Lompat ke isi

Prasasti Pagaruyung I

00°27′34,4″S 100°36′28,2″E / 0.45000°S 100.60000°E / -0.45000; 100.60000

Prasasti Pagaruyung I
Prasasti Pagaruyung I, keadaan pada bulan Juli 2007.
JenisPrasasti batu
Bahan bakuBatu pasir (sand stones) warna coklat kekuningan
Ukuran206 cm x 133 cm x 38 cm
DitemukanAwal abad ke-19
Tempat ditemukanBukit Gombak, Kecamatan Tanjung Emas
Lokasi sekarangKompleks Prasasti Adityawarman
Koordinat0°28′24,7″S 100°36′32,4″E / 0.46667°S 100.60000°E / -0.46667; 100.60000[1]
Registrasi28/BCB-TB/A/12/2007
Prasasti Pagaruyung I di Sumatra
Prasasti Pagaruyung I
Prasasti Pagaruyung I
Prasasti Pagaruyung I (Sumatra)
Lokasi Prasasti Pagaruyung I

Prasasti Pagaruyung I, yang juga dikenal sebagai Prasasti Bukit Gombak I, merupakan salah satu prasasti batu peninggalan masa pemerintahan Raja Adityawarman di wilayah Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Prasasti ini dianggap merupakan salah satu peninggalan epigrafis terpenting dari masa Melayu Kuno pada abad ke-14 Masehi.[2][3] Dipahat pada batu pasir berwarna coklat kekuningan berbentuk empat persegi tegak, prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pasca-Pallawa Sumatera dan dalam dua bahasa, yaitunya Sanskerta dan Melayu Kuno.[4] Berdasarkan candrasengkala wasur mmuni bhuja sthalam, prasasti ini berangka tahun 1278 Saka (1356 Masehi).[1]

Prasasti ini ditemukan pertama kali di daerah Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar,[5] sebelum kemudian dipindahkan ke kawasan yang kini dikenal sebagai Kompleks Prasasti Adityawarman. Kompleks ini terletak di Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Kompleks ini berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Pagaruyung dan Batusangkar. Di dalam kompleks ini berjajar sejumlah prasasti yang diberi penomoran Pagaruyung I hingga Pagaruyung VIII.[2]

Bersama dengan tujuh prasasti lainnya dari situs yang sama, Prasasti Pagaruyung I merupakan bagian dari kelompok Prasasti Adityawarman, yang telah ditetapkan sebagai Obyek Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Tanah Datar berdasarkan SK No. 77/M/2019, dan diakui pula sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional.[6]

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]

Prasasti ini disebutkan dalam laporan resmi pemerintah kolonial Belanda melalui karya Inventaris der Oudheden in de Padangsche Bovenlanden (Inventarisasi Purbakala di Dataran Tinggi Padang) oleh N.J. Krom (1912), yang disusun berdasarkan data lapangan dari pejabat Assistant-Resident L.C. Westenenk di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi).[7] Dalam laporan tersebut, Krom mengelompokkan batu-batu bertulisan di daerah Tanah Datar sebagai bagian dari Adityawarman-inscripties (prasasti Adityawarman), yakni prasasti yang isinya secara langsung menyebut nama Raja Adityawarman. Adapun prasasti-prasasti yang tidak menyebutkan nama raja tersebut tetapi menggunakan bentuk aksara serupa, oleh Krom disebut sebagai prasasti yang ditulis dengan Adityawarman-schrift (aksara Adityawarman).[7]

Menurut Krom, prasasti ini ditemukan di daerah Bukit Gombak, yang pada masa kolonial termasuk wilayah Onderafdeling Fort van der Capellen.[8] Pada masa berikutnya prasasti ini dipindahkan dari lokasi asalnya di sekitar Bukit Gombak dan kini disimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman.[9][10] Sekarang sebagai salah satu situs arkeologi yang dilindungi, kompleks prasasti ini terus menjadi objek penelitian dan daya tarik wisata bagi para sejarawan dan wisatawan yang tertarik untuk mempelajari sejarah masa lalu yang memengaruhi budaya Sumatera Barat.[11]

Prasasti Pagaruyung I menjadi salah satu media penting dalam menunjukkan karisma dan legitimasi Raja Aditywarman. Melalui prasasti ini, ditampilkan sifat luhur raja yang disejajarkan dengan para dewa dalam tradisi Hindu-Buddha, yang mana disebutkan bahwa Raja Adityawarman menguasai ilmu pengetahuan dengan sempurna dan memiliki keberanian seperti Dewa Indra.[12]

Deskripsi fisik

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung I berada di dalam kompleks Prasasti Adityawarman yang memiliki luas lebih kurang 133 meter persegi. Prasasti tersebut teletak di dalam sebuah cungkup dengan atap yang berbentuk gonjong rumah gadang, rumah tradisional Minangkabau. Pada tahun 1980-an atap pelindung tempat prasasti tersebut terbuat dari ijuk tetapi pada saat sekarang ini atap tersebut telah diganti dengan bahan yang terbuat dari seng. Di sekeliling prasasti terdapat pagar besi setinggi lebih kurang 80 cm.[13]

Prasasti ini dipahat pada batu pasir kwarsa (sandstone) berwarna coklat kekuningan dengan bentuk empat persegi tegak, Ukuran prasasti ini dengan tinggi 2,06 meter, lebar 1,33 meter, dan tebal 38 sentimeter. Batu tersebut kini berdiri dengan penopang besi di lokasi penemuannya. Permukaan batu memperlihatkan pahatan huruf yang masih relatif jelas meski pun telah mengalami erosi pada beberapa bagian.[9]

Prasasti Pagaruyung merupakan prasasti yang berangka tahun 1278 S / 1356 M. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta yang bercampur dengan bahasa Melayu kuno. Struktur bahasa dan gaya penulisan menunjukkan pengaruh kuat tradisi kebudayaan India, khususnya dalam hal gelar dan kegiatan keagamaan.[9][14]

Ornamen kepala kāla di bagian atas prasasti

Pada bagian atas prasasti Pagaruyung I terdapat ornamen yang berbentuk kepala kala yang berbentuk persegi panjang, memiliki gigi yang besar dan bertaring berjumlah 11 buah, lidah menjulur panjang pada bagian tengah giginya, bertanduk yang distilir menyerupai lidah ular (bercabang), di atas giginya terdapat dua lekukan seperti kelopak mata dan di atasnya terdapat hiasan berbentuk mahkota kecil.[15]

Teks prasasti

[sunting | sunting sumber]

Prasasti ini terdiri dari 21 baris tulisan, fokus utama dari prasasti ini adalah menjelaskan tentang status kedudukan Adityawarman serta menyebutkan asal-usul dari Adityawarman yaitu putra dari Adwayadwaja. Pada prasasti ini terdapat penanggalan pada 1278 Çaka atau 1356 serta ditulis oleh seorang Acarya (pendeta guru). Prasasti ini juga memiliki tinggi mencapai 2 meter lebih.[16]

Faksimile tulisan pada prasasti Pagaruyung I

Alih aksara

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini naskah atau tulisan yang tertulis pada Prasasti Pagaruyung I menurut transkripsi Harjowardojo (1966):[17]

  1. Swasyamtu prabhu (m)adwayadwajanrpa adityawarman criya, wangcacari amararyya
  2. Wangsapati aradhita maitritwam karuna mupaksa mudita satwopa
  3. karaguna, yatwam raja sudharmmaraja krtawat lekhesi(t)tisthati.
  4. sri kamaraja adhimukti sadas (trakintha) (r)a myabhisekasutathagata bajta(w) aya a
  5. (g)ajna pancasadabhijna supernna (gatra) adityawarmanrpate adhirajarajah
    Swasti
  6. srimat sri ayadityawarma prataparakrama rajendramolimaniwarmmadewa maharajadhi
  7. raja, sakolakajanapriya, dharmmarajakulatilaka saranagatabajrapanjara ekanggawira, du
  8. sta(ri) grahacrista paripalaka saptanggaraja sayada mangundharana patapustaka pratimalaya yam ta
  9. l(l)ah jirna pada sapta swarnna bhumi, diparbwatkan bihara nanawiddhaprakara sahatambak gopura kalampura
  10. nan pancamahacabda, jalanda barbwat maniyammakrayadipaurnnamawasya di sanmuka
  11. k bramhana(w)aryyopaddyana tyada kopadra wa tyada mulisamun, tyada rabuttrentak
  12. Sakala pya sampurna sakyanyam mahima diwasak dadatu, ya datra punyambarum yam ha
  13. ndak barbwinaca sasanenan sapapanam gohattya sapapanam matapitadrori sapapanam
  14. swamidrohi gurudrihi, tulu ta yam mangumodana dharmmenan sapunyanam yam nguram (ma)mr
  15. ta nana annadana, ya punyana yam nguram matapitabhakti, swamibhakti
  16. gurubhakti, dewabhakti, sapunyana nguram maraksa cilapurnamawasya, antya(t)ama
  17. nurbawa samyak sambuddhamargga. Satwopakarakrta punya sudana dharmmam jirnno
  18. (lama) ya janacraya punyawrksamanittya pratapakiranai sadalokacri, adi
  19. tyawarmmanpate marwadwa. Subham astu gate sake, wasur mmuni bhuja sthalam
  20. waicakha pancadacake, site buddhacca ranjyatu. Krtiriyam acaryya a
  21. mpuku dharmmaddhwajanama dheyassya, abhicekakarunabajra.

Alih bahasa

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini alihbahasa atau terjemahan dari Prasasti Pagaruyung I:[18]

  1. Selamat/berbahagia! Ini titah sang penguasa, raja Adityawarman yang mulia, keturunan para arya/bangsawan.
  2. Yang berbakti pada empat kebajikan: cinta kasih (maitrī), belas kasih (karuṇā), keseimbangan batin (upekṣā), dan turut ber-sukacita (muditā),
  3. serta pada kebajikan menolong makhluk; maka baginda, raja pelindung dharma, menetapkan piagam ini.
  4. Dengan tekad Sri Kamarāja; disucikan melalui abhiṣeka menurut ajaran Tathāgata, …
  5. (Berilmu dan bersakti), bertubuh laksana Suparṇa (Garuda); Adityawarman—sang raja, raja di atas para raja. Swasti (berkah)!
  6. Yang mulia: Sri Ādityawarma Pratāparākrama Rājendra Mūli-Mani Varmmadewa, maharajadhiraja,
  7. yang dicintai seluruh rakyat; permata keluarga para raja dharma; benteng ‘Bajrapañjara’ bagi yang mencari perlindungan; pahlawan tunggal,
  8. pengusir pengaruh jahat (para graha), pelindung; penguasa yang menyempurnakan tujuh unsur kerajaan; pengangkat kitab-kitab suci dan rumah arca,
  9. (di) Swarnnabhumi—yang dahulu telah rusak pada tujuh tempat—baginda membangun sebuah vihara beraneka rupa, beserta tambak, gapura, dan kolam,
  10. serta (menegakkan) lima tanda kebesaran; membangun jalan-jalan; mempersembahkan permata; dilakukan pada hari purnama, di hadapan śanmukha/para hadirin,
  11. kepada para brāhmaṇa, arya, para upādhyāya; jangan ada kezaliman/gangguan; jangan ada perampasan harta; jangan ada rabuttrentak—makna tak pasti,
  12. Semoga semua lengkap sempurna; semoga siapa pun memperoleh keutamaan pada hari-hari suci; barang siapa menanam kebajikan,
  13. jangan melanggar titah ini. Dosa-dosa berat ialah: membunuh sapi (gohatyā), durhaka kepada ayah-ibu,
  14. berkhianat kepada tuan/majikan, durhaka kepada guru; tetapi siapa yang bersuka cita pada dharma dan kebajikan akan memperoleh amṛta (anugerah abadi),
  15. yakni lewat sedekah makanan (annadāna); kebajikan yang menumbuhkan bakti kepada ayah-ibu, kesetiaan kepada tuan,
  16. bakti kepada guru dan para dewa; kebajikan itu mendorong pemeliharaan sila, terutama pada hari purnama; dan akhirnya,
  17. mengarahkan (semua) pada Jalan Sang Buddha Sempurna (samyak-saṃbuddha-mārga). Demi menolong makhluk, ia menunaikan dana dan memperbarui dharma yang telah usang,
  18. (sejak lama); bertumpu pada rakyat; bagaikan pohon kebajikan yang tak-layu, memancarkan keperkasaan dan kemasyhuran ke seluruh dunia;
  19. itulah (kebajikan) Sri Adityawarman. Semoga baik adanya! Setelah tahun Śaka (ditentukan)—dengan sengkala ‘wasur muni bhuja sthalam’—,
  20. pada bulan Waiśākha, hari ke-15 (purnama), semoga ajaran Buddha berjaya. Inilah karya (prasasti) yang
  21. disusun oleh ācārya Ampuku Dharmadhvaja, yang bergelar Abhiṣeka Vajra-Karūṇā.

Interpretasi

[sunting | sunting sumber]

Penanggalan

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung I tersebut juga berisi tentang penanggalan saat penulisan prasasti. Penanggalan dalam prasasti tersebut ditulis dalam bentuk kalimat candrasengkala berbunyi wasur mmuni bhuja sthalam atau dewa ular dan pendeta yang menjadi lengan dunia. Masing-masing kata di atas mempunyai nilai tertentu yang bila dirangkai akan menjadi angka tahun. Wasur berarti angka 8, mmuni bernilai 7, bhuja bernilai 2, dan sthalam berangka 1. Angka tersebut dibaca dari belakang sehingga menghasilkan angka tahun 1278 Saka. Tahun Saka bila dikonversi ke dalam tahun Masehi akan menjadi 1356, yaitu dengan cara ditambah 78 tahun, karena tahun 1 Saka sama dengan tahun 78 Masehi.[19]

Status dan kedudukan raja

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung I berisikan puji-pujian atas kebijaksanaan dan otoritas Raja Adityawarman sebagai seorang raja yang menguasai banyak ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu keagamaan. Istiawan (2006) berpendapat bahwa aliran Buddha Mahayana yang dianut raja ini ialah Tantrayana sekte Bhairawa. Dalam prasasti disebutkan istilah sutatha bajra daiya, atau jikalau diartikan ialah “Buddha yang baik, kuat bagaikan kilat”, melambangkan kebajikan moral, kekuatan spiritual, dan otoritas yang luar biasa dari sang raja.[19]

Cikal bakal lahirnya keluarga Dharmaraja

[sunting | sunting sumber]

Raja Adityawarman dianggap sebagai cikal bakal keluarga Dharmaraja Adityawarman.[20] Namun sampai saat ini belum ditemukan pemakaian nama rajakula atau dinasti pada masa Adityawarman atau sesudahnya dengan nama Dharmaraja. Nama rajakula (wangsa) ini hanya muncul sekali dalam prasasti Pagaruyung I, sedangkan nama rajakula yang muncul di masa pemerintahan Kerajaan Melayu Dharmasraya adalah Warmmadewa, antara lain Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa.[19]

Adityawarman sendiri menggunakan nama rajakula ini di dalam salah satu gelarnya, yaitu Rajendra Maulimaniwarmmadewa (Prasasti Pagaruyung I, bait ke-6). Pencantuman nama Adityawarman sebagai cikal bakal keluarga Dharmaraja bersifat kontradiktif dari kenyataan yang ada. Hal ini menurut Istiawan kemungkinan bersifat legitimatif, yaitu untuk memantapkan kedudukannya sebagai raja pertama Kerajaan Suwarnna Bhumi di dataran tinggi pedalaman, sesudah dari kekuasaan Melayu Dharmasraya di pantai barat Sumatera. Hal tersebut berarti sebagai sarana untuk memproklamirkan kedudukannya sebagai raja Suwarnna Bhumi yang pertama, sehingga berhak untuk membuat rajakula atau silsilah (geneologis) yang dimulai dari dirinya.[21]

Pencantuman gelar Rajendra Maulimaniwarmadewa bersifat politis dikarenakan untuk mendapatkan pengesahan (legitimasi) dari pihak yang tidak setuju kedudukannya dengan cara mengambil silsilah dari rajakula Melayu Dharmmasraya. Di samping dianggap sebagai sutatha bajra daiya dan cikal bakal keluarga Dharmmaraja, Adityawarman dianggap pula mempunyai sifat sebagai Indra (salah satu dewa dalam Agama Hindu). Pensifatan ini memberikan indikasi adanya sinkretisme agama Buddha dan Hindu pada masa pemerintahan Adityawarman. Hal ini mengingatkan pada sinkretisme yang pernah terjadi pada masa Kartanegara dari Kerajaan Singasari.[22]

Penulis prasasti

[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pagaruyung I juga menyebutkan nama penulis prasasti atau disebut juga dengan nama citralekha. Penulis Prasasti Pagaruyung I disebutkan dalam baris ke 20 dan baris ke 21 dengan nama Mpungku Dharmma Dwaja yang bergelar Karuna Bajra. Hal tersebut merupakan keistimewaan dari Prasasti Pagaruyung I itu sendiri karena hanya Prasasti Pagaruyung I satu-satunya prasasti dari Adityawarman yang mencantumkan nama penulis prasasti.[23]

Upaya pelestarian

[sunting | sunting sumber]

Pada saat sekarang ini pengelolaan dan perawatan prasasti ini di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III (dahulu Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat). Prasasti Pagaruyung I ini telah resmi diakui sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional. Penetapan status cagar budaya dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010, yang diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada tanggal 8 Januari 2010.[24]

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar telah melaksanakan berbagai upaya untuk melestarikan Prasasti Adityawarman yang di dalamnya terdapat Prasasti Pagaruyung I, termasuk beberapa prasasti atau batu basurek yang terdapat di sekitar Kota Batusangkar. Pada tahun 2022 yang lalu telah dilakukan upaya penataan kawasan di kompleks Prasasti Adityawarman ini. Penataan yang dilakukan yaitu nya perbaikan infrastruktur kompleks prasasti yang berguna untuk meningkatkan aksesibilitas bagi para peneliti khususnya dan bagi para pengunjung pada umumnya. Selain itu upaya pemasangan atap pelindung prasasti yang baru guna melindungi prasasti dari kerusakan akibat cuaca serta pemasangan pagar besi di sekeliling prasasti agar terhindar dari kerusakan dari hewan liar.[25][26]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Utomo & Sudarman 2018, hlm. 86.
  2. 1 2 Istiawan 2006, hlm. 3–8.
  3. Djafar, H. (1992). "Prasasti-Prasasti Masa Kerajaan Melayu Kuno dan Permasalahannya" [Inscriptions from the Ancient Malay Kingdom Period and Their Problems]. Seminar Sejarah Malayu Kuno Jambi, 7-8 Desember 1992. Jambi: Pemerintah Daerah Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jambi.
  4. Kusumadewi 2012, hlm. 99.
  5. Krom 1912, hlm. 42.
  6. Pusdatin, Kemendikbudristek (2022). "Prasasti Pagaruyung 1". referensi.data.kemendikdasmen.
  7. 1 2 Krom, N.J. 1912, hlm. 33.
  8. Krom, N.J. 1912, hlm. 41-42.
  9. 1 2 3 Istiawan, Budi 2006, hlm. 3.
  10. Griffiths 2012, hlm. 198-199.
  11. Roza, Darwyta (27 November 2024). "Kompleks Prasasti Pagaruyung, Jejak Sejarah Adityawarman melalui 9 Prasasti Kuno". rri.co.id.
  12. Pratiwi dkk, Eka 2024, hlm. 135.
  13. Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala (1997). Hasil Pemugaran Benda Cagar Budaya PJP I (PDF). Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat. hlm. 30–31. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. Witasari, Vernika Hapri (2011). Lambang Raja pada Kerajaan Kuna di Kawasan Indonesia Abad XI- XV Masehi: Suatu Rekonstruksi Makna. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
  15. Chandra 2016, hlm. 3.
  16. Balai Arkeologi Sumatra Utara. SUMATRA BARAT: Catatan Sejarah dan Arkeologi (PDF). Medan: Bina Media Perintis. hlm. 110–113. ISBN 978-879-751-682-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. Salleh, Abdul Razak (Prof. Dato. Dr.); Ramza, Harry (Ir., MT); Abdul Kadir, Mohammad Alinor (Dr.) (2015). Diaspora Adat dan Kekerabatan Alam Minangkabau: Sebuah Kepelbagaian Kajian Pemikiran. Vol. 1. Penerbit Kemala Indonesia. hlm. 83-84. ISBN 6021478126, 9786021478127. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  18. Budi Utomo, Bambang, Sudarman 2018, hlm. 87-88.
  19. 1 2 3 Istiawan 2006, hlm. 5.
  20. Chandra 2016, hlm. 2.
  21. Istiawan 2006, hlm. 5-6.
  22. Istiawan 2006, hlm. 6.
  23. Istiawan 2006, hlm. 8.
  24. "Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010". 2023-02-06. Diakses tanggal 2025-08-26.
  25. "PENATAAN KAWASAN PRASASTI ADITYAWARMAN | ANTARA Foto". antarafoto.com. Diakses tanggal 2025-10-18.
  26. Roza, Darwyta (29 November 2024). "Kompleks Prasasti Pagaruyung, Jejak Sejarah Adityawarman melalui 9 Prasasti Kuno". rri.co.id. Diakses tanggal 18 Oktober 2025.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]