Lompat ke isi

Perang Bani Quraizhah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perang Bani Quraizhah
Tanggal627 M / 5 H
LokasiBenteng Bani Quraizhah
Hasil Kemenangan Muslimin
Tokoh dan pemimpin
Muhammad
Sa'ad bin Mu'adz
Huyay bin Akhthab
Kaab bin Asad
Kekuatan
3000 infantri, 30 kavaleri tak diketahui[1]
Korban
2 700

Perang Bani Quraizhah (bahasa arab : غزوة بني قريظة) atau pertempuran Bani Quraizhah atau yang dikenal sebagai pengepungan Bani Quraizhah,[1] terjadi di bulan Dzulqa'dah sepanjang Februari dan Maret 627 (5 Hijriyah) setelah Pertempuran Khandaq antara muslimin dan yahudi Madinah.[2]

Latar Belakang

[sunting | sunting sumber]

Saat Perang Ahzab (Khandaq) terjadi, Bani Quraizhah (yang merupakan penduduk Madinah) seharusnya membela dan mempertahankan kota Madinah dari serangan pasukan Ahzab ( Koalisi Kafir Quraisy dari Mekkah ). Namun, tokoh penjahat Bani Nadhir (Huyai bin Akhtab, yang merupakan ayah Shafiyah Ummul Mukminin) datang ke Bani Quraizhah menemui Ka’ab bin Asad Al-Quraiszi untuk menghasutnya agar melanggar perjanjian yang telah disepakati dengan kaum muslimin dan menyerang Nabi Muhammad. Mendengar kabar pengkhianatan ini, kemudian beliau mengirim utusan untuk memeriksa kebenarannya.[3]

Pertempuran

[sunting | sunting sumber]

Rasulullah menerima wahyu untuk segera mengepung Bani Quraizhah dan bergegas untuk melaksanakannya dan menginstruksikan kepada para sahabatnya untuk bergerak ke arah Bani Quraizhah. Bahkan supaya cepat sampai tujuan, Rasulullah berkata :

"Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah [HR. Bukhari, al-Fath, 15/293, no. 4119]"

Mengenai pesan Rasulullah agar shalat Ashar di daerah Bani Quraizhah, terjadi perbedaan penafsiran di antara para sahabat. Sebagian dari mereka masih sempat mendapatkan waktu Ashar di jalan dan melaksanakannya, sebagian lainnya melaksanakan Shalat Ashar setelah Shalat Isya ketika sampai di daerah Bani Quraizhah. Masalah tersebut di adukan kepada Rasulullah. Beliau tidak menyalahkan seorangpun di antara para sahabat.

Tatkala Muhammad tiba di Bani Quraizhah, ia istirahat di salah satu sumur Bani Quraizhah di sisi kebun mereka yang bernama sumur Una atau sumur Anna. Kaum yahudi meminta agar Muhammad mengirim Abu Lubabah untuk negosiasi, maka Muhammad mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. Ketika mereka melihat Abu Lubabah maka orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berdatangan kepadanya kemudian menangis di hadapannya hingga Abu Lubabah merasa kasihan kepada mereka. Muhammad mengepung Bani Quraizhah selama 25 hari sampai mereka menyerah.[1]

Rasul memerintahkan untuk menahan semua Yahudi laki-laki dan membelenggu tangan mereka Para wanita dan anak –anak digiring ke tempat yang terpencil. Para tawanan meminta agar salah seorang dari kaum mereka-lah (Sa’ad bin Mu’adz) yang membuat keputusan.[4]

Sa’ad bin Mu’adz yang terluka akibat panah pada perang sebelumnya, memutuskan untuk membunuh orang-orang Yahudi laki-laki, menjadikan wanita-wanita sebagai tawanan, dan harta benda dibagi rata.Dalam Sirah Nabawiyah - Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarahfuri, keputusan Sa’ad adalah keputusan yang tepat, karena selain telah melakukan pengkhianatan, Bani Quraizhah telah menyiapkan 1500 pedang, 2000 tombak, 300 baju besi, dan 500 perisai untuk menghancurkan kaum muslimin.[5]

Nabi Muhammad setuju karena sesuai dengan perintah Allah,[6][7][8][9][10] di mana setiap laki-laki dewasa dipenggal.[11][12] [13] Ulama Hadits Tabari mengutip 600–900 telah dipenggal. Tapi jumlah tersebut masih dalam perdebatan karena dalam Hadits Shahih tidak disebutkan berapa jumlah yang dihukum mati bahkan ada riwayat yang mengatakan hanya 40 orang tokoh Bani Quraizhah yang dihukum mati.[1][14] Hadits sunni tidak menyebutkan jumlah yang tewas, tetapi semua laki-laki tewas dan seorang wanita.[15] Wanita lainnya dan anak-anak ditawan atau ditukar dengan senjata dan kuda dari wilayah Najd yang diantar Sa'ad Zaid, menurut sumber Islam.[1] Muhammad mengambil tawanan bernama Raihanah binti Amr bin Junafah.[16]

Menurut Ibnu Katsir, Ayat Quran ayat 33:26-27 and 33:9-10 tentang penyerbuan ke Bani Quraizhah.[17][18]

Bani Quraizhah dahulu bersekutu dengan Muhammad dan selama pertempuran Khandaq, mereka meminjamkan peralatan perang untuk berjaga-jaga di Madinah, tetapi mereka tidak ikut serta dalam tiap pertempuran. Bani Quraizhah sangat tersinggung dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad agar bertindak keras terhadap Yahudi, dan menurut Al-Waqidi, mereka bernegosiasi dengan penduduk Mekkah.[19]

Waqidi menyatakan bahwa Muhammad memiliki kesepakatan dengan suku yang terpecah belah tersebut. Norman Stillman dan Watt percaya bahwa kesepakatan dimaksud "diragukan" keberadaannya, walaupun Watt percaya bahwa Quraizhah telah sepakat untuk tidak membantu musuh Muhammad. Al-Waqidi sering dikritik oleh penulis Muslim yang menyebutnya tidak bisa dipercaya. Menurut Mubrakpuri, Peters, Stillman, Guillaume, Inamdar dan Ibnu Katsir, Muhammad memimpin pasukannya melawan kaum di lingkungan Bani Quraizhah.[1][11][6][8][20]

Korban dari Muslimin

[sunting | sunting sumber]

Korban (Syuhada) kaum Muslimin yang terbunuh di Perang Bani Quraizhah dari Bani Al Harits bin Al-Khazraj adalah Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin Amr. Ia terkena lemparan batu penggiling sampai tengkorak kepalanya hancur. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Muhammad berkata: "Sesungguhnya Khallad bin Suwaid mendapatkan pahala dua orang syahid".[21]

Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, ia gugur pada saat Muhammad mengepung Bani Quraizhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dikebumikan di pemakaman Bani Quraizhah.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 Rahman al-Mubarakpuri, Saifur (2005), The Sealed Nectar, Darussalam Publications, hlm. 201–205, They numbered 600 or 700—the largest estimate says they were between 800 and 900. (online)
  2. The life of Mahomet, Kessinger Publishing, 2003, hlm. 317, ISBN 9780766177413, diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-24, diakses tanggal 2015-01-07 ;
  3. مباركفوري ، صفي الرحمن (2002). الرحيق المختوم: بحث في السيرة النبوية (dalam bahasa English). الرياض: دار السلام للنشر،. OCLC 173227634. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. مباركفوري ، صفي الرحمن (2002). الرحيق المختوم: بحث في السيرة النبوية (dalam bahasa English). الرياض: دار السلام للنشر،. OCLC 173227634. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. مباركفوري ، صفي الرحمن (2002). الرحيق المختوم: بحث في السيرة النبوية (dalam bahasa English). الرياض: دار السلام للنشر،. OCLC 173227634. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. 1 2 The Life of Muhammad (Sirat Rasul Allah), Oxford University Press, 2002, hlm. 461–464, ISBN 978-0-19-636033-1
  7. Peters, Muhammad and the Origins of Islam, p. 222-224.
  8. 1 2 Stillman, The Jews of Arab Lands: A History and Source Book, pp. 137-141.
  9. Adil, Muhammad: The Messenger of Islam, p. 395f.
  10. The life of Mahomet, Kessinger Publishing, 2003, hlm. 329, ISBN 9780766177413, diarsipkan dari asli tanggal 2014-10-24, diakses tanggal 2015-01-07 ;
  11. 1 2 Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "tafsir1"
  12. Kister (1990), Society and religion from Jāhiliyya to Islam, p. 54.
  13. Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, p. 229-233
  14. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama "autogenerated1"
  15. Sunan Abu Dawud 14:2665, "No woman of Banu Qurayzah was killed except one. She was with me, talking and laughing on her back and belly (extremely), while the Apostle of Allah (peace_be_upon_him) was killing her people with the swords. Suddenly a man called her name: Where is so-and-so? She said: I I asked: What is the matter with you? She said: I did a new act. She said: The man took her and beheaded her. She said: I will not forget that she was laughing extremely although she knew that she would be killed."
  16. Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (2020-12-18). Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam: Jilid 1 (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. ISBN 978-979-3036-16-8.
  17. Tafsir Ibn Kathir Juz'21, MSA Publication Limited, 2009, hlm. 213, ISBN 9781861796110 (online Diarsipkan 2016-04-15 di Wayback Machine.)
  18. Haykal, Husayn (1976), The Life of Muhammad, Islamic Book Trust, hlm. 338, ISBN 978-983-9154-17-7
  19. Islam: faith and practice, Sussex Academic Press, 1999, hlm. 21, ISBN 1898723869
  20. Muhammad and the Rise of Islam: The Creation of Group Identity, Psychosocial Press, 2001, hlm. 166 (footnotes), ISBN 1887841288
  21. Al-Muafiri, Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (2020-12-18). Sirah Nabawiyah lbnu Hisyam: Jilid 1 (dalam bahasa Melayu). Darul Falah. ISBN 978-979-3036-16-8.