Penguntitan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Penguntitan adalah pengawasan yang tidak diinginkan dan/atau berulang oleh individu atau kelompok terhadap orang lain.[1] Perilaku menguntit terkait dengan pelecehan dan intimidasi dan mungkin termasuk mengikuti korban secara langsung atau memantau mereka. Istilah penguntitan (bahasa Inggris: stalking) digunakan dengan beberapa definisi berbeda dalam psikiatri dan psikologi, serta dalam beberapa yurisdiksi hukum sebagai istilah untuk tindak pidana.[2][3]

Menurut laporan tahun 2002 oleh Pusat Korban Kejahatan Nasional AS, "kontak apapun yang tidak diinginkan antara dua orang yang secara langsung atau tidak langsung mengomunikasikan ancaman atau menempatkan korban dalam ketakutan dapat dianggap penguntitan",[4] walaupun dalam praktiknya standar hukum biasanya lebih ketat dari definisi tersebut.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Kesulitan yang terkait dengan pendefinisian istilah ini secara tepat (atau bahkan sekadar mendefinisikan) didokumentasikan dengan baik.[5]

Telah digunakan setidaknya sejak abad ke-16 untuk merujuk pada pencuri atau pemburu (menurut Oxford English Dictionary), istilah penguntit pada awalnya digunakan oleh media di abad ke-20 untuk menggambarkan orang yang mengganggu dan melecehkan orang lain, awalnya dengan referensi khusus ke pelecehan terhadap selebritas oleh orang asing yang "terobsesi".[6] Penggunaan kata ini tampaknya diciptakan oleh pers tabloid di Amerika Serikat.[7] Seiring berjalannya waktu, makna penguntitan berubah dan memasukkan definisi "individu yang dilecehkan oleh mantan pasangan mereka".[8] Pathé dan Mullen menggambarkan penguntitan sebagai "konstelasi perilaku ketika seorang individu menimbulkan gangguan dan komunikasi berulang yang tidak diinginkan".[9] Penguntitan dapat didefinisikan sebagai tindakan mengikuti, menonton atau melecehkan orang lain yang disengaja dan berulang-ulang. Tidak seperti kejahatan lain, yang biasanya melibatkan satu tindakan, penguntitan adalah serangkaian tindakan yang terjadi selama periode waktu tertentu.

Meskipun penguntitan adalah tindakan ilegal di sebagian besar wilayah dunia, beberapa tindakan yang berkontribusi terhadap penguntitan mungkin legal, seperti mengumpulkan informasi, menelepon seseorang di telepon, mengirim SMS, mengirim hadiah, mengirim email, atau mengirim pesan instan. Tindakan seperti itu menjadi ilegal ketika melanggar definisi hukum pelecehan (misalnya, tindakan seperti mengirim teks biasanya tidak ilegal, tetapi ilegal ketika sering diulangi ke penerima yang tidak berkenan dikirimi). Faktanya, hukum Inggris menyatakan bahwa pelaku seharusnya menyadari tindakannya tidak dapat ditoleransi setelah dua kali pengulangan (misalnya, dua panggilan telepon ke orang asing, dua buah hadiah, mengikuti korban kemudian menelepon mereka, dll).[10]

Norma dan makna budaya memengaruhi cara mendefinisikan penguntitan. Para ahli mencatat bahwa mayoritas pria dan wanita mengakui bahwa mereka terlibat dalam berbagai perilaku seperti menguntit setelah putus, tetapi menghentikan perilaku seperti itu seiring berjalannya waktu, menunjukkan bahwa "keterlibatan dalam tingkat rendah dari perilaku pengejaran yang tidak diinginkan untuk waktu yang relatif singkat, terutama di konteks putus hubungan, mungkin [merupakan suatu fenomena] normatif untuk hubungan kencan heteroseksual yang terjadi dalam budaya AS."[11]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Spitzberg, Brian H.; Cupach, William R. (January–February 2007). "The state of the art of stalking: Taking stock of the emerging literature". Aggression and Violent Behavior (dalam bahasa Inggris). London, England: Elsevier. 12 (1): 64–86. doi:10.1016/j.avb.2006.05.001. ISSN 1359-1789. 
  2. ^ "State and Federal Stalking Laws". The Berkman Klein Center for Internet & Society at Harvard University. Diakses tanggal 5 July 2019. 
  3. ^ "18 U.S. Code § 2261A. Stalking". Legal Information Institute. Diakses tanggal 5 July 2019. 
  4. ^ National Center for Victims of Crime (Feb 2002). "Stalking Victimization". Office for Victims of Crime. 
  5. ^ Sheridan, L. P.; Blaauw, E. (2004). "Characteristics of False Stalking Reports". Criminal Justice and Behavior. SAGE Publications. 31: 55–72. doi:10.1177/0093854803259235. Given that stalking may often constitute no more than the targeted repetition of ostensibly ordinary or routine behavior, stalking is inherently difficult to define. 
  6. ^ Pathé, Michele; Mullen, Paul E.; Purcell, Rosemary (2000). Stalkers and Their Victims. Cambridge, England: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-66950-4. 
  7. ^ Lawson-Cruttenden. New Law Journal. LexisNexis. doi:10.1016/S1359-1789(02)00068-X.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  8. ^ Mullen, Paul E.; Pathé, Michele (January 1, 2002). "Stalking". Crime and Justice. Chicago, Illinois: University of Chicago Press. 29: 273–318. doi:10.1086/652222. JSTOR 1147710. 
  9. ^ Pathe, M.; Mullen, P. E. (1997). "The impact of stalkers on their victims". The British Journal of Psychiatry. London, England: Royal College of Psychiatrists. 170: 12–17. doi:10.1192/bjp.170.1.12. PMID 9068768. 
  10. ^ "Stalking". sexualharassmentsupport.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal August 19, 2010. Diakses tanggal 20 October 2010. 
  11. ^ Langhinrichsen-Rohling, Jennifer (March 1, 2011). "Gender and Stalking: Current Intersections and Future Directions". Sex Roles. New York City: Springer US. 66 (5–6): 418–426. doi:10.1007/s11199-011-0093-3.