Peristiwa Mandor

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Peristiwa Mandor adalah peristiwa pembantaian massal yang menurut catatan sejarah terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Peristiwa Mandor ini sendiri sering dikenang dengan istilah Tragedi Mandor Berdarah yaitu telah terjadi pembantaian massal tanpa batas etnis dan ras oleh tentara Jepang.

Lahirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor pada 28 Juni Sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat melalui paripurna DPRD Kalimantan Barat merupakan bentuk kepedulian sekaligus apresiasi dari DPRD terhadap perjuangan pergerakan nasional yang terjadi di Mandor.[1]

Kejadian awal[sunting | sunting sumber]

Peristiwa Mandor adalah sebuah peristiwa kelam yang pernah terjadi di Kalimantan Barat, peristiwa ini terjadi pada tahun 1943-1944 di daerah Kecamatan Mandor Kabupaten Landak.

Sewaktu itu, pihak Jepang sudah mencurigai bahwa di Kalimantan Barat dan Selatan ada komplotan-komplotan yang terdiri atas feodal lokal, cerdik pandai, ambtenar, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama. Sehingga komplotan-komplotan tersebut dihancurkan dengan penangkapan-penangkapan. Penangkapan-penangkapan tersebut terjadi antara September 1943 dan awal 1944.[2]

Menurut data yang ada, jumlah korban dari peristiwa Mandor tersebut adalah ± 21.037 orang, namun Jepang menolaknya dan menganggap hanya 1.000 korban saja.[3]. Peristiwa mandor terjadi akibat ketidaksukaan penjajah Jepang terhadap para pemberontak. Karena ketika itu Jepang ingin menguasai seluruh kekayaan yang ada di Bumi Kalimantan Barat. Sebelum terjadi peristiwa Mandor terdapat peristiwa cap kapak dimana kala itu pemerintah Jepang mendobrak pintu - pintu rumah rakyat mereka tidak ingin terjadi pemberontakan di Kalimantan Barat. Meskipun demikian ternyata menurut sejarah yang dibantai bukan hanya kaum cendekiawan maupun feodal namun juga rakyat-rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa.

Jepang memang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalimantan Barat kala itu. Sebuah harian Jepang Borneo Shinbun, koran yang terbit pada masa itu, mengungkap rencana tentara negeri samurai itu untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang.

Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu. [4]

Korban-korban[sunting | sunting sumber]

Secara garis besar yang menjadi korban keganasan Jepang kala itu adalah

  • Syarif Moehammad Alkadri (Sultan Pontianak, 74 Tahun)
  • Pangeran Adipati (putra Sultan Pontianak, 31 tahun)
  • Pangeran Agung (26)
  • JE Patiasina (51),
  • Tjong Tjok Men
  • Ng Nyiap Soen (40),
  • Lumban Pea (43).
  • dr.Roebini
  • Kei Liang Kie
  • Ng Nyiap Kan
  • Panangian Harahap
  • Noto Soedjono
  • FJ Loway Paath
  • CW Octavianoes Loecas
  • Ong Tjoe Kie
  • Oeray Alioeddin
  • Goesti Saoenan (Panembahan Ketapang, 44 Tahun)
  • Mohammad Ibrahim Tsafioeddin (Sultan Sambas, 40 Tahun)
  • Sawon Wongso Atmodjo
  • Abdoel Samad
  • dr.Soenaryo Martowardoyo
  • Moehammad Yatim
  • Raden Mas Soediyono
  • Nasaroeddin
  • Soedarmadi
  • Tamboenan
  • Thji Boen Khe (wartawan)
  • Nasroen St Pangeran
  • E Londok Kawengian
  • WFM Tewoe
  • Wagimin bin Wonsosemito
  • Ng Loeng Khoi
  • Theng Swa Teng
  • dr.R.M Ahmad Diponegoro
  • dr.Ismail
  • Ahmad Maidin
  • Amaliah Roebini (istri dr Roebini)
  • Noerlela Panangian Harahap (istri Panangian)
  • Tengkoe Idris (Panembahan Sukadana, 50 Tahun)
  • Goesti Mesir (Penembangan Simpang, 43 Tahun)
  • Syarif Saleh (Penembahan Kubu, 63 Tahun)
  • Gusti A Hamid (Panembahan Ngabang)
  • Ade Moehammad Arief (Panembahan Sanggau)
  • Goesti Moehammad Kelip (Penembahan Sekadau, 41 Tahun)
  • Goesti Djafar
  • Raden Abdoel Bahry Daroe Perdana (Penembahan Sintang)
  • Moehammad Taoefik (Penembahan Mempawah, 63 ahun)
  • AFP Lantang
  • Raden Nalaprana
  • Tjoeng Kiung Liung

Tokoh yang bertanggung jawab[sunting | sunting sumber]

Banyak yang menyalahkan Syuutizitiyo Minseibu [5]

Akibat[sunting | sunting sumber]

Akibatnya pada akhir 1944, orang-orang Dayak di Kalimantan Barat mulai membunuh orang-orang Jepang. Akan tetapi, perlawanan rakyat ini tidak betul-betul mengancam kekuasaan kolonial Jepang.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Andry, Borneo Tribun (June 27, 2008). "Hadirkan Dubes Jepang" Borneo Tribun [1]
  2. ^ a b Ricklefs, Merle Calvin; Nugraha, Moh.Sidik. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 hal. 430. Penerbit Serambi. ISBN 978-979-024-115-2
  3. ^ Google Books "Peristiwa Mandor Berdarah" 'Google Books' [2]
  4. ^ Eddy Jp "Travelling Indonesia : My Family History di Makam Juang Mandor " Multiply [3]
  5. ^ Google Books "Peristiwa Mandor Berdarah" Google Books [4]