Prasasti Pagaruyung V
| Prasasti Pagaruyung V | |
|---|---|
| Jenis | Prasasti |
| Bahan baku | Batu andesit |
| Ukuran | Tinggi: 27 cm Lebar: 46 cm Tebal: 19,5 cm |
| Sistem penulisan | Aksara Pasca Pallawa |
| Periode | Pada masa pemerintahan Raja Adityawarman |
| Tempat ditemukan | Nagari Pagaruyung, Kec.Tanjung Emas, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat |
| Lokasi sekarang | Kompleks Prasasti Adityawarman |
| Koordinat | 0°27′35″S 100°36′28″E / 0.4597310°S 100.6077240°E |
| Bahasa | Bahasa Jawa Kuna |
| Kebudayaan | Budaya Pagaruyung |
|
Lokasi Paguruyung V
| |
Prasasti Pagaruyung V adalah sebuah prasasti yang ditemukan di Nagari Paagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.[1][2] Prasasti ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Adityawarman Kerajaan Melayu (Kerajaan Pagaruyung) yang berkuasa dari 1347 hingga 1374 M berada di Kabupaten Tanah Datar. Prasasti Pagaruyung V ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan menggunakan aksara Pasca Pallawa.[3][4]
Prasasti ini berisi tentang pembuatan taman oleh seseorang bernama si Satra, dan dilengkapi dengan tempat duduk untuk Adityawarman. Saat ini, Prasasti Pagaruyung V disimpan dan dilestarikan di Kompleks Prasasti Adityawarman, Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB dan ditetapkan menjadi cagar budaya nasional tahun 2019.[1][5]
Prasasti Pagaruyung V ditemukan dalam bentuk pecahan batu memilik tinggi 27 cm, lebar 46 cm, dan tebal 19,5 cm.[5] Isi Prasasti Pagaruyung V dalam kajian filologi berisi tentang penjelasan sebuah taman yang di bangun di kawasan Kerajaan Pagaruyung. Hingga kini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Daerah Tanah Datar berkolaborasi dengan Balai Pelestarian dan Kebudayan Wilayah III (Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau) terus melakukan pelestarian dan konservasi dari Prasasti Pagaruyung V ini.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Prasasti Pagaruyung V ditulis dalam laporan pemerintah Hindia Belanda dalam Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden (Inventarisasi Purbakala di Dataran Tinggi Padang) oleh N.J. Krom. Laporan ini ditulis berdasarkan data lapangan oleh asisten residen L.C. Westenek di Fort de Kock, sekarang Kota Bukittinggi.[6] Dalam laporan tersebut, Krom mengelompokkan prasasti di daerah Kabupaten Tanah Datar sebagai bagian dari Adityawarman-inscripties atau prasasti Adityawarman, yaitu prasasti yang langsung menyebutkan nama Raja Adityawarman. Selain itu, terdapat juga kelompok yang menggunakan aksara serupa yang dikelompokkan sebagai Adityawarman-schrift (aksara Adityawarman).[6]
Menurut Krom, prasasti tersebut ditemukan di daerah Bukit Gombak, yang di masa kolonial termasuk dalam wilayah Onderafdeling Fort van der Capellen.[7] Selanjutnya, prasasti tersebut dipindahkan di lokasi yang sekarang menjadi Kompleks Prasasti Adityawarman.[8][9]
Prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti yang menjelaskan tentang taman, dan hal tersebut di luar kelaziman prasasti-prasasti yang dikeluarkan pada masa pemerintahan raja Adityawarman.[10] Prasasti Pagaruyuang V juga menjadi satu-satunya prasasti yang menjelaskan tentang suasana masa kerajaan Adityawarman.[11]
Deskripsi
[sunting | sunting sumber]Prasasti Pagaruyung V terbuat dari batu andesit yang berukuran tinggi 27 cm, lebar 46 cm, dan tebal 19,5 cm.[1] Prasasti ini terdiri dari lima baris tulisan yang menggunakan aksara Pascapallawa dan bahasa Jawa Kuno.[1][12] Kondisi Prasasti Pagaruyung V sangat rusak sehingga hanya 50% dari tulisan yang dapat terbaca. Pada baris kelima prasasti ini, tertulis nama Adityawarman.[13]
Selain rusak, terdapat pecahan di bagian atas dan bawah prasasti. Memang, berdasarkan hasil kajian terhadap tulisan prasasti, yang pada bagian atas bukan merupakan kalimat atau tulisan awal sebuah prasasti. Demikian pula dengan bagian bawah yang tidak menunjukkan sebagai akhir atau penutup sebuah prasasti.[12] Artinya, prasasti ini merupakan fragmen dari prasasti yang lebih panjang.[14]
Alihaksara
[sunting | sunting sumber]Berikut adalah alihaksara menurut beberapa penulis.
| Menurut Boechari | Menurut Kusumadewi (2012)[1] |
|---|---|
|
|
Alihbahasa
[sunting | sunting sumber]Dari alihaksara di atas, berikut adalah alihbahasa dari beberapa penulis.
| Menurut Budi Istiawan (2006)[15] berdasarkan alihaksara Boechari |
Menurut Kusumadewi (2012)[1] |
|---|---|
|
|
Interpretasi
[sunting | sunting sumber]Budi Istiawan (2006) berpendapat bahwa isi Prasasti Pagaruyung V ini belum dapat dipahami secara pasti.[16] Namun, berdasarkan hasil alih aksara dan alih bahasa yang diterjemahkan, dapat disimpulkan dari potongan kata-kata di dalamnya tentang pembuatan sebuah taman oleh seseorang bernama si Sastra.[17] Penggunaan sebutan 'si' sebelum nama Sastra secara mengindikasikan bahwa tokoh tersebut berasal dari kalangan masyarakat biasa atau rakyat jelata. Selain itu, pemilihan nama Sastra serta penggunaan partikel 'si' memperkuat dugaan adanya pengaruh budaya Jawa, mengingat pola penamaan tersebut umum ditemukan dalam teks-teks Jawa Kuno."[16]
Prasasti ini juga merupakan satu-satunya prasasti peninggalan Raja Adityawarman yang mencatat tentang pembuatan sebuah taman. Taman tersebut digambarkan dihiasi dengan bunga-bunga yang diambil dari daerah pegunungan, serta dilengkapi pula dengan tempat duduk bagi Adityawarman. Dengan melihat kenyataan tersebut, maka kemungkinan taman yang dibangun merupakan taman yang cukup besar dan indah, sehingga pembangunannya perlu diabadikan dengan sebuah prasasti.[17][16]
Upaya pelestarian
[sunting | sunting sumber]Prasasti Pagaruyung V termasuk salah satu tinggalan arkeologis penting dari masa pemerintahan Adityawarman di Kerajaan Malayapura. Upaya pelestarian terhadap prasasti ini dilakukan oleh berbagai pihak, terutama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau yang secara berkala melakukan pendokumentasian, pemantauan kondisi fisik, serta pencatatan tingkat pelapukan batu andesit yang menjadi bahan utama prasasti.
Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat bersama pengelola Museum Adityawarman turut melakukan konservasi pasif berupa pembersihan rutin, pemasangan papan informasi, dan pembatasan area di sekitar lokasi penemuan untuk mencegah kerusakan akibat faktor lingkungan. Prasasti ini telah terdaftar sebagai Cagar Budaya berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sehingga memperoleh perlindungan hukum dari negara.
Selain pelestarian fisik, lembaga penelitian seperti Balai Arkeologi Sumatera Barat dan sejumlah perguruan tinggi di daerah tersebut juga melakukan kegiatan penelitian epigrafi serta pendokumentasian ulang inskripsi untuk kepentingan akademis dan publikasi ilmiah.[18]Kegiatan digitalisasi dan publikasi daring melalui situs resmi pemerintah daerah serta proyek-proyek pengetahuan terbuka seperti Wikimedia Commons turut memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai prasasti ini.[19]
Sosialisasi mengenai nilai sejarah Prasasti Pagaruyung V terus dilakukan oleh Perguruan Tinggi, BPK, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten dan Provinsi agar peninggalan ini tetap terjaga dan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.[11][20]
Isi dari Prasasti Pagaruyung V juga dipercaya dan diyakini benar-benar terjadi masyarakat. Cerita tersebut berfungsi sebagai media pendidikan untuk menganal sejarah dari Prasasti Pagaruyung V.[10]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 Kusumadewi 2012, hlm. 28.
- ↑ Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat 2000, hlm. 169.
- ↑ Utomo 2007, hlm. 70.
- ↑ Kusumadewi 2012, hlm. 77.
- 1 2 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. "Prasasti Pagarruyung V". Diakses tanggal 2025/10/26.
- 1 2 Krom, N.J. 1912, hlm. 33.
- ↑ Krom, N.J. 1912, hlm. 41-42.
- ↑ Istiawan, Budi 2006, hlm. 3.
- ↑ Griffiths 2012, hlm. 198-199.
- 1 2 Kurnia 2015, hlm. 42-43.
- 1 2 Media, Kompas Cyber (2023-01-03). "Prasasti Pagaruyung V". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-10-19.
- 1 2 Budi 2006, hlm. 15-16.
- ↑ Suhadi 1990, hlm. 218-232.
- ↑ Kozok 2015, hlm. 37.
- ↑ Istiawan 2006, hlm. 15.
- 1 2 3 Istiawan 2006, hlm. 16.
- 1 2 Kusumadewi 2012, hlm. 28-29.
- ↑ Rahmawati, Nadia; Retno Susanti, Lr; Hudaidah (2024). "WARISAN KERAJAAN PAGARUYUNG: Studi Historis-Antropologis". BANDA HISTORIA : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Studi Budaya. 2 (2). doi:https://doi.org/10.62176/bastoria.v2i2.456. ;
- ↑ Purwanti, Retno (2020-12-29). "BAHASA AUSTRONESIA DARI SUMATERA". Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat. Balai Arkeologi Jawa Barat: 63–70. doi:10.24164/prosiding.v3i1.7.
- ↑ Malinda, Des; Aisiah (2021). "Potensi Sumber-Sumber Sejarah Lokal Batusangkar Sebagai Sumber Belajar Di Sma". Kronologi: Masa Lalu Untuk Masa Kini. 3 (4). doi:https://doi.org/10.24036/jk.v3i4.93. ;
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Kusumadewi, Sri Ambarwati (2012). "Adityawarman (1347-1374 Masehi): Kajian Epigrafi". Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia: 28. Diakses tanggal 2025-10-25. ;
- Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat (2000). Bunga Rampai Pengetahuan Adat Minangkabau. Yayasan Sako Batuah. hlm. 169. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Utomo, Bambang Budi (2007). Prasasti-prasasti Sumatra. Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. hlm. 70. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Budi, Istiawan (2006). Selintas Prasasti dari Melayu Kuno (PDF). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar. hlm. 15–16. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kurnia, Febby Eka (2015). Folklor Minangkabau: Mitos Batu-batu dan Cerita Rakyat di Luhak Nan Tuo (PDF). Padang: Surau Institute for Conservation. hlm. 42–43. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Suhadi, Machi (1990). Saraswati Esai-esai Arkeologi (PDF). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. hlm. 218–232. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Kozok, Uli (2015). A 14th Century Malay Code of Laws: The Nitisarasamuccaya (dalam bahasa Inggris). Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9789814459747.
