Perluasan wilayah Dinasti Han ke Kawasan Selatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Perluasan wilayah Dinasti Han ke Kawasan Selatan
Han Expansion.png
Peta perluasan wilayah Dinasti Han pada abad ke-2 SM
TanggalAbad ke-2 SM
LokasiTiongkok Selatan
Hasil
  • Asimilasi budaya dan pengusiran suku-suku Baiyue dan Dian oleh Dinasti Han
  • Migrasi Tionghoa ke kawasan selatan
  • Kontak dan perdagangan dengan berbagai kerajaan asing di Asia Tenggara
Pihak terlibat
Dinasti Han Nanyue
Minyue
Dian

Perluasan wilayah Dinasti Han ke Kawasan Selatan adalah serangkaian ekspedisi dan kampanye militer yang dilancarkan di kawasan yang kini menjadi bagian dari Tiongkok Selatan. Perluasan wilayah ke selatan sudah dimulai oleh Dinasti Qin dan berlanjut pada masa Dinasti Han. Dinasti Han melancarkan berbagai kampanye militer untuk menaklukkan suku-suku Yue, dan hasilnya adalah penguasaan wilayah Minyue pada tahun 135 SM dan 111 SM, wilayah Nanyue pada tahun 111 SM, dan Kerajaan Dian pada tahun 109 SM.

Budaya Han mengakar di wilayah yang baru ditaklukan di selatan, dan suku Baiyue dan Dian sendiri pada akhirnya diasimilasi atau diusir. Bukti dari pengaruh Dinasti Han dapat dilihat dalam bentuk artefak-artefak yang digali di makam Baiyue di Tiongkok selatan. Lingkup pengaruh Han pada akhirnya meluas ke Asia Tenggara, dan kontak dengan kerajaan-kerajaan di sana telah menyebarkan budaya Han serta memulai perdagangan dan diplomasi. Meningkatnya permintaan akan sutra dari Tiongkok juga berujung pada pembentukan Jalur Sutra yang menghubungkan Eropa Kuno, Timur Dekat, dan Tiongkok.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Lukisan dinding yang menampilkan pasukan berkuda dan kereta perang, berasal dari Makam Dahuting (Tionghoa: 打虎亭汉墓, Pinyin: Dahuting Han mu) dari masa Dinasti Han Timur akhir (25-220 SM). Makam ini sendiri terletak di Zhengzhou, provinsi Henan, Tiongkok.

Kampanye militer melawan Baiyue sudah dimulai pada masa Dinasti Qin. Kaisar Qin Shi Huang menginginkan sumber daya alam di wilayah Baiyue dan memerintahkan ekspedisi militer ke kawasan tersebut antara tahun 221 hingga 214 SM.[1][2] Ia mengirim pasukan dalam jumlah yang besar melawan Lingnan pada tahun 214 SM, dan pasukan ini sendiri terdiri dari para pedagang yang diwamilkan dan para prajurit. Garnisun-garnisun militer kemudian ditempatkan, Bendungan Lingqu dibangun, dan wilayah yang baru dikuasai ditempatkan di bawah pemerintahan Qin.[1] Setelah Dinasti Qin mengalami keruntuhan, pemerintahan Qin di Tiongkok selatan juga ikut bubar. Kerajaan-kerajaan Yue kemudian berdiri di bekas wilayah Qin, dan kerajaan-kerajaan tersebut meliputi Kerajaan Nanyue di Guangxi, Guangdong, dan Vietnam, Kerajaan Minyue di Fujian, dan Kerajaan Ou Timur di Zhejiang.[1]

Kerajaan Minyue didirikan pada tahun 202 SM dan Ou Timur pada tahun 192 SM dengan bantuan dari militer Han.[3] Zhao Tuo, seorang mantan panglima Tiongkok dari Dinasti Qin, mendirikan Kerajaan Nanyue pada tahun 208 SM setelah kemangkatan kaisar Qin Shi Huang.[4] Kaisar Gaozu, kaisar pertama dinasti Han, menerima gelar baru Zhao Tuo sebagai raja.[5] Zhao sendiri lahir di kota Zhending di Tiongkok Tengah, dan golongan penguasa di kerajaan baru tersebut terdiri dari pejabat-pejabat Tiongkok dari masa Dinasti Qin.[4][6] Pada tahun 180 SM, Zhao menawarkan untuk tunduk sebagai vasal Dinasti Han, dan Dinasti Han menerima tawaran tersebut; keputusan ini sendiri salah satunya didorong oleh latar belakang Zhao yang memiliki nenek moyang dari Tiongkok utara.[6]

Kampanye militer[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 111 SM, pasukan yang dikerahkan oleh Kaisar Han Wudi berhasil menaklukkan Minyue.
Patung-patung keramik yang menggambarkan seorang prajurit berkuda Tiongkok bersama dengan sepuluh prajurit infanteri dengan zirah, perisai, dan senjata yang hilang di belakangnya, dan tiga prajurit berkuda lainnya di bagian belakang. Patung-patung ini berasal dari makam Kaisar Jing dari Han (memerintah 157 – 141 SM), yang sekarang terletak di Museum Hainan.

Melawan Minyue dan Ou Timur[sunting | sunting sumber]

Kampanye militer terhadap Baiyue dilancarkan pada masa pemerintahan Kaisar Wu.[7] Kerajaan Ou Timur meminta bantuan militer dari Han setelah wilayah mereka diserang Mingyue pada tahun 138 SM.[8] Panglima tertinggi Han, Tian Fen, menentang campur tangan di wilayah Yue. Tian berkata kepada kaisar bahwa suku-suku Yue tak dapat dipercaya. Suku-suku Yue sering berperang melawan satu sama lain, dan Tian meyakini bahwa pemerintah Han tidak memiliki tanggung jawab untuk melindungi mereka.[9][10] Walaupun begitu, seorang pejabat Han yang bernama Zhuang Zhu berhasil meyakinkan kaisar untuk mengirim pasukannya. Zhuang mendasarkan argumennya pada peranan sang kaisar sebagai Putra Surgawi, sebuah konsep dalam filsafat politik Tionghoa.[1][10] Dalam Catatan Sejarawan Besar karya Sima Qian, Zhuang dikabarkan berkata:

Satu-satunya hal yang perlu kita khawatirkan adalah apakah kita memiliki cukup kekuatan untuk menyelamatkan mereka dan cukup kebajikan untuk memperoleh kesetiaan mereka... Saat ini sebuah negara kecil telah datang untuk mengadukan penderitaannya kepada Putra Surgawi. Jika ia tak menyelamatkannya, kepada siapa lagi ia bisa memohon bantuan? Dan bagaimana bisa Putra Surgawi mengklaim bahwa penguasa-penguasa dari semua negara lainnya itu seperti putranya sendiri, apabila ia mengabaikan permohonan mereka?[10]

Minyue menyerah setelah angkatan laut Han yang dipimpin oleh Zhuang Zhu dikerahkan dari Shaoxing di Zhejiang utara,[9] dan pasukan Minyue juga mundur dari Ou Timur.[11][10] Sementara itu, suku-suku Yue di Ou Timur dipindah ke utara di wilayah yang terletak di antara Sungai Yangtze dan Sungai Huai.[9]

Campur tangan kedua dilancarkan pada tahun 135 SM setelah Minyue (yang dikuasai oleh Zou Ying) menyerbu Nanyue (yang dipimpin oleh Zhao Mo).[6] Nanyue telah menjadi vasal Han sejak tahun 180 SM. Zhao meminta bantuan dari Han,[6] dan kaisar menanggapinya dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Wang Hui dan Han Anguo untuk membantu mereka melawan Minyue.[12]

Zou Ying dibunuh dengan tombak oleh adiknya sendiri, Zou Yushan, yang telah berkomplot dengan keluarga kerajaan dan perdana menteri. Ying memenggal jenazahnya dan memberikan kepala tersebut kepada seorang utusan, yang kemudian membawakannya kepada Wang sebagai tanda penyerahan Minyue.[12] Seusai peristiwa tersebut, Minyue terpecah menjadi Kerajaan Minyue yang dikendalikan oleh penguasa boneka Han dan Kerajaan Dongyue yang diperintah oleh Zou Yushan.[9]

Sekembalinya panglima Yang Pu ke utara bersama dengan pasukannya seusai Perang Han-Nanyue pada tahun 111 SM, ia meminta izin dari kaisar untuk mengambil alih wilayah Dongyue. Kaisar menolaknya setelah ia mempertimbangkan semangat juang pasukannya. Zou Yushan sendiri sebelumnya telah berjanji akan mengirim pasukan untuk membantu Han dalam perang melawan Nanyue.[13][14] Pasukan tersebut tak pernah tiba dan Zou berdalih bahwa hal tersebut diakibatkan oleh cuaca yang buruk, dan pada saat yang sama ia diam-diam masih menjalin hubungan diplomatik dengan Nanyue.[14]

Zou mulai memberontak melawan Han setelah ia menyadari bahwa Yang sedang berkomplot untuk menumbangkannya. Han mengerahkan pasukan yang dipimpin oleh panglima Han Yue, panglima Yang Pu, panglima Wang Wenshu, dan dua bangsawan keturunan Yue.[10] Pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan dan Han mengambil alih wilayah Dongyue pada bulan-bulan terakhir tahun 111 SM, sehingga sisa wilayah Minyue pun jatuh ke tangan Han.[13][15] Sima Qian mencatat bahwa semua warga di Dongyue diasingkan,[15] tetapi klaim ini dianggap tidak masuk akal.[9]

Melawan Nanyue[sunting | sunting sumber]

Zhao Tuo, pendiri kerajaan Nanyue di Tiongkok selatan dan Vietnam.

Pada dasawarsa 110-an SM, Jiushi (seorang wanita berdarah Han yang merupakan istri almarhum penguasa Nanyue, Zhao Yingqi) mengusulkan penyatuan Nanyue dengan Dinasti Han. Usulan ini ditentang oleh para bangsawan Nanyue. Nanyue sendiri sudah tidak membayarkan upeti kepada Han selama bertahun-tahun meskipun secara resmi kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan pembayar upeti.[16] Sang ibu suri akhirnya dihukum mati oleh Lü Jia, pemimpin kelompok yang menentangnya, pada musim panas tahun 112 SM.[17][18]

Dinasti Han merasa tersinggung karena para diplomat Han juga ikut dihabisi bersama dengan sang ibu suri, dan tindakan ini dianggap sebagai sebuah pemberontakan.[17] Kaisar Wu mengirim pasukan yang terdiri dari 2.000 prajurit di bawah kepemimpinan panglima Han Qianqiu untuk meredam pemberontakan. Namun, sang panglima gugur dalam pertempuran dan pasukan Han mengalami kekalahan.[18] Dinasti Han kemudian melancarkan kampanye militer kedua yang dipimpin oleh panglima Lu Bode dan Yang Pu. Kampanye ini melibatkan 100.000 prajurit yang dikirim lewat laut pada musim gugur 112 SM. Mereka mencapai kota Panyu (yang terletak di kawasan Guangzhou modern) pada tahun 111-110 SM dan berhasil mengalahkan para pemberontak.[17][18]

Lingnan sekali lagi berada di bawah kendali Tiongkok,[18] dan sembilan satuan wilayah Tiongkok yang disebut jun kemudian dibentuk untuk memerintah kawasan Guangdong, pulau Hainan, dan Delta Sungai Merah di Vietnam utara.[2][17] Dua jun yang terletak di pulau Hainan ditinggalkan pada tahun 82 SM dan 46 SM, meskipun pemerintah Han sebenarnya menginginkan sumber daya langka di wilayah tersebut.[17]

Patung Ma Yuan di Gunung Fubo, Guilin.

Pada tahun-tahun awal Dinasti Han Timur, setelah Wang Mang sempat merampas takhta dan Dinasti Han kemudian didirikan kembali, elit-elit suku Nanyue masih setia kepada Han.[19] Pada tahun 40 M, Trung bersaudari mengobarkan pemberontakan melawan Dinasti Han di dekat Delta Sungai Merah. Pemberontakan tersebut dipadamkan pada tahun 43 oleh panglima Ma Yuan,[2] yang juga dikenal sebagai tokoh yang terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi setelah Wang Mang merebut takhta.[19]

Dinasti Han mengukuhkan kembali kekuasaannya di Nanyue. Trung bersaudari dihukum mati[19] atau gugur dalam pertempuran.[20] Menurut cerita rakyat, mereka menghilang di langit, jatuh sakit, atau mencabut nyawa mereka sendiri dengan melompat ke sungai dan tenggelam.[20] Kekacauan masih berlanjut di wilayah tersebut, dan terdapat tujuh periode kerusuhan antara tahun 100 dan 184.[19] Dinasti Han lalu menetapkan siasat baru yang dirumuskan oleh seorang pejabat yang bernama Li Gu. Strateginya adalah dengan mengangkat pejabat-pejabat yang jujur, mengasingkan suku-suku yang bermusuhan, dan mengadu domba para pemimpin suku. Siasat ini hanya berhasil sebagian.[19]

Melawan Dian[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 135 SM, Tang Meng memimpin ekspedisi pertama Han terhadap Kerajaan Dian, dan kemudian ia mendirikan jun Jianwei di Tiongkok barat daya. Suku-suku Dian terlibat dalam perdagangan ternak, kuda, buah-buahan, dan budak, dan mereka menjadi perhatian Dinasti Han akibat sumber daya mereka dan keahlian mereka dalam mengerjakan logam. Jalur-jalur dagang antara Dian dengan wilayah Han lainnya dibuka oleh para prajurit Han. Han lalu melanjutkan perluasan wilayah mereka ke utara dan menguasai daerah di dekat jun Shu.[21]

Patung keramik seekor kuda dan seorang prajurit berkuda di belakangnya. Patung-patung ini berasal dari masa Dinasti Han Timur (25-220 M).

Akibat berkecamuknya Perang Han-Xiongnu di utara, kenaikan biaya pemerintahan di wilayah yang jauh mendorong Han untuk meninggalkan jun di kawasan tersebut.[22] Sejumlah penjelajah Tionghoa juga ditangkap oleh Dian selama empat tahun. Mereka merupakan bagian dari perjalanan ke selatan untuk mendirikan jalur dagang alternatif untuk barang-barang dari Asia Tengah pada tahun 122 SM.[22]

Kaisar Wu kemudian melancarkan kampanye militer pada tahun 109 SM yang berhasil menaklukkan Kerajaan Dian,[23] dan jun Yizhou kemudian didirikan di bekas kerajaan tersebut.[21] Para arkeolog menemukan segel raja Dian yang dibuat oleh Han, dan temuan ini membuktikan bahwa Dian telah menyerah dan tunduk kepada Han.[22] Dian mencoba melancarkan sejumlah pemberontakan untuk mengusir pemerintahan Han,[23] dimulai dari dua pemberontakan pada tahun 86 SM dan 83 SM, tetapi kedua pemberontakan ini tidak berhasil. Sebuah pemberontakan juga meletus pada tahun 28-25 SM, tetapi pada akhirnya pemberontakan ini dipadamkan oleh Chen Li, gubernur jun Zangge. Kemudian, pada masa ketika Wang Mang merampas takhta Han pada tahun 9-23 M, perlawanan masih terjadi di Tiongkok barat daya. Wang melancarkan kampanye-kampanye militer untuk meredam perlawanan tersebut. Tujuh puluh persen prajurit dalam salah satu kampanye militer yang dilancarkan meninggal akibat penyakit. Kampanye militer lainnya, yang melibatkan 100.000 prajurit dengan jumlah persediaan sebesar dua kali lipat, juga tidak membuahkan hasil.[24] Pemberontakan berlanjut pada tahun 42-45 dan 176.[25]

Han semakin meluas pada masa pemerintahan Kaisar Ming (57-75 M). Jun baru yang bernama Yongchang didirikan di wilayah yang kini berada di Baoshan, Yunnan, di bekas wilayah Kerajaan Dian. Suku-suku Dian di sebelah barat jun Yuexi/Yuesui (sekarang Xichang di Sichuan selatan) tunduk kepada pemerintahan Han pada tahun 114 M.[25] Kaisar Huan (memerintah 146-168) menggalakkan asimilasi budaya suku-suku tersebut pada masa pemerintahannya. Asimilasi dilakukan dengan mengajarkan etika dan budaya Tionghoa di Yunnan.[24] Meskipun terkadang masih terjadi perlawanan, Kerajaan Dian pada akhirnya menjadi wilayah Dinasti Han.[25][23]

Tinggalan sejarah[sunting | sunting sumber]

Migrasi Tionghoa dan asimilasi budaya[sunting | sunting sumber]

Segel raja Nanyue Zhao Mo. Artefak-artefak yang ditemukan di situs-situs Nanyue menampilkan perpaduan unsur Tionghoa dan Yue.

Para pendatang Han dari Tiongkok utara bermukim di Yunnan dan Guangdong. Kekacauan politik yang terjadi akibat perampasan takhta oleh Wang Mang juga memicu gelombang migrasi Tionghoa lainnya.[2] Akan tetapi, para pemukim dan prajurit Han dari utara terserang penyakit yang umum di kawasan tropis, seperti malaria dan skistosomiasis.[26]

Asimilasi terhadap suku-suku Yue dan Dian berlangsung melalui perpaduan kekuatan militer dan kedatangan para pemukim dan pengungsi Han. Serangan militer dan gelombang pendatang telah menghasilkan sebuah budaya yang menggabungkan tradisi Han dengan unsur-unsur tradisional. Temuan-temuan arkeologi di wilayah tersebut menunjukkan pengaruh Han. Makam-makam Dinasti Han di Guangzhou, Guangdong, menunjukkan bahwa alat-alat dan keramik-keramik buatan penduduk asli secara bertahap digantikan oleh alat-alat dan barang-barang yang didasarkan pada gaya Tionghoa. Penggalian dari periode tersebut telah menemukan cermin perunggu, tungku, sumur, pembakar dupa, penopang kaki tiga, dan lentera yang dibuat dengan gaya Han oleh orang-orang dari Dinasti Han Barat.[27]

Asimilasi budaya di Guangxi dan Guizhou berlangsung pada masa Han Barat akhir. Seperti di Guangdong, sejumlah cermin, koin, keramik, perunggu, besi, dan barang pernis ditemukan di makam-makam di wilayah tersebut.[27]

Wilayah Yunnan di Tiongkok barat daya menjadi wilayah Han setelah didirikannya sebuah jun di kawasan tersebut pada tahun 109 SM.[28] Pengaruh budaya Tionghoa dapat dilihat dalam artefak-artefak Dian yang telah ditemukan, sementara koin, keramik, cermin, dan perunggu yang telah ditemukan di Dian memiliki unsur-unsur khas Han.[7] Seni rupa Dian menggunakan unsur estetika dari barang impor Han, dan pada tahun 100, budaya asli Dian sudah memudar.[29] Budaya Tionghoa utara telah merasuk di wilayah selatan. Perluasan wilayah dari Dataran Tiongkok Utara ke selatan, sebuah proses yang dimulai pada masa dinasti Qing, telah mencapai puncaknya pada zaman Dinasti Han.[7]

Perdagangan dan kontak asing[sunting | sunting sumber]

Peta provinsi, jun, dan protektorat Dinasti Han pada tahun 87 SM.

Berkat perluasan wilayah Dinasti Han ke Kawasan Selatan, negara tersebut dapat berjumpa dengan peradaban-peradaban di Asia Tenggara. Budaya dan teknologi Tionghoa pun menyebar ke kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut.[30] Sisa-sisa tembikar Tionghoa dari Dinasti Han telah ditemukan di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa yang berasal dari abad ke-1.[31] Para arkeolog juga telah menemukan kapak-kapak perunggu di Kamboja yang didasarkan pada rancangan kapak-kapak Tionghoa.[30]

Dinasti Han juga menjalin hubungan dagang dengan negara-negara besar melalui wilayah yang telah ditaklukan. Jalur dagang menghubungkan Tiongkok dengan India, Persia, dan Romawi. Para penari dan penghibur Romawi dikirim ke Luoyang sebagai hadiah untuk Tiongkok dari sebuah kerajaan di Burma pada tahun 120.[31] Sebuah kerajaan yang disebutkan di dalam Buku Han dengan nama "Huangzhi" mengirim seekor badak pada tahun 2 M sebagai upeti.[17] Seorang utusan dari India tiba di Tiongkok antara tahun 89 hingga 105.[31] Para pedagang Romawi dari provinsi Suriah mengunjungi Nanyue pada tahun 166, Nanjing pada tahun 226, dan Luoyang pada tahun 284.[32] Barang-barang asing ditemukan di situs-situs makam di Tiongkok selatan.[31] Di luar negeri juga mulai muncul permintaan akan sutra Tionghoa, sehingga Jalur Sutra pada zaman kuno telah menjadi jalur dagang yang mewadahi perpindahan barang, jasa, dan gagasan-gagasan di antara Eropa kuno, Timur Dekat, dan Tiongkok.[33]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Holcombe 2001, hlm. 147.
  2. ^ a b c d Gernet 1996, hlm. 126.
  3. ^ Yu 1986, hlm. 455.
  4. ^ a b Holcombe 2001, hlm. 149.
  5. ^ Yu 1986, hlm. 451-452.
  6. ^ a b c d Yu 1986, hlm. 452.
  7. ^ a b c Xu 2005, hlm. 281.
  8. ^ Yu 1986, hlm. 455-456.
  9. ^ a b c d e Yu 1986, hlm. 456.
  10. ^ a b c d e Sima & Watson 1993, hlm. 220.
  11. ^ Holcombe 2001, hlm. 148.
  12. ^ a b Sima & Watson 1993, hlm. 221.
  13. ^ a b Lorge 2012, hlm. 85.
  14. ^ a b Sima & Watson 1993, hlm. 222.
  15. ^ a b Sima & Watson 1993, hlm. 223.
  16. ^ Yu 1986, hlm. 452-453.
  17. ^ a b c d e f Yu 1986, hlm. 453.
  18. ^ a b c d Holcombe 2001, hlm. 150.
  19. ^ a b c d e Yu 1986, hlm. 454.
  20. ^ a b Taylor 1983, hlm. 40.
  21. ^ a b Yu 1986, hlm. 457-458.
  22. ^ a b c Yu 1986, hlm. 458.
  23. ^ a b c Ebrey 2010, hlm. 83.
  24. ^ a b Yu 1986, hlm. 459.
  25. ^ a b c Yu 1986, hlm. 460.
  26. ^ Xu 2012, hlm. 154.
  27. ^ a b Xu 2005, hlm. 279.
  28. ^ Xu 2005, hlm. 279-281.
  29. ^ Watson 2000, hlm. 88.
  30. ^ a b Gernet 1996, hlm. 126-127.
  31. ^ a b c d Gernet 1996, hlm. 127.
  32. ^ Gernet 1996, hlm. 127-128.
  33. ^ Gernet 1996, hlm. 128.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Gernet, Jacques (1996). A History of Chinese Civilization. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-49781-7. 
  • Chang, Chun-Shu (2007). The Rise of the Chinese Empire: Nation, State, and Imperialism in Early China, ca. 1600 B.C. - A.D. 8. Volume One. University of Michigan Press. ISBN 978-0-472-11533-4. 
  • Ebrey, Patricia Buckley (2010). The Cambridge Illustrated History of China. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-12433-1. 
  • Holcombe, Charles (2001). The Genesis of East Asia: 221 B.C. - A.D. 907. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-2465-5. 
  • Sima, Qian; Watson, Burton (1993). Records of the Grand Historian: Han Dynasty II. Translation and commentary by Watson. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-08166-5. 
  • Lorge, Peter (2012). Graff, David Andrew; Higham, Robin D. S., ed. A Military History of China. University Press of Kentucky. ISBN 978-0-8131-3584-7. 
  • Taylor, Keith Weller (1983). The Birth of Vietnam. University of California Press. ISBN 978-0-520-07417-0. 
  • Xu, Pingfang (2005). The Formation of Chinese Civilization: An Archaeological Perspective. Yale University Press. ISBN 978-0-300-09382-7. 
  • Xu, Zhuoyun (2012). Rivers in Time: A Cultural History of China. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-52818-4. 
  • Watson, William (2000). The Arts of China to Ad 900. Yale University Press. ISBN 978-0-300-08284-5. 
  • Yu, Yingshi (1986). Denis Twitchett; Michael Loewe, ed. Cambridge History of China: Volume I: the Ch'in and Han Empires, 221 B.C. – A.D. 220. University of Cambridge Press. ISBN 978-0-521-24327-8. 

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]