Penyelesaian masalah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Penyelesaian masalah merupakan proses menemukan alternatif jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Proses ini berlangsung selama rentang kehidupan sehingga kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan sejak kecil.

Penyelesaian atau pemecahan masalah adalah usaha mencari penjelasan dan jawaban dari setiap masalah yang dihadapi. Penyelesaian masalah atau problem solving, menurut istilah adalah proses penyelesaian suatu permasalahan atau kejadian melalui berbagai upaya pemilihan dari beberapa alternatif atau opsi yang mendekati kebenaran atau dianggap benar untuk suatu tujuan tertentu.[1]

Pemecahan masalah merupakan bagian dari proses berpikir. Sesuai dengan pernyataan Marzano dkk. mengungkapkan bahwa pemecahan masalah adalah salah satu bagian dari proses berpikir yang berupa kemampuan untuk memecahkan persoalan. Terminologi penyelesaian masalah digunakan secara ekstensif dalam psikologi kognitif yakni bertujuan untuk mendeskripsikan "semua bentuk dari kesadaran, pengertian, atau kognisi".[2] Kemampuan penyelesaian masalah ering dianggap merupakan proses paling kompleks di antara semua fungsi kecerdasan. Pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan-keterampilan dasar. Proses ini terjadi jika suatu makhluk hidup atau sistem kecerdasan buatan tidak mengetahui bagaimana untuk bertindak dari suatu kondisi awal menuju kondisi yang dituju.

Keterampilan pemecahan masalah bisa diajarkan kepada orang yang mengidap cedera otak menggunakan langkah-langkah berpikir atau bernalar, tetapi membutuhkan penanganan dan metode khusus. Hal ini tentunya harus disertai dengan motivasi pasien.[3] Dengan demikian, kemampuan dalam menyelesaikan masalah dapat dikembangkan secara sistematis dan bertahap untuk membentuk kemampuan hingga mencapai target yang diharapkan.

Definisi dan penyebab timbulnya masalah[sunting | sunting sumber]

Masalah adalah suatu situasi stimulus yang didapati seseorang ketika mereka tidak siap menghadapinya, sehingga mereka tidak bisa merespons situasi tersebut dengan cepat.[4] Sementara itu, para ahli mendefinisikan masalah sebagai situasi yang tidak biasa ditemui. Masalah juga dapat didefinisikan sebagai situasi di mana terdapat perbedaan antara keadaan awal dan keadaan tujuan sehingga tidak ada solusi instan yang dapat digunakan langsung untuk menyelesaikan hal tersebut.[5] Adapun masalah ditentukan oleh berbagai faktor penyebab.

Faktor terjadinya masalah adalah sebagai berikut.

Potret kemiskinan yang merupakan salah satu faktor penyebab timbulnya masalah sosial dari bidang ekonomi. Permasalahan ini dapat merembet pada faktor lainnya seperti biologis dan psikologis.

1. Faktor Ekonomi

Masalah sosial yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang biasanya berupa pengangguran, kemiskinan, dan yang lainnya. Kemiskinan dan pengangguran yang disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Faktor ekonomi juga dapat dijadikan sebagai acuan maju atau tidaknya suatu negara, serta faktor ekonomi dapat memengaruhi masalah sosial politik pada aspek psikologis dan biologis masyarakat.[6]

2. Faktor Budaya

Budaya yang semakin berkembang dalam masyarakat memiliki peran penting dalam kehidupan. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah sosial. Salah satu contohnya, seperti pada pernikahan usia dini, kawin cerai, dan masih banyak yang lainnya. Masalah sosial yang disebabkan oleh faktor budaya dipicu karena adanya ketidaksesuaian pelaksanaan norma, nilai, dan kepentingan sosial akibat adanya proses perubahan sosial dan pola masyarakat yang heterogen atau multikultural.[6]

3. Faktor Biologis

Faktor ini bisa menyebabkan timbulnya sebuah masalah sosial misalnya seperti kurang gizi, penyakit menular, dan lain sebagainya.[6] Hal ini dapat terjadi karena kurangnya fasilitas kesehatan yang layak sehingga kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan tidak terpenuhi. Selain itu, faktor biologis juga bisa terjadi karena kondisi ekonomi dan pendidikan masyarakat yang masih rendah sehingga mempengaruhi kesehatan fisiologis dan biologisnya.

4. Faktor Psikologis

Faktor ini berhubungan dengan masalah pola pikir suatu masyarakat atau pribadi tertentu yang bersinggungan dengan tatanan kehidupan sosial yang ada.[6] Masalah seperti ini bisa muncul apabila psikologis sebuah masyarakat sangat lemah. Faktor psikologis juga bisa muncul apabila adanya beban hidup yang sangat berat. Hal ini cenderung dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Banyaknya pekerjaan yang menumpuk dapat menimbulkan stress sehingga dapat menimbulkan luapan emosi hingga mampu memicu sebuah konflik di antara anggota masyarakat.

Penyelesaian masalah dalam berbagai kajian ilmu[sunting | sunting sumber]

Psikologi[sunting | sunting sumber]

Pemecahan masalah dalam psikologi mengacu pada proses menemukan solusi untuk masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Keefektifan penyelesaian masalah dapat dikembangkan melalui restukturisasi kognitif dan pelatihan dalam kemampuan bersosial.[7] Para ahli profesional kesehatan mental mempelajari proses pemecahan masalah manusia menggunakan metode seperti introspeksi, behaviorisme, simulasi, pemodelan komputer, dan eksperimen. Psikolog sosial melihat ke dalam aspek hubungan orang-lingkungan dari masalah dan metode pemecahan masalah yang independen dan saling bergantung.[8] Pemecahan masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi dan fungsi intelektual yang membutuhkan modulasi dan kontrol keterampilan yang lebih sederhana atau mendasar.[9]

Pemecahan masalah memiliki dua domain utama: pemecahan masalah matematis dan pemecahan masalah pribadi. Keduanya dilihat dari beberapa kesulitan atau hambatan yang dihadapi.[10] Penelitian empiris menunjukkan terdapat banyak strategi dan faktor yang berbeda dalam memengaruhi pemecahan masalah sehari-hari.[11][12] Istilah pemecahan masalah sosial mengacu pada proses pemecahan masalah seperti yang terjadi di lingkungan alam atau "dunia nyata". Oleh karena itu, studi tentang pemecahan masalah sosial berkaitan dengan semua jenis masalah yang mungkin memengaruhi fungsi seseorang, termasuk masalah impersonal (misalnya, kekurangan finansial atau menjadi korban pencurian), masalah pribadi atau intrapersonal (emosional, perilaku, kognitif, atau masalah kesehatan), masalah interpersonal (misalnya, konflik perkawinan atau perselisihan keluarga), serta masalah masyarakat sekitar hingga yang lebih luas (misalnya, kejahatan atau diskriminasi rasial).[13]

Ilmu kognitif[sunting | sunting sumber]

Dalam ilmu kognitif, pemecahan masalah dipahami sebagai kegiatan mencari penjelasan yang diarahkan pada tujuan pada berbagai kemungkinan solusi yang dirasakan dalam domain tertentu yang disebut "ruang masalah."[14] Pemikiran akan ruang masalah seperti itu dianggap dapat dilakukan dalam simulasi upaya pemecahan masalah bagi pemula, di mana mereka masih memiliki sedikit pengalaman dalam mencoba memecahkan masalah baru. Namun, hal ini tidak dapat digunakan secara sederhana dalam menjelaskan bagaimana para ahli seperti master catur, fisikawan atau desainer, yang memiliki pengetahuan menyeluruh dan pemahaman sistematis dapat memecahkan masalah sulit di bidang keahlian mereka.[14]

Banyak ahli mendeskripsikan pemecahan masalah dan proses pembentukan pemikiran sebagai kemampuan struktur dan proses mental yang kompleks, biasanya yang istimewa untuk masalah tertentu dan tidak mudah digeneralisasi dari satu domain masalah ke domain lainnya.[14] Hal ini berarti bahwa pemecahan masalah biasanya spesifik untuk masalah tententu.

Namun, pengalaman dalam memecahkan masalah terdahulu dapat dijadikan acuan dalam menyelesaikan masalah lainnya yang serupa. Hal ini karena proses kognitif yang mendasari penyelesaian masalah teoritis di dalam laboratorium dapat mewakili proses kognitif pada pemecahan masalah yang "nyata". Oleh karena itu, masalah teoritis digunakan agar lebih mudah dipahami dan dianggap dapat menyederhanakan masalah yang lebih kompleks. Walau kemudian disadari jika masalah teoretis tersebut tidak dapat digunakan untuk menyederhanakan masalah pada keadaan sesungguhnya yang lebih kompleks.[15]

Ilmu komputer[sunting | sunting sumber]

Ilmu komputer adalah studi tentang masalah, pemecahan masalah, dan solusi yang dipilih melalui proses pemecahan masalah. Ketika terdapat masalah, ilmuwan komputer berusaha untuk  mengembangkan algoritme, yakni prosedur berupa langkah-langkah untuk memecahkan setiap masalah yang mungkin muncul. Algoritme adalah proses bertahap yang jika diikuti akan menyelesaikan masalah, dapat disebut juga sebuah solusi.[16]

Penting untuk disebutkan bahwa komputer itu sendiri tidak dapat memecahkan masalah. Petunjuk langkah demi langkah yang tepat harus diberikan untuk memecahkan masalah. Dengan demikian, keberhasilan komputer dalam memecahkan masalah tergantung pada seberapa benar dan tepat para ahli komputer mendefinisikan masalah, merancang solusi (algoritme) dan mengimplementasikan solusi (program) menggunakan bahasa pemrograman. Jadi, pemecahan masalah dalam ilmu komputer adalah proses mengidentifikasi masalah, mengembangkan algoritme untuk masalah yang diidentifikasi dan akhirnya menerapkan algoritme untuk mengembangkan program komputer.[17]

Tahapan penyelesaian masalah[sunting | sunting sumber]

Salah satu siklus yang dapat digunakan sebagai proses pemecahan masalah.

Dalam menyelesaikan masalah, terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan, Adapun menurut J.Dewey[18] tahapan penyelesaian masalah tersebut antara lain:

Merumuskan masalah[sunting | sunting sumber]

Tahap pertama yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah adalah untuk mengidentifikasi masalah. Tahapan identifikasi masalah ini dapat dilakukan menggunakan kegiatan brain storming. Adapun kemampuan yang diperlukan pada tahap ini adalah mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas.[18] Tahap ini merupakan hal yang penting karena seseorang cenderung tidak menyadari masalah utama yang mereka hadapi. Hal ini terkadang dapat berpengaruh pada tahap selanjutnya yang tidak maksimal.

Menelaah masalah[sunting | sunting sumber]

Setelah mengetahui dan merumuskan masalah, tahap selanjutnya adalah menelaah atau mendiagnosis masalah. Pada tahap ini pengetahuan yang dimiliki sangat diperlukan untuk dapat memerinci dan menganalisa masalah dari berbagai sudut pandang.[18]

Merumuskan hipotesis[sunting | sunting sumber]

Tahapan selanjutnya adalah merumuskan hipotesis atau alternatif strategi penyelesaian masalah. Pada tahap ini, seseorang dituntut untuk berpikir secara kreatif, divergen, menghayati setiap ruang lingkup dan sebab akibat untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian.[18]

Mengumpulkan data[sunting | sunting sumber]

Dalam mengumpulkan data dibutuhkan kecakapan mencari dan menyusun data, kemudian menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar, atau tabel.[18] Hal ini dapat memudahkan untuk mengelompokkan dan menggunakan data pada tahap selanjutnya.

Membuktikan hipotesis[sunting | sunting sumber]

Tahapan berikutnya adalah membuktikan hipotesis menggunakan data yang sudah dikumpulkan. Kemampuan yang diperlukan pada tahap ini adalah menelaag dan membahas data. Selanjutnya menghubungkan serta mengambil keputusan hingga merumuskan kesimpulan adalah kemampuan yang diperlukan.[18]

Menentukan pilihan penyelesaian[sunting | sunting sumber]

Pada tahap akhir dari proses penyelesaian masalah adalah menentukan pilihan penyelesaian. Pilihan penyelesaian ini berdasarkan alternatif pilihan yang telah dirumuskan dan didukung dengan hasil dari pembuktian hipotesis yang telah dilakukan. Pada tahap ini dibutuhkan kecakapan dalam membuat alternatif penyelesaian dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.[18] Tahap selanjutnya seteleh menentukan penyelesaian adalah mengimplementasikan pemikiran menjadi sebuah aksi nyata.

Keseluruhan tahapan ini disebut sebagai sebuah siklus yang berulang. Di mana ketika sudah sampai tahap menentukan pilihan kemudian diimplementasikan dan dilihat kembali solusi tersebut apakah berfungsi atau tidak. Apabila hasilnya tidak maksimal dan masalah tidak terselesaikan dengan baik, maka harus diperhatikan kembali pada tahap 1 yakni identifikasi masalah. Dengan demikian siklus kembali berlanjut hingga sampai pada solusi yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah.[19]

Pada proses pencarian alternatif solusi terkadang diperlukan wawasan sebagai sudut pandang dalam menentukan jawaban. Wawasan atau insight adalah solusi tiba-tiba untuk masalah lama, pengenalan ide baru yang muncul tiba-tiba, atau pemahaman yang tiba-tiba tentang situasi yang kompleks. Hal tersebut disebut pula sebagai momen Aha!. Solusi yang ditemukan melalui wawasan seringkali lebih akurat daripada yang ditemukan melalui analisis langkah demi langkah. Untuk memecahkan lebih banyak masalah pada tingkat yang lebih cepat, wawasan diperlukan untuk memilih langkah-langkah produktif pada berbagai tahap siklus pemecahan masalah. Strategi pemecahan masalah ini berkaitan secara khusus dengan masalah yang disebut sebagai masalah wawasan.[20]

Penyelesaian masalah sederhana dan kompleks[sunting | sunting sumber]

Pemecahan masalah kompleks (CPS) dapat dibedakan dari pemecahan masalah sederhana (SPS). Ketika berhadapan dengan SPS akan ditemui satu kendala sederhana yang terdapat di antara keadaan awal dan tujuan ingin dicapai. Namun, CPS dapat terdiri dari satu atau lebih kendala pada suatu waktu, berupa hambatan yang kompleksitas dan berubah secara dinamis dari waktu ke waktu. Dalam contoh kehidupan nyata, seorang ahli bedah di tempat kerja memiliki masalah yang jauh lebih kompleks daripada seorang individu yang memutuskan sepatu apa yang akan dipakai.[21] Dengan demikian dalam kehidupan, sangat mungkin ditemui penyelesaian masalah sederhana maupun kompleks.

Faktor yang memengaruhi penyelesaian masalah[sunting | sunting sumber]

Penyelesaian masalah merupakan salah satu keterampilan intelektual yang lebih tinggi dari keterampilan lainnya. Hal ini karena apabila dilihat dari aspek kognitifnya dalam memecahkan masalah tentunya diperlukan kemampuan atau keterampilan dasar tertentu. Kemampuan penyelesaian masalah ini bukan hanya sekedar pengetahuan dan pemahaman, akan tetapi sudah mencapai tingkatan analisis.[22]

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi penyelesaian masalah, diantaranya:

Faktor Internal[sunting | sunting sumber]

Faktor internal adalah faktor yang memengaruhi proses penyelesaian masalah dam berasal dari dalam diri seseorang.

Motivasi[sunting | sunting sumber]

Motivasi yang rendah akan mengalihkan perhatian seseorang sehingga mereka tidak fokus akan masalah yang dihadapinya. Sementara motivasi yang tinggi akan membatasi fleksibilitas seseorang.[1] Jika seseorang memfokuskan perhatiannya pada beragam masalah, maka tindakan menceburkan diri ke dalam masalah itu merupakan salah satu sebab membesarnya masalah. Melibatkan diri ke dalam masalah-masalah orang lain itu lebih buruk hasilnya dari yang diharapkan.[23]

Kepercayaan dan sikap yang salah[sunting | sunting sumber]

Asumsi yang salah dapat menyesatkan seseorang, selanjutnya rujukan yang tidak cermat dapat menghambat efektivitas penyelesaian masalah.[1] Sikap yang defensif, (misalnya, kurang kepercayaan pada diri sendiri), akan cenderung menolak informasi baru, merasionalisasikan kekeliruan, dan mempersukar penyelesaian.[23]

Kebiasaan[sunting | sunting sumber]

Kebiasaan dapat mendorong kecenderungan untuk mempertahankan pola pikir tertentu sehingga hanya melihat masalah hanya dari satu sisi.[1] Kebiasaan ini cenderung dibentuk berdasarkan aktivitas harian yang berulang dilakukan. Dengan demikian, mencari wawasan dan pengetahuan baru dapat mengembangkan pola pikir yang dapat membantu memandang masalah dari berbagai sudut pandang.

Emosi[sunting | sunting sumber]

Emosi dapat mewarnai cara berpikir seseorang sebagai manusia. Namun, ketika emosi sudah mencapai intesitas tinggi akan menyebabkan stress sehingga kesulitan untuk berpikir secara efisien.[1] Emosi juga akan mengurangi kemampuan mengantarkan kepada ketidakmampuan untuk bertindak dalam kondisi yang berbeda-beda, serta tidak mampu untuk menghadapi masalah-masalahnya atau berpikir jernih dalam mencari solusinya.[23]

Faktor Eksternal[sunting | sunting sumber]

Faktor eksternal siswa adalah faktor yang berasal dari luar siswa, yang meliputi lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.

Faktor lingkungan sosial adalah faktor yang meliputi keberadaan orang lain yang mendukung pembentukan proses penyelesaian masalah, misalnya para guru, staf administrasi, teman-teman, rekan kerja, keluarga, dan lainnya. Faktor nonsosial adalah faktor yang keberadaannya dan penggunaannya diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan belajar yang telah dirancang dan turut menentukan tingkat keberhasilan dalam belajar meliputi keberadaan gedung sekolah, tempat tinggal, alat-alat praktikum, perpustakaan, sarana prasarana dan lain-lain. Selain itu, khusus bagi siswa, model atau metode pembelajaran yang digunakan, lingkungan belajar yang diciptakan dan pemberian motivasi dari guru.[24]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Maulidya, Anita (2018). "BERPIKIR DAN PROBLEM SOLVING". Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 18. ISSN 2685-2209. 
  2. ^ Sulasmono, Bambang (2016). "PROBLEM SOLVING: SIGNIFIKANSI, PENGERTIAN, DAN RAGAMNYA". Satya Widya. 28 (2): 156–165. doi:10.24246/j.sw.2012.v28.i2.p155-166. 
  3. ^ Rath, Joseph; Simon, Dvorah; Langenbahn, Donna; Sherr, Rose Lynn; Diller, Leonard (2003). "Group treatment of problem‐solving deficits in outpatients with traumatic brain injury: A randomised outcome study". Neuropsychological Rehabilitation - NEUROPSYCHOL REHABIL. 13: 463. doi:10.1080/09602010343000039. 
  4. ^ Frensch, Peter; Funke, Joachim (1995). Complex Problem Solving—The European Perspective. New York: Lawrence Erlbaum Associates. hlm. 2–3. ISBN 0-8058-1336-5. 
  5. ^ Bransford, John D. (1993). The Ideal Problem Solver : A Guide for Improving Thinking, Learning, and Creativity (PDF). New York: W. H. Freeman and Company. hlm. 7–8. ISBN 0-7167-2205-4. 
  6. ^ a b c d BPMPK Kemdikbud (2016). "Faktor Penyebab Timbulnya Masalah Sosial". BPMPK Kemdikbud. Diakses tanggal 21 Desember 2021. 
  7. ^ Brandell, Jerrold R. (1997). Theory and Practice in Clinical Social Work (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. hlm. 189–190. ISBN 978-0-684-82765-0. 
  8. ^ Rubin, Mark; Watt, Susan; Ramelli (2012). "Immigrants' social integration as a function of approach-avoidance orientation and problem-solving style". International Journal of Intercultural Relations. 36: 3–4. doi:10.1016/j.ijintrel.2011.12.009. 
  9. ^ Saxena, Sumanlata (2014). "IMPACT OF COGNITIVE STYLE ON PROBLEM SOLVING ABILITY AMONG UNDERGRADUATES". International Journal of Human Resource Management and Research (IJHRMR). 4 (2): 59. ISSN 2249-7986. 
  10. ^ Zimmermann, Bernd. "On Mathematical Problem Solving Processes and History of Mathematics". University of Jena: 2–4. 
  11. ^ Margrett, Jennifer A.; Marsiske, Michael (2002). "Gender differences in older adults' everyday cognitive collaboration". International journal of behavioral development. 26 (1): 45–59. doi:10.1080/01650250143000319. ISSN 0165-0254. PMC 2909137alt=Dapat diakses gratis. PMID 20657668. 
  12. ^ Antonucci, Toni C.; Ajrouch, Kristine J.; Birditt, Kira S. (2014). "The Convoy Model: Explaining Social Relations From a Multidisciplinary Perspective". The Gerontologist. 54 (1): 82–92. doi:10.1093/geront/gnt118. ISSN 0016-9013. PMC 3894851alt=Dapat diakses gratis. PMID 24142914. 
  13. ^ D'Zurilla, Thomas; Nezu, Arthur; Maydeu-Olivares, Alberto (2004). Social Problem Solving: Theory and Assessment. hlm. 11. doi:10.1037/10805-001. 
  14. ^ a b c Wertheimer, Michael (1996). "A Contemporary Perspective on the Psychology of Productive Thinking" (PDF). Resume The Annual Meeting of the American Psychological Association: 10–11. 
  15. ^ Funke, Joachim; Frensch, Peter (1995). "Complex problem solving research in North America and Europe: An integrative review". Foreign Psychology. 5: 2. 
  16. ^ Runestone Academy. "1.3. What Is Computer Science? — Problem Solving with Algorithms and Data Structures". runestone.academy. Diakses tanggal 2021-12-21. 
  17. ^ Tim Penyusun Shiksha Kendra. Computer Science - Class XI (PDF). Delhi: Central Board of Secondary Education Shiksha Kendra. hlm. 61. 
  18. ^ a b c d e f g Winarso, Widodo (2014). "Problem Solving, Creativity dan Decision Making Dalam Pembelajaran Matematika" (PDF). EduMa. 3 (1): 6–7. ISSN 2086-3918. 
  19. ^ Aken, Joan Ernst van; Berends, Hans (2018). Problem Solving in Organizations (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 13. ISBN 978-1-108-41626-9. 
  20. ^ Ash, Ivan; Jee, Benjamin; Wiley, Jennifer (2012-05-11). "Investigating Insight as Sudden Learning". The Journal of Problem Solving. 4 (2): 2. doi:10.7771/1932-6246.1123. ISSN 1932-6246. 
  21. ^ Funke, Joachim (2012-01-01). Complex Problem Solving. Springer. hlm. 682–685. ISBN 978-1-4419-1427-9. 
  22. ^ Kudisyah, Siti Mila; Novarina, Eka; Lukman, Hamidah Suryani (2017). "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA KELAS X DI SMA NEGERI 2 KOTA SUKABUMI" (PDF). Seminar Nasional Pendidikan (111-112). ISBN 978-602-50088-0-1. 
  23. ^ a b c Hidayati, Arini (2010). PENGARUH POSITIVE THINKING TERHADAP KEMAMPUAN MENYELESAIKAN MASALAH (PROBLEM SOLVING) PADA SISWA KELAS II MADRASAH ALIYAH MA’ARIF CEPOGO, BOYOLALI TAHUN 2010. Salatiga: STAIN Salatiga. hlm. 32–35. 
  24. ^ Hanifa, Nur Isnaini (2018). "ANALISIS KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA KELAS X IPA PADA MATERI PERUBAHAN LINGKUNGAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA". Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi. 2 (2): 124. ISSN 2579-7352.