Lompat ke isi

Prasasti Pagaruyung III

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Pagaruyung III
Prasasti Kapalo Bukit Gombak I
JenisPrasasti batu
Bahan bakuBatu andesit
UkuranTinggi 190 cm
Lebar 66 cm
Tebal 15 cm
Sistem penulisanAksara Pasca Pallawa[1]
PeriodePada masa pemerintahan Adityawarman
Tempat ditemukanKapalo Bukit Gombak, Jorong Bukit Gombak, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat
Lokasi sekarangKompleks Prasasti Adityawarman
Koordinat0°27′35″S 100°36′28″E / 0.4597310°S 100.6077240°E / -0.4597310; 100.6077240
BahasaBahasa Sanskerta
KebudayaanBudaya Pagaruyung
Prasasti Pagaruyung III di Sumatra
Pagaruyung III
Pagaruyung III
Prasasti Pagaruyung III (Sumatra)
Peta
Tentang OpenStreetMaps
Maps: ketentuan penggunaan
1km
0.6mil
Pagaruyung III
Paguruyung III
Lokasi Paguruyung III

Prasasti Pagaruyung III, atau disebut juga dengan Prasasti Kapalo Bukit Gombak I, merupakan sebuah prasasti dari masa pemerintahan Raja Adityawarman. Prasasti dituliskan dalam bahasa Sanskerta dengan menggunakan aksara Pasca Pallawa dalam bentuk sloka dengan metrum anustubh. Prasasti ini ditemukan di Kapalo Bukit Gombak, Lima Kaum, Tanah Datar, Sumatera Barat, dan saat ini tersimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman yang tidak jauh dari Kota Batusangkar.

Prasasti ini memiliki tinggi 190 cm, lebar 66 cm, dan tebal 15 cm, yang terpahat pada sebuah batu andesit. Isi prasasti ini berupa sebaris kalimat candra sengkala yang bertuliskan dvare rasa bhuje rupe, yang memiliki nilai tahun 1269 Saka, bertepatan dengan 1347 Masehi. Prasasti Pagaruyung III dan Prasasti Saruaso I sebelumnya pernah dianggap merupakan bagian dari Prasasti Batu Beragung yang pernah didokumentasikan sebelumnya. Namun, penelitian Dr. Krom menyimpulkan bahwa Prasasti Batu Beragung tersebut tidak pernah ada dan sebenarnya adalah dua prasasti yang terpisah.

Prasasti Pagaruyung III ini menjadi bukti aktivitas kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di masa Adityawarman, dan bernilai penting sebagai warisan budaya dan pendidikan sejarah bagi masyarakat setempat maupun publik pada umumnya. Prasasti ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 77/M/2019, dan terdaftar dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Ahli purbakala Dr. Nicolaas Johannes Krom telah ditugaskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui Peraturan Pemerintah No. 12 tertanggal 23 Maret 1912 untuk melakukan penelitian terhadap berbagai artefak dan prasasti di sekitaran Fort Van der Capellen, di Pantai Barat Sumatera. Ia mencatat keberadaan prasasti ini dalam Oudheidkundig Verslag pada tahun 1912 dengan nama Kapalo Bukit Gombak I, dan menyebutkan pula bahwa prasasti ini dinamai juga Pagaruyung III.[2] Penamaan tersebut karena awalnya prasasti ini ditemukan di Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.[3]

Prasasti tersebut kemudian dipindahkan dari lokasi asalnya ke Komplek Prasasti Adityawarman di Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, bersama koleksi beberapa prasasti lainnya.[1] Jarak lokasi asal prasasti ialah sekitar 2 kilometer ke arah utara dari komplek penempatannya saat ini di Jorong Gudam.[3]

Prasasti ini terdaftar secara administratif sejak tahun 1977,[3] dan pada tahun 2019 telah masuk dalam daftar cagar budaya jenis benda di Kabupaten Tanah Datar, dengan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 77/M/2019.[4] Prasasti ini beserta prasasti lain di Komplek Prasasti Adityawarman tercatat dalam Inventarisasi Balai Cagar Budaya dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB, dan berperingkat Cagar Budaya Nasional.[1]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Tampak dekat Prasasti Pagaruyung III. Pada pinggir paling kiri terdapat ukiran ornamen bonggol sulur.

Prasasti Pagaruyung III diukirkan pada batu andesit yang berwarna abu-abu kecoklatan, yang bentuk batunya memanjang non artifisial. Ukuran batu tersebut adalah panjang 1,9 meter, lebar 66 centimeter, dan tebal 15 centimeter.[3] Tulisan pada prasasti ini dipahatkan pada sisi yang menonjol di permukaan batu yang memanjang. Agaknya batu ini tidak dibentuk terlebih dahulu saat proses penulisannya, yang mana bentuknya mirip menhir.[5]

Hanya terdapat satu baris tulisan saja pada prasasti ini.[1][5] Pada sisi kiri atas, terdapat ragam hias yang berbentuk bonggol sulur.[6]

Alih aksara

[sunting | sunting sumber]
Faksimili tulisan pada Prasasti Pagaruyung III

Prasasti dituliskan dalam bahasa Sanskerta dengan menggunakan aksara Pasca Pallawa dalam bentuk sloka dengan metrum anustubh.[7] Berikut ini alih aksara prasasti tersebut menurut bacaan Dr. N.J. Krom.[2]

dvāreraṣabhūjerūpe | gatauvarṣāçcakārttike | suklaḥ pañcatithissome | bajrendra

atau menurut Harjowardojo sebagai berikut:[8]

Dvare rasa bhuje rupe
gato varsacça Kartike
suklah pancatithis Some
bajrendra

Alih bahasa

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini alih bahasa prasasti tersebut menurut terjemahan Hardjowardojo:[9]

Pada tahun 1269, yang telah lalu,
pada bulan Kartika, bagian bulan terang,
pada hari kelima, senin, vajra Yoga,
Indra Karana Bava.

atau menurut Istiawan sebagai berikut:[3]

Pada tahun 1269 yang telah lalu pada bulan Kartika saat paro (bulan) terang tanggal 5 hari Senin dalam yoga Bajra dan Indra.

Isi prasasti

[sunting | sunting sumber]

Pertanggalan

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung III hanya berisi keterangan tanggal ditulisnya, yaitu hari Soma tanggal 5 Suklapaksa bulan Kartika tahun 1269 Saka,[3] atau sesuai dengan tanggal 8 Oktober 1347 Masehi.[5][10][11] Bilangan tahun didapat dengan membaca candra sengkala (kronogram) dware rasa bhuje rupe— bermakna gapura, maksud, lengan, rupa. Kata dware bernilai sembilan, rasa bernilai enam, bhuje bernilai dua, dan rupe bernilai satu. Jika dibaca dari belakang, maka akan menjadi 1269 Saka atau 1347 Masehi. Menilik tahun tersebut, besar kemungkinan prasasti ini dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Adityawarman.[1]

Penafsiran

[sunting | sunting sumber]

Istiawan berpendapat bahwa Prasasti Pagaruyung III seharusnya berisi keterangan tambahan mengenai suatu kejadian tertentu, tetapi kejadian tersebut tidak dapat diketahui karena ada bagian prasasti yang hilang. Peristiwa yang hilang tersebut kemungkinan berkaitan dengan suatu ajaran tentang keagamaan dan kehidupan, hal tersebut ditafsirkan dari kalimat yang tersusun pada candra sengkala.[3]

Kata rasa dapat berarti kata hati, bhuje atau lengan berarti pencapaian atau alat untuk mencapai sesuatu, rupa atau wajah/muka berarti depan, dan dwara atau gapura berarti yang tampil di muka. Istiawan menafsirkan bahwa makna kalimat dari rangkaian kata-kata tersebut adalah manusia dalam kehidupannya memiliki rasa sebagai penggerak motivasinya dalam bertindak, yang dilakukan dengan tangannya untuk mencapai suatu tujuan atau sebagai pintu masuk agar selalu menjadi yang terbaik.[12][13]

Isi prasasti yang menyebut keterangan pertanggalan tanpa menyebutkan suatu peristiwa tertentu menimbulkan dugaan bahwa prasasti ini mungkin terkait dengan konteks candi atau bangunan keagamaan lainnya. Bentuk fisik prasasti yang menyerupai dorpal (ambang pintu) mendukung dugaan bahwa pertanggalan tersebut mungkin merupakan peringatan atas berdirinya suatu bangunan atau tempat. Selain itu, penggunaan kata dware (gapura) dapat mengindikasikan fungsinya sebagai gapura atau bagian dari suatu bangunan. Dengan demikian, prasasti ini kemungkinan besar didirikan untuk memperingati berdirinya suatu bangunan atau tempat suci keagamaan, yang belum diketahui keberadaannya sampai sekarang.[1][12]

Signifikansi

[sunting | sunting sumber]

Kendati hanya memuat tahun, Prasasti Pagaruyung III merupakan salah satu bukti yang menunjukkan aktivitas Adityawarman di wilayah Pagaruyung.[14] Sedangkan secara budaya, prasasti ini berfungsi sebagai alat pendidikan bagi masyarakat Pagaruyung maupun publik pada umumnya untuk mengenal sejarah di masa tersebut.[15]

Kasus Prasasti Batu Beragung

[sunting | sunting sumber]
Identifikasi Prasasti Batu Beragung menurut Dr. Friedrich. Namun, Dr. Krom menemukan bahwa ini adalah gabungan dari Prasasti Pagaruyung III dan Prasasti Saruaso I.

Suatu prasasti yang dinamai Prasasti Batu Beragung telah didokumentasikan oleh Vitzthum von Eckstaed di Nagari Batu Baraguang, kemudian diterjemahkan oleh Dr. R. Friederich dan diterbitkan dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Jurnal Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia) volume 26 tahun 1857. Prasasti Batu Beragung dilaporkan berisi lima baris teks yang diperkirakan merupakan bagian lanjutan dari Prasasti Pagaruyung III.[7]

Dr. N.J. Krom, selaku Ketua Komisi Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura, telah berupaya mencari keberadaan fisik prasasti ini di antara berbagai artefak dan prasasti lainnya yang berada di sekitaran Fort Van der Capellen pada minggu terakhir bulan April 1912 hingga awal bulan Mei 1912. Dalam proses penelitiannya, ia tidak menemukan sebuah prasasti utuh seperti yang didokumentasikan tersebut, melainkan menemukan dua prasasti lain yang memiliki kemiripan identik dengan bagian-bagian dari Prasasti Batu Beragung ini.[2]

Prasasti Pagaruyung III memiliki kemiripan identik dengan baris pertama prasasti ini, sedangkan Prasasti Saruaso I memiliki kemiripan identik dengan empat baris selanjutnya. Kemiripan yang ditemukan tersebut bahkan sampai ke susunan teks, hiasan bonggol sulur, dan bagian batu yang terkisis. Berdasarkan kemiripan tersebut, Krom akhirnya berpendapat bahwa kedua prasasti lainnya tersebut merujuk kepada obyek yang sama, sehingga ia berkesimpulan bahwa Prasasti Batu Beragung sebenarnya tidak pernah benar-benar ada, melainkan suatu kesalahan penyalinan semata.[2]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 Kusumadewi 2012, hlm. 35-36.
  2. 1 2 3 4 Krom 1912.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 Istiawan 2006, hlm. 12.
  4. Pusdatin Kemendikbudristek (2022). "Prasasti Pagarruyung III". Budaya Kita. Diakses tanggal 2025-10-19.
  5. 1 2 3 Utomo & Sudarman 2018, hlm. 88.
  6. Setiawan et al 2006, hlm. 14.
  7. 1 2 Friedrich 1857.
  8. Hardjowardojo 1966, hlm. 9.
  9. Hardjowardojo 1966, hlm. 10.
  10. Kusumadewi 2012, hlm. 34.
  11. Damais 1952, hlm. 102-103.
  12. 1 2 Istiawan 2006, hlm. 12-13.
  13. Kurnia & Monanda 2015, hlm. 29.
  14. Suhadi 1990, hlm. 218-232.
  15. Kurnia & Monada 2015, hlm. 30.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]