Persiraja Banda Aceh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Persiraja)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Persiraja Banda Aceh
ڤرسيرجا بندر اچيه
Logo Persiraja
Nama lengkapPersatuan Sepak Bola Indonesia Kutaraja
JulukanLantak Laju
Laskar Rencong
Berdiri28 Juli 1957 (1957-07-28) (64 tahun lalu)
StadionStadion Harapan Bangsa,
Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Aceh
(Kapasitas: 45.000)
PresidenNazaruddin Dek Gam
Pelatih kepalaHendri Susilo
LigaLiga 1
Liga 2 2019Juara 3
(Promosi ke Liga 1)
Kostum Kandang
Kostum Tandang
Kostum Ketiga

Persatuan Sepak Bola Indonesia Kutaraja Banda Aceh (Jawoë: ڤرستون سيڤك بول إندونيسيا كوترج بند اچيه) atau sering disingkat Persiraja Banda Aceh adalah sebuah klub sepak bola Indonesia asal Kota Banda Aceh, ibu kota Aceh. Kutaraja merupakan nama lama Kota Banda Aceh yang sekarang menjadi Kecamatan Kuta Raja. Klub ini didirikan pada tanggal 28 Juli 1957.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Persiraja Banda Aceh didirikan pada tanggal 28 Juli 1957 dan telah mengikuti berbagai kompetisi sepak bola tanah air. Prestasi terbaik yang dicapai Persiraja yakni tampil sebagai juara perserikatan pada tahun 1980. Di babak final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Persiraja sukses mengalahkan Persipura Jayapura dengan skor 3-1. Kala itu, 2 gol Persiraja berhasil disarangkan oleh Bustamam dan 1 gol lainnya dicetak oleh Rustam Syafari.

Pada musim 2008/2009 Persiraja bermain di Divisi Utama Liga Indonesia. Persiraja terkenal dengan permainan taktis dan kerasnya, terutama saat bermain di kandangnya yang terkenal angker bagi tim-tim lawan yang bermain di Kota Banda Aceh.

Salah satu yang membuat Persiraja sulit dikalahkan di kandangnya sendiri adalah dukungan luar biasa yang ditunjukkan oleh para penonton dan suporter mereka yang dikenal dengan SKULL (Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju).

Persiraja berhasil mengangkat marwah persepakbolaan Aceh yang sebelumnya tenggelam akibat Konflik Aceh dengan menjadi juara 2 Divisi Utama Liga Indonesia 2010–2011 setelah kalah tipis dengan skor 1-0 di partai final oleh tim asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Persiba Bantul. Dengan lolosnya Persiraja sebagai runner-up, maka untuk musim 2011/2012 Persiraja bermain di kasta tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia yang lebih dikenal LSI.

Namun pada pertengahan tahun 2011, terjadi kisruh di tubuh PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia) dikarenakan kepengurusan yang saat itu dipegang oleh rezim Nurdin Halid dianggap gagal memajukan prestasi sepak bola Indonesia. Lalu PSSI akhirnya membentuk kepengurusan yang baru dan diketuai oleh Djohar Arifin Husin. Nama kompetisi pun berubah, yang dulunya LSI kemudian diganti nama dengan IPL (Indonesian Premier League) atau Liga Prima Indonesia.

Dengan terbentuknya kepengurusan PSSI yang baru serta mewajibkan tim-tim sepak bola agar tidak menggunakan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) di era industri sepak bola modern, maka pada bulan Agustus tahun 2011 Persiraja melakukan kerjasama merger bersama Aceh United yang merupakan tim peserta Liga Primer Indonesia (LPI) asal Aceh dan berada di bawah naungan PT. Aceh Sportindo Mandiri untuk mengarungi kompetisi Liga Prima Indonesia 2011–2012.

Pada musim 2014/2015 Persiraja mengalami perselisihan internal dengan Pemerintah Kota Banda Aceh yaitu dengan Kadis DPKAD Banda Aceh Drs Purnama Karya dan Pejabat Pemko Banda Aceh yang terlibat dalam Klub Persiraja Banda Aceh, adanya pejabat kota yang menjabat di kerangka pimpinan di klub Persiraja mengakibatkan sebenarnya telah melanggar Peraturan (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 : melarang pejabat menjabat/menggunakan dana APBD ke Klub Sepak Bola dan Politik dilarang dalam sepak bola). Persiraja awalnya secara resmi tergabung di grup 1 DU, namun pihak Persiraja mengumumkan di laman resmi mereka pada 8 April 2014 secara resmi bahwa mereka tidak akan mengikuti kompetisi D 2014 yang akan dihelat 15 April 2014 mendatang, akibat perselisihan internal antara Pemkot Banda Aceh dan Persiraja.

Pada musim 2015/2016 Persiraja ikut terkena imbas dari permasalahan PSSI dan Pemerintah Pusat, Pemain Persiraja tidak mendapatkan gaji dan klub kekurangan sponsor yang menjadikan Pemain Persiraja tidak mendapatkan kepastian masa depan akibat dari penghentian sementara liga-liga di Indonesia.

Tahun 2017, adalah awal mula bagi persepakbolaan Indonesia berjalan setelah terkena sanksi FIFA. Persiraja Banda Aceh memulai musim di Liga 2, dan gagal melaju Liga 1 setelah di sesi grup 1 setelah kalah 1 poin dari PSMS Medan di akhir musim. Persiraja mampu bertahan di Liga 2, dengan memimpin juara Grup E di Play Off 2 dan tidak didegradasi ke Liga 3.

Pada Liga 2 2018, Persiraja berhasil memperoleh posisi ke-2 di klasemen Grup Wilayah Barat dan melaju ke babak-2 yang menggabungkan 4 tim yang memperoleh poin tertinggi dari 2 Wilayah Barat&Timur Liga 2. Namun Persiraja hanya mampu mendapatkan posisi ke-3 di Grup B kalah 1 Poin dari PSS Sleman dan Persita Tangerang, yang menggagalkan Persiraja selangkah dari memasuki Liga 1.

Pada musim Liga 2 2019, Persiraja berhasil menjadi juara 3 setelah di pertandingan perebutan tempat ketiga mengalahkan Sriwijaya FC 1-0. Dan berhak promosi ke Liga 1 2020.

Persiraja Banda Aceh bermarkas di Stadion Harapan Bangsa yang beralamat di Jalan Sultan Malikul Saleh No. 97 Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Aceh. Tim ini memiliki julukan Laskar Rencong dengan motto Lantak Laju (Hajar Terus). Persebakbolaan di Banda Aceh menjadi hidup dengan kehadiran Persiraja Banda Aceh dan didukung oleh para tifosi penggemar sepak bola Aceh yang terus bertambah.

Tanah rencong memiliki potensi besar karena tersedia bakat-bakat pemain muda dan suporter sepak bola yang aktif. Klub kebanggaan masyarakat Aceh ini akan menampung bakat-bakat pemain muda lokal untuk berprestasi, dan menyuguhkan tontonan menghibur kepada para penonton juga suporter.

Rivalitas[sunting | sunting sumber]

Persiraja dulu berselisih dengan sesama klub Aceh, PSAP Sigli. Derby ini biasa disebut dengan Derby Classic Aceh. Pertandingan mereka selalu dalam suasana panas.[1][2] Satu kejadian paling tragis terjadi pada 2014, saat kiper PSAP Sigli, Agus Rahman, melakukan tekel keras terhadap striker Persiraja, Akli Fairuz. Akli mengalami kebocoran kandung kemih dan, beberapa hari setelah pertandingan, meninggal karena luka dalam akibat tekel tersebut.[3] Dia menerima skorsing setahun yang diberikan oleh PSSI.[4] Saat ini, sejak Persiraja dan PSAP Sigli tidak lagi berada di level yang sama, persaingan telah mereda. Selain itu, Persiraja juga memiliki rivalitas dengan klub Aceh lainnya, PSBL Langsa.[5][6]

Prestasi[sunting | sunting sumber]

Perserikatan (Divisi Utama PSSI)[sunting | sunting sumber]

Rekor[sunting | sunting sumber]

Kasta Tertinggi[sunting | sunting sumber]

Kejurnas PSSI[sunting | sunting sumber]

Divisi Utama PSSI[sunting | sunting sumber]

Divisi Utama Liga Indonesia[sunting | sunting sumber]

Liga Prima Indonesia[sunting | sunting sumber]

Liga 1[sunting | sunting sumber]

  • 2020 - "Kompetisi dihentikan" saat Persiraja berada di peringkat 7 Liga 1 2020


Kasta Kedua[sunting | sunting sumber]

Divisi Satu[sunting | sunting sumber]

  • 2002 - 8 Besar
  • 2003 - 8 Besar
  • 2004 - Peringkat 8 Wilayah Barat
  • 2005 - Juru kunci (Namun tidak degradasi karena dispensasi Tsunami Aceh 2004)
  • 2006 - Runner-Up (Promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia 2007)

Divisi Utama[sunting | sunting sumber]

Liga 2[sunting | sunting sumber]


Piala domestik[sunting | sunting sumber]

Copa Indonesia[sunting | sunting sumber]

Piala Indonesia[sunting | sunting sumber]

Stadion[sunting | sunting sumber]

Stadion Harapan Bangsa[sunting | sunting sumber]

Didirikan pada tahun 1998 Stadion Harapan Bangsa terletak di Gampong Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Aceh yang juga merupakan markas klub sepak bola Persiraja Banda Aceh mulai tahun 2011/2012, namun status Stadion Harapan Bangsa sering dijadikan tempat Event tertentu oleh seluruh Provinsi Aceh dan tidak hanya dimiliki khusus oleh Persiraja atau Pemkot Banda Aceh karena stadion tersebut dibangun dengan APBA Aceh dan secara otomatis stadion tersebut milik Pemerintah Aceh. Stadion ini direnovasi setelah bencana Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004. Stadion Harapan Bangsa memiliki kapasitas 45.000 tempat duduk. Stadion kebanggaan Tanah Rencong ini sempat menjadi salah satu stadion termegah di Indonesia pada rentang tahun 1998-2000 namun akibat kurangnya perawatan di stadion ini dan terjadinya gempa tsunami membuat julukan itu tinggal kenangan.

Stadion Haji Dimurthala[sunting | sunting sumber]

Berbeda dari Stadion Harapan Bangsa, Stadion Haji Dimurthala adalah markas Persiraja yang dibangun oleh Pemerintah Kota Banda Aceh khusus untuk menjadi home base Persiraja. Stadion Haji Dimurthala adalah sebuah stadion yang terletak di Gampong Kota Baru, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Aceh, Negara Indonesia. Stadion ini dinamakan seperti nama legenda Persiraja Banda Aceh, H. Dimurthala atau lebih dikenal dengan nama Bang Mur dipergunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola dan merupakan markas dari klub sepak bola Persiraja Banda Aceh. Stadion ini memiliki kapasitas 20.000 orang. Stadion tersebut juga terkena dampak akibat Tsunami 2004 dan direnovasi terutama saat Presiden FIFA, Sepp Blatter dalam kunjungannya ke Stadion Haji Dimurtala, Selasa 4 April 2006.

Pendukung[sunting | sunting sumber]

Dukungan luar biasa yang ditunjukkan oleh para penonton dan suporter Persiraja yang dikenal sebagai organisasi S.K.U.L.L. (Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju). Organisasi S.K.U.L.L. juga terkenal sebagai suporter yang sangat sportif dan hampir tidak memiliki catatan buruk dari Komdis PSSI.

Pemain[sunting | sunting sumber]

Per 24 Mei 2021.[7][8][9]

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Negara Pemain
2 DF Indonesia IDN Kassim Slamat
4 DF Brasil BRA Léo Lelis
6 MF Serbia SRB Vanja Marković
8 MF Indonesia IDN Muhammad Rifaldi
9 FW Indonesia IDN Husnuzhon
10 FW Brasil BRA Paulo Henrique
11 MF Indonesia IDN Muhammad Isa
14 MF Jepang JPN Shori Murata
16 DF Indonesia IDN Muhammad Roby
17 DF Indonesia IDN Agus Suhendra
19 FW Indonesia IDN Ramadhan
20 GK Indonesia IDN Rolas Divaio
21 MF Indonesia IDN Mudasir
No. Pos. Negara Pemain
24 DF Indonesia IDN Hamdan Zamzani
26 MF Indonesia IDN Muhammad Mikail
31 GK Indonesia IDN Fakhrurrazi Quba
33 GK Indonesia IDN Aji Bayu Putra
42 MF Indonesia IDN Arda Alfareza
77 MF Indonesia IDN Defri Rizki
78 MF Indonesia IDN Mukhlis Nakata (captain)
87 MF Indonesia IDN Supriyadi E'eng
96 MF Indonesia IDN Nazarul Fahmi
99 MF Indonesia IDN Redi Rusmawan
DF Indonesia IDN Zahran Iqbal
DF Indonesia IDN Arif Nulhakim

Mantan pemain[sunting | sunting sumber]

Pemain Terkenal[sunting | sunting sumber]

Pemain Legendaris[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Ricuh, Laga Persiraja Kontra PSAP Dihentikan". bola.net. Diakses tanggal 5 Juni 2018. 
  2. ^ "Pemain Persiraja dengan PSAP Sigli Adu Jotos". liputan6.com. Diakses tanggal 5 Juni 2018. 
  3. ^ "Indonesian Premier League Footballer Akli Fairuz Dies After Horror Tackle". au.sports.yahoo.com (dalam bahasa Inggris). 
  4. ^ "Terkait Meninggalnya Akli Fairuz, Kiper PSAP Diskors Setahun". detik.com. Diakses tanggal 5 Juni 2018. 
  5. ^ "Derby Aceh Ricuh". tribunnews.com. Diakses tanggal 5 Juni 2018. 
  6. ^ "Miris! Sepak Bola Indonesia Kembali Ricuh, Ini Videonya". bolasport.com. Diakses tanggal 5 Juni 2018. 
  7. ^ "Pemain". persiraja.id. Diakses tanggal 1 March 2020. 
  8. ^ "Penuhi Kuota Pemain, Persiraja Banda Aceh Incar Pemain Lokal". bola.tempo.co. Diakses tanggal 4 February 2020. 
  9. ^ "Persiraja Ikat Dua Amunisi Baru". 14 February 2020. Diakses tanggal 14 February 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Persiraja Banda Aceh di Instagram

  • (Indonesia)

Official Video di YouTube