Prahipertensi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search


Prahipertensi adalah istilah klasifikasi medis Amerika pada kasus dimana tekanan darah seseorang berada di atas normal, tetapi belum dapat dianggap sebagai tekanan darah tinggi. Tekanan darah prahipertensi berkisar pada sistolik 120 hingga 139 mm Hg atau pada diastolik 80 hingga 89 mm Hg. Jika terbaca sama atau lebih dari 140/90 mm Hg dianggap sudah menderita tekanan darah tinggi. Klasifikasi dari tekanan darah didasarkan pada 2 atau lebih pembacaan yang berselang setidaknya satu minggu. Laporan ketujuh dari Joint National Committee (JNC 7) mengusulkan label baru ini untuk peningkatan tekanan darah di bawah 140/90 untuk lebih meningkatkan akurasi kecenderungan peningkatan tekanan darah sesuai dengan usia.[1]

Tanda-tanda dan simtoma[sunting | sunting sumber]

Prahipertensi seringkali tanpa gejala apapun sampai saat didiagnosa. Hanya peningkatan ekstrem tekanan darah yang disebut malignant hypertension, tetapi jarang, dapat menyebabkan sakit kepala, gangguan penglihatan, fatigue, atau dizziness, tetapi ini adalah gejala-gejala yang tidak spesifik yang dapat terjadi pada kondisis-kondisi lainnya. Jadi, tekanan darah di atas normal dapat terjadi tanpa terdiagnosa untuk waktu yang sangat lama. Untuk itulah diperlukan pengukuran tekanan darah secara berkala.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Peningkatan tekanan darah berkembang secara perlahan-lahan selama bertahun-tahun, biasanya tanpa sebab-sebab spesifik yang dapat diidentifikasi. Bagaimanapun, kemungkinan sebab-sebab medis, seperti pengobatan, penyakit ginjal, masalah hormon adrenalin atau masalah thyroid, pertama-tama harus disingkirkan. Tekanan darah yang meninggi seiring dengan waktu tanpa adanya sebab-sebab spesifik dianggap jinak dan tidak berbahaya atau disebut essential hypertension. Tekanan darah juga cenderung meningkat sesuai usia seseorang.

Perawatan[sunting | sunting sumber]

Untuk merendahkan risiko peningkatan status dari prahipertensi ke tekanan darah tinggi, modifikasi dari gaya hidup atau kelakuan diperlukan.

Diet[sunting | sunting sumber]

Diet rendah lemak, rendah sodium/natrium, tinggi potassium/kalium direkomendasikan, sejalan dengan meningkatkan aktivitas fisik setidaknya 30 menit perhari dari kebanyakan hari per minggu, berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan menjaga berat tubuh yang sehat/ideal.[2]

Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa hubungan antara diet rendah lemak, rendah sodium mungkin hanya sedikit bahkan tidak berefek pada tekanan darah tinggi, terutama pada kasus-kasus diabetes.[3] Terdapat juga hubungan antara tingginya diet karbohidrat dari heavy in refined carbohydrates (gula, sirup jagung, tepung putih) sebagai sumber potensial untuk meningkatnya tekanan darah.[4] Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa diet rendah karbohidrat dapat menurunkan berat badan dan tekanan darah yang mirip pemakaian obat-obatan.[5]

Makanan yang kaya akan kalium termasuk, orange juice, kentang, pisang, avokad, cantaloupes, tomat, broccoli, kacang kedelai, nasi merah, bawang putih dan apricots, meskipun kalium juga terdapat berlimpah di kebayakan buah-buahan, sayuran dan daging.

Monitoring[sunting | sunting sumber]

Monitoring yang berhati-hati terhadap tanda-tanda dari kerusakan organ ujung atau hipertensi yang progresif adalah bagian penting untuk memantau pasien dengan prahipertensi. Setiap perubahan pada tekanan darah yang mengubah klasifikasi harus dikonfirmasi setidaknya dengan satu kali kunjungan berikutnya ke ahli medis.

Indikasi utama dari terapi antihipertensi farmakologi adalah peningkatan pesat menuju hipertensi. Batasannya lebih rendah pada pasien dengan diabetes, gagal ginjal kronis, atau penyakit kardiovaskular.[6] Target dari tekanan darah pada kondisi-kondisi ini adalah kurang dari 120/80 mm Hg.

Monitoring di rumah[sunting | sunting sumber]

Pemantauan tekanan darah di rumah dapat digunakan untuk memantau dan melacak pasien-pasien prahipertensi. Hal ini dapat membantu kesiagaan dari pasien dan dokternya, jika tekanan darahnya meningkat menjadi tekanan darah tinggi. Pemantauan di rumah dapat membantu menhindari white coat hypertension yang mana tekanan darah sesorang meningkat, ketika menghadapi dokter atau tenaga medis yang menggunakan 'jubah putih'. Pematauan di rumah atau di tempat kerja pada waktu yang sama setiap hari membantu mendiagnosa seorang pasien dengan prahipertensi atau tekanan darah tinggi.

The American Heart Association website[7] mengatakan, "You may have what's called 'white coat hypertension'; that means your blood pressure goes up when you're at the doctor's office. Monitoring at home will help you measure your true blood pressure and can provide your doctor with a log of blood pressure measurements over time. This is helpful in diagnosing and preventing potential health problems."

Mereka yang memantau tekanan darahnya di rumah juga semakin meningkat menggunakan perangkat lunak grafis untuk memplot tekanan darahnya. Grafik ini dapat dicetak untuk kepentingan pasien, dokter dan mengingatkan kapan perlu diukur tekanan darahnya.

Prognosa[sunting | sunting sumber]

Apakah prahipertensi perlu serious health concern masih menjadi kontroversi.[8] Beberapa penelitian yang lama menyimpulkan bahwa tidak ada peningkatan yang mencolok dari kematian pada individu-individu yang tergolong prahipertensi dalam waktu yang lama.[9][10] Banyak penelitian lanjutan mengindikasikan grafik J-shaped hubungan antara tekanan darah dan kematian, dimana keduanya, sangat tinggi atau sangat rendah berhubungan dengan peningkatan kematian.[11] Pada sisi lain, the National Heart, Lung, and Blood Institute mengatakan bahwa orang dengan prahipertensi beresiko tinggi untuk menjadi penderita tekanan darah tinggi, dibandingkan dengan orang dengan tekanan darah normal.[12]

Menurut sejumlah penelitian, prahipertensi dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya Myocardial infarction, stroke, gagal jantung congestive, dan gagal ginjal.[13][14] Sebuah penelitian menemukan bahwa seseorang dengan prahipertensi memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk mendapatkan serangan jantung dan 1,7 kali lebih besar untuk mendapatkan penyakit jantung dibandingkan dengan orang bertekanan darah normal.[15] A meta-analysis concluded that prehypertension increases the risk of stroke, and that even low-range prehypertension significantly increases stroke risk.[16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Chobanian AV; Bakris GL; Black HR; et al. (May 2003). "The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure: the JNC 7 report". JAMA. 289 (19): 2560–72. doi:10.1001/jama.289.19.2560. PMID 12748199. 
  2. ^ [1][pranala nonaktif]
  3. ^ "Good Calories, Bad Calories: Challenging the Conventional Wisdom on Diet, Weight Control, and Disease: Gary Taubes: 9781400040780: Amazon.com: Books". Amazon.com. 2007-09-25. Diakses tanggal 2013-07-06. 
  4. ^ http://americanheart.mediaroom.com/index.php?s=43&item=829
  5. ^ "Low-Carb Diet Lowers Blood Pressure - High Blood Pressure (Hypertension) and Related Information on". Medicinenet.com. 2010-01-25. Diakses tanggal 2013-07-06. 
  6. ^ Sipahi I; Tuzcu EM; Schoenhagen P; et al. (August 2006). "Effects of normal, pre-hypertensive, and hypertensive blood pressure levels on progression of coronary atherosclerosis". J. Am. Coll. Cardiol. 48 (4): 833–8. doi:10.1016/j.jacc.2006.05.045. PMID 16904557. 
  7. ^ American Heart Association website
  8. ^ Smetana, GW (2011). "Rethinking "Abnormal" Blood Pressure: What is the Value?". Journal of General Internal Medicine. 26 (7): 678–680. doi:10.1007/s11606-011-1737-2. PMC 3138596alt=Dapat diakses gratis. PMID 21557032. 
  9. ^ Taylor, BC; Wilt, TJ; Welch, HG (2011). "Impact of diastolic and systolic blood pressure on mortality: Implications for the definition of "normal"". Journal of general internal medicine. 26 (7): 685–90. doi:10.1007/s11606-011-1660-6. PMC 3138604alt=Dapat diakses gratis. PMID 21404131. 
  10. ^ Port, S; Demer, L; Jennrich, R; Walter, D; Garfinkel, A (2000). "Systolic blood pressure and mortality". Lancet. 355 (9199): 175–80. doi:10.1016/S0140-6736(99)07051-8. PMID 10675116. 
  11. ^ http://content.onlinejacc.org/article.aspx?articleid=1140179
  12. ^ National Heart, Lung and Blood Institute<http://www.nhlbi.nih.gov/hbp/hbp/whathbp.htm>
  13. ^ Qureshi AI, Suri MF, Kirmani JF, Divani AA, Mohammad Y (September 2005). "Is prehypertension a risk factor for cardiovascular diseases?". Stroke. 36 (9): 1859–63. doi:10.1161/01.STR.0000177495.45580.f1. PMID 16081866. 
  14. ^ Vasan RS; Larson MG; Leip EP; et al. (November 2001). "Impact of high-normal blood pressure on the risk of cardiovascular disease". N. Engl. J. Med. 345 (18): 1291–7. doi:10.1056/NEJMoa003417. PMID 11794147. 
  15. ^ American Heart Association (2005, August 6). Prehypertension Triples Heart Attack Risk
  16. ^ Huang, Y; Cai X; Li Y; Su L; Mai W; Wang S; Hu Y; Wu Y; Xu D. (2014 Mar 12 [Epub ahead of print]). "Prehypertension and the risk of stroke: A meta-analysis". Neurology. 82 (13): 1153–61. doi:10.1212/WNL.0000000000000268. PMID 24623843.