tidak mungkin mengatakan apakah meditasi memiliki efek pada kesehatan, karena penelitian sampai saat ini masih berkualitas buruk,[24] termasuk risiko tinggi adanya bias dikarenakan koneksi para peneliti terhadap organisasi MT dan pemilihan subyek dengan opini yang baik mengenai MT.[25] Tinjauan-tinjauan sistematis yang independen belum menemukan manfaat kesehatan bagi MT yang melebihi manfaat dari relaksasi dan pendidikan kesehatan.[26] Sebuah pernyataan dari American Heart Association pada tahun 2013 menggambarkan bukti yang mendukung MT sebagai pengobatan untuk hipertensi sebagai Tingkat IIB, yang berarti bahwa MT “dapat dipertimbangkan dalam praktik klinis” tetapi efektivitasnya “tidak diketahui /tidak jelas/tidak pasti atau tidak diberitahukan”. Bagian tentang meditasi selesai dengan menyatakan: “Karena banyak studi negatif atau hasil yang bercampur-aduk dan kurangnya uji coba yang tersedia ... teknik meditasi lain tidak dianjurkan dalam praktik klinis untuk menurunkan BP pada saat ini.”[27]

Telah ada penelitian yang sedang berlangsung mengenai Meditasi Transendental sejak studi pertama dilakukan di UCLA dan Harvard University dan diterbitkan di Science dan American Journal of Physiology pada tahun 1970 dan 1971.[28] Menjelang tahun 2004 pemerintah AS telah memberikan lebih dari $ 20 juta kepada Maharishi University of Management untuk mempelajari pengaruh meditasi pada kesehatan.[29]

Penelitian pada efek meditasi[sunting | sunting sumber]

Aktivitas otak selama meditasi[sunting | sunting sumber]

Korteks-korteks singulat medial prefrontal dan posterior telah ditemukan menjadi relatif di-deaktif-kan selama meditasi (meditator berpengalaman di semua jenis meditasi). Selain itu, pada meditator berpengalaman ditemukan adanya rangkaian yang lebih kuat antara korteks-korteks singulat posterior, singulat anterior dorsal, dan prefrontal dorsolateral baik pada saat sedang bermeditasi ataupun tidak.[30]

Gelombang otak selama meditasi[sunting | sunting sumber]

Selama meditasi ada peningkatan dalam aktivitas EEG gelombang alfa atau theta yang lambat.[31][32]

Meditasi dan persepsi[sunting | sunting sumber]

Penelitian telah menunjukkan bahwa meditasi memiliki efek baik jangka pendek maupun jangka panjang pada berbagai indra penglihatan.

Pada tahun 1984, Brown dkk melakukan studi yang mengukur ambang mutlak persepsi untuk durasi stimulus cahaya pada meditasi perhatian praktisi dan non-praktisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meditator memiliki ambang deteksi yang lebih rendah secara signifikan untuk rangsangan cahaya berdurasi singkat.[33]

Pada tahun 2000, Tloczynski dkk mempelajari persepsi terhadap ilusi-ilusi visual (Ilusi Müller-Lyer dan Ilusi Poggendorff) yang dimiliki oleh master zen, meditator pemula, dan non-meditator. Tidak ditemukan adanya efek yang signifikan secara statistik pada ilusi Müller-Lyer tetapi ada untuk Poggendorff. Para master Zen secara statistik mengalami penurunan signifikan pada ilusi awal (diukur sebagai kesalahan dalam milimeter) dan penurunan yang lebih rendah dalam ilusi untuk uji coba berikutnya.[34]

Teori mekanisme di balik perubahan persepsi yang menyertai meditasi kesadaran digambarkan demikian oleh Tloczynski:

Seseorang yang bermeditasi karenanya menganggap benda-benda lebih sebagai rangsang yang dialami secara langsung dan kurang sebagai konsep dengan penghilangan atau minimalisasi terhadap rangsangan kognitif dan umumnya meningkatkan kesadaran, meditasi dengan demikian dapat mempengaruhi baik itu kualitas (akurasi) maupun kuantitas (deteksi) persepsi.[34]

Brown juga menunjukkan hal ini sebagai penjelasan yang mungkin untuk fenomena: “[angka deteksi yang lebih tinggi untuk kedipan-kedipan cahaya tunggal] melibatkan penenangan beberapa proses mental yang lebih tinggi yang biasanya menghambat persepsi peristiwa-peristiwa halus.” Dengan kata lain, praktik tersebut mungkin secara temporer atau permanen mengubah beberapa pengolahan atas-bawah yang terlibat dalam penyaringan peristiwa-peristiwa halus yang biasanya dianggap gangguan oleh penyaring penglihatan.

Kebutuhan tidur[sunting | sunting sumber]

Kaul dkk menemukan bahwa durasi tidur pada meditator berpengalaman jangka panjang lebih rendah dibandingkan dengan pada non-meditator dan norma-norma masyarakat umum, tanpa adanya pengurangan kewaspadaan yang jelas.[35]

Peningkatan emosi positif dan hasil[sunting | sunting sumber]

Schoormans dan Nyklicek (2011)[36] membandingkan ukuran-ukuran ketenangan terhadap dua kelompok yang masing-masingnya telah mempraktikkan beragam meditasi—meditasi perhatian (MP) atau meditasi transendental (MT). Penulis yakin bahwa MP akan lebih meningkatkan kesadaran dan ketenangan psikologis dibandingkan dengan MT. Bahkan, para praktisi MP dan MT memiliki hasil kesadaran dan ketenangan yang sangat mirip. Satu-satunya prediktor terhadap kesadaran dan pengurangan stres yang lebih tinggi adalah jumlah hari meditasi per minggu, dengan semakin banyak jumlah hari dihubungkan dengan lebih tingginya Perhatian dan pengurangan stres. Barbara Fredrickson menilai meditasi cinta kasih pada tahun 2008 dan menemukan peningkatan pada emosi positif dan kepuasan hidup ketika mengendalikan sumber daya personal.[37]

Potensi efek samping dari meditasi[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah pernyataan resmi dari National Center for Complementary and Alternative Medicine yang dikelola pemerintah AS:

Meditasi dianggap aman untuk orang sehat. Ada laporan langka bahwa meditasi dapat menyebabkan atau memperburuk gejala pada orang yang memiliki masalah kejiwaan tertentu, tetapi pertanyaan ini belum diteliti sepenuhnya. Orang-orang dengan keterbatasan fisik mungkin tidak dapat berpartisipasi dalam praktik meditasi tertentu yang melibatkan gerakan fisik. Individu dengan kondisi kesehatan mental atau fisik yang ada harus berbicara dengan penyedia layanan kesehatan mereka sebelum memulai praktik meditasi dan membuat instruktur meditasi mereka menyadari kondisi mereka.[38]

Sebagaimana pada setiap latihan, meditasi juga dapat digunakan untuk menghindar dari menghadapi masalah-masalah yang sedang berlangsung atau krisis-krisis yang muncul dalam kehidupan meditator. Dalam situasi seperti itu, mungkin malah akan membantu untuk menerapkan sikap sadar yang diperoleh dalam meditasi ketika terlibat aktif dengan masalah-masalah yang ada.[39] Menurut NIH, meditasi tidak boleh digunakan sebagai pengganti bagi perawatan kesehatan konvensional atau sebagai alasan untuk menunda pergi ke dokter.

Metodologi Penelitian[sunting | sunting sumber]

Pada Juni 2007, National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) AS menerbitkan sebuah meta-analisis independen dan ditinjau ulang oleh lembaga yang sebidang mengenai keadaan penelitian meditasi yang dilakukan oleh para peneliti di Pusat Latihan berbasis-Bukti di University of Alberta. Laporan tersebut mengulas 813 studi yang melibatkan lima kategori luas mengenai meditasi: meditasi mantra, meditasi perhatian, yoga, Tai chi, dan Qigong, dan termasuk semua studi pada orang dewasa di bulan September 2005, dengan fokus khusus pada penelitian yang berkaitan dengan hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan penyalahgunaan zat.

Laporan tersebut menyimpulkan, “Penelitian ilmiah pada praktik meditasi tidak terlihat memiliki perspektif teoretis umum dan yang ditandai oleh buruknya kualitas metodologi. Kesimpulan yang ketat mengenai efek dari praktik meditasi dalam perawatan kesehatan tidak dapat ditarik berdasarkan bukti yang ada. Penelitian selanjutnya mengenai praktik meditasi harus lebih ketat dalam rancangan dan pelaksanaan penelitiannya dan dalam analisis serta pelaporan hasilnya.” (Hal. 6) Laporan ini mencatat bahwa tidak ada penjelasan teoretis mengenai efek kesehatan dari meditasi umum untuk semua teknik meditasi.[40]

Versi dari laporan ini yang kemudian diterbitkan dalam Journal of Alternatif and Complementary Medicine menyatakan bahwa “Kebanyakan uji klinis pada praktik meditasi umumnya ditandai dengan kualitas metodologi yang buruk dengan ancaman signifikan terhadap validitas dalam setiap domain kualitas utama yang dinilai”. Ini merupakan kesimpulan disamping peningkatan yang signifikan secara statistik dalam kualitas dari semua penelitian meditasi yang diulas, secara umum, dari waktu antara tahun 1956 - 2005. Dari 400 studi klinis, 10% ditemukan memiliki kualitas yang baik. Panggilan dibuat untuk studi meditasi yang ketat.[41] Para penulis ini juga mencatat bahwa temuan ini tidak unik menurut wilayah penelitian meditasinya dan bahwa kualitas pelaporan merupakan masalah yang sering ada di wilayah penelitian complementary and alternative medicine (CAM) dan domain penelitian terapi terkait lainnya.

Lebih dari 3.000 studi ilmiah yang ditemukan dalam pencarian yang komprehensif dari 17 database yang relevan, hanya sekitar 4% berupa percobaan terkontrol acak/randomised controlled trials (RCTs), yang dirancang untuk mengesampingkan efek plasebo. Ulasan dari RCTs ini secara konsisten menemukan bahwa meditasi tanpa fokus pada pengembangan “keheningan mental”, suatu aspek yang sering dikeluarkan dari teknik yang digunakan dalam masyarakat Barat, tidak memberikan hasil yang lebih baik dari sekadar bersantai, mendengarkan musik atau istirahat tidur siang sejenak. Sementara mereka yang berlatih keheningan mental secara klinis dan statistik menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam pekerjaan yang berhubungan dengan stres, perasaan depresi, kontrol asma, dan kualitas hidup dibandingkan dengan program manajemen stres yang umum digunakan.[42]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Venkatesh S, Raju TR, Shivani Y, Tompkins G, Meti BL (April 1997). "A study of structure of phenomenology of consciousness in meditative and non-meditative states".Indian J. Physiol. Pharmacol. 41 (2): 149–53.
  2. ^ Peng CK, Mietus JE, Liu Y, et al. (July 1999). "Exaggerated heart rate oscillations during two meditation techniques". Int. J. Cardiol. 70 (2): 101–7.
  3. ^ Lazar SW, Bush G, Gollub RL, Fricchione GL, Khalsa G, Benson H (May 2000). "Functional brain mapping of the relaxation response and meditation". NeuroReport 11 (7): 1581–5.
  4. ^ Carlson LE, Ursuliak Z, Goodey E, Angen M, Speca M (March 2001). "The effects of a mindfulness meditation-based stress reduction program on mood and symptoms of stress in cancer outpatients: 6-month follow-up". Support Care Cancer 9 (2): 112–23.
  5. ^ Davidson, Richard J.; Kabat-Zinn J, Schumacher J, Rosenkranz M, Muller D, Santorelli SF, Urbanowski F, Harrington A, Bonus K, Sheridan JF. (July–August 2003). "Alterations in brain and immune function produced by mindfulness meditation". Psychosomatic Medicine 65 (4): 564–570
  6. ^ Kabat-Zinn, Jon; Lipworth L, Burney R. (1985). "The clinical use of mindfulness meditation for the self-regulation of chronic pain". Journal of Behavioral Medicine 8 (2): 163–190.
  7. ^ Ospina, M; Bond T (2007-01-06). "Meditation Practices for Health: State of the Research. Evidence Report/Technology Assessment No. 155" (etext). Agency for Healthcare Research and Quality. Diakses 23-05-2014
  8. ^ Ospina MB, Bond K, Karkhaneh M, et al. (December 2008). "Clinical trials of meditation practices in health care: characteristics and quality". J Altern Complement Med 14 (10): 1199–213
  9. ^ Awasthi, B (Dec 2012). "Issues and perspectives in meditation research: In search for a definition". Front. Psychology.: 3:613
  10. ^ Benson H (Dec 1997). "The relaxation response: therapeutic effect". Science 278 (5344): 1694–5
  11. ^ Cromie, William J. (18 April 2002). "Meditation changes temperatures: Mind controls body in extreme experiments". Harvard University Gazette (President and Fellows of Harvard College via Internet Archive).
  12. ^ Benson, Herbert, 1975 (2001). The Relaxation Response. HarperCollins. hal. 61–63. ISBN 0-380-81595-8.
  13. ^ Cahn, Rael; John Polich (March 2006). "Meditation states and traits: EEG, ERP, and neuroimaging studies". Psychological Bulletin 132 (2): 180–211.
  14. ^ Grossman, P.; Niemann, L.; Schmidt, S.; Walach, H. (2004). "Mindfulness-based stress reduction and health benefitsA meta-analysis" (pdf). Journal of Psychosomatic Research 57 (1): 35–43
  15. ^ Functional brain mapping of the relaxation response and meditation.
  16. ^ Science Daily. Meditation Associated with Increased Grey Matter in the Brain.
  17. ^ Meditation experience is associated with increased cortical thickness by Sara W. Lazar et al. 2005
  18. ^ Manocha R, Black D, Ryan J, Stough C, Spiro D, [1] "This study demonstrates a skin temperature reduction on the palms of the hands during the experience of mental silence, arising as a result of a single 10 minute session of Sahaja yoga meditation." [Changing Definitions of Meditation: Physiological Corollorary, Journal of the International Society of Life Sciences, Vol 28 (1), Mar 2010]
  19. ^ "Meditation boosts part of brain where ADD, addictions reside". Ars Technica.
  20. ^ "Integrative body-mind training (IBMT) meditation found to boost brain connectivity". ScienceDaily.
  21. ^ M. Beauregard & V. Paquette (2006). "Neural correlates of a mystical experience inCarmelite nuns". Neuroscience Letters (Elsevier) 405 (3): 186–90.
  22. ^ Mystical Brain
  23. ^ Lutz, Antoine. "Breakthrough study on EEG of meditation."
  24. ^ Ernst E (2011). "Chapter 51: Complementary and Alternative Approaches to Management of Patients with Heart Disease". In Bonow RO, et al. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine (9th ed.) (Saunders). ISBN 978-1-4377-2708-1. "A systematic review of six RCTs of transcendental meditation failed to generate convincing evidence that meditation is an effective treatment for hypertension"(References the same 2004 systematic review by Canter and Ernst on TM and hypertension that is separately referenced in this article)
  25. ^ Canter PH, Ernst E (November 2003). "The cumulative effects of Transcendental Meditation on cognitive function--a systematic review of randomised controlled trials".Wien. Klin. Wochenschr. 115 (21–22): 758–66. doi:10.1007/BF03040500.PMID 14743579. "All 4 positive trials recruited subjects from among people favourably predisposed towards TM, and used passive control procedures … The association observed between positive outcome, subject selection procedure and control procedure suggests that the large positive effects reported in 4 trials result from an expectation effect. The claim that TM has a specific and cumulative effect on cognitive function is not supported by the evidence from randomized controlled trials."
  26. ^ Krisanaprakornkit, T.; Ngamjarus, C.; Witoonchart, C.; Piyavhatkul, N. (2010). "Meditation therapies for attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)". In Krisanaprakornkit, Thawatchai. Cochrane Database Syst Rev 6 (6): CD006507.doi:10.1002/14651858.CD006507.pub2. PMID 20556767. "As a result of the limited number of included studies, the small sample sizes and the high risk of bias, we are unable to draw any conclusions regarding the effectiveness of meditation therapy for ADHD."
  27. ^ Brook, Robert D.; Appel, Lawrence J.; Rubenfire, Melvyn; Ogedegbe, Gbenga; Bisognano, John D.; Elliott, William J.; Fuchs, Flavio D.; Hughes, Joel W.; Lackland, Daniel T.; Staffileno, Beth A.; Townsend, Raymond R.; Rajagopalan, Sanjay (April 22, 2013). "Beyond Medications and Diet: Alternative Approaches to Lowering Blood Pressure : A Scientific Statement From the American Heart Association".Hypertension 61 (6): 1360–83.
  28. ^ Lyn Freeman, Mosby’s Complementary & Alternative Medicine: A Research-Based Approach, Mosby Elsevier, 2009, hal. 163.
  29. ^ QUICK, SUSANNE (Oktober 17, 2004). "Delving into alternative care: Non-traditional treatments draw increased interest, research funding". Journal Sentinel (Milwaukee, WI). Archived from the original on September 29, 2007. "Maharishi University ... has received more than $20 million in government support to date to explore the health benefits of meditation."
  30. ^ Judson A. Brewer, Patrick D. Worhunsky, Jeremy R. Gray, Yi-Yuan Tang, Jochen Weber, and Hedy Kober. Meditation experience is associated with differences in default mode network activity and connectivity. Diakses 24-05-2014
  31. ^ Lutz, Antoine. "Breakthrough study on EEG of meditation"
  32. ^ Bhattathiry, M.P. "Neurophysiology of Meditation."
  33. ^ Brown, Daniel, et al. "Differences in Visual Sensitivity Among Mindfulness Meditators and Non-Meditators". Perceptual and Motor Skills 1984: 727–733.
  34. ^ a b Tloczynski, Joseph, et al., "Perception of Visual Illusions by Novice and Longer-Term Meditators". Perceptual and Motor Skills 2000: 1021–1027.
  35. ^ Meditation acutely improves psychomotor vigilance, and may decrease sleep need. Prashant Kaul, Jason Passafiume, R C Sargent and Bruce F O'Hara. Behavioral and Brain Functions 2010, 6:47
  36. ^ http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21711203
  37. ^ http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18954193
  38. ^ Meditation: An Introduction. National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCAAM), subdivisi dari NIH.
  39. ^ Hayes, 1999, Bab. 3; Metzner, 2005
  40. ^ Ospina MB, Bond TK, Karkhaneh M, Tjosvold L, Vandermeer B, Liang Y, Bialy L, Hooton N, Buscemi N, Dryden DM, Klassen TP. "Meditation Practices for Health: State of the Research". Evidence Report/Technology Assessment No. 155. (Prepared by the University of Alberta Evidence-based Practice Center under Contract No. 290-02-0023.) AHRQ Publication No. 07-E010. Rockville, MD: Agency for Healthcare Research and Quality. Juni 2007
  41. ^ Ospina MB, Bond K, Karkhaneh M, et al. (December 2008). "Clinical trials of meditation practices in health care: characteristics and quality". J Altern Complement Med 14 (10): 1199–213.
  42. ^ Manocha, Ramesh (2011-01-05). "Meditation, mindfulness and mind-emptiness"(etext). Acta Neuropsychiatrica (subscription required). doi:10.1111/j.1601-5215.2010.00519.x

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]