Kalimantan Tengah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Provinsi Kalimantan Tengah)
Lompat ke: navigasi, cari
Kalimantan Tengah
(Kalteng)
Tanah Dayak
Bendera Lambang
Bendera Lambang
Rumah-adat-kalimantan-tengah-kalteng-Rumah-betang-kalimantan-tengah-kalteng-pontianak-suku-dayak.jpg
Julukan: Bumi Tambun Bungai
Semboyan: Isen Mulang
(Bahasa Sangen: Pantang Mundur)
Locator kalteng final.png
Hari jadi 23 Mei 1957 (hari jadi)
Ibu kota Palangka Raya
Area
 - Total luas 157983 km2
Populasi
 - Total 2202599
Pemerintahan
 - Gubernur Sugianto Sabran
 - Ketua DPRD Reinhard Atu Narang
 - Sekda Siun Jarias
 - Kabupaten 13
 - Kota 1
 - Kecamatan 136
 - Kelurahan 1.569
APBD
 - DAU Rp. 1.062.516.940.000.-
Demografi
 - Suku bangsa Dayak (46,62%)
Jawa (21,67%)
Banjar (21,03%)
Melayu (3,96%)
Madura (1,93%)
Sunda (1,29%)
Bugis (0,77%)
Batak (0,56%)
Flores (0,38%)
Bali (0,33%)
Lain-lain (1,44%)[1]
 - Agama Islam (74,31%)
Kristen (Protestan dan Katolik) (18,60%)
Kaharingan[2] (6.26%)
Hindu (0,50%)
Buddha (0,10%)
 - Bahasa Bahasa Dayak, Bahasa Banjar, Bahasa Bakumpai, Bahasa Indonesia
Lagu daerah
Kalayar
Naluya
Palu Cempang Pupoi
Saluang Kitik-Kitik
Manasai
Tumpi Wayu [bahasa Maanyan]
Situs web www.kalteng.go.id

Kalimantan Tengah adalah salah satu sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibukotanya adalah Kota Palangka Raya. Kalimantan Tengah memiliki luas 157.983 km². Berdasarkan sensus tahun 2010, provinsi ini memiliki populasi 2.202.599 jiwa, yang terdiri atas 1.147.878 laki-laki dan 1.054.721 perempuan. Kalteng mempunyai 13 kabupaten dan 1 kotamadya.

Populasi historis
Tahun Jumlah
Pend.
  
±%  
1971 701.936 —    
1980 954.353 +36.0%
1990 1.396.486 +46.3%
1995 1.627.453 +16.5%
2000 1.801.965 +10.7%
2010 2.212.089 +22.8%
Source: Badan Pusat Statistik 2014

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut legenda suku Dayak yang berasal dari Panaturan Tetek Tatum yang ditulis oleh Tjilik Riwut mengisahkan orang pertama yang menempati bumi atau menginjakan kakinya di Kalimantan adalah Raja Bunu.[3] Pada abad ke-14 Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit memerintah di Kerajaan Negara Dipa (Amuntai) yang berpusat di Candi Agung dengan wilayah mandalanya dari Tanjung Silat sampai Tanjung Puting dengan daerah-daerah yang disebut Sakai, yaitu daerah sungai Barito, Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Amandit, Labuan Amas, Biaju Kecil (Kapuas-Murung), Biaju Besar (Kahayan), Sebangau, Mendawai, Katingan, Sampit dan Pembuang dengan kepala-kepala daerahnya masing-masing yang disebut Mantri Sakai (Kepala Distrik), sedangkan wilayah Kotawaringin pada masa itu merupakan kerajaan tersendiri.[4] Kerajaan Negara Dipa dilanjutkan oleh Kerajaan Negara Daha dengan raja pertamanya Miharaja Sari Babunangan Unro [miharaja= maharaja]. Raja tersebut telah mengantar salah seorang puteranya yang bernama Raden Sira Panji alias Uria Gadung [Uria= Aria] untuk memegang kekuasaan wilayah Tanah Dusun [atau Barito Raya] yang berkedudukan di JAAR – SANGGARWASI.[5]

Pada abad ke-16, Kalimantan Tengah masih termasuk dalam wilayah mandala Kesultanan Banjar, penerus Negara Daha yang telah memindahkan ibukota ke hilir sungai Barito tepatnya di Banjarmasin, dengan wilayah mandalanya yang semakin meluas meliputi daerah-daerah dari Tanjung Sambar sampai Tanjung Aru. Pada abad ke-16, berkuasalah Raja Maruhum Panambahan yang beristrikan Nyai Siti Biang Lawai, seorang puteri Dayak anak Patih Rumbih dari Biaju. Tentara Biaju kerapkali dilibatkan dalam revolusi di istana Banjar, bahkan dengan aksi pemotongan kepala (ngayau) misalnya saudara muda Nyai Biang Lawai bernama Panglima Sorang yang diberi gelar Nanang Sarang membantu Raja Maruhum menumpas pemberontakan anak-anak Kiai Di Podok. Selain itu orang Biaju (sebutan Dayak pada zaman dulu) juga pernah membantu Pangeran Dipati Anom (ke-2) untuk merebut tahta dari Sultan Ri'ayatullah. Raja Maruhum menugaskan Dipati Ngganding untuk memerintah di negeri Kotawaringin. Dipati Ngganding digantikan oleh menantunya, yaitu Pangeran Dipati Anta-Kasuma putra Raja Maruhum sebagai raja Kotawaringin yang pertama dengan gelar Ratu Kota Waringin. Pangeran Dipati Anta-Kasuma adalah suami dari Andin Juluk binti Dipati Ngganding dan Nyai Tapu binti Mantri Kahayan. Di Kotawaringin Pangeran Dipati Anta-Kasuma menikahi wanita setempat dan memperoleh anak, yaitu Pangeran Amas dan Putri Lanting.[4] Pangeran Amas yang bergelar Ratu Amas inilah yang menjadi raja Kotawaringin, penggantinya berlanjut hingga Raja Kotawaringin sekarang, yaitu Pangeran Ratu Alidin Sukma Alamsyah. Kontrak pertama Kotawaringin dengan VOC-Belanda terjadi pada tahun 1637.[6] Menurut laporan Radermacher, pada tahun 1780 telah terdapat pemerintahan pribumi seperti Kyai Ingebai Suradi Raya kepala daerah Mendawai, Kyai Ingebai Sudi Ratu kepala daerah Sampit, Raden Jaya kepala daerah Pembuang dan kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang bergelar Ratu Kota Ringin[7]

Berdasarkan traktat 13 Agustus 1787, Sultan Batu dari Banjarmasin menyerahkan daerah-daerah di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Barat dan sebagian Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada VOC, sedangkan Kesultanan Banjar sendiri dengan wilayahnya yang tersisa sepanjang daerah Kuin Utara, Martapura, Hulu Sungai sampai Distrik Pattai, Distrik Sihoeng dan Mengkatip menjadi daerah protektorat VOC, Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Tengah beserta daerah-daerah lainnya kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Secara de facto wilayah pedalaman Kalimantan Tengah tunduk kepada Hindia Belanda semenjak Perjanjian Tumbang Anoi pada tahun 1894. Selanjutnya kepala-kepala daerah di Kalimantan Tengah berada di bawah Hindia Belanda.[8] Sekitar tahun 1850, daerah Tanah Dusun (Barito Raya) terbagi dalam beberapa daerah pemerintahan yaitu: Kiaij Martipatie, Moeroeng Sikamat, Dermawijaija, Kiaij Dermapatie, Ihanjah dan Mankatip.[9][10]

Sejak tahun 1845, Hindia Belanda membuat susunan pemerintahan untuk daerah zuid-ooster-afdeeling van Borneo [meliputi daerah sungai Kahayan, sungai Kapuas Murung, sungai Barito, sungai Negara serta Tanah Laut] selain Residen terdapat juga Rijksbestierder alias Kepala Pemerintahan Pangeran Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana. Di dalam hierarki pemerintahan tersebut terdapat nama kepala suku Dayak seperti Tumenggung Surapati dan Toemenggoeng Nicodemus Djaija Negara.[11]

Berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, daerah-daerah di wilayah ini termasuk dalam zuid-ooster-afdeeling menurut Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.[12] Daerah-daerah di Kalteng tergolang sebagai negara dependen dan distrik dalam Kesultanan Banjar.[13]

Sebelum abad XIV, daerah Kalimantan Tengah termasuk daerah yang masih murni, belum ada pendatang dari daerah lain. Saat itu satu-satunya alat transportasi adalah perahu. Tahun 1350 Kerajaan Hindu mulai memasuki daerah Kotawaringin. Tahun 1365, Kerajaan Hindu dapat dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Beberapa kepala suku diangkat menjadi Menteri Kerajaan.

Tahun 1520, pada waktu pantai di Kalimantan bagian selatan dikuasai oleh Kesultanan Demak, agama Islam mulai berkembang di Kotawaringin. Tahun 1615 Kesultanan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin, yang meliputi daerah pantai Kalimantan Tengah. Daerah-daerah tersebut ialah : Sampit, Mendawai, dan Pembuang. Sedangkan daerah-daerah lain tetap bebas secara otonom menjalankan hukum adat Dayak-Kaharingan, dipimpin langsung oleh para kepala suku, bahkan banyak dari antara mereka yang menarik diri masuk ke pedalaman. Di daerah Pematang Sawang Pulau Kupang, dekat Kapuas, Kota Bataguh pernah terjadi perang besar. Perempuan Dayak bernama Nyai Undang memegang peranan dalam peperangan itu. Nyai Undang didampingi oleh para satria gagah perkasa, di antaranya Tambun, Bungai, Andin Sindai, dan Tawala Rawa Raca. Di kemudian hari nama pahlawan gagah perkasa Tambun Bungai, menjadi nama Kodam XI Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.

Tahun 1787, dengan adanya perjanjian antara Sultan Banjar dengan VOC, berakibat daerah Kalimantan Tengah, bahkan nyaris seluruh daerah, dikuasai VOC. Sekitar tahun 1835 misionaris Kristen mulai beraktifitas secara leluasa di selatan Kalimantan. Pada 26 Juni 1835, Barnstein, penginjil pertama Kalimantan tiba dan mulai menyebarkan agama Kristen di Banjarmasin. Pemerintah lokal Hindia Belanda malahan merintangi upaya-upaya misionaris[14] Pada tanggal 1 Mei 1859 pemerintah Hindia Belanda membuka pelabuhan di Sampit.[15]

Tahun 1917, Pemerintah Penjajah mulai mengangkat masyarakat setempat untuk dijadikan petugas-petugas pemerintahannya, dengan pengawasan langsung oleh para penjajah sendiri. Sejak abad XIX, penjajah mulai mengadakan ekspedisi masuk pedalaman Kalimantan dengan maksud untuk memperkuat kedudukan mereka. Namun penduduk pribumi, tidak begitu saja mudah dipengaruhi dan dikuasai. Perlawanan kepada para penjajah mereka lakukan hingga abad XX. Perlawanan secara frontal, berakhir tahun 1905, setelah Sultan Mohamad Seman gugur sebagai kusuma bangsa di Sungai Menawing dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Tahun 1835, Agama Kristen Protestan mulai masuk ke pedalaman. Hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, para penjajah tidak mampu menguasai Kalimantan secara menyeluruh. Penduduk asli tetap bertahan dan mengadakan perlawanan. Pada Agustus 1935 terjadi pertempuran antara suku Dayak Punan yaitu Oot Marikit dengan kaum penjajah. Pertempuran diakhiri dengan perdamaian di Sampit antara Oot Marikit dengan menantunya Pangenan atau Panganon dengan Pemerintah Belanda.

Menurut Hermogenes Ugang, pada abad ke 17, seorang misionaris Roma Katholik bernama Antonio Ventimiglia pernah datang ke Banjarmasin. Dengan perjuangan gigih dan ketekunannya hilir-mudik mengarungi sungai besar di Kalimantan dengan perahu yang telah dilengkapi altar untuk mengurbankan Misa, ia berhasil membaptiskan tiga ribu orang Ngaju menjadi Katholik. Pekerjaan dia dipusatkan di daerah hulu Kapuas (Manusup) dan pengaruh pekerjaan dia terasa sampai ke daerah Bukit. Namun, atas perintah Sultan Banjarmasin, Pastor Antonius Ventimiglia kemudian dibunuh. Alasan pembunuhan adalah karena Pastor Ventimiglia sangat mengasihi orang Ngaju, sementara saat itu orang-orang Ngaju mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Sultan Surya Alam/Tahliluulah, karena orang Biaju (Ngaju) pendukung Gusti Ranuwijaya penguasa Tanah Dusun-saingannya Sultan Surya Alam/Tahlilullah dalam perdagangan lada.[16] Dengan terbunuhnya Pastor Ventimiglia maka beribu-ribu umat Katholik orang Ngaju yang telah dibapbtiskannya, kembali kepada iman asli milik leluhur mereka. Yang tertinggal hanyalah tanda-tanda salib yang pernah dikenalkan oleh Pastor Ventimiglia kepada mereka. Namun tanda salib tersebut telah kehilangan arti yang sebenarnya. Tanda salib hanya menjadi benda fetis (jimat) yang berkhasiat magis sebagai penolak bala yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak dalam bahasa Dayak atau cacak burung dalam bahasa Banjar.

Pada masa penjajahan, suku Dayak di daerah Kalimantan Tengah, sekalipun telah bersosialisasi dengan pendatang, namun tetap berada dalam lingkungannya sendiri. Tahun 1919, generasi muda Dayak yang telah mengenyam pendidikan formal, mengusahakan kemajuan bagi masyarakat sukunya dengan mendirikan Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, yang dipelopori oleh Hausman Babu, M. Lampe , Philips Sinar, Haji Abdulgani, Sian, Lui Kamis, Tamanggung Tundan, dan masih banyak lainnya. Serikat Dayak dan Koperasi Dayak, bergerak aktif hingga tahun 1926. Sejak saat itu, Suku Dayak menjadi lebih mengenal keadaan zaman dan mulai bergerak. Tahun 1928, kedua organisasi tersebut dilebur menjadi Pakat Dayak, yang bergerak dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan tersebut ialah Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis. Kemudian dilanjutkan oleh Mahir Mahar, C. Luran, H. Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hasan, Christian Nyunting, Tjilik Riwut, dan masih banyak lainnya. Pakat Dayak meneruskan perjuangan, hingga bubarnya pemerintahan Belanda di Indonesia.

Tahun 1945, Persatuan Dayak yang berpusat di Pontianak, kemudian mempunyai cabang di seluruh Kalimantan, dipelopori oleh J. Uvang Uray , F.J. Palaunsuka, A. Djaelani, T. Brahim, F.D. Leiden. Pada tahun 1959, Persatuan Dayak bubar, kemudian bergabung dengan PNI dan Partindo. Akhirnya Partindo Kalimantan Barat meleburkan diri menjadi IPKI. Di daerah Kalimantan Timur berdiri Persukai atau Persatuan Suku Kalimantan Indonesia di bawah pimpinan Kamuk Tupak, W. Bungai, Muchtar, R. Magat, dan masih banyak lainnya.

Tahun 1942, Kalimantan Tengah disebut Afdeeling Kapoeas-Barito yang terbagi 6 divisi.[17]

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Kondisi dan sumber daya alam[sunting | sunting sumber]

Kondisi alam[sunting | sunting sumber]

Bagian Utara terdiri Pegunungan Muller Swachner dan perbukitan, bagian Selatan dataran rendah, rawa dan paya-paya. Berbatasan dengan tiga Provinsi Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Selatan dan Barat serta Laut Jawa. Wilayah ini beriklim tropis lembap yang dilintasi oleh garis equator.

Keanekaragaman hayati[sunting | sunting sumber]

Banyak yang belum diketahui, dengan ragam wilayah pantai, gunung/bukit, dataran rendah dan paya, segala macam vegetasi tropis mendominasi alam daerah ini. Orangutan merupakan hewan endemik yang masih banyak di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting yang memiliki areal mencapai 300.000 ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Terdapat beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya, kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus, burung rangkong, betet/beo dan hewan lain yang bervariasi tinggi.

Sumber daya alam[sunting | sunting sumber]

Hutan mendominasi wilayah 80%. Hutan primer tersisa sekitar 25% dari luas wilayah. Lahan yang luas saat ini mulai didominasi kebun Kelapa Sawit yang mencapai 700.000 ha (2007). Perkebunan karet dan rotan rakyat masih tersebar hampir diseluruh daerah, terutama di Kabupaten Kapuas, Katingan, Pulang Pisau, Gunung Mas dan Kotawaringin Timur.

Banyak ragam potensi sumber alam, antara lain yang sudah diusahakan berupa tambang batubara, emas, zirkon, besi. Terdapat pula tembaga, kaolin, batu permata dan lain-lain.

Sosial kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Tiga etnis dominan di Kalimantan Tengah yaitu etnis Dayak (46,62%), Jawa (21,67%) dan Banjar (21,03%). Kawasan utama etnis Dayak yaitu daerah pedalaman, Kawasan utama etnis Jawa yaitu daerah transmigrasi dan Kawasan utama etnis Banjar yaitu daerah pesisir dan perkotaan.

Dayak[sunting | sunting sumber]

Etnis Dayak adalah etnis terbesar di Kalteng dengan jumlah 1.029.182 atau 46,62% dari populasi Kalteng. Beberapa subetnis Dayak yang terdapat di Kalteng yaitu Ngaju (subetnis terbesar yang mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan), Bakumpai (mendiami tepian daerah aliran sungai Barito ), Maanyan (mendiami bagian timur Kalteng seperti Barito Timur dan Barito Selatan), Ot Danum (mendiami daerah utara Kalteng), Siang Murung (mendiami Timur Laut Kalteng/Kabupaten Murung Raya), Taboyan (mendiami sepanjangan tepian aliran Sungai Teweh), Lawangan (mendiami bagian timur Kalteng/Barito Timur), Dusun (mendiami wilayah aliran sungai Barito dari Barito Selatan sampai Murung Raya), dan subetnis lainnya dalam jumlah kecil. Orang Dayak di Kalteng umumnya berprofesi sebagai petani dan pegawai pemerintahan.

Jawa[sunting | sunting sumber]

Etnis Jawa merupakan etnis terbesar kedua di Kalteng dengan jumlah 478.393 atau 21,67% dari populasi Kalteng. Di beberapa kabupaten, seperti Kotawaringin Barat dan Pulang Pisau, etnis Jawa adalah penduduk mayoritas. Orang Jawa di Kalteng umumnya berprofesi sebagai petani, pegawai, TNI/Polri, pedagang makanan dan pekerja tambang/sawit. Kesenian Jawa seperti kuda lumping, reog, wayang kulit dan bahasa Jawa masih bertahan di kantong-kantong transmigrasi di Kalteng. Besarnya proporsi orang Jawa di Kalteng karena banyaknya transmigrasi asal Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur yang masuk ke Kalteng.

Banjar[sunting | sunting sumber]

Etnis Banjar merupakan etnis terbesar ketiga di Kalteng dengan jumlah 464.260 atau 21,03% dari populasi Kalteng. Di Kalteng, orang Banjar banyak berada di wilayah perkotaan seperti Palangka Raya, Kotawaringin Timur (Sampit) dan Kapuas yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Selatan. Orang Banjar di Kalteng umumnya bekerja sebagai pedagang dan wiraswasta, sehingga kuliner, masakan dan bahasa Banjar cukup dominan di Kalteng. Berbagai upacara adat Banjar, seperti pada upacara pernikahan, kelahiran (tasmiyah), batamat Al Qur'an, selamatan, baayun mulud dan sebagian kesenian Banjar, seperti hadrah dan maulid habsyi masih bertahan di Kalteng. Namun kesenian lainnya seperti tari-tarian, madihin, mamanda dan musik panting sudah jarang ditampilkan di Kalteng.

Melayu[sunting | sunting sumber]

Etnis Melayu merupakan etnis terbesar keempat di Kalteng dengan jumlah 87.348 atau 3,96% dari populasi Kalteng yang menempati pesisir Sukamara dan Kotawaringin Barat. Melayu di Kalteng biasa disebut Melayu Kotawaringin yang adat budayanya tidak jauh berbeda dengan orang Melayu Kalbar dan orang Banjar.

Madura[sunting | sunting sumber]

Etnis Madura merupakan etnis terbesar kelima di Kalteng dengan jumlah 42.668 atau 1.93% dari populasi Kalteng. Di Kalteng, orang Madura yang juga banyak berprofesi sebagai pedagang banyak mendiami daerah Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur. Setelah konflik etnis tahun 2001, sebagian warga Madura sudah berangsur-angsur kembali ke Kalteng.

Lainnya[sunting | sunting sumber]

Etnis terbesar keenam hingga kesepuluh yaitu Sunda (1,29%), Bugis (0,77%), Batak (0,56%), Flores (0,38%) dan Bali (0,33%) serta suku-suku lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Etnis Sunda, Flores dan Bali di Kalteng juga terdapat di wilayah-wilayah transmigrasi, namun jumlahnya tidak sebanyak etnis Jawa. Etnis Bugis di Kalteng sebagian besar merupakan kelompok Bugis Pagatan dari Kalimantan Selatan yang merantau ke Kalteng. Etnis Batak di Kalteng terdapat di wilayah perkotaan baik sebagai pegawai dan birokrat, maupun di pedalaman sebagai pekerja tambang dan sawit.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Tengah, yaitu:

Nomor Suku bangsa Jumlah (2010) [1] Konsentrasi (2010) Jumlah (2000) [18] Konsentrasi (2000)
1 Dayak 1.029.182 46,62% Tidak ada data Tidak ada data
2 Jawa 478.393 21,67% 325.160 18,06%
2 Banjar 464.260 21,03% 435.758 24,20%
4 Melayu 87.348 3,96% Tidak ada data Tidak ada data
5 Madura 42.668 1,93% 62.228 3,46%
6 Sunda 28.580 1,29% 24.479 1,36%
7 Bugis 17.104 0,77% Tidak ada data Tidak ada data
8 Batak 12.324 0,56% Tidak ada data Tidak ada data
9 Flores 8.372 0,38% Tidak ada data Tidak ada data
10 Bali 7.348 0,33% Tidak ada data Tidak ada data
11 Suku-suku lainnya 31.788 1,44% - -
Total 2.207.367 100,00% 1.800.713 100,00%

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Pada dasarnya bahasa yang digunakan secara luas di Kalimantan Tengah adalah Bahasa Banjar dan Bahasa Indonesia. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Tengah karena besarnya jumlah perantauan Suku Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar digunakan sebagai bahasa perdagangan dan bahasa sehari-hari.[19] Masyarakat Suku Jawa di lokasi transmigrasi umumnya menuturkan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari.

Bahasa Dayak yang dominan digunakan oleh Suku Dayak di Kalimantan Tengah, di antaranya Bahasa Ngaju yang digunakan di daerah sungai Kahayan dan Kapuas.[20] Bahasa Bakumpai dan Bahasa Maanyan dituturkan oleh penduduk di sepanjang daerah aliran sungai Barito dan sekitarnya dan Bahasa Ot Danum yang digunakan oleh suku Dayak Ot Danum di hulu sungai Kahayan dan sungai Kapuas.

Agama[sunting | sunting sumber]

Agama yang dipeluk masyarakat Kalimantan Tengah, yaitu :[21]

Nomor Agama Jumlah Konsentrasi Keterangan
1 Islam 1.643.715 74,31% dipeluk oleh Suku Banjar, Jawa, Melayu, Madura, Sunda, serta sebagian Kecil Suku Dayak.
2 Kristen (Protestan dan Katolik) 411.632 18,60% dipeluk oleh sebagian Suku Dayak, Batak, Flores serta sebagian Suku Jawa
3 Lainnya 138.419 6,26% Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak Kalimantan Tengah yang pada Sensus 2010 digabungkan dalam kelompok Lainnya. Penganut Agama Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat di bagian hulu sungai, antara lain hulu sungai Kahayan, sungai Katingan dan hulu sungai lainnya.[22]
4 Hindu 11.149 0,50% dipeluk oleh Suku Bali transmigran
5 Buddha 2.301 0,10% dipeluk oleh orang Tionghoa

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Geliat dunia pendidikan di Kalimantan Tengah sekarang sedang berkembang dengan pesat. Hal tersebut ditandai dengan bermunculannya berbagai lembaga pendidikan serta keberadaan beberapa Universitas dan Sekolah Tinggi.

Universitas Negeri Palangka Raya dan Untama merupakan Universitas-universitas Negeri yang ada di Kalimantan Tengah, selain itu terdapat Universitas Muhammadiyah serta beberapa perguruan tinggi lainnya yang ikut memberikan sumbangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Tambun Bungai serta Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Palangka Raya. Tak lupa pula berbagai Universitas maupun Sekolah Tinggi rintisan yang terdapat di Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten dan kota[sunting | sunting sumber]

Provinsi Kalimantan Tengah dibagi menjadi beberapa Daerah Tingkat II, yaitu:

No. Kabupaten/Kota Pusat pemerintahan Bupati/Wali Kota Kecamatan Kelurahan/desa Logo
Central Kalimantan coa.png
1 Kabupaten Barito Selatan Buntok Farid Yusran Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kab Barito Selatan.jpg
2 Kabupaten Barito Timur Tamiang Layang Ampera AY. Mebas Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Barito Timur.png
3 Kabupaten Barito Utara Muara Teweh Nadalsyah Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Barito Utara.png
4 Kabupaten Gunung Mas Kuala Kurun Arton S. Dohong Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Gunung Mas.jpg
5 Kabupaten Kapuas Kuala Kapuas Ben Brahim S. Bahat Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Kapuas.png
6 Kabupaten Katingan Kasongan Ahmad Yantenglie Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Katingan.gif
7 Kabupaten Kotawaringin Barat Pangkalan Bun Bambang Purwanto Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang kotawaringin barat.jpg
8 Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit Supian Hadi Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Kotawaringin Timur.jpg
9 Kabupaten Lamandau Nanga Bulik Marukan Hendrik Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Lamandau.jpeg
10 Kabupaten Murung Raya Puruk Cahu Perdie M. Yoseph Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Murung Raya.jpg
11 Kabupaten Pulang Pisau Pulang Pisau Edy Pratowo Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Pulang Pisau.jpg
12 Kabupaten Sukamara Sukamara Ahmad Dirman Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Sukamara.png
13 Kabupaten Seruyan Kuala Pembuang Sudarsono Daftar kecamatan Daftar desa
Lambang Kabupaten Seruyan.jpg
14 Kota Palangka Raya - Riban Satia Daftar kecamatan Daftar kelurahan
Lambang Kota Palangka Raya.gif


Daftar gubernur[sunting | sunting sumber]

No Foto Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan Wakil Gubernur
1
RTA Milono.jpg R.T.A. Milono
1 Januari 1957
30 Juni 1958
Gubernur Pembentuk Provinsi Kalteng[23]
Tidak ada
2
Tjilik Riwut.jpg Tjilik Riwut
30 Juni 1958
Februari 1967
Gubernur Kalteng Pertama - Babat Alas
Reinout Sylvanus
(1961—67)
3
ReynouldSilvanus1.jpg Reinout Sylvanus
Februari 1967
3 Oktober 1978
 
Tidak ada
4
WA Gara.jpg Willy Ananias Gara
3 Oktober 1978
7 Oktober 1983
 
Eddy Sabara.jpg Eddy Sabara
7 Oktober 1983
23 Januari 1984
 
5
Gatot Amrih.jpg Gatot Amrih
23 Januari 1984
21 Januari 1989
 
Victor Phaing
6
Suparmanto.jpg Suparmanto
21 Januari 1989
22 Januari 1993
 
H. J. Andries
7
Warsito.jpg Warsito Rasman
17 Juli 1994
Juli 1999
 
E. Gerson
Rapiudin1.jpg Rappiudin Hamarung
Juli 1999
8 Maret 2000
Penjabat Gubernur
Siswanto Adi
8
Drs H Asmawi Agani.jpg Asmawi Agani
8 Maret 2000
23 Maret 2005
 
Nahson Taway
Sodjuangan-situmorang-060809.jpg Sodjuangan Situmorang
23 Maret 2005
4 Agustus 2005
Penjabat Gubernur
Lowong
10
Agustin-teras-narang.jpg Agustin Teras Narang
4 Agustus 2005
3 Agustus 2010
periode pertama
Achmad Diran
4 Agustus 2010
4 Agustus 2015
periode kedua
Hadi Prabowo Kalteng.jpg Hadi Prabowo
5 Agustus 2015
25 Mei 2016
Penjabat Gubernur
Lowong
11
Sugianto Sabran.jpg
Sugianto Sabran
25 Mei 2016
Petahana
Said Ismail


Forum Koordinasi Pimpinan Daerah[sunting | sunting sumber]

Pertahanan dan Keamanan[sunting | sunting sumber]

Kalimantan Tengah merupakan wilayah KOREM 102/PJG, KODAM XII/Tanjungpura yang bermarkas di Palangka Raya. Kawasan TNI-AU terdapat di Lanud Iskandar (Pangkalan Bun).

Polda Kalimantan Tengah membawahi 12 kabupaten/kota dengan rincian 1 kepolisian resor kota, dan 12 kepolisian resor

Media[sunting | sunting sumber]

Televisi[sunting | sunting sumber]

  • Baraya TV 50 UHF (Dalam Proses Agustus 2014)

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Tenaga kerja[sunting | sunting sumber]

Penduduk Usia 15 Tahun Lebih Menurut Kegiatan[24]

Kegiatan utama Februari 2006 Agustus 2006 Februari 2007 Februari 2008
Penduduk Usia 15 Tahun Lebih 1.387.244 1.398.307 1.411.568 1.438.271
Angkatan Kerja 991.764 944.266 1.100.430 1.077.831
Bekerja 991.764 944.266 1.045.186 1.026.211

Potensi perikanan[sunting | sunting sumber]

Potensi perikanan di Kalimantan Tengah sangat besar, khususnya perikanan air tawar. Hal itu dikarenakan luasnya wilayah perairan tawar seperti sungai, danau dan rawa di Kalimantan Tengah. Potensi laut Kalimantan Tengah 94.500 km2 dengan panjang garis pantai ± 750 km memiliki berbagai jenis ikan pelagis, udang, rajungan, dan lainnya. Pantai laut di selatan Kalimantan Tengah merangkai 7 (tujuh) kabupaten; yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau, dengan panjang garis pantai ± 750 km. Sedangkan perairan umum dengan luas ± 2.29 juta Ha dengan potensi sumberdaya ikannya yang cukup besar perlu pengelolaan dan pemanfaatan secara baik. Produksi perikanan tangkap tahun 2013 sebesar 101.891,8 ton meningkat sebesar 7,31 % dibandingkan produksi perikanan tangkap tahun 2012 sebesar 94.954,1 ton. Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) Tangkap adalah sebanyak 21.770 RTP yang terdiri dari 5.340 RTP Perikanan Laut dan 16.430 RTP Perikanan Darat. Jumlah produksi perikanan budidaya pada tahun 2013 sebesar 53.519,43 ton mengalami peningkatan sebesar 20,70 % dari produksi tahun 2012 sebesar 42.441,28 ton dengan luas lahan budidaya seluas 6.960,8 Ha. Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) Budidaya pada tahun 2013 sebanyak 20.312 RTP. Pengembangan usaha pengolahan perikanan skala kecil dilakukan melalui peningkatan sarana dan prasarana pengolahan kepada Kelompok Pengolah dan Pemasar (POKLAHSAR). Pada tahun 2013, jumlah produksi olahan hasil perikanan sebesar 6.149,9 ton meningkat sebesar 0,73 % dari total produksi tahun 2012 sebesar 6.104,8 ton. Tingkat Konsumsi Ikan di Kalimantan Tengah cukup tinggi yaitu 46,03 kg/kapita/tahun, lebih besar daripada Tingkat Konsumsi Ikan Nasional sebesar 35,62 kg/kapita/tahun. Jumlah Unit Pengolahan di Kalimantan Tengah sebanyak 2.837 UPI sedangkan Unit Pemasaran sebanyak 7.994 UPI.

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk di wilayah Katingan, Khususnya Kecamatan Katingan Tengah bermata pencaharian sebagai petani dan penambang. Hasil tambang utama yang diperoleh adalah emas dan puya (pasir zirkon) yang berwarna merah. Masyarakat dalam melakukan penambangan masih bersifat tradisional sehingga hasil yang diperoleh tidak optimal.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Bandar udara Tjilik Riwut Palangka Raya melayani penerbangan dari dan ke Surabaya dan Jakarta direct, menggunakan pesawat jet jenis Boeing 737-200, 737-300 dan 737-400. Penerbangan ini dilayani oleh 4 maskapai, yaitu: Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Lion Air dan Batavia Air. Bandar udara kesayangan masyarakat Palangka Raya ini memiliki pcn 29 fczu, bisa dilintasi dengan mobil maupun taksi.

Jarak Palangka Raya (0 km Jalan Nasional) dengan ibukota kabupaten[25][sunting | sunting sumber]

ibukota kabupaten Darat (km) Keterangan
Batas Kalteng-Kalsel - (Anjir Serapat)
KLK 142 km
TML 418 km
BNT 511 km
MTW 605 km -
PRC 702 km -
KKN 180 km -
KSN 88 km -
SPT 227 km -
KLP 702 km -
PBU 449 km -
SKR 686 km -
Batas Kalteng-Kalbar - (Kudangan)

Seni dan budaya[sunting | sunting sumber]

Seni musik[sunting | sunting sumber]

Arsitektur Rumah Betang (Huma Betang) di Tumbang Anoi merupakan rumah panjang hunian komunal masyarakat suku Dayak Ot Danum di perhuluan sungai Kahayan.
Arsitektur Rumah Baanjung tipe Rumah Balai Bini di Kumai, yang merupakan hunian keluarga inti dalam rumah sendiri-sendiri pada masyarakat pesisir Kalimantan Tengah.
Perpaduan Rumah Betang dengan Rumah Baanjung menghasilkan Rumah Betang Ba'anjung (Humna Gantung) di Desa Buntoi.

Seni musik yang dikenal di daerah ini antara lain:

Chordophone
Idiophone
  • Berbagai jenis Gong
  • Kangkanung
Membranophone
  • Berbagai jenis Kendang (Gandang)
  • Katambung

Seni vokal[sunting | sunting sumber]

Seni vokal yang populer di wilayah ini adalah:

  • Karungut
  • Kandan
  • Mansana
  • Kalalai Lalai
  • Ngendau
  • Natum
  • Dodoi
  • Marung

Tarian[sunting | sunting sumber]

Jenis-jenis tarian yang terdapat di daerah ini antara lain:

  • Tari Hugo dan Huda
  • Tari Putri Malawen
  • Tari Tuntung Tulus dari Barito Timur
  • Tari Giring-giring
  • Tari Manasai
  • Tari Balian Bawo
  • Tari Balian Dadas
  • Manganjan
  • Tari Kanjan Halu
  • Tari Deder
  • Tari Mandau
  • Tari Kinyah

Seni Kriya[sunting | sunting sumber]

Seni kriya yang berkembang di wilayah ini adalah:

  • Seni pahat patung Sapundu
  • Seni lukis
  • Rajah
  • Anyaman
  • Seni dari bahan Getah Nyatu
  • Topeng Sababuka

Upacara adat[sunting | sunting sumber]

  • Wadian
  • Upacara Tiwah (upacara memindahkan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
  • Wara (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)
  • Balian (upacara pengobatan)
  • Potong Pantan (upacara peresmian atau penyambutan tamu kehormatan)
  • Mapalas (upacara membuang sial atau membersihkan diri dari malapetaka)
  • Ijambe (upacara pemindahan tulang belulang keluarga yang telah meninggal)

Pakaian pengantin[sunting | sunting sumber]

  • Busana Pengantin Dayak

Busana pengantin pria Dayak Kalimantan Tengah memakai celana panjang sampai lutut, selempit perak atau tali pinggang dan tutup kepala. Perhiasan yang dipakai adalah inuk atau kalung panjang, cekoang atau kalung pendek dan kalung yang terbuat dari gigi binatang. Pengantin wanita memakai kain berupa rok pendek, rompi, ikat kepala dengan hiasan bulu enggang gading, kalung dan subang.

  • Busana Pengantin Kotawaringin
Rumah Betang muara bagok

Dalam motif pakaian, Busana pengantin Kotawaringin tampak memiliki kemiripan dengan Busana Pengantin Banjar.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, dan Agus Pramono (2015). Demography of Indonesia’s Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies dan BPS – Statistics Indonesia. 
  2. ^ Dalam Sensus 2010 digolongkan dalam kelompok Lainnya.
  3. ^ http://sejarah.kompasiana.com/2012/07/17/suku-dayak-adalah-leluhur-bangsa-indonesia-part-1-478447.html
  4. ^ a b (Melayu)Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  5. ^ HUBUNGAN RAJA-RAJA BANJAR DAN PENGETUA KAMPUNG JAAR-SANGGARWASI
  6. ^ (Belanda) L. C. van Dijk, Ne©erland's vroegste betrekkingen met Borneo, den Solo-Archipel, Camobdja, Siam en Cochin-China, Scheltema, 1862
  7. ^ (Inggris) The New American Encyclopaedia (1865). "The New American Encyclopaedia: a popular dictionary of general knowledge" 2. D. Appleton. 
  8. ^ (Inggris)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). "Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië" 23 (1-2). Nederlandsch-Indië. p. 205. 
  9. ^ Borneo in 1850
  10. ^ Borneo 1800-1857
  11. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1849). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 22. Lands Drukkery. p. 83. 
  12. ^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). "Staatsblad van Nederlandisch Indië". s.n. 
  13. ^ (Inggris)Royal Geographical Society (Great Britain) (1856). "A Gazetteer of the world: or, Dictionary of geographical knowledge, compiled from the most recent authorities, and forming a complete body of modern geography -- physical, political, statistical, historical, and ethnographical" 5. A. Fullarton. 
  14. ^ (Indonesia) Ukur, Fridolin (2000). Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835. BPK Gunung Mulia. p. 42. ISBN 9789799290588.  ISBN 979-9290-58-9
  15. ^ (Inggris)Zuhdi, Susanto (2002). Cilacap (1830-1942): bangkit dan runtuhnya suatu pelabuhan di Jawa. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 9789799023698. ISBN 979-9023-69-6
  16. ^ http://eprints.lib.ui.ac.id/12976/1/82338-T6811-Politik%20dan-TOC.pdf
  17. ^ Borneo in 1942
  18. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  19. ^ Soto Mengalir sampai Jauh... - KOMPAS.com. Diakses 28 Januari 2014.
  20. ^ http://multitree.org/codes/daya
  21. ^ "Sensus Penduduk 2010 - Penduduk Menurut Wilayah dan Agama Yang Dianut - Provinsi Kalimantan Tengah". Diakses tanggal 2014-01-28. 
  22. ^ (Perancis)Sevin, Olivier (1983). Les Dayak du centre Kalimantan: étude géographique du Pays ngaju, de la Seruyan à la Kahayan. IRD Editions. ISBN 9782709907002. ISBN 2-7099-0700-3
  23. ^ Sosilo, Herman (4 Juli 2013). "Sejarah Singkat Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah". Website Pemerintah Kalimantan Tengah. Diakses tanggal 27 Mei 2016. 
  24. ^ Sumber: Badan Pusat Statisktik, Provinsi Kalimantan Tengah
  25. ^ PROFIL DAERAH KALIMANTAN TENGAH STRUKTUR, LUAS, DAN JARAK KE IBUKOTA PROVINSI

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 1°23′LU 113°17′BT / 1,383°LS 113,283°BT / -1.383; 113.283