Sulawesi Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Provinsi Sulawesi Tengah)
Lompat ke: navigasi, cari
Sulawesi Tengah
(Sulteng)
Central Sulawesi
Bendera Lambang
Bendera Lambang
Kadidiri, morning view (6972093459).jpg
Taman Nasional Kepulauan Togean
Semboyan: "Maliu Ntinuvu"
(Bahasa Kaili: "Mempersatukan semua unsur dan potensi yang ada")
Locator sulteng final.png
Hari jadi 13 April 1964
Dasar hukum UU No. 13/1964
Ibu kota Kota Palu
Kota besar lainnya Kota Poso
Kota Luwuk
Area
 - Total luas 61.841,29 km2
 - Latitude 2º 28' LU - 3º 48' LS
 - Longitude 119º 22' - 124º 22' BT
Populasi (2014)
 - Total 2.831.283 jiwa
 - Kepadatan 46 jiwa/km2
Pemerintahan
 - Gubernur Longki Djanggola
 - Wagub Sudarto
 - Ketua DPRD Aminuddin Ponulele
 - Sekda Derry Djanggola (Plt.)
 - Kabupaten 13 (2016)
 - Kota 1 (2016)
 - Kecamatan 147 (2016)
 - Kelurahan 170 kelurahan
1.839 desa
APBD (2015)
 - PAD Rp. 883.322.000,- (2015)
 - DAU Rp. 1.272.925.036.000,- (2016)
 - DAK Rp. 73.986.000,- (2015)
Demografi
 - Suku bangsa Kaili (20%)
Bugis (14%)
Babasal
Gorontalo (%)
Pamona
Mori
 - Agama Islam (76.6%)
Protestan (17.3%)
Katolik (3.2%)
Hindu (2.7%)
Budha (0.16%)
 - Bahasa Bahasa Indonesia
Pamona
Mori
Kaili
Banggai
Saluan
Balantak
Zona waktu WITA
Lagu daerah Tananggu Kaili, Tondok Kadadingku, Rano Poso, Banggai Tano Monondok, Wita Mori
Rumah tradisional Souraja
Situs web www.sulteng.go.id
Kemungkinan Jumlah Kabupaten/Kota akan bertambah jika usulan pemekaran dikabulkan Kemdagri

Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduknya 2.831.283 jiwa (2014). Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan. Gubernur yang menjabat sekarang adalah Longki Djanggola bersama dengan Sudarto untuk periode kedua.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman Kerajaan[sunting | sunting sumber]

Wilayah provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.

Zaman Kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:

  1. Poso Lage di Poso
  2. Lore di Wanga, Lore Utara, Poso
  3. Tojo di Ampana
  4. Una-Una di Pulau Una-Una
  5. Bungku di Bungku
  6. Mori di Kolonedale
  7. Banggai di Luwuk
  8. Parigi di Parigi
  9. Moutong di Tinombo
  10. Tawaeli di Tawaeli
  11. Banawa di Donggala
  12. Palu di Palu
  13. Sigi/Dolo di Biromaru
  14. Kulawi di Kulawi
  15. Tolitoli di Tolitoli

Zaman Kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:

  1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
  2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
  3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.

Zaman Reformasi[sunting | sunting sumber]

Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Setelah pemekaran beberapa wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 14 daerah, yaitu 13 kabupaten dan 1 kota.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah bagian utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku, bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, bagian tenggara berbatasan dengan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Hidrografi[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, di antaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi objek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi objek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

lklim[sunting | sunting sumber]

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.

Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celsius.

Flora dan Fauna[sunting | sunting sumber]

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, di mana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin.

Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan objek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 2.831.283 jiwa, dengan kepadatan 46 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di provinsi Sulawesi Tengah adalah Kabupaten Parigi Moutong dengan jumlah penduduk 449.157 jiwa, sedangkan Kota dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Palu sebanyak 362.202 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1,95% per tahun (2010). Sementara penduduk Provinsi Sulawesi Tengah yang tinggal di daerah pemukiman dan pedalaman ialah sekitar 30%, daerah pesisir 60%, dan kawasan kepulauan ialah 10%.[1]

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, Kelapa, Kakao dan Cengkeh merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur serta tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

Penduduk tahun 1971-2010[sunting | sunting sumber]

Tahun 1971 1980 1990 1995 2000 2010
Jumlah penduduk Green Arrow Up.svg 913.662 Green Arrow Up.svg 1.289.635 Green Arrow Up.svg 1.711.327 Green Arrow Up.svg 1.938.071 Green Arrow Up.svg 2.218.435 Green Arrow Up.svg 2.635.009
Sejarah kependudukan Sulawesi Tengah
Sumber:[2]

Agama[sunting | sunting sumber]

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduknya memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu serta Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama dan Datuk Mangaji, ulama dari Sumatera Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.

Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh misionaris Belanda, A.C Cruyt dan Adrian. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

  1. Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu
  2. Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi
  3. Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
  4. Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
  5. Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
  6. Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
  7. Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
  8. Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
  9. Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
  10. Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
  11. Etnis Bare'e berdiam di Kabupaten Poso,Kabupaten Tojo Una-Una
  12. Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
  13. Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
  14. Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
  15. Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
  16. Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
  17. Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
  18. Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
  19. Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala

Di samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan suku Taa di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar, Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur.

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove dan jimbe. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian di mana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan Jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional Sulawesi Tengah.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti tampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.

Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat. Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pemerintah Provinsi[sunting | sunting sumber]

Kepala daerah Provinsi Sulawesi Tengah adalah gubernur, yang dibantu oleh seorang wakil gubernur. Jabatan Gubernur Sulawesi Tengah secara resmi saat ini diemban oleh Longki Djanggola, yang terpilih dalam Pilkada Sulawesi Tengah dan sekarang menjabat untuk periode kedua.[3]. Sedangkan jabatan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah masih dijabat oleh Sudarto.

Daftar Gubernur[sunting | sunting sumber]

No Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Ket. Wakil Gubernur
1
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning.jpg Anwar Gelar Datuk Madjo
Basa Nan Kuning
13 April 1964
13 April 1968
 
Tidak ada
2
Gubernur Sulawesi Tengah Mohammad Yasin.jpg Mohammad Jasin
13 April 1968
April 1973
 
3
Gubernur Sulawesi Tengah Albertus Maruli Tambunan.jpg Albertus Maruli Tambunan
April 1973
28 September 1978
 
4
Gubernur Sulawesi Tengah Moenafri.jpg Moenafri
28 September 1978
22 Oktober 1979
 
5
Gubernur Sulawesi Tengah Eddy Djadjang Djajaatmadja.jpg Eddy Djadjang Djajaatmadja
22 Oktober 1979
22 Oktober 1980
 
Gubernur Sulawesi Tengah (cropped).jpg Eddy Sabara
November 1980
Februari 1981
Pejabat Gubernur
6
Gubernur Sulawesi Tengah Ghalib Lasahido.jpg Ghalib Lasahido
19 Desember 1981
Februari 1986
 
7
Gubernur Sulawesi Tengah Abdul Aziz Lamadjido.jpg Abdul Aziz Lamadjido
Februari 1986
16 Februari 1996
 
M. Soeleman
8
Paliudju.JPG Bandjela Paliudju
16 Februari 1996
20 Februari 2001
Kiesman Abdullah
Haryono
9
Aminuddin ponulele.jpg Aminuddin Ponulele
20 Februari 2001
20 Februari 2006
Rully Azis Lamadjido
Central Sulawesi coa.png
Gumyadi
20 Februari 2006
24 Maret 2006
Penjabat Gubernur
Lowong
10
Paliudju.JPG Bandjela Paliudju
24 Maret 2006
24 Maret 2011
[4]
Achmad Yahya
Tanribali.jpg Tanribali Lamo
24 Maret 2011
16 Juni 2011
Penjabat Gubernur
Lowong
11
Gubernur-Sulteng Longki Djanggola.jpg Longki Djanggola
16 Juni 2011
sekarang
Sudarto

Pembagian Administrasi[sunting | sunting sumber]

Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas 13 kabupaten dan 1 kota, 147 kecamatan, 170 kelurahan, dan 1.839 desa. Provinsi ini memiliki luas daratan 61.841,29 km2 (BPS 2015), dengan penduduk 2.831.283 jiwa (BPS 2014), dengan tingkat kepadatan penduduk 46 jiwa/ km2.

Adapun daftar lengkap nama kabupaten/ kota, nama ibu kota, serta jumlah kecamatan, dan desa/ kelurahan di Provinsi Sulawesi tengah hingga saat ini adalah sebagai berikut.

Kabupaten/Kota Ibu Kota Kecamatan Kelurahan / Desa
Kabupaten Banggai Luwuk 23 337
Kabupaten Banggai Kepulauan Salakan 12 144
Kabupaten Banggai Laut Banggai 7 66
Kabupaten Buol Buol 11 115
Kabupaten Donggala Donggala 16 167
Kabupaten Morowali Bungku 9 133
Kabupaten Morowali Utara Kolonedale 10 125
Kabupaten Parigi Moutong Parigi 23 283
Kabupaten Poso Poso 19 166
Kabupaten Sigi Sigi Biromaru 15 176
Kabupaten Tojo Una-Una Ampana 12 146
Kabupaten Tolitoli Tolitoli 10 106
Kota Palu Palu 8 45

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah mengirim enam wakil ke DPR RI dan empat wakil ke DPD RI.

DPRD Sulawesi Tengah hasil Pemilihan Umum Legislatif 2014 tersusun dari sebelas partai, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi  %
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 7 16%
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 6 13%
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 6 13%
Lambang PDI-P PDI-P 6 13%
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 5 11%
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 4 9%
Lambang PAN PAN PAN 3 7%
Lambang PKS PKS 3 7%
Lambang PKB PKB 3 7%
Lambang PPP PPP 1 2%
Lambang PBB PBB 1 2%
Total 45 100,0

Pertahanan dan Keamanan[sunting | sunting sumber]

Militer[sunting | sunting sumber]

Sulawesi Tengah merupakan wilayah Kodam VII/Wirabuana, yang bermarkas di Makassar. Korem 132/Tadulako terletak di Kota Palu[5]. Korem 132/Tadulako membawahi empat Kodim dan dua Batalyon Infanteri, yaitu:

Palu merupakan daerah cabang Komando Armada Timur TNI-AL. Kawasan TNI-AU terdapat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie (Palu), dan Bandar Udara Kasiguncu (Poso). Daerah latihan militer antara lain terdapat di Bukit Jabal Nur (Palu), dan Gunung Biru (Poso).

Kepolisian[sunting | sunting sumber]

Polda Sulawesi Tengah membawahi 13 kabupaten/kota dengan rincian satu kepolisian resor kota (Polresta Palu), dan 11 kepolisian resor (Polres Banggai Laut masih menjadi satu dengan Polres Banggai Kepulauan).[6]

Kawasan Lindung[sunting | sunting sumber]

Kawasan Pelestarian Alam[sunting | sunting sumber]

Kawasan pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya (tahura), dan taman wisata alam. Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan taman nasional, yaitu:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Letak Geografi dan Demografi Sulawesi Tengah, Letak Geografi dan Demografi Sulawesi Tengah.
  2. ^ "Badan Pusat Statistik". BPS. Diakses tanggal 17 Oktober 2014. 
  3. ^ Menang, Longki Janji Lebih Baik, Menang, Longki Janji Lebih Baik.
  4. ^ "Sambutan Menteri Dalam Negeri pada acara pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah periode 2006-2011". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pusat Penelitian Departemen Dalam Negeri. 27 Maret 2006. Diakses tanggal 26 Desember 2015. 
  5. ^ Korem 132/Tadulako, Korem 132/Tadulako.
  6. ^ Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Situs Resmi dan Struktur Polda Sulawesi Tengah.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 0°58′LU 121°44′BT / 0,967°LS 121,733°BT / -0.967; 121.733