Pernyataan kebenaran

| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |
Dalam Buddhisme, pernyataan kebenaran (Pali: sacca-kiriyā; Sanskerta: satya-kriya, namun lebih sering disebut satyādhiṣṭhāna)[2][3][note 1] merujuk pada pernyataan kebenaran sungguh-sungguh yang diekspresikan dalam bentuk ucapan lisan saat upacara keagamaan, biasanya dalam bentuk syair-syair paritta.
Pernyataan kebenaran bisa berupa ucapan yang berkaitan dengan kebajikan seseorang, atau berkaitan dengan fakta tertentu, diikuti oleh perintah atau resolusi. Pernyataan seperti itu diyakini menghasilkan kekuatan ajaib yang dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, tergantung pada kejujuran orang yang membuat pernyataan tersebut. Sacca-kiriyā adalah praktik yang ditemukan dalam kisah-kisah kitab suci Tripitaka Pali dan komentarnya, serta dalam kitab pasca-kanonis seperti Milindapañha dan Avadāna. Dalam kisah-kisah tersebut, praktik ini biasanya ditemukan sebagai suatu bentuk berkah, tetapi terkadang sebagai suatu bentuk kutukan. Praktik ini juga dapat ditemukan dalam kitab-kitab agama Hindu dan Jainisme.
Praktik
[sunting | sunting sumber]Pelantunan sacca-kiriyā biasanya mengandung kalimat "Berkat pernyataan kebenaran ini, semoga..." (Pali: Etena saccavajjena...) atau "Dengan kekuatan ini, semoga..." (Pali: tejasa...), diikuti dengan suatu perintah atau harapan.[5] Umumnya dilakukan dengan tujuan akhir tertentu, seperti mengendalikan makhluk halus, mengendalikan objek fisik, atau menyebabkan sesuatu terjadi.[1]
Contoh
[sunting | sunting sumber]
Terdapat banyak contoh dalam literatur dan sejarah Asia tentang orang-orang yang melakukan sacca-kiriyā.
Yang paling terkenal adalah dari Sang Buddha sendiri. Pada malam Pencerahan-Nya, ketika Sang Buddha akan mencapai Pencerahan, Beliau ditantang oleh Māra, personifikasi kejahatan dalam Buddhisme. Māra mencoba menghentikan Sang Buddha mencapai Pencerahan dengan menuduh-Nya tidak berhak duduk di singgasana di bawah Pohon Bodhi, dan menantang-Nya untuk mencari saksi atas klaim Pencerahan-Nya. Sang Bodhisatwa kemudian memanggil "Ibu Pertiwi" (personifikasi dari Bumi, melambangkan kebenaran) untuk bersaksi atas paramita-Nya pada malam Pencerahan-Nya. Beliau merujuk pada kebajikan-kebajikan yang telah Beliau praktikkan selama banyak kehidupan. Ketika bumi membenarkan klaim Sang Buddha, Māra pun mundur.[6][7]
Dalam contoh lain, Sang Bodhisatwa meletakkan sebuah mangkuk di atas permukaan air. Beliau menyatakan bahwa jika Beliau memang akan mencapai Kebuddhaan pada malam itu, biarlah mangkuk itu mengapung melawan arus, yang kemudian terjadi sesuai dengan pernyataan-Nya. Dalam kisah Jātaka lain yang sering dikutip, seekor burung puyuh melihat sarangnya, dan teman-teman burungnya dilalap oleh kebakaran hutan. Setelah burung itu membuat pernyataan tentang "kualitas sila" (Pāḷi: sīla-guṇa) dan "kualitas kebenaran" (Pāḷi: sacca-guṇa), serta dengan menjabarkan kebajikan-kebajikan para Buddha di masa lampau, api tersebut secara ajaib mundur.[7][8]
Sebuah contoh legendaris dari sacca-kiriyā yang merujuk pada tindakan di masa depan adalah kisah Asoka, yang berikrar bahwa demi kebenaran niatnya untuk mendukung dan menopang penyebaran Buddhisme, sebatang Pohon Bodhi yang sedang sekarat dapat diselamatkan, yang kemudian terjadi sesuai dengan ikrarnya.[9][10] Contoh lain yang diangkat oleh Indolog Richard Gombrich adalah kisah Raja Sri Lanka Duṭṭhagāmaṇi, yang menggunakan sacca-kiriyā dalam peperangan.[11] Kemudian, ada juga kisah seorang reformis Buddhis, Anagārika Dharmapāla, yang merujuk pada niat baiknya untuk memulihkan otoritas situs ziarah Bodh Gaya ke tangan umat Buddha (yang kepengurusannya diambil alih oleh kaum Hindu), dan bertekad bahwa demi niat tersebut, bantuan akan datang untuk mendukung kampanye tersebut.[9]
| Tradisi | Nama teks | Pelantun | Kebenaran yang dinyatakan | Pernyataan yang dibuat |
|---|---|---|---|---|
| Buddhisme Theravāda | Jātaka,
Sivi Jātaka |
Raja Sivi | memberikan kedua matanya | "Jika pernyataan ini benar, semoga mata dapat dipulihkan!"[12] |
| Milindapañha | pelacur Bindumatī | kebebasan dari keterikatan dan penghinaan terhadap pelanggannya | menyebabkan sungai Gangga besar mengalir melawan arus[13] | |
| Jātaka, Paṇḍara Jātaka | sesosok raja ular | bahwa seorang petapa telah menipu raja ular | "Jika pernyataan ini benar, biarkan kepalamu terbelah menjadi tujuh bagian!"[14] | |
| Jātaka,
Maccha Jātaka |
seekor ikan | tidak pernah memakan ikan lainnya | menyebabkan hujan turun selama musim kemarau[15] | |
| Jātaka,
Kañhadipayana Jātaka |
seorang ibu dari anak yang sakit | tidak mencintai suaminya | untuk mengeluarkan racun dari tubuh anaknya[16][17] | |
| Dhammapada-Aṭṭhakathā | Uttarā | tidak marah pada Sirimā, seorang pelacur yang memiliki hubungan dengan suaminya | "Jika aku menyimpan amarah padanya, semoga ghee ini membakarku. Jika tidak, semoga ghee ini tidak membakarku."[18] | |
| Dhammapada-Aṭṭhakathā | Puṇṇa | bederma kepada biku Sāriputta tanpa syarat | "Semoga aku dapat menjadi bagian dari dhamma yang telah engkau lihat sendiri"[19] | |
| Jātaka | Pangeran Siddhattha | untuk menjadi tercerahkan di masa depan | melempar simpul rambut ke udara dan membiarkannya tetap di sana[20] | |
| Mūlasarvāstivāda | Divyāvadāna | Ānanda, murid Sang Buddha | Triratna adalah yang tertinggi di dunia | untuk menyembuhkan dan membuat tubuh seorang pria yang cacat menjadi utuh kembali[21][22] |
| Sastra Weda dan Sanskerta | Mahābhārata | Damayanti | kesuciannya | "Semoga suami aslinya menampakkan diri kepadanya, dan para dewa yang menyamar sebagai suaminya gagal menyamar."[23] |
| Jainisme | Pārśavanātha Caritra | seorang ratu | suaminya, sang raja, telah melakukan amal dalam pikiran | bisa menyeberangi sungai liar[24] |
Contoh sacca-kiriyā dalam literatur India
Catatan
[sunting | sunting sumber]Kutipan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Harvey 1993, hlm. 68.
- 1 2 Burlingame 1917, hlm. 434.
- ↑ Kong 2006, hlm. 149.
- ↑ Brown 1972, hlm. 252.
- ↑ Kong 2006, hlm. 66–72, 81.
- ↑ Hara 2009, hlm. 270.
- 1 2 Kariyawasam 2003, hlm. 590–1.
- ↑ Burlingame 1917, hlm. 432.
- 1 2 Harvey 1993, hlm. 71.
- ↑ Kariyawasam 2003, hlm. 591.
- ↑ Kong 2006, hlm. 289.
- ↑ Kong 2006, hlm. 81–2, 152.
- ↑ Kong 2006, hlm. 103–4.
- ↑ Kong 2006, hlm. 108.
- ↑ Kong 2006, hlm. 109.
- ↑ Kong 2006, hlm. 111–2.
- ↑ Brown 1972, hlm. 257–8.
- ↑ Kong 2006, hlm. 136–8.
- ↑ Kong 2006, hlm. 167.
- ↑ Kong 2006, hlm. 140.
- ↑ Kong 2006, hlm. 121.
- ↑ Brown 1972, hlm. 255–6.
- ↑ Brown 1972, hlm. 255.
- ↑ Brown 1972, hlm. 258.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- Appleton, Naomi (2013), Jataka Stories in Theravada Buddhism: Narrating the Bodhisatta Path, Ashgate Publishing, ISBN 978-1-4094-8131-7
- Brown, W. Norman (1968), "The Metaphysics of the Truth Act", Mélanges d'Indianisme, Editions E. De Boccard, hlm. 171–7
- Brown, W. Norman (9 June 1972), "Duty as Truth in Ancient India", Proceedings of the American Philosophical Society, vol. 116, hlm. 252–68, JSTOR 986119
- Burlingame, Eugene Watson (1917), "The Act of Truth (Saccakiriya): A Hindu Spell and Its Employment as a Psychic Motif in Hindu Fiction", Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland: 429–67, JSTOR 25209288
- Eckel, Malcolm David (2001), "Epistemological Truth", dalam Neville, Robert Cummings (ed.), Religious Truth: A Volume in the Comparative Religious Ideas, Albany: SUNY Press, hlm. 69–76, ISBN 0-7914-4777-4
- Gómez, Luis O. (2000), "Buddhism as a Religion of Hope: Observations on the 'Logic' of a Doctrine and its Foundational Myth", The Eastern Buddhist, 32 (1): 1–21, JSTOR 44362241
- Hara, Minoru (10 March 2009), "Divine Witness", Journal of Indian Philosophy, 37 (3), doi:10.1007/s10781-009-9068-x
- Harvey, Peter (1993), "Dynamics of Paritta Chanting", dalam Werner, Karel (ed.), Love Divine: Studies in Bhakti and Devotional Mysticism, Curzon Press, ISBN 0-7007-0235-0[pranala nonaktif permanen]
- Howard, Veena R. (2013), Gandhi's Ascetic Activism: Renunciation and Social Action, SUNY Press, ISBN 978-1-4384-4558-8
- Kariyawasam, A.G.S. (2003), "Sacca-kiriyā", dalam Malalasekera, G.P.; Weeraratne, W.G. (ed.), Encyclopaedia of Buddhism, vol. 7, Government of Sri Lanka, hlm. 589–91, OCLC 2863845613[pranala nonaktif permanen]
- Kong, C.F. (2006), Saccakiriyā: The Belief in the Power of True Speech in Theravāda Buddhist Tradition (PhD thesis, published as a book in 2012), School of Oriental and African Studies, University of London, uk.bl.ethos.428120
- Thompson, George (November 1997), "Ahaṃkāra and Ātmastuti: Self-Assertion and Impersonation in the Ṛgveda", History of Religions, 37 (2): 141–171, JSTOR 3176343
- Thompson, George (1998), "On truth acts in Vedic", Indo-Iranian Journal, 41: 125–53, JSTOR 24663377