Penyiksaan dan pelecehan tahanan Abu Ghraib


Selama tahap awal Perang Irak, serdadu Angkatan Darat Amerika Serikat dan CIA melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perang terhadap tahanan di penjara Abu Ghraib, Irak. Mereka terindikasi melakukan pelecehan fisik dan seksual, penyiksaan, pemerkosaan, sodomi, dan pembunuhan terhadap Manadel al-Jamadi.[1][2][3][4] Pelanggaran tersebut menjadi perhatian publik setelah publikasi foto-foto pelecehan oleh CBS News pada bulan April 2004. Insiden tersebut menyebabkan kejutan dan kemarahan publik, serta menuai kecaman luas, baik di Amerika Serikat maupun dunia internasional.[5]
Menanggapi peristiwa di Abu Ghraib, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencopot 17 tentara dan perwira dari tugasnya. Sebelas tentara didakwa dengan kelalaian tugas, penganiayaan, penyerangan dan baterai. Antara Mei 2004 hingga April 2006, para prajurit ini diadili di pengadilan militer, dihukum, dijatuhi hukuman penjara militer, dan diberhentikan secara tidak hormat dari dinas. Dua tentara, yang ditemukan telah melakukan banyak pelanggaran terburuk di penjara, Spesialis Charles Graner dan PFC Lynndie England, dikenakan dakwaan yang lebih berat dan menerima hukuman yang lebih berat. Graner dihukum atas penyerangan, baterai, konspirasi, penganiayaan terhadap tahanan, melakukan tindakan tidak senonoh serta melalaikan tugas; dia divonis 10 tahun penjara dan kehilangan pangkat, gaji dan tunjangan.[6] England dihukum karena persekongkolan, menganiaya tahanan, serta melakukan tindakan tidak senonoh dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.[7] Brigadir Jenderal Janis Karpinski, komandan semua fasilitas penahanan di Irak, ditegur dan diturunkan pangkatnya menjadi kolonel. Beberapa personel militer lainnya yang dituduh melakukan atau mengizinkan tindakan tersebut, termasuk banyak dari mereka yang berpangkat lebih tinggi, tidak diadili. Pada tahun 2004, Presiden George W. Bush dan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld meminta maaf atas insiden pelanggaran Abu Ghraib ini.
Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Perang melawan teror
[sunting | sunting sumber]Perang melawan teror, yang juga dikenal sebagai Global War on Terrorism (Perang Global Melawan Terorisme), merupakan sebuah kampanye militer internasional yang dilancarkan oleh pemerintah Amerika Serikat setelah terjadinya Serangan 11 September.[8] Presiden George W. Bush pertama kali menggunakan ungkapan war on terrorism (perang melawan terorisme) pada 16 September 2001,[9][10] dan beberapa hari kemudian ia menggunakan frasa "war on terror" (perang melawan teror) dalam pidatonya di hadapan Kongres.[11][12] Dalam pidato tersebut, Bush menyatakan, "Musuh kita adalah jaringan radikal teroris dan setiap pemerintahan yang mendukung mereka."[12][13]
Perang Irak
[sunting | sunting sumber]Perang Irak dimulai pada Maret 2003 sebagai invasi terhadap Irak Ba'athis oleh pasukan koalisi yang dipimpin oleh Amerika Serikat.[14][15] Pemerintahan Ba'athis yang dipimpin oleh Saddam Hussein berhasil digulingkan hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Konflik tersebut kemudian berlanjut ke fase yang lebih panjang, ditandai dengan munculnya gerakan perlawanan bersenjata terhadap pasukan pendudukan dan pemerintahan Irak pasca-invasi.[16] Selama masa perlawanan tersebut, Amerika Serikat berperan sebagai kekuatan pendudukan.[16]
Penjara Abu Ghraib
[sunting | sunting sumber]Penjara Abu Ghraib yang terletak di kota Abu Ghraib merupakan salah satu penjara paling terkenal dan ditakuti di Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein. Penjara ini digunakan untuk menahan sekitar 50.000 pria dan wanita dalam kondisi yang sangat buruk, di mana penyiksaan dan eksekusi kerap terjadi.[17][butuh sumber yang lebih baik] Kompleks penjara ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 110 hektare (272 acre), terletak 32 kilometer (20 mil) di sebelah barat Baghdad.[18] Setelah jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein, penjara ini dijarah habis hingga tidak tersisa peralatan apa pun yang dapat dipindahkan. Sesudah invasi, tentara Amerika Serikat memperbaiki fasilitas tersebut dan mengubahnya menjadi penjara militer.[17] Penjara ini menjadi yang terbesar di antara sejumlah pusat penahanan lain yang digunakan oleh militer AS di Irak.[19] Pada Maret 2004, ketika penjara Abu Ghraib masih digunakan oleh militer AS sebagai fasilitas penahanan, tercatat sekitar 7.490 orang ditahan di sana.[20] Pada puncaknya, jumlah tahanan diperkirakan mencapai 8.000 orang.[21]
Terdapat tiga kategori tahanan yang ditahan oleh militer AS di Abu Ghraib: "kriminal umum", individu yang diduga sebagai pemimpin gerakan perlawanan, serta mereka yang dicurigai melakukan kejahatan terhadap pasukan pendudukan yang dipimpin AS.[22] Meskipun sebagian besar tahanan tinggal di tenda-tenda di halaman penjara, tindakan penyiksaan dan pelanggaran terjadi di dalam blok sel 1a dan 1b.[18] Penjara ini dikelola oleh Brigade Polisi Militer ke-800 yang berasal dari Uniondale, New York.[19] Brigade tersebut berada di bawah komando Brigadir Jenderal Janis Karpinski, yang bertanggung jawab atas seluruh penjara yang dijalankan Amerika Serikat di Irak. Karpinski sendiri tidak memiliki pengalaman sebelumnya dalam mengelola lembaga pemasyarakatan.[22] Para pelaku pelanggaran di Abu Ghraib merupakan anggota Kompi Polisi Militer ke-372, yang merupakan bagian dari Batalion Polisi Militer ke-320 di bawah komando markas Brigade Karpinski.[23]
Laporan Fay mencatat bahwa "permasalahan yang berkaitan dengan kontrak turut berkontribusi terhadap kekacauan di penjara Abu Ghraib". Lebih dari separuh interogator di penjara tersebut merupakan pegawai CACI International, sedangkan Titan Corporation menyediakan personel penerjemah. Dalam laporannya, Jenderal Fay menulis bahwa "Kebijakan umum untuk tidak mengontrakkan fungsi dan layanan intelijen sebagian dirancang untuk menghindari berbagai masalah yang pada akhirnya muncul di Abu Ghraib."[24]
Laporan pertama tentang pelanggaran hak asasi manusia
[sunting | sunting sumber]
Pada Juni 2003, Amnesty International menerbitkan laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat beserta mitra koalisinya di berbagai pusat penahanan dan penjara di Irak.[25] Laporan tersebut mencakup kesaksian tentang perlakuan brutal di Penjara Abu Ghraib, yang sebelumnya digunakan oleh rezim Saddam Hussein dan kemudian diambil alih oleh Amerika Serikat setelah invasi. Pada 20 Juni 2003, Abdel Salam Sidahmed, wakil direktur Program Timur Tengah Amnesty International, menggambarkan adanya pemberontakan para tahanan terhadap kondisi penahanan mereka, dengan menyatakan, "Penjara Abu Ghraib yang bersejarah, pusat penyiksaan dan eksekusi massal di bawah Saddam Hussein, kini kembali menjadi tempat yang terputus dari dunia luar. Pada 13 Juni, telah terjadi protes di penjara ini menentang penahanan tanpa batas waktu dan tanpa pengadilan. Pasukan pendudukan menembak mati satu orang dan melukai tujuh lainnya."[25]
Pada 23 Juli 2003, Amnesty International mengeluarkan siaran pers yang mengecam meluasnya pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan Amerika Serikat dan koalisinya. Siaran tersebut menyebutkan bahwa para tahanan dibiarkan terpapar panas ekstrem, tidak diberi pakaian, serta dipaksa menggunakan parit terbuka sebagai toilet. Mereka juga mengalami penyiksaan, termasuk tidak diperbolehkan tidur dalam waktu lama, disinari lampu terang dan diperdengarkan musik keras, serta diikat dalam posisi yang sangat menyakitkan.[26]
Pada 1 November 2003, Associated Press menerbitkan laporan khusus mengenai pelanggaran hak asasi manusia berskala besar di Abu Ghraib. Laporan itu dimulai dengan kalimat: "Di kamp-kamp tahanan Amerika di Irak, berbicara tanpa izin dapat membuat seorang tahanan diikat dan dijemur berjam-jam di bawah terik matahari, sementara para tahanan lain kerap memberontak dengan mengayunkan tiang tenda melawan para penjaga mereka, menurut kesaksian warga Irak yang baru dibebaskan." Laporan tersebut menggambarkan penyiksaan oleh para penjaga Amerika: "'Mereka memperlakukan kami seperti domba,' ujar Saad Naif, 38 tahun, salah satu tahanan yang baru dibebaskan. 'Mereka memukul orang-orang. Mereka mempermalukan kami.'" Sebagai tanggapan, Brigadir Jenderal Janis Karpinski, yang mengawasi seluruh fasilitas penahanan Amerika Serikat di Irak, menyatakan bahwa para tahanan diperlakukan "secara manusiawi dan adil".[27] Laporan AP juga menyebutkan bahwa hingga tanggal tersebut, terdapat dua kasus hukum yang tengah berlangsung terhadap personel militer Amerika Serikat: satu terkait pemukulan terhadap tahanan Irak, dan satu lagi akibat kematian tahanan dalam tahanan.[27]
Sejak awal invasi, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah diberikan izin untuk memantau penjara tersebut dan menyerahkan laporan terkait perlakuan terhadap para tahanan. Menanggapi laporan ICRC, Karpinski menyatakan bahwa beberapa tahanan merupakan aset intelijen dan oleh karena itu tidak berhak memperoleh perlindungan penuh di bawah Konvensi Jenewa.[19] Laporan-laporan ICRC tersebut mendorong Letnan Jenderal Ricardo Sanchez, komandan satuan tugas di Irak, untuk menunjuk Mayor Jenderal Antonio Taguba guna menyelidiki tuduhan tersebut pada 1 Januari 2004.[19] Taguba menyerahkan hasil penyelidikannya (dikenal sebagai Laporan Taguba) pada Februari 2004, dengan menyatakan bahwa "terdapat banyak insiden penyiksaan sadistis, terang-terangan, dan brutal yang dilakukan terhadap sejumlah tahanan. Penyiksaan yang sistematis dan melanggar hukum ini dilakukan secara sengaja oleh beberapa anggota pasukan penjaga militer."[19] Laporan tersebut juga menyebut adanya bukti yang meluas, termasuk bukti fotografis, meskipun hasilnya tidak dipublikasikan secara resmi.[17][28]
Skandal ini menjadi perhatian publik internasional pada April 2004, ketika acara berita 60 Minutes II disiarkan oleh CBS News pada 28 April, menayangkan laporan penyiksaan disertai foto-foto personel militer yang memperolok tahanan telanjang.[18][19][29][30] Beberapa hari kemudian, Seymour Hersh menerbitkan artikelnya di majalah The New Yorker—dipublikasikan daring pada 30 April dan muncul dalam edisi 10 Mei—yang memperluas dampak global dari pengungkapan tersebut.[17] Foto-foto penyiksaan itu kemudian tersebar luas di berbagai media di seluruh dunia.[19] Rincian Laporan Taguba akhirnya dipublikasikan pada Mei 2004. Tak lama setelah itu, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyatakan bahwa para pelaku akan "dibawa ke pengadilan", sementara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan menilai bahwa upaya untuk membangun kembali pemerintahan Irak telah mengalami kerusakan serius akibat skandal tersebut.[19]
Otorisasi penyiksaan
[sunting | sunting sumber]

Perintah eksekutif
[sunting | sunting sumber]Pada 21 Desember 2004, American Civil Liberties Union (ACLU) merilis salinan memorandum internal dari Biro Investigasi Federal (FBI) yang diperoleh melalui Undang-Undang Kebebasan Informasi Amerika Serikat. Dokumen-dokumen tersebut membahas praktik penyiksaan dan perlakuan kejam di penjara-penjara seperti Kamp Tahanan Teluk Guantanamo, Afghanistan, dan Irak. Salah satu memorandum bertanggal 22 Mei 2004 berasal dari seseorang yang diidentifikasi sebagai "Komandan di Tempat – Baghdad", tetapi namanya telah disunting demi kerahasiaan.[31] Dalam memorandum tersebut, individu ini secara eksplisit merujuk pada sebuah perintah eksekutif yang memberikan izin kepada personel militer Amerika Serikat untuk menggunakan teknik interogasi luar biasa (extraordinary interrogation tactics). Metode penyiksaan yang disebutkan dalam dokumen tersebut mencakup tindakan seperti membuat tahanan tidak tidur selama berhari-hari, menutup kepala mereka dengan tudung, memperdengarkan musik keras secara terus-menerus, menelanjangi para tahanan, memaksa mereka berdiri dalam "posisi stres" (stress positions), serta penggunaan anjing untuk menakuti atau menekan psikologis tahanan.
Penulis memorandum itu juga menegaskan bahwa Pentagon telah membatasi penerapan teknik tersebut dengan mensyaratkan adanya otorisasi khusus dari rantai komando militer. Ia menambahkan bahwa "pemukulan fisik, pelecehan seksual, atau sentuhan bersifat seksual" tidak termasuk dalam cakupan perintah eksekutif tersebut.
Temuan ini menjadi bukti internal pertama sejak skandal penyiksaan tahanan Abu Ghraib terungkap pada April 2004, yang menunjukkan bahwa bentuk-bentuk paksaan terhadap tahanan telah secara resmi diotorisasi oleh Presiden Amerika Serikat sendiri.[32]
Otorisasi dari Ricardo Sanchez
[sunting | sunting sumber]Dokumen yang diperoleh oleh The Washington Post dan ACLU menunjukkan bahwa Ricardo Sanchez, seorang Letnan Jenderal yang saat itu menjabat sebagai perwira tertinggi militer Amerika Serikat di Irak, telah memberikan otorisasi penggunaan anjing militer, manipulasi suhu ekstrem, pembalikan pola tidur, serta deprivasi sensorik sebagai metode interogasi di penjara Abu Ghraib.[33] Sebuah laporan pada November 2004 yang disusun oleh Brigadir Jenderal Richard Formica menemukan bahwa banyak prajurit di penjara Abu Ghraib bertindak berdasarkan perintah yang bersumber dari memorandum yang ditandatangani Sanchez, dan bahwa penyiksaan yang terjadi bukanlah hasil tindakan "kriminal" terisolasi oleh individu-individu tertentu.[34] Pengacara ACLU, Amrit Singh, menyatakan bahwa "Jenderal Sanchez telah memberikan otorisasi terhadap teknik interogasi yang secara jelas melanggar Konvensi Jenewa serta standar internal militer Amerika Serikat sendiri."[35]
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar kampung halamannya, The Signal, Janis Karpinski menyatakan bahwa ia telah melihat dokumen yang belum dipublikasikan dari Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, yang secara eksplisit memberikan izin untuk menerapkan taktik-taktik tersebut terhadap para tahanan Irak.[36]
Otorisasi dari Donald Rumsfeld
[sunting | sunting sumber]Sebuah laporan tahun 2004 oleh majalah The New Yorker mengungkapkan bahwa Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld telah menyetujui teknik interogasi yang digunakan di Abu Ghraib—metode yang sebelumnya juga diterapkan oleh pasukan Amerika di Afghanistan.[37] Pada November 2006, Janis Karpinski, yang pernah memimpin penjara Abu Ghraib hingga awal 2004, mengatakan kepada surat kabar Spanyol El País bahwa ia pernah melihat sebuah surat bertanda tangan Rumsfeld, yang memberikan izin kepada kontraktor sipil untuk menggunakan metode seperti deprivasi tidur dalam interogasi. "Metodenya meliputi memaksa tahanan berdiri dalam waktu lama, tidak membiarkan mereka tidur... memutar musik dengan volume tinggi, dan memaksa mereka duduk dalam posisi yang menyakitkan... Rumsfeld secara pribadi menyetujui teknik ini."[38] Menurut Karpinski, tanda tangan tangan Rumsfeld tampak jelas di atas namanya yang tercetak, dengan sebuah catatan di pinggir halaman bertuliskan "Pastikan ini dilaksanakan," yang ditulis dengan tulisan tangan yang sama.[38]
Baik Pentagon maupun juru bicara militer AS di Irak tidak memberikan komentar atas tuduhan tersebut. Pada tahun 2006, delapan mantan prajurit dan agen intelijen, termasuk Karpinski dan mantan agen kontraintelijen militer David DeBatto, mengajukan gugatan pidana terhadap Rumsfeld di pengadilan Jerman. Gugatan tersebut menuduh bahwa Rumsfeld mengetahui dan menyetujui penerapan apa yang disebut sebagai "teknik interogasi tingkat lanjut" yang secara hukum internasional dikategorikan sebagai tindakan ilegal.[38][39][40][41][42]
Penyiksaan terhadap tahanan
[sunting | sunting sumber]Kematian Manadel al-Jamadi
[sunting | sunting sumber]Manadel al-Jamadi, seorang tahanan di penjara Abu Ghraib, meninggal dunia setelah diinterogasi dan disiksa oleh petugas CIA Mark Swanner[43] dan spesialis militer Sabrina Harman[43] pada November 2003. Setelah kematiannya, jasad al-Jamadi dibungkus dengan es; mayat tersebut tampak di latar belakang foto-foto terkenal yang memperlihatkan dua prajurit Amerika, Sabrina Harman dan Charles Graner, berpose sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jari. Al-Jamadi diduga terlibat dalam serangan bom terhadap fasilitas Palang Merah di Baghdad yang menewaskan 12 orang, meskipun tidak ada bukti pasti mengenai keterlibatannya.[44] Hasil otopsi militer menyimpulkan bahwa kematian al-Jamadi merupakan sebuah pembunuhan. Namun, tidak ada seorang pun yang didakwa atas kematiannya. Pada tahun 2011, Jaksa Agung Eric Holder mengumumkan bahwa ia telah membuka penyelidikan pidana penuh atas kasus tersebut.[45] Namun, pada Agustus 2012, Holder menyatakan bahwa tidak akan ada tuntutan pidana yang diajukan.[46]
Pemerkosaan terhadap tahanan
[sunting | sunting sumber]Pelepasan pakaian para tahanan merupakan salah satu bentuk penghinaan dan pelecehan seksual yang kerap digunakan dalam praktik penyiksaan di Abu Ghraib.[47] Pada tahun 2004, Antonio Taguba, seorang mayor jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat, menulis dalam Laporan Taguba bahwa seorang tahanan telah disodomi dengan "tongkat kimia dan mungkin juga gagang sapu."[48] Kemudian, pada 2009, Taguba menyatakan bahwa terdapat bukti fotografis yang menunjukkan tentara dan penerjemah Amerika memperkosa para tahanan di Abu Ghraib.[49] Seorang tahanan mengaku kepada penyelidik bahwa ia mendengar teriakan seorang remaja laki-laki Irak dan melihat seorang penerjemah militer memperkosanya, sementara seorang prajurit perempuan memotret kejadian itu.[50] Saksi kemudian mengidentifikasi pelaku sebagai seorang Amerika keturunan Mesir yang bekerja sebagai penerjemah; pada 2009 ia menjadi subjek gugatan perdata di Amerika Serikat.[49] Foto-foto lain menunjukkan seorang prajurit Amerika tampak memperkosa tahanan perempuan,[49] sementara beberapa foto memperlihatkan interogator menyerang secara seksual para tahanan menggunakan benda seperti pentungan, kawat, dan tabung fosfor, serta seorang tahanan perempuan yang dipaksa menanggalkan pakaiannya hingga bagian dadanya terekspos.[49] Taguba mendukung keputusan Presiden Barack Obama untuk tidak mempublikasikan foto-foto tersebut, dengan menyatakan, "Gambar-gambar ini memperlihatkan penyiksaan, pelecehan, pemerkosaan, dan segala bentuk kebejatan."[49] Obama, yang pada awalnya berniat merilis foto-foto itu, kemudian menarik keputusannya setelah desakan dari para petinggi militer, dengan alasan bahwa publikasinya dapat membahayakan pasukan dan "memanaskan opini publik anti-Amerika."[49]
Dalam beberapa kasus lainnya, ditemukan pula bahwa prajurit Amerika memperkosa tahanan perempuan. Pejabat tinggi AS mengakui bahwa pemerkosaan memang terjadi di Abu Ghraib.[51][52] Beberapa korban pemerkosaan dilaporkan menjadi hamil, dan sebagian dari mereka kemudian dibunuh oleh keluarga mereka sendiri dalam apa yang diyakini sebagai pembunuhan demi kehormatan.[53] Selain itu, jurnalis Seymour Hersh menuduh pada Juli 2004 bahwa Departemen Pertahanan memiliki rekaman video yang menunjukkan anak laki-laki diperkosa oleh staf penjara Irak di depan tahanan perempuan.[54]
Penyiksaan lainnya
[sunting | sunting sumber]
Pada Mei 2004, The Washington Post memberitakan kesaksian yang diberikan oleh Ameen Saeed Al-Sheikh, tahanan No. 151362. Ia dikutip berkata: "Mereka mengatakan bahwa mereka akan membuatku berharap mati, tetapi itu tidak akan terjadi … Mereka menelanjangiku. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa ia akan memperkosaku. Ia menggambar sosok perempuan di punggungku dan memaksaku berdiri dalam posisi memalukan sambil memegang pantatku agar terbuka."[50] "'Apakah kau berdoa kepada Allah?' tanya salah satu dari mereka. Aku menjawab ya. Mereka berkata, '[Makian] kau. Dan [makian] Dia.' Salah satu dari mereka berkata, 'Kau tidak akan keluar dari sini dalam keadaan sehat—kau akan keluar cacat.' Lalu ia bertanya, 'Apakah kau sudah menikah?' Aku menjawab, 'Ya.' Mereka mengatakan, 'Jika istrimu melihatmu seperti ini, ia akan kecewa.' Lalu salah satu darinya berkata, 'Tapi jika aku melihatnya sekarang, ia tidak akan kecewa, karena aku akan memperkosanya.''" "Mereka memerintahkanku untuk bersyukur kepada Yesus karena aku masih hidup." "Aku berkata kepadanya, 'Aku beriman kepada Allah.' Ia menjawab, 'Tapi aku beriman kepada penyiksaan, dan aku akan menyiksamu.'"[50]
Pada 12 Januari 2005, The New York Times memberitakan kesaksian tambahan dari para tahanan Abu Ghraib. Di antara penyiksaan yang dilaporkan termasuk: buang air kecil di atas tahanan, memukul anggota tubuh yang terluka dengan pentungan logam, menyiramkan asam fosfat, serta mengikat tali pada kaki atau penis tahanan lalu menyeret mereka di lantai.[55]

Dalam rekaman video hariannya, seorang penjaga penjara menyatakan bahwa para tahanan ditembak karena pelanggaran kecil, dan mengklaim bahwa ular berbisa pernah digunakan untuk menggigit tahanan, kadang berujung pada kematian. Ia juga mengatakan bahwa ia "bermasalah" karena melempar batu ke arah para tahanan.[56] Hashem Muhsen, salah satu tahanan telanjang dalam foto piramida manusia, kemudian mengatakan bahwa para pria itu juga dipaksa merangkak telanjang di lantai sementara para prajurit menunggangi mereka seperti keledai.[57]
Penyiksaan yang sistematis
[sunting | sunting sumber]
Pada 7 Mei 2004, Pierre Krähenbühl, direktur operasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC), menyatakan bahwa kunjungan inspeksi ICRC ke pusat-pusat penahanan yang dikelola AS dan sekutunya menunjukkan bahwa tindakan penyiksaan bukanlah kejadian terpisah, melainkan bagian dari "pola dan sistem yang luas". Ia melanjutkan bahwa sebagian insiden yang disaksikan "setara dengan penyiksaan".[58]
Banyak teknik penyiksaan yang digunakan sebelumnya dikembangkan di pusat tahanan Guantánamo, termasuk isolasi berkepanjangan; frequent flyer program, yaitu perpindahan tahanan dari sel ke sel setiap beberapa jam untuk mencegah mereka tidur selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan; short shackling dalam posisi menyakitkan; ketelanjangan; penggunaan suhu panas dan dingin ekstrem; musik keras; serta eksploitasi fobia para tahanan.[59]
Angkatan bersenjata AS dan Inggris dilatih bersama dalam teknik yang dikenal sebagai resistance to interrogation (R2I). Teknik ini secara resmi diajarkan untuk membantu prajurit bertahan dari penyiksaan jika mereka tertangkap. Pada 8 Mei 2004, The Guardian melaporkan bahwa menurut seorang mantan perwira pasukan khusus Inggris, tindakan yang dilakukan personel militer di Abu Ghraib menyerupai teknik yang digunakan dalam pelatihan R2I.[60]
Laporan yang sama menyatakan:
The US commander in charge of military jails in Iraq, Major General Geoffrey Miller, has confirmed that a battery of 50-odd special "coercive techniques" can be used against enemy detainees. The general, who previously ran the prison camp at Guantanamo Bay, said his main role was to extract as much intelligence as possible.
Sejarawan Alfred W. McCoy, yang menulis buku tentang penyiksaan oleh angkatan bersenjata Filipina, mencatat adanya kemiripan antara perlakuan terhadap tahanan di Abu Ghraib dan teknik yang dijabarkan dalam manual interogasi kontraintelijen KUBARK yang diterbitkan oleh Central Intelligence Agency (CIA) pada 1963. Ia berpendapat bahwa apa yang ia sebut sebagai "metode penyiksaan tanpa sentuhan ala CIA" telah digunakan secara berkelanjutan oleh CIA dan intelijen militer AS sejak saat itu.[61][62]
Korban jiwa
[sunting | sunting sumber]Sebuah studi pada tahun 2006 berupaya memperkirakan jumlah kematian dengan meninjau laporan-laporan yang tersedia di domain publik, karena pemerintah Amerika Serikat tidak pernah memberikan angka resmi secara keseluruhan. Studi tersebut mencatat terdapat 63 kematian tahanan di Abu Ghraib dari berbagai penyebab. Dari jumlah itu, 36 disebabkan oleh serangan mortir dari pihak pemberontak, sementara sisanya akibat sebab alami dan pembunuhan.[63]
Masalah kematian akibat serangan mortir menuai kritik luas. Konvensi Jenewa mensyaratkan agar para tahanan tidak ditempatkan di fasilitas yang rentan terhadap serangan artileri.[63] Karena Abu Ghraib berlokasi di zona pertempuran,[64] kerentanannya terhadap serangan semacam itu telah diperingatkan sejak awal, tetapi pada akhirnya diputuskan bahwa para tahanan tetap akan ditahan di sana.[63][65] Tidak ada fasilitas penahanan AS lainnya di Irak yang mengalami korban akibat serangan mortir.[63]
Liputan media
[sunting | sunting sumber]Laporan Associated Press (2003)
[sunting | sunting sumber]
Pada 1 November 2003, Associated Press menerbitkan sebuah laporan panjang mengenai perlakuan tidak manusiawi, pemukulan, dan kematian di Abu Ghraib serta penjara-penjara Amerika lainnya di Irak.[66] Laporan ini disusun berdasarkan wawancara dengan para mantan tahanan yang telah dibebaskan, yang menceritakan kepada jurnalis Charles J. Hanley bahwa para narapidana diserang oleh anjing, dipaksa mengenakan penutup kepala, dan dihina dengan berbagai cara lainnya.[67] Namun, artikel tersebut hampir tidak menarik perhatian publik pada saat itu.[68] Salah satu mantan tahanan bahkan mengatakan bahwa ia berharap ada yang mau memublikasikan foto-foto tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana.[67]
Ketika militer AS pertama kali mengakui adanya penyiksaan pada awal tahun 2004, sebagian besar media di Amerika Serikat menunjukkan minat yang sangat minim. Pada 16 Januari 2004, United States Central Command memberi tahu media bahwa penyelidikan resmi telah dimulai terkait dugaan penyiksaan dan penghinaan terhadap tahanan Irak oleh sekelompok prajurit AS. Pada 24 Februari, dilaporkan bahwa 17 prajurit telah diskors. Militer kemudian mengumumkan pada 21 Maret 2004 bahwa dakwaan pertama telah diajukan terhadap enam prajurit.[69][70]
Tayangan 60 Minutes II (2004)
[sunting | sunting sumber]
Pada akhir April 2004, program berita televisi Amerika 60 Minutes II, yang merupakan waralaba dari jaringan CBS, menayangkan sebuah laporan tentang penyiksaan di penjara Abu Ghraib. Laporan tersebut menampilkan sejumlah foto yang memperlihatkan tindakan kekerasan terhadap para tahanan.[72] Segmen berita ini sebenarnya sempat ditunda selama dua minggu atas permintaan Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan Richard Myers, seorang jenderal angkatan udara yang menjabat sebagai Chairman of the Joint Chiefs of Staff. Namun, setelah diketahui bahwa majalah The New Yorker berencana mempublikasikan artikel dan foto-foto terkait dalam edisi berikutnya, CBS memutuskan untuk menayangkan laporannya pada 28 April.[73]
Dalam laporan CBS tersebut, Dan Rather mewawancarai Brigadir Jenderal Mark Kimmitt, yang saat itu menjabat sebagai wakil direktur operasi Koalisi di Irak. Kimmitt menyatakan:
Hal pertama yang ingin saya katakan adalah bahwa kami pun merasa ngeri. Mereka ini adalah rekan-rekan kami. Mereka adalah orang-orang yang bekerja bersama kami setiap hari, dan mereka mewakili kami. Mereka mengenakan seragam yang sama seperti kami, dan mereka telah mengecewakan sesama prajurit mereka... Prajurit kami pun bisa saja ditangkap oleh musuh, dan kami berharap mereka diperlakukan dengan baik. Jika kita sendiri tidak bisa menegakkan teladan tentang bagaimana memperlakukan manusia dengan martabat dan hormat... maka kita tak bisa meminta negara lain memperlakukan prajurit kita demikian juga... Jadi apa yang akan saya katakan kepada rakyat Irak? Ini salah. Ini menjijikkan. Namun ini tidak mewakili 150.000 prajurit kami yang berada di sini... Dan hal yang sama akan saya katakan kepada rakyat Amerika... Jangan menilai seluruh angkatan bersenjata Anda hanya dari tindakan segelintir orang.[72]
Kimmitt juga mengakui bahwa ia mengetahui adanya kasus-kasus penyalahgunaan lain selama masa pendudukan Amerika di Irak.[72] Dalam wawancara yang sama, Bill Cowan, seorang mantan letnan kolonel Marinir, turut berkomentar: "Kita datang ke Irak untuk menghentikan hal-hal seperti ini, tetapi nyatanya, hal-hal semacam ini justru terjadi di bawah pengawasan kita."[72]
Selain itu, Rather juga mewawancarai Sersan Staf Ivan Frederick dari Pasukan Cadangan Angkatan Darat, yang terlibat langsung dalam beberapa tindakan penyiksaan. Dalam kehidupan sipilnya, Frederick bekerja sebagai petugas pemasyarakatan di sebuah penjara di Virginia. Ia mengatakan, "Kami tidak mendapat dukungan, tidak ada pelatihan sama sekali. Saya terus meminta pada atasan saya untuk hal-hal tertentu... seperti aturan dan regulasi, tetapi itu tidak pernah diberikan."[72]
Sebagian gambar yang digunakan dalam laporan tersebut berasal dari video harian Frederick yang ia kirimkan dari Irak. Dalam catatan hariannya, ia menuliskan kronologi rinci dan bertanggal tentang penyiksaan terhadap tahanan CIA, lengkap dengan nama-nama mereka: "Keesokan harinya, petugas medis datang, menaruh tubuhnya di atas tandu, memasang selang infus palsu di lengannya, dan membawanya pergi. Tahanan [CIA] ini tidak pernah didaftarkan dan karenanya tidak memiliki nomor identifikasi."[74]
Frederick juga menuding Korps Intelijen Militer terlibat, dengan mengatakan: "MI hadir dan menyaksikan kejadian seperti itu. MI bahkan menyemangati kami dan berkata 'kerja bagus,' karena kini mereka berhasil memperoleh hasil dan informasi yang positif."[74]
Artikel New Yorker (2004)
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2004, jurnalis investigasi Seymour M. Hersh menulis sebuah artikel di majalah The New Yorker yang menguraikan secara mendalam kasus penyiksaan di Abu Ghraib. Artikel tersebut didasarkan pada salinan laporan Taguba yang digunakan sebagai bukti pendukung. Di bawah arahan sang pemimpin redaksi, David Remnick, majalah itu juga memuat laporan Hersh di situs webnya, disertai sejumlah foto penyiksaan yang diambil oleh para penjaga penjara militer Amerika Serikat. Artikel tersebut, berjudul "Torture at Abu Ghraib", diikuti oleh dua tulisan lanjutan dalam dua minggu berikutnya, masing-masing berjudul "Chain of Command" dan "The Gray Zone", yang juga ditulis oleh Hersh.[73]
Liputan lanjutan (2006)
[sunting | sunting sumber]Pada Februari 2006, jaringan televisi Australia SBS menayangkan foto dan video yang sebelumnya belum pernah dirilis, dalam program Dateline. Pemerintahan Bush berupaya mencegah penayangan gambar-gambar tersebut di Amerika Serikat dengan alasan bahwa publikasinya dapat memicu sentimen permusuhan terhadap AS.
Foto-foto baru itu menampilkan tahanan yang merangkak di lantai dalam keadaan telanjang, dipaksa melakukan tindakan seksual, dan tubuh mereka dilumuri kotoran manusia. Beberapa gambar juga memperlihatkan tahanan yang tewas di tangan para tentara, sebagian ditembak di kepala, sementara yang lain mengalami luka sayatan di leher. Menurut laporan BBC World News, salah satu tahanan yang diduga memiliki gangguan mental bahkan dianggap oleh para penjaga sebagai semacam "hewan peliharaan" untuk disiksa.[75]
PBB menyatakan harapannya agar gambar-gambar tersebut segera diselidiki, tetapi Pentagon menyebut bahwa semua bukti visual itu "telah diperiksa sebelumnya sebagai bagian dari penyelidikan kasus Abu Ghraib."[76]
Pada 15 Maret 2006, situs berita Salon menerbitkan dokumentasi yang saat itu dianggap sebagai arsip paling lengkap mengenai penyiksaan di Abu Ghraib.[77] Dalam laporan yang diakses oleh Salon tersebut, terdapat ringkasan isi data digital yang ditemukan:
"Hasil pemeriksaan terhadap seluruh media komputer yang diserahkan ke kantor ini menunjukkan total 1.325 gambar dugaan penyiksaan tahanan, 93 berkas video yang berisi penyiksaan serupa, 660 gambar pornografi dewasa, 546 foto jenazah tahanan Irak yang diduga tewas, 29 gambar prajurit dalam adegan seksual simulatif, 20 foto prajurit dengan simbol Swastika tergambar di antara matanya, 37 gambar anjing militer yang digunakan untuk menyiksa tahanan, serta 125 gambar lain yang menampilkan tindakan tidak pantas."[77]
Reaksi
[sunting | sunting sumber]


Amerika Serikat
[sunting | sunting sumber]Tanggapan pemerintah
[sunting | sunting sumber]Pada awalnya, pemerintahan George W. Bush enggan mengakui secara terbuka adanya penyiksaan di Abu Ghraib. Setelah foto-foto bukti tersebar luas dan tak terbantahkan lagi, tanggapan pertama dari Gedung Putih menggambarkan skandal tersebut sebagai peristiwa yang terisolasi dan tidak mencerminkan tindakan Amerika Serikat di Irak secara keseluruhan.[29] Bush menggambarkan penyiksaan itu sebagai perbuatan segelintir individu yang telah mengabaikan nilai-nilai luhur bangsa Amerika.[29] Pandangan ini menuai bantahan luas, terutama di dunia Arab. Selain itu, Palang Merah Internasional telah menyampaikan laporan tentang perlakuan buruk terhadap para tahanan selama lebih dari setahun sebelum skandal tersebut mencuat ke publik.[78] Kantor Wakil Presiden Dick Cheney memainkan peran penting dalam menghapus batasan terhadap penggunaan paksaan dalam interogasi tahanan Amerika, dengan memerintahkan dan membela opini hukum yang kemudian oleh pemerintah disebut sebagai inisiatif dari pejabat berpangkat rendah.[79]
Pada 7 Mei 2004, Presiden Bush secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas penyiksaan para tahanan Irak di Abu Ghraib. Ia menyatakan penyesalan mendalam "atas penghinaan yang dialami para tahanan Irak dan keluarganya." Dalam pertemuannya dengan Raja Abdullah II, Bush mengatakan bahwa ia telah menyampaikan rasa penyesalannya karena "orang-orang yang melihat foto-foto itu mungkin tidak memahami hati dan hakikat sejati bangsa Amerika," dan ia menegaskan bahwa "rakyat Amerika seperti saya muak melihatnya." Ia menyebut perbuatan tersebut sebagai "menjijikkan" dan "noda bagi kehormatan serta nama baik negara kita," seraya menambahkan bahwa mereka yang bertanggung jawab "akan diadili" dan ia akan memastikan agar kejadian serupa tidak terulang.[80]
Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfeld memberikan pernyataan di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat:
Kejadian-kejadian ini terjadi di bawah pengawasan saya. Sebagai Menteri Pertahanan, saya bertanggung jawab atasnya. Saya menerima tanggung jawab penuh. Kewajiban saya adalah menilai apa yang telah terjadi, memastikan bahwa mereka yang melakukan pelanggaran dibawa ke pengadilan, dan melakukan perubahan yang diperlukan agar hal ini tidak terjadi lagi. Saya merasa sangat menyesal atas apa yang menimpa para tahanan Irak itu. Mereka adalah manusia. Mereka berada dalam tahanan Amerika Serikat. Negara kita memiliki kewajiban untuk memperlakukan mereka dengan benar. Kita gagal melakukannya. Itu adalah kesalahan. Kepada para tahanan Irak yang telah diperlakukan tidak manusiawi oleh anggota angkatan bersenjata Amerika, saya menyampaikan permintaan maaf yang paling dalam. Tindakan itu tidak mencerminkan nilai-nilai bangsa kita.[81]
Rumsfeld juga menyinggung soal keberadaan bukti visual penyiksaan tersebut:
Kita beroperasi dalam kondisi yang penuh batasan damai, dengan tuntutan hukum dalam situasi perang, di era informasi, di mana orang-orang berkeliling membawa kamera digital dan mengambil foto-foto luar biasa ini, lalu menyerahkannya—melanggar hukum—kepada media, yang sangat mengejutkan kami, bahkan sebelum foto-foto itu sampai ke Pentagon.[82]
Ia berhati-hati membedakan antara istilah "penyiksaan" dan "penganiayaan": "Tuduhan yang muncul sejauh ini adalah penganiayaan, yang secara teknis berbeda dari penyiksaan. Saya tidak akan membahas istilah 'penyiksaan' itu."[83]
Sejumlah senator memberikan tanggapan terhadap kesaksian Rumsfeld. Lindsey Graham menegaskan bahwa "masyarakat Amerika perlu memahami bahwa yang kita bicarakan di sini mencakup pemerkosaan dan pembunuhan."[84] Norm Coleman berkomentar bahwa "semua itu sangat menjijikkan—bukan sesuatu yang pantas dilakukan oleh orang Amerika."[85] Sementara itu, Ben Nighthorse Campbell menyatakan dengan getir, "Saya tidak tahu bagaimana orang-orang seperti ini bisa masuk ke dalam tentara kita."[86][87]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Hersh, Seymour M. (May 17, 2004). "Chain of Command". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 1, 2012. Diakses tanggal September 13, 2011.
NBC News later quoted U.S. military officials as saying that the unreleased photographs showed American soldiers 'severely beating an Iraqi prisoner nearly to death, having sex with a female Iraqi prisoner, and "acting inappropriately with a dead body." The officials said there also was a videotape, apparently shot by U.S. personnel, showing Iraqi guards raping young boys.'
- ↑ Benjamin, Mark (May 30, 2008). "Taguba denies he's seen abuse photos suppressed by Obama: The general told a U.K. paper about images he saw investigating Abu Ghraib – not photos Obama wants kept secret". Salon.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 11, 2009. Diakses tanggal June 6, 2009.
The paper quoted Taguba as saying, 'These pictures show torture, abuse, rape and every indecency.' ... The actual quote in the Telegraph was accurate, Taguba said – but he was referring to the hundreds of images he reviewed as an investigator of the abuse at Abu Ghraib prison in Iraq
- ↑ Hersh, Seymour Myron (June 25, 2007). "The General's Report: how Antonio Taguba, who investigated the Abu Ghraib scandal, became one of its casualties". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 12, 2007. Diakses tanggal June 17, 2007.
Taguba said that he saw "a video of a male American soldier in uniform sodomizing a female detainee"
- ↑ Walsh, Joan; Michael Scherer; Mark Benjamin; Page Rockwell; Jeanne Carstensen; Mark Follman; Page Rockwell; Tracy Clark-Flory (March 14, 2006). "Other government agencies". The Abu Ghraib files. Salon.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 12, 2008. Diakses tanggal February 24, 2008.
The Armed Forces Institute of Pathology later ruled al-Jamadi's death a homicide, caused by 'blunt force injuries to the torso complicated by compromised respiration.'
- ↑ Sontag, Susan (May 23, 2004). "Regarding The Torture Of Others". The New York Times Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 2, 2017.
- ↑ "Graner gets 10 years for Abu Ghraib abuse". NBC News. Associated Press. January 6, 2005. Diakses tanggal March 20, 2021.
- ↑ Dickerscheid, P.J. (June 29, 2009). "Abu Ghraib scandal haunts W.Va. reservist". The Independent (Ashland, Kentucky). Associated Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 10, 2020.
- ↑ Eric Schmitt; Thom Shanker (26 Juli 2005). "U.S. Officials Retool Slogan for Terror War". The New York Times.
- ↑ Bazinet, Kenneth R. (17 September 2001). "A Fight Vs. Evil, Bush And Cabinet Tell U.S." Daily News. New York. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Mei 2010. Diakses tanggal 26 Maret 2011.
- ↑ "President: Today We Mourned, Tomorrow We Work". georgewbush-whitehouse.archives.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Agustus 2019. Diakses tanggal 17 September 2019.
- ↑ "President Declares "Freedom at War with Fear"". georgewbush-whitehouse.archives.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Februari 2008. Diakses tanggal 17 September 2019.
- 1 2 "Transcript of President Bush's address". CNN. 20 September 2001. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2008. Diakses tanggal 17 September 2019.
- ↑ "Text: President Bush Addresses the Nation". The Washington Post. 20 September 2001. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 September 2019. Diakses tanggal 17 September 2019.
- ↑ "Iraq war illegal, says Annan". BBC News. 16 September 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 September 2014. Diakses tanggal 16 September 2014.
- ↑ "A chronology of the six-week invasion of Iraq". PBS. 26 Februari 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2008. Diakses tanggal 19 Maret 2008.
- 1 2 "Iraq War". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2012. Diakses tanggal 27 Oktober 2012.
- 1 2 3 4 Hersh, Seymour (30 April 2004). "Torture at Abu Ghraib". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Agustus 2016. Diakses tanggal 8 Agustus 2016.
- 1 2 3 Library (12 Maret 2016). "Iraq Prison Abuse Scandal Fast Facts". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2016. Diakses tanggal 17 September 2016.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "U.S. Abuse of Iraqi Detainees at Abu Ghraib Prison". The American Journal of International Law. 98 (3): 591–596. Juli 2004. doi:10.2307/3181656. JSTOR 3181656. S2CID 229167851.
- ↑ General (Dept. of the Army), Inspector (2004). Detainee Operations Inspection. Diane Publishing. hlm. 23–24. ISBN 1-4289-1031-X.
- ↑ "Detention | Costs of War". The Costs of War (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Desember 2022.
- 1 2 Hersh 2004, hlm. 20–21.
- ↑ Hersh 2004, hlm. 22.
- ↑ Schooner, Steven L. (2005). "Contractor Atrocities at Abu Ghraib: Compromised Accountability in a Streamlined, Outsourced Government". Policy Review. 16: 25. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2017. Diakses tanggal 12 Juli 2018.
- 1 2 "Iraq: Human rights must be foundation for rebuilding" (PDF). Amnesty International. 20 Juni 2003. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2016. Diakses tanggal 6 Februari 2016.
- ↑ "Iraq: Continuing failure to uphold human rights" (PDF). Amnesty International. 23 Juli 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2016. Diakses tanggal 6 Februari 2016.
- 1 2 Hanley, Charles J. (1 November 2003). "AP Enterprise: Former Iraqi detainees tell of riots, punishment in the sun, good Americans and pitiless ones". The San Diego Union-Tribune. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Mei 2014. Diakses tanggal 22 April 2014.
- ↑ Sjoberg, Laura; Gentry, Caron E. (2007). Mothers, Monsters, Whores. New York, USA: Zed Books. hlm. 58–87. ISBN 978-1-84277-866-1.
- 1 2 3 Smeulers, Alette; van Niekirk, Sander (2009). "Abu Ghraib and the War on Terror - A case against Donald Rumsfeld?" (PDF). Crime, Law and Social Change. 51 (3–4): 327–349. doi:10.1007/s10611-008-9160-2. S2CID 145710956.
After the pictures were published the Bush administration was quick to condemn the abuse and accuse the low ranking soldiers who featured in the pictures. Secretary of Defense Rumsfeld described the abuse at Abu Ghraib as an isolated case and President Bush talked about: 'disgraceful conduct by a few American troops who dishonoured our country and disregarded our values.' The abuse however did not constitute isolated cases but represented further proof of a widespread pattern.
- ↑ Greenberg & Dretel 2005, hlm. xiii.
- ↑ "Request for Guidance regarding OGC EC, dated 5/19/04" (PDF). 19 Mei 2004. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2013. Diakses tanggal 4 Desember 2016.
- ↑ "American Civil Liberties Union: ACLU Interested Persons Memo on FBI documents concerning detainee abuse at Guantanamo Bay". ACLU. 12 Juli 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Oktober 2009. Diakses tanggal 3 April 2012.
- ↑ Smith, R. Jeffrey; White, Josh (12 Juni 2004). "General Granted Latitude At Prison". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Agustus 2007.
- ↑ "Wrong advice blamed for US abuse". BBC News Americas. London: British Broadcasting Corporation. 17 Juni 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Januari 2007. Diakses tanggal 3 Februari 2007.
most defendants say they were following orders.
- ↑ "US memo shows Iraq jail methods". BBC News Americas. London: British Broadcasting Corporation. 30 Maret 2005. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Mei 2006. Diakses tanggal 3 Februari 2007.
The top US general in Iraq authorised interrogation techniques including the use of dogs, stress positions and disorientation, a memo has shown.
- ↑ Worden, Leon (2 Juli 2004). "Karpinski: Rumsfeld OK'd Methods at Abu Ghraib". Santa Clarita Valley Historical Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juli 2004. Diakses tanggal 4 Juli 2004.
- ↑ "Rumsfeld approved Iraq interrogation methods: report". abc.net.au. Reuters. 15 Mei 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2016. Diakses tanggal 17 September 2016.
- 1 2 3 "Rumsfeld okayed abuses says former U.S. general". Reuters. 25 November 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2016. Diakses tanggal 17 September 2016.
- ↑ "Accountability for U.S. Torture: Germany". CCR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Mei 2015. Diakses tanggal 31 Maret 2014.
- ↑ "Rumsfeld okayed abuses says former U.S. Army general". AlertNet. Reuters News. 30 Maret 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2008. Diakses tanggal 3 April 2012.
- ↑ "German Court War Crimes Litigation Against Donald Rumsfeld". Class Action World. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 April 2014. Diakses tanggal 31 Maret 2014.
- ↑ "German Case Again Donald Rumsfeld filed by CCR". Center for Constitutional Rights. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Mei 2015. Diakses tanggal 31 Maret 2014.
- 1 2 Mayer, Jane (November 14, 2005). "A Deadly Interrogation: Can the C.I.A. legally kill a prisoner?". The New Yorker. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 2, 2014. Diakses tanggal September 16, 2014.
- ↑ Perry, Tony (May 28, 2005). "SEAL Officer Not Guilty of Assaulting Iraqi". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 5, 2009. Diakses tanggal January 28, 2009.
- ↑ McChesney, John (October 27, 2005). "The Death of an Iraqi Prisoner". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 19, 2013. Diakses tanggal January 25, 2013.
- ↑ Shane, Scott (August 30, 2012). "No Charges Filed on Harsh Tactics Used by the C.I.A." The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 22, 2019. Diakses tanggal January 25, 2013.
- ↑ Otterman, Sharon. "Did the mistreatment of Iraqi prisoners at Abu Ghraib amount to torture?". Council on Foreign Relations. Diakses tanggal 17 June 2024.
- ↑ Taguba, Antonio (May 2004). "The "Taguba Report" On Treatment Of Abu Ghraib Prisoners In Iraq". Findlaw.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 13, 2007. Diakses tanggal March 27, 2007.
- 1 2 3 4 5 6 Gardham, Duncan; Cruickshank, Paul (May 28, 2009). "Abu Ghraib abuse photos 'show rape'". The Daily Telegraph. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 25, 2014. Diakses tanggal April 13, 2021.
- 1 2 3 Higham, Scott; Stephens, Joe (May 21, 2004). "New Details of Prison Abuse Emerge". The Washington Post. hlm. A01. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 20, 2011. Diakses tanggal September 19, 2011.
Hilas also said he witnessed an Army translator having sex with a boy at the prison.
- ↑ Harding, Luke (September 20, 2004). "After Abu Ghraib". The Guardian. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 31, 2016.
- ↑ Harding, Luke (May 12, 2004). "Focus shifts to jail abuse of women". The Guardian. florida. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 31, 2016.
- ↑ Tencer, Daniel (September 11, 2010). "Journalist: Women raped at Abu Ghraib were later 'honor killed'". Raw Story. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 29, 2014. Diakses tanggal July 23, 2014.
- ↑ Hersh, Seymour; Sealey, Geraldine (July 15, 2004). "Hersh: Children sodomized at Abu Ghraib, on tape". Salon. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 17, 2014. Diakses tanggal December 15, 2014.
- ↑ Kate Zernike (January 12, 2005). "Detainees Depict Abuses by Guard in Prison in Iraq". The New York Times.
- ↑ Chamberlain, Gethin (May 13, 2004). "Chilling new evidence of the brutal regime at Iraqi prison". The Scotsman. Edinburgh. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 2, 2014.
- ↑ Redeker, Bill (January 7, 2006). "Former Iraqi Prisoners Recount Abuse – Former Iraqi Prisoners Recount Mistreatment by U.S. Soldiers". ABC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 4, 2008. Diakses tanggal July 19, 2008.
- ↑ "Red Cross saw 'widespread abuse'". BBC News. May 8, 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 22, 2004.
- ↑ Worthington, Andy. "Andy Worthington's Interview about Guantánamo and Torture for Columbia University's Rule of Law Oral History Project". andyworthington.co.uk (Interview). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 11, 2021. Diakses tanggal April 13, 2021.
- ↑ Leigh, David (May 8, 2004). "UK forces taught torture methods". The Guardian. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 30, 2004.
- ↑ McCoy, Alfred W. (2006). A Question of Torture: CIA Interrogation, from the Cold War to the War on Terror. Holt. ISBN 9781429900683.
- ↑ Adams, Phillip (March 16, 2006). "A Question of Torture: CIA Interrogation, From the Cold War to the War on Terror". Late Night Live. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 13, 2012. Diakses tanggal August 20, 2018.
- 1 2 3 4 Scott A. Allen; Josiah D. Rich; Robert C. Bux; Bassina Farbenblum; Matthew Berns; Leonard Rubenstein (December 5, 2006). "Deaths of Detainees in the Custody of US Forces in Iraq and Afghanistan From 2002 to 2005". Medscape General Medicine. 8 (4): 46. PMC 1868355. PMID 17415327.
- ↑ Doyle, Robert C. (2010). The Enemy in Our Hands: America's Treatment of Prisoners of War from the Revolution to the War on Terror. University Press of Kentucky. hlm. 319. ISBN 978-0813139616.
- ↑ Zagorin, Adam (May 18, 2007). "Shell-Shocked at Abu Ghraib?". Time. Diakses tanggal April 13, 2021.
- ↑ Hanley, Charles J. (November 1, 2003). "AP Enterprise: Former Iraqi detainees tell of riots, punishment in the sun, good Americans and pitiless ones". The San Diego Union-Tribune. Diarsipkan dari asli tanggal February 22, 2014. Diakses tanggal June 15, 2013.
- 1 2 Hanley, Charles J. (May 9, 2004). "Early accounts of extensive Iraq abuse met U.S. silence". Southeast Missourian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 1, 2013. Diakses tanggal June 15, 2013.
- ↑ Mitchell, Greg (May 8, 2008). "Four Years Later: Why Did It Take So Long for the Press to Break Abu Ghraib Story?". Editor & Publisher. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 21, 2014. Diakses tanggal June 15, 2013.
- ↑ Getler, Michael (May 9, 2004). "The Images Are Getting Darker". The Washington Post. Diakses tanggal April 13, 2021.
- ↑ Shanker, Thom (March 21, 2004). "The Struggle for Iraq: The Military; 6 G.I.'s in Iraq Are Charged With Abuse Of Prisoners". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2015. Diakses tanggal February 18, 2017.
- ↑ England, Lynndie (17 Maret 2008). "Transkrip wawancara berbahasa Inggris dengan Lynndie England, Maret 2008". Stern (Interview). Diwawancarai oleh Michael Streck; Jan-Christoph Wiechmann. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 April 2008. Diakses tanggal 25 Maret 2008.
- 1 2 3 4 5 Leung, Rebecca (27 April 2004). "Abuse Of Iraqi POWs By GIs Probed". CBS News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Februari 2007.
- 1 2 "ZNet |Iraq | Abu Ghraib". Zmag.org. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Juli 2009. Diakses tanggal 3 April 2012.
- 1 2 Shane, Scott (1 Mei 2004). "Soldier's diary details wider abuse at prison". The Baltimore Sun. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Juni 2015. Diakses tanggal 5 Maret 2013.
- ↑ Moore, Matthew (15 Februari 2006). "The photos America doesn't want seen". Sydney Morning Herald. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 April 2012. Diakses tanggal 3 April 2012.
- ↑ "Anger at Abu Ghraib photos". news.com.au. Agence France-Presse, AAP, Reuters. 16 Februari 2006. Diarsipkan dari asli tanggal 7 November 2007.
- 1 2 "Abu Ghraib Files". Salon.com. 14 Maret 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2011. Diakses tanggal 3 April 2012.
- ↑ "Report of the International Committee of the Red Cross (ICRC) on the Treatment by the Coalition Forces of Prisoners of War and Other Protected Persons by the Geneva Conventions in Iraq During Arrest, Internment and Interrogation (section 3.1)" (PDF). International Committee of the Red Cross. February 2004. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal May 13, 2008.
- ↑ Gellman, Barton; Becker, Jo (15 Januari 2014). "Pushing the Envelope on Presidential Power". The Washington Post. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Maret 2016. Diakses tanggal 16 September 2016.
- ↑ "Bush 'sorry' for abuse of Iraqi prisoners". CNN. 7 Mei 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Januari 2008. Diakses tanggal 17 September 2019.
- ↑ "Rumsfeld Apologizes to Iraqis Abused by U. S. Soldiers, May 7, 2004". United States Diplomatic Mission to Italy. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2006. Diakses tanggal 5 Agustus 2013.
- ↑ "Iraq prisoner abuse 'un-American,' says Rumsfeld". The Washington Times. 7 Mei 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juni 2007. Diakses tanggal 3 April 2012 – via Associated Press.
- ↑ Adam Hochschild (23 Mei 2004). "What's in a Word? Torture". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Juli 2009.
- ↑ "Rumsfeld: Worst Still To Come". CBS News. 8 Mei 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juni 2006. Diakses tanggal 13 April 2021.
- ↑ Hodge, Roger D. (18 Mei 2004). "Weekly Review". Harper's Magazine. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Oktober 2006. Diakses tanggal 3 April 2012.
- ↑ "US soldier 'photographed having sex'". Irish Examiner. 13 Mei 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 30 Mei 2004. Diakses tanggal 12 April 2021.
- ↑ "New abuse photos are 'even worse'". BBC News. 14 Juli 2014. Diakses tanggal 13 April 2021.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Seymour M. Hersh (2004). Chain of Command: The Road from 9/11 to Abu Ghraib. New York: Harper Collins. ISBN 0-06-019591-6.
- Master Sargeant Michael Clemens, Special Investigator (2010). The Secrets of Abu Ghraib Revealed: American Soldiers on Trial. Dulles, Virginia: Potomac Books. ISBN 978-1-59797-441-7.
- McChrystal, Stanley A. (2013). My share of the task: A memoir. Penguin. ISBN 978-1-59184-475-4.
- Greenberg, Karen J.; Dretel, Joshua L. (2005). The Torture Papers: The Road to Abu Ghraib. Cambridge University Press. ISBN 9780521853248.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Tucker, Bruce and Sia Triantafyllos (2008). "Lynndie England, Abu Ghraib, and the New Imperialism". Canadian Review of American Studies. 38 (1): 83–100. doi:10.3138/cras.38.1.83.
- Clemens, Michael (2010). The Secrets of Abu Ghraib Revealed: American Soldiers on Trial. Potomac Books. ISBN 978-1-59797-441-7. Diarsipkan dari asli tanggal October 1, 2011. Diakses tanggal May 31, 2010.
- Zimbardo, Philip (2007). The Lucifer effect: How good people turn evil. Rider. ISBN 978-1-84604-103-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 19, 2008. Diakses tanggal January 11, 2009.
- Meštrović, Stjepan (January 8, 2016). The Trials of Abu Ghraib: An Expert Witness Account of Shame and Honor. ISBN 9781317250111.
- Markovitz, Jonathan (June 2011). "New Media and Abu Ghraib". Racial Spectacles: Explorations in Media, Race, and Justice. ISBN 9781136911262.
- U.S. government documents related to Abu Ghraib
- Zimbardo, Philip (January 19, 2005). "You can't be a sweet cucumber in a vinegar barrel" (Interview).
'When you put that set of horrendous work conditions and external factors together, it creates an evil barrel,' writes the eminent situationist psychologist Philip Zimbardo, known for his famous Stanford Prison Experiment in the early 70s.
- Moise, Edwin. "Bibliography: Iraq Wars: Prisons and Prisoner Abuse" – via clemson.edu.
- Gourevitch, Philip; Errol Morris (2008). The Ballad of Abu Ghraib. Penguin Books. ISBN 978-0-14-311539-7.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media tentang Abu Ghraib prisoner abuse di Wikimedia Commons- "Introduction: The Abu Ghraib files". Salon.com. March 14, 2006.
- "Dateline, Abu Ghraib – The Sequel (Transcript)". Dateline. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 31, 2006 – via sbs.com.au.
- The Torture Archive at The National Security Archive
- Templat:JURISTtopic
- "The Road to Abu Ghraib". Human Rights Watch. June 9, 2004. Diakses tanggal April 14, 2021.
- Artikel yang kekurangan referensi yang dapat diandalkan Juli 2024
- Penyiksaan dan pelecehan tahanan Abu Ghraib
- Kontroversi pemerintahan George W. Bush
- Skandal penyalahgunaan tahanan militer
- Fotografi di Irak
- Kejahatan perang Amerika Serikat
- Kejahatan perang di Irak
- Kekerasan seksual masa perang
- Pelecehan seksual
- Penyiksaan
- Perang kotor
- Pelanggaran HAM di Irak
- Penyiksaan di Amerika Serikat