Lompat ke isi

Puasa Ramadan di Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Puasa Ramadan di Jepang secara tradisional ditentukan awal dan akhir pelaksanaannya sesuai dengan penetapan awal dan akhir puasa Ramadan di Malaysia dengan metode hisab dan rukyat. Durasi puasa Ramadan di Jepang bervariasi pada tiap musim dengan kisaran antara 10–12 jam dalam sehari sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Di Jepang tidak ada suara yang digunakan untuk menandai waktu buka puasa. Muslim di Jepang umumnya mengadakan buka puasa selama bulan Ramadan di masjid-masjid yang ada di Jepang. Berakhirnya puasa Ramadan di Jepang ditandai dengan perayaan Idul Fitri di masjid, aula hotel maupun di taman umum.

Durasi puasa

[sunting | sunting sumber]

Penetapan awal dan akhir puasa Ramadan di Jepang secara tradisional disesuaikan dengan penetapan awal dan akhir puasa Ramadan di Malaysia. Penyesuaian ini merupakan bagian dari pengakuan muslim di Jepang atas Jabatan Kemajuan Islam Malaysia sebagai otoritas keislaman tertinggi di Malaysia.[1] Penetapan awal puasa Ramadan di Jepang umumnya mengacu pada perhitungan hisab dan metode rukyah yang dilakukan oleh komunitas muslim setempat. Jadwal puasa Ramadan selama bulan Ramadan diterbitkan oleh pengurus Masjid Tokyo. Isi jadwal puasa Ramadan yang diterbitkan meliputi waktu imsak, waktu Salat Subuh dan waktu buka puasa.[2]

Selama berpuasa Ramadan, muslim di Jepang tidak makan dan minum sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.[3] Durasi puasa Ramadan di Jepang berbeda-beda sesuai dengan waktu pelaksanaannya. Puasa Ramadan yang berlangsung di Jepang pada musim panas memiliki durasi yang lebih lama dibandingkan dengan musim gugur, musim dingin dan musim semi. Ketika musim panas, durasi puasa Ramadan di Jepang melebihi 12 jam. Sementara pada musim semi dan musim gugur, durasi puasa Ramadan di Jepang kurang dari 12 jam. Sementara itu, puasa Ramadan pada musim dingin hanya berlangsung sekitar 10 jam.[4]

Buka puasa

[sunting | sunting sumber]

Di Jepang tidak ada suara yang digunakan untuk menandai waktu buka puasa karena azan dilarang untuk dikumandangkan.[5] Pelarangan azan di Jepang karena suaranya dianggap mengganggu penduduk.[6] Muslim di Jepang umumnya mengadakan buka puasa selama bulan Ramadan di masjid-masjid yang ada di Jepang.[7] Di Masjid Tokyo setiap tahun diadakan buka puasa bersama secara gratis setiap hari selama bulan Ramadan. Kapasitas pelayanan buka puasa gratis di Masjid Tokyo sebanyak 200 orang dalam satu hari. Pelayanan buka puasa diberikan baik kepada muslim maupun non-muslim untuk memperkenalkan tentang Islam di Jepang.[8]

Pengakhiran

[sunting | sunting sumber]

Berakhirnya puasa Ramadan di Jepang ditandai dengan perayaan Idul Fitri. Pelaksanaan Idul Fitri pada periode dasawarsa 1970-an dilakukan di beberapa masjid yaitu Masjid Tokyo, Pusat Islam Jepang, dan Masjid Kobe. Kemudian pada dasawarsa 1980-an, pelaksanaan Idul Fitri dilangsungkan di masjid, aula hotel dan taman umum yang ada di Jepang.[9]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Idris, R., dkk., ed. (2025). The Halal Industry in Asia. Singapura: Springer. hlm. 50. ISBN 978-981-96-0392-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. Rahmia, Nisa Hayyu (28 Februari 2025). "Jadwal Imsakiyah Jepang Ramadhan 2025 Waktu Imsak & Buka". Tirto. Diakses tanggal 26 Maret 2025.
  3. Nyland, C., dkk. (2001). Nyland, Chris (ed.). Malaysian Business in the New Era (dalam bahasa Inggris). Cheltenham: Edward Elgar Publishing. hlm. 193. ISBN 1-84064-624-1. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. Setyorini, W. P., dkk. (Februari 2025). Fadhilah, Winda Nur (ed.). Pendar Memori. Bantul: Alineaku Publisher. hlm. 53. ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. Ahar (Juli 2012). "Berpuasa Ramadhan di Fukuoka dan Sendai" (PDF). MPA (310): 66.
  6. Mulyadi, Elie (2009). Ramadhan di Musim Gugur. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 123. ISBN 978-602-03-6445-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. Nagy, Stephen Robert, ed. (2016). Japan's Demographic Revival: Rethinking Migration, Identity and Sociocultural Norms (dalam bahasa Inggris). Singapura: World Scientific Publishing. hlm. 130. ISBN 978-981-4678-87-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. Widagdo, Suharyp (Desember 2017). Nurudin, F. A., dan Uliyahwati (ed.). Menjadi Muslim di Jepang. Kendal: Penerbit Ernest. hlm. 38. ISBN 978-602-61917-8-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. Baffelli, E., Rambelli, F., dan Castiglioni, A., ed. (2021). The Bloomsbury Handbook of Japanese Religions (dalam bahasa Inggris). London: Bloomsbury Publishing. hlm. 112. ISBN 978-1-3500-4374-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)