Pusat Pemberdayaan dan Pengembangan Otonomi Daerah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari


THE REGIONAL AUTONOMY CENTER[sunting | sunting sumber]

(Pusat Pemberdayaan dan Pengembangan Otonomi Daerah)

LATAR BELAKANG[sunting | sunting sumber]

Baik pada tingkat semangat maupun pada tingkat regulasi, aspek pemerintahan daerah atau lazim disebut dengan istilah otonomi daerah, sering mengalami goncangan-goncangan hingga sampai kepada mengalami perubahan-perubahan kebijakan. Pada waktu UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, telah menjadikan pusat sebagai titik sentral dan penentu gerak pemerintahan di daerah yang pada akhirnya sangat bertentangan dengan semangat demokrasi dan keadilan. Memasuki era reformasi yang ditandai oleh bangkitnya demokrasi, di mana Negara menjadi titik sentral yang menentukan gerak kehidupan daerah, harus segera diakhiri. Maka, lahirlah UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang memberikan kewenangan luas kepada daerah untuk mengatur serta mengurus kepentingan masyarakat setempat, sesuai dengan prakarsa, aspirasi masyarakat yang sejalan dengan semangat demokrasi. Sejalan dengan perjalanan waktu, kebijakan tersebut menuai banyak persoalan, antara lain masalah kordinasi antar daerah otonom tingkat provinsi dan kabupaten, munculnya “raja-raja kecil” di daerah yang cenderung melakukan abuse of power yang mengabaikan nilai etik dalam berpolitik, sulit melakukan supervisi daerah otonom dan lain sebagainya. Kemudian Pemerintah mengeluarkan kebijakan baru mengenai Otonomi Daerah, yakni dengan pemberlakuan UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah. Semangat yang terkandung dalam Undang-Undang tersebut tidak ditujukan untuk melakukan “resentralisasi” atas apa yang telah didesentralisasikan, namun lebih ditujukan untuk mengurangi dampak negatif dan menambah manfaat positif dari otonomi daerah sebagai salah satu agenda utama reformasi. Untuk membangun tata pemerintahan yang baik bagi kebaikan dan kesejahteraan rakyat, implementasi otonomi daerah perlu terus dicermati, dievaluasi dan disempurnakan.

LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS[sunting | sunting sumber]

  • Perumusan, penciptaan dan peningkatan penguatan strategi pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah (Politik Lokal);
  • Merumuskan dan melakukan antisipasi berbagai fenomena dan potensi konflik dalam seluruh proses pelaksanaan dan pengelolaan otonomi daerah;
  • Merumuskan dan Meningkatkan bentuk pelayanan sipil daerah dalam menghadapi persaingan global dan mengkampanyekan peningkatan Good Governence
  • Perumusan pola hubungan dan koordinasi antar daerah dan antar pusat dengan daerah;

MAKSUD DAN TUJUAN[sunting | sunting sumber]

  • Membuat sebuah pusat kegiatan yang melakukan kerja-kerja pengembangan, pemberdayaan dan peningkatan pelaksanaan otonomi daerah;
  • Memfasilitasi terjadinya percepatan manajemen pengelolaan birokrasi, tata pemerintahan, kebijakan dan berbagai problem daerah secara mandiri dan maksimal;
  • Mendorong percepatan pengelolaan manajemen birokrasi dan sumber daya alam daerah yang sesuai dengan tujuan pembangunan di tingkat lokal dan nasional berbasis kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat;
  • Mensosialisasikan gagasan dan formula pengelolaan dan pengembangan tata pemerintahan yang baik;
  • Melakukan analisis, riset dan kajian berbagai kebijakan strategis bagi pengembangan daerah.

KERANGKA KERJA DAN ISU STRATEGIS[sunting | sunting sumber]

Seluruh rangkaian kerja lembaga ini diarahkan untuk menguatkan keberadaan pengelolaan daerah oleh pemerintahan lokal yang berbasis Partisipatif, Penghormatan Hukum, Transparan, Responsif, Konsensus Bersama, Kesetaraan, Efektif dan Efisien, Responsibilitas, Visi Strategis ke Depan.

AZAS ORGANISASI[sunting | sunting sumber]

Profesional, Imparsialitas, Kesetaraan, Transparan, Anti Kekerasan, Dialogis, Komunikatif dan lain-lain.

RUANG LINGKUP PROGRAM[sunting | sunting sumber]

  • Riset dan Kajian: melakukan perumusan, kajian dan analisis secara periodik terhadap berbagai problem, isu dan kebijakan yang berhubungan dengan otonomi daerah;
  • Pemberdayaan Regional: memfasilitasi berbagai kegiatan pemberdayaan, pengembangan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan manajemen pengelolaan daerah;
  • Kampanye dan Jaringan : melakukan kerja sosialisasi dan jaringan seputar tujuan lembaga yang terkait dengan otonomi daerah;
  • Data dan Publikasi: mengelola pusat data dan penerbitan-penerbitan.

STRUKTUR ORGANISASI[sunting | sunting sumber]

PUBLIKASI[sunting | sunting sumber]