Raja Inal Siregar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Raja Inal Siregar
Raja Inal Siregar
Gubernur Sumatera Utara ke-13
Masa jabatan
13 Juni 1988 – 15 Juni 1998
Presiden Soeharto
B.J. Habibie
Didahului oleh Kaharuddin Nasution
Digantikan oleh Tengku Rizal Nurdin
Informasi pribadi
Lahir 5 Maret 1938
Bendera Belanda Medan, Sumatera Utara, Hindia Belanda
Meninggal 5 September 2005 (umur 67)
Bendera Indonesia Medan, Sumatera Utara, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Suami/istri Yuniar Pane
Anak Hotmaria Siregar
Riri Rosalina Siregar
Yuriandi Siregar
Siri Yulita Siregar
Dinas militer
Dinas/cabang Lambang TNI AD.png TNI Angkatan Darat
Pangkat Pdu letjendtni staf.png Letnan Jenderal TNI
Unit Infanteri

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Raja Inal Siregar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 5 Maret 1938 – meninggal di Medan, Sumatera Utara, 5 September 2005 pada umur 67 tahun) adalah Gubernur Sumatera Utara ke-13. Ia memerintah dari tahun 1988 hingga 1998. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur, ia kemudian menjadi anggota DPD dari Sumatera Utara.

Putra pasangan Kario Siregar dan Rodiah Hutasuhut ini lulus Akademi Militer pada tahun 1961. Raja Inal Siregar menyelesaikan pendidikan SD sampai SMA di beberapa tempat di Sumut dan Sumbar.

Karier militernya dimulai di Desa Ampat, Kalimantan Tengah. Berbagai jabatan pernah didudukinya, antara lain sebagai Komandan Kompi (Danki) Yonif B Purwokerta (1965-1967), Kepala Biro Operasi Kowanda Ujung Pandang (1967-197), Wakil Asisten I/Intelijen Kodam II/Bukit Barisan (1975-1978), Asisten I/Intelijen Kodam I/Iskandar Muda (1978-1982).

Kemudian Asisten I/Intelijen Kodam IV/Siliwangi (1982-1983), Kepala Staf Kodam II/BB (1983-1984), Pangdam XIII/Merdeka di Manado (1984-1985), Pangdam III/Siliwangi di Bandung (1985-1988), Gubernur Sumatera Utara di Medan (1988-1999) dan terakhir menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sejak tahun 2004.

Meninggal[sunting | sunting sumber]

Ia meninggal bersama dengan Gubernur Sumatera Utara yang menggantikannya, HT. Rizal Nurdin, dalam kecelakaan pesawat Mandala Airlines pada 5 September 2005 di Jl. Jamin Ginting, Medan. Kecelakaan naas itu menewaskan 150 orang penumpang, awak pesawat dan warga di sekitar lokasi kejadian. Pesawat jenis Boeing 737-200 buatan tahun 1981 bernomor penerbangan RI-091 yang membawa 112 penumpang dan lima awak pesawat tersebut jatuh dan meledak di Jalan Jamin Ginting, kawasan Padang Bulan, Kota Medan, sesaat setelah lepas landas dari Bandar Udara Polonia pukul 10.06. Pesawat itu rencananya akan bertolak ke Jakarta via Padang.

Ia meninggalkan empat orang anak, Hotmaria Siregar, Riri Rosalina Siregar, Yuriandi Siregar dan Siri Yulita Siregar, serta tiga orang cucu, dan istri Yuniar Pane.

Peninggalan[sunting | sunting sumber]

Marsipature Hutana Be. Istilah yang dipopulerkan almarhum (alm) Gubsu, Raja Inal Siregar, diambil dari bahasa batak yang artinya adalah "Membangun/membenahi kampung halaman sendiri". Konsep ini ditujukan kepada orang-orang yang telah sukses di perantauan.

Yayasan Pendidikan Marsipature Hutana Be (YPmhb), merupakan sebuah yayasan yang mengasuh SMA N 2 Plus YPmhb Sipirok. Sekolah yang didirikan pada tahun 1995 ini yang terletak di desa Padang Bujur Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan - Sumatera Utara. Didirikan oleh Almarhum Raja Inal Siregar Utara bersama dengan masyarakat Tapanuli Selatan. Saat ini merupakan satu-satunya SMA yang berstatus Plus di Tapanuli selatan. Pada tahun 2010 telah meluluskan sebanyak tigabelas angkatan yang tersebar di seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Anak-anak didik selalu akrab menyapanya dengan sebutan "Pak Raja".

Pemakaman[sunting | sunting sumber]

Letjen TNI (Purn) Raja Inal Siregar di makamkan di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan. Pemakaman Raja Inal Siregar dilakukan dengan upacara militer yang dipimpin Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Tritamtomo. Yuniar Pane tak kuasa menahan haru saat pemakaman suaminya Letjen TNI (Purn) Raja Inal Siregar di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan. Dia bahkan terpaksa dipapah anaknya saat beranjak keluar dari areal pemakaman.[1] Pemakaman yang dihadiri sekitar 1.000 pelayat ini, menyebabkan ruas jalan Sisingamangaraja yang semula dua arah, dijadikan satu arah untuk kebutuhan tempat parkir kendaraan pengantar jenazah. Polisi dan polisi militer tampak mengatur lalu lintas.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Jabatan militer
Didahului oleh:
Edi Sudradjat
Pangdam Siliwangi
1985−1988
Diteruskan oleh:
Arie Sudewo
Jabatan politik
Didahului oleh:
Kaharudin Nasution
Gubernur Sumatera Utara
1988−1998
Diteruskan oleh:
Tengku Rizal Nurdin