Lompat ke isi

Pernyataan kebenaran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Praktik pengucapan sacca-kiriyā mengasumsikan adanya kekuatan moral alami yang beroperasi di dunia.[1]

Dalam Buddhisme, pernyataan kebenaran (Pali: sacca-kiriyā; Sanskerta: satya-kriya, namun lebih sering disebut satyādhiṣṭhāna)[2][3][note 1] merujuk pada pernyataan kebenaran sungguh-sungguh yang diekspresikan dalam bentuk ucapan lisan saat upacara keagamaan, biasanya dalam bentuk syair-syair paritta.

Pernyataan kebenaran bisa berupa ucapan yang berkaitan dengan kebajikan seseorang, atau berkaitan dengan fakta tertentu, diikuti oleh perintah atau resolusi. Pernyataan seperti itu diyakini menghasilkan kekuatan ajaib yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tergantung pada kejujuran orang yang membuat pernyataan tersebut. Sacca-kiriyā adalah praktik yang ditemukan dalam kisah-kisah kitab suci Tripitaka Pali dan komentarnya, serta dalam kitab pasca-kanonis seperti Milindapañha dan Avadāna. Dalam kisah-kisah tersebut, praktik ini biasanya ditemukan sebagai suatu bentuk berkah, tetapi terkadang sebagai suatu bentuk kutukan. Praktik ini juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab agama Hindu dan Jainisme.

Pelantunan sacca-kiriyā biasanya mengandung kalimat "Berkat pernyataan kebenaran ini, semoga..." (Pali: Etena saccavajjena...) atau "Dengan kekuatan ini, semoga..." (Pali: tejasa...), diikuti dengan suatu perintah atau harapan.[5] Umumnya dilakukan dengan tujuan akhir tertentu, seperti mengendalikan makhluk halus, mengendalikan objek fisik, atau menyebabkan sesuatu terjadi.[1]

Relief depicting King Ashoka visiting the Bodhi Tree
Kunjungan Raja Asoka ke Pohon Bodhi di Bodh Gaya.

Terdapat banyak contoh dalam literatur dan sejarah Asia tentang orang-orang yang melakukan sacca-kiriyā.

Yang paling terkenal adalah dari Sang Buddha sendiri. Pada malam Pencerahan-Nya, ketika Sang Buddha akan mencapai Pencerahan, Beliau ditantang oleh Māra, personifikasi kejahatan dalam Buddhisme. Māra mencoba menghentikan Sang Buddha mencapai Pencerahan dengan menuduh-Nya tidak berhak duduk di singgasana di bawah Pohon Bodhi, dan menantang-Nya untuk mencari saksi atas klaim Pencerahan-Nya. Sang Bodhisatwa kemudian memanggil "Ibu Pertiwi" (personifikasi dari Bumi, melambangkan kebenaran) untuk bersaksi atas paramita-Nya pada malam Pencerahan-Nya. Beliau merujuk pada kebajikan-kebajikan yang telah Beliau praktikkan selama banyak kehidupan. Ketika bumi membenarkan klaim Sang Buddha, Māra pun mundur.[6][7]

Dalam contoh lain, Sang Bodhisatwa meletakkan sebuah mangkuk di atas permukaan air. Beliau menyatakan bahwa jika Beliau memang akan mencapai Kebuddhaan pada malam itu, biarlah mangkuk itu mengapung melawan arus, yang kemudian terjadi sesuai dengan pernyataan-Nya. Dalam kisah Jātaka lain yang sering dikutip, seekor burung puyuh melihat sarangnya, dan teman-teman burungnya dilalap oleh kebakaran hutan. Setelah burung itu membuat pernyataan tentang "kualitas sila" (Pāḷi: sīla-guṇa) dan "kualitas kebenaran" (Pāḷi: sacca-guṇa), serta dengan menjabarkan kebajikan-kebajikan para Buddha di masa lampau, api tersebut secara ajaib mundur.[7][8]

Sebuah contoh legendaris dari sacca-kiriyā yang merujuk pada tindakan di masa depan adalah kisah Asoka, yang berikrar bahwa demi kebenaran niatnya untuk mendukung dan menopang penyebaran Buddhisme, sebatang Pohon Bodhi yang sedang sekarat dapat diselamatkan, yang kemudian terjadi sesuai dengan ikrarnya.[9][10] Contoh lain yang diangkat oleh Indolog Richard Gombrich adalah kisah Raja Sri Lanka Duṭṭhagāmaṇi, yang menggunakan sacca-kiriyā dalam peperangan.[11] Kemudian, ada juga kisah seorang reformis Buddhis, Anagārika Dharmapāla, yang merujuk pada niat baiknya untuk memulihkan otoritas situs ziarah Bodh Gaya ke tangan umat Buddha (yang kepengurusannya diambil alih oleh kaum Hindu), dan bertekad bahwa demi niat tersebut, bantuan akan datang untuk mendukung kampanye tersebut.[9]

Tradisi Nama teks Pelantun Kebenaran yang dinyatakan Pernyataan yang dibuat
Buddhisme Theravāda Jātaka,

Sivi Jātaka

Raja Sivi memberikan kedua matanya "Jika pernyataan ini benar, semoga mata dapat dipulihkan!"[12]
Milindapañha pelacur Bindumatī kebebasan dari keterikatan dan penghinaan terhadap pelanggannya menyebabkan sungai Gangga besar mengalir melawan arus[13]
Jātaka, Paṇḍara Jātaka sesosok raja ular bahwa seorang petapa telah menipu raja ular "Jika pernyataan ini benar, biarkan kepalamu terbelah menjadi tujuh bagian!"[14]
Jātaka,

Maccha Jātaka

seekor ikan tidak pernah memakan ikan lainnya menyebabkan hujan turun selama musim kemarau[15]
Jātaka,

Kañhadipayana Jātaka

seorang ibu dari anak yang sakit tidak mencintai suaminya untuk mengeluarkan racun dari tubuh anaknya[16][17]
Dhammapada-Aṭṭhakathā Uttarā tidak marah pada Sirimā, seorang pelacur yang memiliki hubungan dengan suaminya "Jika aku menyimpan amarah padanya, semoga ghee ini membakarku. Jika tidak, semoga ghee ini tidak membakarku."[18]
Dhammapada-Aṭṭhakathā Puṇṇa bederma kepada biku Sāriputta tanpa syarat "Semoga aku dapat menjadi bagian dari dhamma yang telah engkau lihat sendiri"[19]
Jātaka Pangeran Siddhattha untuk menjadi tercerahkan di masa depan melempar simpul rambut ke udara dan membiarkannya tetap di sana[20]
Mūlasarvāstivāda Divyāvadāna Ānanda, murid Sang Buddha Triratna adalah yang tertinggi di dunia untuk menyembuhkan dan membuat tubuh seorang pria yang cacat menjadi utuh kembali[21][22]
Sastra Weda dan Sanskerta Mahābhārata Damayanti kesuciannya "Semoga suami aslinya menampakkan diri kepadanya, dan para dewa yang menyamar sebagai suaminya gagal menyamar."[23]
Jainisme Pārśavanātha Caritra seorang ratu suaminya, sang raja, telah melakukan amal dalam pikiran bisa menyeberangi sungai liar[24]

Contoh sacca-kiriyā dalam literatur India

  1. Juga dikenal sebagai Pali: saccavajja atau Sanskerta: satyavādya; Pali: saccavacana atau Sanskerta: satyavacana; satyopavācana, satyarākya, satyavākya, satyavacas atau satyasrāvaṇā; atau disingkat Pali: sacca atau Sanskerta: satya.[2][4]
  1. 1 2 Harvey 1993, hlm. 68.
  2. 1 2 Burlingame 1917, hlm. 434.
  3. Kong 2006, hlm. 149.
  4. Brown 1972, hlm. 252.
  5. Kong 2006, hlm. 66–72, 81.
  6. Hara 2009, hlm. 270.
  7. 1 2 Kariyawasam 2003, hlm. 590–1.
  8. Burlingame 1917, hlm. 432.
  9. 1 2 Harvey 1993, hlm. 71.
  10. Kariyawasam 2003, hlm. 591.
  11. Kong 2006, hlm. 289.
  12. Kong 2006, hlm. 81–2, 152.
  13. Kong 2006, hlm. 103–4.
  14. Kong 2006, hlm. 108.
  15. Kong 2006, hlm. 109.
  16. Kong 2006, hlm. 111–2.
  17. Brown 1972, hlm. 257–8.
  18. Kong 2006, hlm. 136–8.
  19. Kong 2006, hlm. 167.
  20. Kong 2006, hlm. 140.
  21. Kong 2006, hlm. 121.
  22. Brown 1972, hlm. 255–6.
  23. Brown 1972, hlm. 255.
  24. Brown 1972, hlm. 258.

Referensi

[sunting | sunting sumber]