Lompat ke isi

Plaosan, Magetan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Plaosan
Dari atas ke bawah: Telaga Sarangan;
Kebun sayuran di Sarangan
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenMagetan
Pemerintahan
  CamatAyudya Primasmoro, S.STP., M.Si.
Populasi
 (2024)
  Total52.995 jiwa
Kode pos
63361
Kode Kemendagri35.20.07 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3520070 Suntingan nilai di Wikidata
Luas66,09 km²
Desa/kelurahan15
Peta
PetaKoordinat: 7°40′12″S 111°13′52″E / 7.67000°S 111.23111°E / -7.67000; 111.23111

Plaosan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magetan yang terletak di lereng Gunung Lawu. Plaosan merupakan ikon pariwisata Magetan yang terletak di dataran tinggi dengan hawa yang sejuk dan pemandangan yang hijau. Destinasi wisata paling ikonik dari Magetan berada di kecamatan ini yaitu Telaga Sarangan, sebuah danau alami berukuran besar yang dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai daerah setiap tahunnya. Sarangan dikenal dengan kulinernya yaitu sate kelinci, serta dilengkapi fasilitas seperti persewaan kuda dan speedboat serta pasar wisata.[1] Plaosan juga memiliki banyak tempat wisata lain yang tidak kalah populer seperti Kebun Refugia, Mojosemi Forest Park, dan Lawu Green Forest.[2]

Plaosan berada di jalan provinsi strategis yang menghubungkan ibu kota Magetan di timur dengan Provinsi Jawa Tengah (Kabupaten Karanganyar) di barat. Perbatasan dengan Jawa Tengah dipisahkan oleh Gunung Lawu dengan jalur yang menanjak dan berkelok kelok serta dikelilingi oleh hutan pinus. Jalur tersebut merupakan jalan baru sebagai pengganti jalur lama yang lebih menanjak tetapi lebih sedikit berkelok.[3] Perkampungan paling ujung di perbatasan adalah Cemorosewu yang berbatasan dengan Tawangmangu di Jawa Tengah.[4] Cemorosewu adalah salah satu jalur resmi untuk mendaki puncak Gunung Lawu.[5]

Selain pariwisata, Plaosan juga dikenal sebagai sentra pertanian dan peternakan. Letaknya di dataran tinggi yang subur menjadikan kecamatan ini sebagai sentra sayur mayur di Magetan. Beberapa sayuran yang ditanam di Plaosan di antaranya kubis, wortel, sawi, tomat, dan lainnya. Sayuran tersebut dijual di Pasar Wisata Plaosan yang merupakan pusat agrobisnis terbesar di Madiun Raya.[6] Selain itu, Plaosan juga banyak ditanami buah-buahan seperti stroberi dan durian.[7] Sedangkan dari sektor peternakan, Plaosan merupakan pusat peternakan sapi perah di Magetan dengan salah satu sentranya dijadikan obyek wisata yaitu Kampung Susu Singolangu.[8]

Peta lokasi Kecamatan Plaosan

Plaosan adalah kecamatan di barat Kabupaten Magetan yang berada di lereng Gunung Lawu dan berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Plaosan memiliki geografi berupa dataran tinggi yang subur dan banyak ditanami komoditas sayur mayur. Sedangkan bagian baratnya masih banyak ditemui hutan yang asri. Jalur penghubung Magetan dengan Jawa Tengah diapit oleh Puncak Lawu di utara dan Gunung Mongkrang di selatan.

Jalur pendakian utama menuju puncak Gunung Lawu atau Hargo Dumilah (3.265 mdpl) adalah via Cemoro Sewu. Cemoro Sewu merupakan kampung paling barat dari Magetan dan berbatasan dengan Cemoro Kandang di Tawangmangu. Selain itu juga ada jalur lainnya untuk menuju Lawu, yaitu via Singolangu. Plaosan terdapat Telaga Sarangan yang merupakan danau terbesar di Magetan dengan luas sekitar 30 ha dan kedalaman 28 ha. Namun, juga terdapat danau lainnya yang lebih kecil yaitu Telaga Wahyu. Wilayah Plaosan merupakan hulu dari berbagai sungai penting di Magetan, salah satunya Sungai Gandong yang merupakan sungai terpanjang.

Batas wilayah Kecamatan Plaosan adalah sebagai berikut:[9]

UtaraKecamatan Sidorejo
TimurKecamatan Ngariboyo
SelatanKecamatan Poncol
Barat Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Tawangmangu)

Daftar kelurahan, desa, dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Plaosan terdiri dari 2 kelurahan dan 13 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan. Namun sebelumnya juga terdapat 4 desa yang sejak tahun 2007 menjadi bagian dari kecamatan baru bernama Sidorejo, terdiri dari: Desa Sidorejo, Sidomulyo, Durenan, dan Getasanyar.

Desa dan kelurahan di Plaosan yakni sebagai berikut:

No. Nama Kelurahan / Desa Tipe Nama Dusun atau Dukuh Ref
1 Bogoarum Desa Bogosari, Dompong, Garum, Karanglo, Pandean, Tukbibis [9]
2 Bulugunung Desa Babar, Buket, Claket, Geneng, Sedran, Sepring, Tawang [9]
3 Buluharjo Desa Banyuputih, Dele, Demangharjo, Dungan, Maron, Pait, Suweru, Widoro [9]
4 Dadi Desa Dadi, Compok, Gemutri, Gupakan, Kuren, Ngerong, Ngwolo, Pakel [9]
5 Ngancar Desa Ngancar, Cemoro Sewu, Geyong [9]
6 Nitikan Desa Nitikan Barat, Nitikan Timur, Selonggono [9]
7 Pacalan Desa Pacalan, Dokingkin, Geneng, Sangeng [9]
8 Plaosan Kelurahan Plaosan 1, Plaosan 2, Duwet, Gulun, Kandenan, Kauman, Sale [9][10]
9 Plumpung Desa Plumpung, Dengkeng, Dukuh, Grombong, Legok, Mireng, Tawing [9]
10 Puntukdoro Desa Puntukdoro, Klaten, Ngelo, Ngrejeng, Prendetan [9]
11 Randugede Desa Bulu, Genggong, Karangbulu, Ndoyo, Sentul [9]
12 Sarangan Kelurahan Sarangan, Mandoran, Ngluweng, Singolangu [9][11]
13 Sendangagung Desa Durak, Jiwir, Kramat, Muning, Sengon [9]
14 Sidomukti Desa Carat, Dawuhan, Dayah, Dungan, Galuh, Guritan, Kalitengah, Nongkodandang, Papringan, Tonggoiro [9]
15 Sumberagung Desa Banaran, Mesih, Muwuh, Nitikan Kidul, Ngrandu [9]
Telaga Sarangan di tahun 1935

Ikon dari Kecamatan Plaosan adalah Telaga Sarangan yang sudah populer sejak zaman kolonial Belanda. Pada akhir abad ke-19, warga Eropa mulai mengembangkan sektor pariwisata di Hindia Belanda. Salah satu lokasi yang populer adalah Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu. Terdapat fasilitas berupa penginapan, dengan salah satu yang terkenal adalah Grand Hotel Sarangan. Akses menuju Sarangan adalah melalui stasiun kereta di Madiun kemudian dilanjutkan naik mobil. Namun, jalur untuk naik ke telaga sebelum tahun 1937 masih belum memadai sehingga untuk mencapainya harus berjalan kaki, jasa tandu, atau sewa kuda. Warga pribumi dipekerjakan sebagai pengangkut barang, kusir kuda, pelayan akomodasi, dan sebagainya. Pariwisata di Sarangan terdampak dengan adanya Perang Dunia 2 di tahun 1940. Asosiasi pemilik hotel di Sarangan (ABHINI) mencabut keanggotaan warga Jerman. Hotel yang sepi akibat perang kemudian digunakan untuk menampung orang Jerman yang ditahan.[12]

Kebudayaan

[sunting | sunting sumber]
Labuhan Sarangan

Labuhan Sarangan

[sunting | sunting sumber]

Labuhan Sarangan adalah tradisi yang diselenggarakan tiap tahunnya di Telaga Sarangan. Tradisi ini dilaksanakan setiap Jumat Pon di bulan Ruwah dalam kalender Jawa, untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan setiap tahunnya. Labuhan Sarangan dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Sarangan dan menjadi salah satu ikon budaya dari Magetan. Puncak acara dari tradisi tersebut adalah kirab atau arak-arakan tumpeng yang dimulai dari kantor Kelurahan Sarangan menuju telaga. Setelah berdoa, tumpeng sesaji kemudian diarak mengelilingi Telaga Sarangan menggunakan kapal motor. Setelah sampai di tengah telaga, tumpeng lalu dilarung atau ditenggelamkan. Tradisi ini adalah ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil panen dan hasil bumi masyarakat Sarangan.[13] Tradisi Labuhan Sarangan dipadati ribuan wisatawan yang menonton tiap tahunnya, dan sekarang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Kementerian Kebudayaan.[14]

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Berkuda di Sarangan
Terminal dan Pasar Plaosan
Pasar wisata di Sarangan
  • Pasar Wisata Plaosan dan Terminal Plaosan - pusat agrobisnis se-Madiun Raya
  • Pasar Sapi Plaosan
  • Telaga Sarangan
  • Telaga Wahyu
  • Kebun Refugia Magetan
  • Mojosemi Forest Park
  • Lawu Green Forest
  • Mbah Djoe Resort
  • Kampung Batik Sidomukti[15]
  • Randugede Hidden Paradise
  • Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu
  • Kampung Susu Singolangu

Peristiwa

[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 5 Januari 2013, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengalami kecelakaan di wilayah Plaosan. Beliau melakukan uji coba mobil listrik produksi Indonesia Tucuxi dari Kota Solo. Mobil tersebut melaju dengan lancar sampai Tawangmangu, tetapi kemudian mengalami kendala ketika jalan mulai menurun menuju Sarangan. Mobil tersebut melaju kencang dan tidak dapat direm sehingga menabrak tebing di tepi jalan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.[16]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Sukoco, Andi Hartik (2024-11-18). "Menikmati Sate Kelinci di Pinggir Telaga Sarangan". KOMPAS.
  2. Savira Oktavia (2023-09-18). "10 Wisata Alam di Lereng Gunung Lawu Magetan". DETIK JATIM.
  3. Moh Eko Suprayitno (2025-11-15). "Jalur Tembus Sarangan-Tawangmangu Tertutup Longsor, Pengguna Jalan Disarankan Pilih Jalur Lain, Tapi". magetan.pikiran-rakyat.com - PORTAL MAGETAN.
  4. Sugeng Harianto (2021-05-02). "Jelang Mudik Dilarang, Plat AD-AE Dominasi Perbatasan Jatim-Jateng Cemoro Sewu". DETIK.
  5. Raja Syeh Anugrah (2022-11-09). "'Tektok' Gunung Lawu via Cemoro Sewu". TELUSURI.id.
  6. Louis Rika Stevani (2025-10-06). "Khofifah sebut Pasar Plaosan Magetan jadi pusat agrobisnis Madiun Raya". ANTARA.
  7. Yoga Adhitama (2024-02-09). "Mengenal Tawing, Durian Khas Magetan yang Punya Rasa Manis & Pahit". ESPOS REGIONAL.
  8. Anton Suroso (2022-12-29). "Singolangu, Kampung Susu Sekaligus Jalur Pendakian Lawu yang Eksotis". LENSA MAGETAN.
  9. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kabupaten Magetan Dalam Angka 2025. BPS Kabupaten Magetan. 2025-02-28.
  10. "Kelurahan Plaosan : Total Dusun". magetan.go.id - Pemerintah Kabupaten Magetan. Diakses tanggal 2026-04-28.
  11. "Kelurahan Sarangan : Total Dusun". magetan.go.id - Pemerintah Kabupaten Magetan. Diakses tanggal 2026-04-28.
  12. M. Nur Wathoni A., Rojil Nugroho Bayu Aji (2022). "TELAGA SARANGAN: PARIWISATA ERA KOLONIAL (1938-1940)". Avatara: Jurnal Pendidikan Sejarah. 13 (1). Universitas Negeri Surabaya.
  13. Louis Rika Stevani (2026-03-01). [www.antaranews.com/berita/5444838/menjaga-labuhan-sarangan-menjadi-tradisi-dan-ikon-pariwisata-magetan "Menjaga Labuhan Sarangan menjadi tradisi dan ikon pariwisata Magetan"]. ANTARA.
  14. "Labuhan Sarangan Resmi Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia". SEPUTAR JATIM. 2026-02-22.
  15. Mira Rachmalia (2025-10-16). "Kampung Batik Sidomukti, Sentra Batik Pring Sedapur dari Lereng Lawu". DETIK JATIM.
  16. Angga Aliya ZRF (2013-01-05). "Kronologi Kecelakaan 'Ferrari' Tabrak Tebing Menurut Dahlan Iskan". DETIK.