Lompat ke isi

Perilaku pasif-agresif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Perilaku pasif-agresif adalah bentuk komunikasi yang dalam pikiran pembicara didasarkan pada emosi negatif yang kuat seperti kemarahan, tetapi diekspresikan dengan kata-kata yang tidak menunjukkan emosi tersebut, termasuk sepenuhnya menghindari komunikasi langsung ketika secara sosial dianggap lazim.[1][2] Perilaku semacam ini dapat efektif untuk menghindari konfrontasi, penolakan, dan kritik, tetapi bisa membingungkan, menjengkelkan, dan membuat frustrasi penerima komunikasi karena adanya ketidaksesuaian antara apa yang mereka dengar dan apa yang mereka rasakan.[3]

Perilaku pasif-agresif pertama kali didefinisikan secara klinis oleh Kolonel William C. Menninger selama Perang Dunia II dalam konteks reaksi para tentara terhadap kepatuhan militer. Menninger menggambarkan tentara yang tidak secara terbuka menentang, tetapi mengekspresikan pembangkangan sipil (yang ia sebut sebagai "agresivitas") melalui "tindakan pasif, seperti merajuk, keras kepala, menunda-nunda, tidak efisien, dan obstruksionisme pasif" karena apa yang ia anggap sebagai "ketidakdewasaan" dan reaksi terhadap tekanan rutin militer.[4]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kluger, Jeffrey (30 Agustus 2017). "7 Signs You're Dealing With A Passive-Aggressive Person". Time. Diarsipkan dari versi asli pada 11 Januari 2020. Diakses tanggal 21 Mei 2021.
  2. Hall-Flavin, M.D., Daniel K. "What is passive-aggressive behavior? What are some of the signs?". Mayo Clinic. Diakses tanggal 21 November 2020.
  3. Kinsey, Michael (12 September 2019). "6 Tips to Crush Passive Aggressive Behavior". Mindsplain. Diakses tanggal 21 November 2020.
  4. Lane, C (1 Februari 2009), "The Surprising History of Passive–aggressive Personality Disorder" (PDF), Theory & Psychology, 19 (1): 55–70, CiteSeerX 10.1.1.532.5027, doi:10.1177/0959354308101419, S2CID 147019317