Kopi di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kopi pada saat digoreng di Toko Aroma, Bandung, Indonesia
Pengolahan kopi di Sumatra, Indonesia.

Kopi Indonesia, yaitu kopi yang diekspor dari Indonesia, saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil produksi sebanyak 648.000 ton, setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia. Kopi tersebut diekspor ke

Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Abad 18[sunting | sunting sumber]

Benih kopi Arabika, untuk pertama kalinya ditanam di pulau Jawa oleh Belanda pada tahun 1696[2], dibawa langsung oleh pimpinan kapal dagang Belanda, Adrian van Ommen dari Malabar, India. Lima belas tahun kemudian, atau kurang lebih di tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu, mengapalkan sekitar 4 kuintal kopi ke Amsterdam, dan ekspor kopi perdana tersebut memecahkan rekor harga lelang disana. Tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi yang berasal dari pulau Jawa, membanjiri benua Eropa, mengalahkan kopi Mocha dari Yaman yang sebelumnya menjadi penguasa pasar. Dan karena itu pula, kopi yang berasal dari pulau Jawa mulai dikenal dengan nama Java Coffee[2]

Di tahun 1714, Raja Louis XIV dari Perancis, meminta benih ‘’Coffea arabica var. Arabica’’ atau disebut sebagai ‘’Coffea arabica L. var. typica’’ yang untuk selanjutnya disebut sebagai tipika dari walikota Amsterdam Nicolaes Witsen. Hal ini dikarenakan raja Perancis tersebut mendapatkan fakta bahwasanya Kopi asal pulau Jawa mendapatkan harga tertinggi dalam lelang di Amsterdam, Belanda. Sehingga ia menginginkan varietas kopi itu dapat menjadi bagian dari kebun raya ‘’Jardin des Plantes’’ di kota Paris, Perancis. [2]

Benih tersebut, aslinya tumbuh di bantaran Ciliwung, seperti Kampung Melayu dan Jatinegara atau dulu dikenal dengan nama Meester Cornelis, yang merupakan area awal perkebunan kopi di Jawa, dimana bibitnya dibawa orang Belanda dari Sri Lanka. Pada tahun 1706, saat kopi tumbuh dengan lambak di Jawa, kumpeni, benih kopi yang tumbuh di bantaran Ciliwung, dikirimkan ke kebun botani di Amsterdam untuk dilakukan penelitian, dimana hasilnya, kopi tersebut berkualitas bagus.[2]

Benih kopi Jawa yang ada di kebun raya ‘’Jardin des Plantes’’ dibawa oleh perwira angkatan laut Perancis ke Martinique, salah satu koloni Perancis di Karibia. Selain itu di awal tahun 1720-an, Belanda juga mengirimkan benih kopi Jawa ke Suriname, karena tergiur dengan harganya yang tinggi, untuk membuka perkebunan di sana. Dari dua tempat tersebut, benih kopi Jawa menyebar ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Jejaknya terlihat di Amerika Latin, yaitu di Ethiopia. Disana ada tipika yang sekarang sudah memiliki merek ‘’’’’Blue Mountain’’’’’ yang ditanam di Jamaika dan Geisha atau Gesha, dimana nama itu mengacu pada nama dusun penghasil kopi di Ethiopia yang tumbuh di Panama. [3]

Abad 19[sunting | sunting sumber]

Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (18301870) masa penjajahan Belanda di Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan sebahagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), Sukabumi, Bogor, Mandailing dan Sidikalang. Kopi juga ditanam di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra, Sulawesi, Timor dan Flores. Pada permulaan abad ke-20 perkebunan kopi di Indonesia mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan untuk mencoba menggantinya denga jenis Kopi yang lebih kuat terhadap serangan penyakit yaitu kopi Liberika dan Ekselsa. Namun didaerah Timor dan Flores yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama meskipun jenis kopi yang dibudidayakan disana juga kopi Arabica.

Biji kopi yang telah digoreng

Pemerintah Belanda kemudian menanam kopi Liberika untuk menanggulangi hama tersebut. Varietas ini tidak begitu lama populer dan juga terserang hama. Kopi Liberika masih dapat ditemui di pulau Jawa, walau jarang ditanam sebagai bahan produksi komersial. Biji kopi Liberika sedikit lebih besar dari biji kopi Arabika dan kopi Robusta. sebenarnya, perkebunan kopi ini tidak terserang hama, namun ada revolusi perkebunan dimana buruh perkebunan kopi menebang seluruh perkebunan kopi di Jawa pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Status industri saat ini[sunting | sunting sumber]

Robusta menggantikan kopi Liberika. Walaupun ini bukan kopi yang khas bagi Indonesia, kopi ini menjadi bahan ekspor yang penting di Indonesia.

Bencana alam, Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan - semuanya mempunyai peranan penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk mempermudah perdagangan kopi. Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi Arabika. Kopi Arabika juga banyak diproduksi di kebun-kebun seperti (Kayumas, Blawan, Kalisat/Jampit)di Bondowoso, Jawa Timur. Sedangkan kopi robusta di Jawa Timur, banyak diproduksi dari kebun - kebun seperti Ngrangkah Pawon (Kediri), Bangelan (Malang), Malangsari, Kaliselogiri (Banyuwangi). Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi Arabika dan Robusta. Kopi Robusta tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi Arabika tumbuh di daerah tinggi.

Setelah kemerdekaan banyak perkebunan kopi yang diambil alih oleh pemerintah yang baru atau ditinggalkan. Saat ini sekitar 92% produksi kopi berada di bawah petani-petani kecil atau koperasi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Taufiqurohman 2018, hlm. 59.
  2. ^ a b c d Taufiqurohman 2018, hlm. 8.
  3. ^ Taufiqurohman 2018, hlm. 9.

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Taufiqurohman, Muhammad (2018). KOPI: AROMA, RASA, CERITA. Pusat Data dan Analisa Tempo Publishers. ISBN 978-602-6773-23-4. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]