Produksi minyak sawit di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kebun sawit di Cigudeg, Bogor.

Produksi kelapa sawit merupakan bagian penting dari ekonomi Indonesia karena negara ini merupakan produsen dan konsumen sawit terbesar di dunia. Indonesia memasok kurang lebih separuh pasokan sawit dunia.[1] Luas kebun sawit di Indonesia mencapai 6 juta hektar (dua kali luas negara Belgia). Pada tahun 2015, Indonesia berencana membangun 4 juta hektar kebun untuk produksi bahan bakar bio yang bersumber dari minyak sawit.[2] Per 2012, Indonesia memproduksi 35 persen minyak sawit berkelanjutan tersertifikasi (CSPO) dunia.[3]

Selain memenuhi kebutuhan pasar, Indonesia juga mulai merintis produksi biodiesel. Tiongkok dan India adalah pengimpor minyak sawit terbesar di dunia. Sepertiga minyak sawit dunia diimpor oleh dua negara tersebut.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Bekas hutan gambut di Indragiri Hulu, Riau, Indonesia, yang hendak dijadikan kebun kelapa sawit.

Sejak 1964, produksi minyak sawit di Indonesia naik drastis dari 157.000 ton menjadi 33,5 juta ton pada tahun 2014.[4] Minyak sawit mencakup 11% ekspor Indonesia dengan nilai $5,7 miliar. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memperkirakan ekspornya naik menjadi 40 juta ton pada tahun 2020. Jumlah produksi minyak sawit global menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencapai 50 juta ton pada tahun 2012, dua kali lipat jumlah produksi tahun 2002.[5] Kenaikan jumlah tersebut sesuai dengan kenaikan produksi minyak sawit Indonesia pada periode waktu yang sama, dari 10,3 juta ton tahun 2012 menjadi 28,5 juta ton tahun 2012.[4]

Produksi minyak sawit bergantung pada hutan hujan Indonesia yang luasnya terbesar ketiga di dunia setelah Amazon dan Kongo. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, sepertiga produksi sawit dipegang oleh petani kecil dan sisanya oleh perusahaan multinasional. Pohon kelapa sawit yang ditanam 25 tahun yang lalu memiliki tingkat produksi rata-rata empat ton minyak per hektar per tahun. Sejumlah produsen berencana menaikkan jumlah tersebut dengan memperkenalkan varietas kelapa sawit baru yang mampu melipatgandakan tingkat produksi per hektar.[5]

Kalimantan dan Sumatera adalah dua pulau yang memasok 96 persen produksi minyak sawit Indonesia.[6] Per 2011, luas kebun sawit di Indonesia mencapai 7,8 juta hektar, 6,1 juta hektar di antaranya merupakan kebun produktif. Karena itu, Indonesia menjadi produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia. Menurut Bank Dunia, hampir 50% CPO yang diproduksi di negara ini diekspor dalam bentuk mentah, sedangkan sisanya diproses menjadi minyak makan. 50% produk minyak makan diekspor dan sisanya didistribusikan ke seluruh Indonesia.[7]

Kegunaan[sunting | sunting sumber]

MInyak sawit merupakan bahan dasar berbagai produk konsumsi, mulai dari cokelat, permen karet, lipstik, deterjen,[5] donat, sabun, hingga biodiesel.[6] Minyak sawit di Asia dimanfaatkan sebagai bahan dasar minyak makan dan mi sehingga melahirkan industri senilai $44 miliar. Sepertiga produksi minyak sawit dunia diekspor ke Tiongkok dan India.[6]

Perusahaan[sunting | sunting sumber]

Perusahaan-perusahaan lokal dan global membangun pabrik penggilingan dan penyulingan, termasuk PT Astra Agro Lestari Tbk (penyulingan biodiesel berkapasitas 150.000 ton per tahun), PT Bakrie Group (pabrik biodiesel dan perkebunan baru), Surya Dumai Group (penyulingan biodiesel).[8]

Cargill (kadang beroperasi lewat CTP Holdings asal Singapura) membangun penyulingan dan penggilingan baru di Malaysia dan Indonesia, memperluas kapasitas penyulingannya di Rotterdam hingga 300.000 ton per tahun, serta mengambil alih perkebunan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua Nugini.[butuh rujukan]

Wilmar International Limited memiliki perkebunan dan 25 penyulingan di seluruh Indonesia untuk memasok penyulingan biodiesel baru di Singapura, Riau, dan Rotterdam.[8]

Musim Mas Group memiliki perkebunan dan penyulingan di Malaysia dan Indonesia (Kalimantan, Medan, dan lain-lain). Perusahaan ini berkantor pusat di Singapura.

Marihat Research Station (MRS) di Pematang Siantar dikenal sebagai pusat penelitian perkebunan minyak sawit pertama di Indonesia. Salah satu ahli tanah yang pernah bertugas di MRS adalah Ir. Petrus Purba. Ia pernah bekerja di RISPA yang berkantor pusat di Medan.

Pada Agustus 2011, gubernur Aceh menerbitkan izin pemanfaatan 1.600 hektar hutan Tripa kepada perusahaan minyak sawit Kallista Alam .[9] Produsen minyak sawit Triputra Agro Persada kabarnya menambah luas kebunnya hingga dua per tiganya pada tahun 2015.[10]

Dampak lingkungan[sunting | sunting sumber]

Orangutan liar di Taman Nasional Kutai, Indonesia
Harimau Sumatera (Panthera tigris)

Ancaman lingkungan terbesar yang dihadapi dunia akibat produksi minyak sawit adalah pembalakan hutan hujan (sumber minyak sawit) di Indonesia dan Malaysia. Deforestasi memakan sedikitnya 8 juta hektar hutan di Indonesia.[7] Deforestasi juga mengancam habitat spesies terancam seperti gajah pigmi Kalimantan, gajah Sumatera, harimau Sumatera, badak Sumatera, dan dua spesies orangutan yang hidup di hutan Kalimantan dan Sumatera. Pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk pekerja anak dan sistem rentenir juga terjadi di perkebunan Kalimantan dan Sumatera.[6] Menurut Greenpeace, produksi minyak sawit mengakibatkan deforestasi 25% hutan di Indonesia pada tahun 2009 sampai 2011.[5]

Di Kalimantan, deforestasi untuk pengembangna kebun kelapa sawit mengancam permukiman suku pribumi dan habitat orangutan.[11][12]

Kebijakan[sunting | sunting sumber]

Moratorium pembukaan hutan diberlakukan oleh pemerintah Indonesia mulai tahun 2011 sampai 2015. Hampir 80% pembukaan hutan di Indonesia tergolong sebagai pembalakan liar.[13]

Dewan Minyak Sawit Indonesia berencana menggunakan material kebun baru di kebun lama yang mampu melipatgandakan hasil produksi. Sebelumnya, produksi minyak sawit mencapai empat ton per hektar. Selain itu, pemerintah akan mendorong pengembangan kebun kelapa sawit di lahan kosong. Lahan kosong ini kabarnya mencapai 14 juta hektar di empat provinsi di Kalimantan.[5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ McClanahan, Paige (11 September 2013). "Can Indonesia increase palm oil output without destroying its forest? Environmentalists doubt the world's biggest palm oil producer can implement ambitious plans without damaging woodland". The Guardian. Diakses tanggal 22 September 2013. 
  2. ^ "Palm oil". Greenpeace. Diakses tanggal 22 September 2013. 
  3. ^ Sarif, Edy (17 June 2011). "Malaysia expected to maintain position as world's largest producer of Certified Sustainable Palm Oil". The Malaysian Star. Diakses tanggal 22 September 2013. 
  4. ^ a b "Indonesia Palm Oil Production by Year". Indexmundi.com. Diakses tanggal 22 September 2013. 
  5. ^ a b c d e "Can Indonesia increase palm oil output without destroying its forest?". The Guardian. 11 September 2013. Diakses tanggal 22 September 2013. 
  6. ^ a b c d "Indonesia's Palm Oil Industry Rife With Human-Rights Abuses". Businessweek. 18 July 2013. Diakses tanggal 23 September 2013. 
  7. ^ a b "Fact File – Indonesia world leader in palm oil production". Ceentre for International Forest Research. 8 July 2013. Diakses tanggal 23 September 2013. 
  8. ^ a b Corporate power: The palm-oil-biodiesel nexus Grain 2007
  9. ^ Stop Burning Rain Forests for Palm Oil; The world's growing appetite for cheap palm oil is destroying rain forests and amplifying climate change 6 December 2012 Scientific American
  10. ^ Benny Subianto Forbes 2013
  11. ^ "Finding Their Forests Flush With Foes, Provincial Tribes Push for Logging Ban". Jakarta Globe. 10 October 2010. 
  12. ^ "Palm oil threat to Indonesia's orangutans". BBC News. 27 December 2011. 
  13. ^ Riskanalys av glas, järn, betong och gips 29 March 2011. s.19–20 (Swedia)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]