Prasasti Pasir Kapal
Prasasti Pasir Kapal adalah sebuah prasasti yang ditemukan di bagian barat Pulau Serutu, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Prasasti ini dipahatkan pada bongkahan batu pasir menggunakan aksara Tionghoa dari periode Dinasti Yuan. Penemuan prasasti ini pertama kali dilaporkan oleh Balai Arkeologi Kalimantan Selatan pada tahun 2010 dalam rangka eksplorasi arkeologi di Kepulauan Maya–Karimata.[1]
Pada awalnya prasasti ini berada di lereng bukit, sekitar 10 m lebih tinggi dari lokasi saat ini. Namun, aktivitas penggalian ilegal yang dilakukan masyarakat untuk mencari harta karun di sekitar batu prasasti menyebabkan kerusakan dan pergeseran batu ke posisi yang lebih rendah.[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Penemuan Prasasti Pasir Kapal bermula dari laporan warga setempat. Warga menginformasikan bahwa prasasti yang awalnya terletak di bagian atas lereng bukit, bergeser dan turun ke posisi sekarang akibat perburuan harta karun ilegal di sekitarnya. Balai Arkeologi Kalimantan Selatan lalu mengadakan eksplorasi ke tempat itu pada tahun 2010, dan menemukan prasasti ini yang dipahat menggunakan aksara dan bahasa Tionghoa dari periode Dinasti Yuan.[1]
Berdasarkan tanggal yang tertera pada prasasti, yaitu 25 Februari 1293 menurut kalender Julian, penanggalan ini sesuai dengan kedatangan pasukan Mongol menuju Jawa, sebagaimana tercatat dalam Yuanshi (元史, "Sejarah Yuan"), sumber sejarah Dinasti yang disusun oleh dinasti berikutnya.[2]
Lokasi dan kondisi situs
[sunting | sunting sumber]Situs Prasasti Pasir Kapal terletak di sisi barat Pulau Serutu, secara administrasi masuk wilayah Dusun Serutu, Desa Betok Jaya, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Secara astronomis, lokasi situs ini berada pada koordinat 49 UTM 9809179 BT 245546 LU dan berada pada ketinggian 13 meter di atas permukaan laut. Situs ini hanya berjarak 7,1 km dari Prasasti Pasir Cina, dua prasasti singkat beraksara Tiongkok pula yang erat kaitannya dengan prasasti ini.
Situs Prasasti Pasir Kapal memiliki potensi ancaman yaitu runtuhan batu dari tebing di belakang prasasti yang dapat merusak fisik prasasti apabila terjadi longsor. Selain itu, terdapat risiko pelapukan hirolisis, yaitu proses pelapukan kimia yang terjadi akibat adanya reaksi material batuan dengan air, yang dapat menyebabkan pemecahan batuan.[1]
Isi prasasti
[sunting | sunting sumber]Berikut alihaksara dan alih bahasa prasasti:[3]
Alihaksara
[sunting | sunting sumber]- Da Yuan Guo`Shin Jun…. Wan…. (tidak terbaca)
- (Di tengah mungkin ada tiga kolom yang hilang/tidak terbaca, kemungkinan besar inti cerita)
- Zhou Wu Bai Zhi Zhi Yuan San Shi Nian Zheng Yue
- Shi Ba Ri Bo Chi…… (tidak terbaca)
- ? Hua Shi ? Zhi Zhi…… (tidak terbaca)
- ………. Zhi Za Guo ……..
Alihbahasa
[sunting | sunting sumber]- Nagara Yuan yang besar caraka,.... Wan... (tidak terbaca, kemungkinan besar nama caraka. Awalnya terbaca “Wan”, kemudian meragukan)
- (Di tengah mungkin ada tiga kolom yang hilang/tidak terbaca, kemungkinan besar inti cerita)
- Kapal kecil 500, Kalender Yuan Tahun 30, Bulan Januari
- Tanggal 18 berhenti, di sini ........ (tidak terbaca, kemungkinan nama tempat)
- (tidak terbaca).. tulisan batu... (tidak terbaca) catatan ini,..... (tidak terbaca, kemungkinan nama penulis)
- (tidak terbaca)... dari/ini kecil/anonim (penamaan pulau tersebut oleh tentara Yuan?) negara,..... (tidak terbaca)
Interpretasi
[sunting | sunting sumber]
Transliterasi Prasasti Pasir Kapal mengungkapkan beberapa kata kunci penting yang dapat dimaknai dalam konteks sejarah kuno. Frasa pertama yang terindentifikasi adalah Da Yuan Guo. Istilah "Da Yuan" (大元) yang berarti Dinasti Yuan, muncul ketika Kubilai Khan menyatakan dirinya khan pengganti Mongke Khan. Dinasti Yuan berkuasa dalam sejarah Tiongkok antara 1271-1368 M. Maka, Da Yuan Guo dapat diartikan sebagai "Dinasti Yuan yang besar".[1]
Selanjutnya terdapat istilah Shi Jun, di mana dalam konteks ini Shi dapat diterjemahkan sebagai "menjadi", sedangkan Jun berarti "militer". Shi Jun ditafsirkan sebagai caraka atau utusan. Dengan demikian, kalimatnya dapat dimaknai sebagai Negara Yuan yang besar telah mengutus utusan militer. Pembacaan selanjutnya menjadi meragukan karena huruf-huruf pada prasasti telah aus. Ada kemungkinan bahwa huruf-huruf yang aus tesebut menuliskan nama dari sang utusan.[1]
Prasasti Pasir Kapal juga mencantumkan informasi mengenai 500 kapal yang berangkat, suatu keterangan yang sesuai dengan yang disebutkan dalam Yuanshi. Selain itu, dari perbandingan dapat diduga bahwa tentara Kekaisaran Mongol telah menghabiskan 10 hari di pulau ini sebelum pencatatan dilakukan.[2]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur (2019). "Laporan Kegiatan Kajian Perlindungan Objek Yang Diduga Cagar Budaya Di Kecamatan Kepulauan Karimata Kabupaten Kayong Utara" (PDF). repositori.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- 1 2 "Prasasti di Pulau Serutu, Jejak Kekaisaran Mongol Menginvasi Jawa - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ↑ Hindarto, Imam dkk. 2010. Laporan Penelitian Arkeologi: Penelitian Eksplorasi Arkeologi di Kepulauan Maya-Karimata Kalimantan Barat. Banjarbaru: Balai Arkeologi Kalimantan Selatan. Hlm. 32.