Prasasti Baturaja
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Prasasti Baturaja adalah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Prasasti ini berisi kutukan bagi pengkhianat dan pemberontak pada masa Kerajaan Sriwijaya.[1]
Prasasti Baturaja pertama kali diketahui dari warga yang melaporkan ada warga yang mengoleksi batu yang diduga prasasti di Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU), pada September 2018. Setelah ditelusuri, ternyata batu itu memang betul prasasti dan akhirnya dibeli dan diselamatkan serta diteliti.
[2]Sebelumnya Prasasti Baturaja sudah dua kali berpindah tangan, kemudian dibeli oleh Amirul pada tahun 2005. Amirul membeli Prasasti Baturaja dari seorang kolektor yang bernama Mahmudin (Alm).
Merujuk data Museum Taman Wisata Kerajaan Sriwijaya (TWKS) Palembang yang menyimpan dan memamerkan koleksi itu. Prasasti baturaja adalah koleksi Amirul Mukminin, warga Baturaja. Prasasti itu didapatnya saat membeli kursi antik dari seorang kolektor pada 2005. Sehingga, penemu pertama dan asal-muasal prasasti tidak diketahui dengan pasti.[3]
Dari segi bentuk, Prasasti Baturaja telah terbelah menjadi beberapa bagian. Bagian yang ditemukan adalah bagian inti dan tengahnya, sedangkan bagian atas dan sedikit bagian bawahnya hilang.
Bagian yang ditemukan memiliki tinggi 24 cm, lebar bagian atas 26 cm, dan lebar bagian bawah 20 cm. Diameter bagian atas 19 cm, sedangkan diameter bagian bawah terbagi dua, 14 cm dan 9,5 cm. Lingkaran prasasti 67 cm. Prasasti terbuat dari batu andesit yang biasa ditemukan di wilayah sungai.
Isi Prasasti
[sunting | sunting sumber][4]Berikut 6 baris aksara yang dituliskan dengan aksara Pallawa Akhir dan Berbahasa Melayu Kuno. Pertama, ra ulam_dre mianga be ka tu rantuh (orang..mianga yang runtuh/jatuh). Kedua, Ce lawan drohaka........ma (ja) ja ri drohaka niujari drohaka (melawan pengkhianat ....berbicara dengan pengkhianat mendengarkan yang dikatakan oleh pengkhianat).
Ketiga, ya bhakti tatwaarjjawa hya (m) ku danda di yam nigalarku sanyasa da (tua) (jika orang berbakti dan setia kepadaku, dia akan kuangkat menduduki sebuah jabatan di kedatuan).
Keempat, malam parwwanda datu Sriwijayah talu muah yam (m) (saat itu juga di bawah pimpinan Datu Sriwijaya. Orang akan dihukum).
Kelima, Harta. Makalani (+) + uram makasaki (+) (harta membuat orang lupa diri/hilang keberaniannya, membuat orang sakit. Keenam, karanana (karenanya).
Prasasti yang terbuat dari batu pasir ini diduga berasal dari Sungai Komering. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Melayu kuno.
Apabila dilihat dari tulisan tersebut kemungkinan prasasti ini ditulis pada abad ke-7 Masehi.
Selain itu prasasti itu bertuliskan mengenai kutukan kepada pemberontak. Isinya mengenai pengkhianatan.
Dalam prasasti itu, Kerajaan Sriwijaya sempat bermusyawarah kepada para pemberontak.
Yakni mengajak pemberontak untuk patuh kepada kerajaan dan akan mendapat apresiasi berupa status atau kedudukan di tempat tersebut.
Jika tidak akan mendapatkan kutukan, di mana orang tersebut akan menjadi sakit atau hilang kepandaian.
Dari Prasasti Baturaja terungkap, kenapa Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci, yakni untuk menghindari pemberontakan yang ada di Minanga. Dia mencari tempat yang baru untuk mendirikan wanua (yang berada di sekitar Mukha Upang). Dan dari Prasasti Baturaja ini misteri letak Minanga mulai menemukan titik terang dan makin menguatkan legitimasi Palembang, Sumatera Selatan, sebagai daerah yang pernah menjadi ibu Kota Kedatuan Sriwijaya yang bercorak maritim.
"Prasasti Baturaja adalah kepingan puzzle yang melengkapi potongan kronologis sejarah Sriwijaya. Prasasti ini menjelaskan kenapa kisah dalam Prasasti Kedukan Bukit terjadi. Kesimpulannya, Minanga itu berada di Komering (Ogan Komering Ulu Timur), Sumatera Selatan. Dengan begitu, dugaan Sriwijaya bermula dari Sumsel semakin kuat", ujar Arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset Inovasi Nasional Wahyu Rizky Andhifani dalam rapat Koordinasi persiapan penelusuran dan penyelamatan Arsip Kemaritiman Sriwijaya di Palembang, Rabu (22/5/2024).[5]
Prasasti Baturaja ini juga makin mendukung penelitian beberapa pengamat, yang menyatakan bahwa Datu' Sriwijaya lahir dari Sumatera Selatan itu sendiri, M. Arlan Ismail menyebutkan bahwa Minanga berada di muara Sungai Komering Sumatera Selatan[6]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ FAJRIANSYAH, ADRIAN (2024-05-24). "Prasasti Baturaja Menguak Minanga, Kunci Pembuka Misteri Permulaan Sriwijaya". kompas.id. Diakses tanggal 2025-03-04.
- ↑ sumateraekspres.id. "Prasasti Baturaja Bukti Peradaban Tinggi Masa Lalu". sumateraekspres.id. Diakses tanggal 2025-03-04.
- ↑ FAJRIANSYAH, ADRIAN (2024-05-24). "Prasasti Baturaja Menguak Minanga, Kunci Pembuka Misteri Permulaan Sriwijaya". kompas.id. Diakses tanggal 2025-03-04.
- ↑ sumateraekspres.id. "Prasasti Baturaja Bukti Peradaban Tinggi Masa Lalu". sumateraekspres.id. Diakses tanggal 2025-03-04.
- ↑ FAJRIANSYAH, ADRIAN (2024-05-24). "Prasasti Baturaja Menguak Minanga, Kunci Pembuka Misteri Permulaan Sriwijaya". kompas.id. Diakses tanggal 2025-03-04.
- ↑ Ismail, H.M Arian (2002). Periodisasi sejarah Sriwijaya bermula di Menanga Komering Ulu Sumatera Selatan berjaya di Palembang berakhir di Jambi. Unanti Press. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)