Penggunaan alat pada hewan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Seekor gorila betina menggunakan tongkat untuk menyeimbangkan diri di rawa-rawa agar tangannya yang lain dapat mengambil tumbuhan-tumbuhan air.

Penggunaan alat pada hewan adalah perilaku yang dapat ditemui pada beberapa hewan ketika mereka menggunakan alat untuk mencari makan atau air, membersihkan diri, mempertahankan diri atau menyerang, bermain, atau membangun stuktur.

Penggunaan alat sebelumnya dianggap sebagai perilaku yang terbatas pada manusia,[1] tetapi contoh-contoh penggunaan alat oleh hewan mulai diterbitkan dalam buku-buku etologi pada tahun 1960an dan mengubah pemahaman mengenai kecerdasan hewan. Penggunaan alat pada hewan tidak hanya menunjukkan kemampuan yang dipelajari oleh hewan itu sendiri, tetapi kadang-kadang juga merupakan perilaku yang diprogram secara genetik.[2].

Menurut biolog Benjamin B. Beck, terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi untuk menentukan apakah suatu hewan dapat menggunakan alat:

  1. Objek tersebut harus terlepas dari substratnya dan harus berada di luar tubuh si pengguna
  2. Pengguna alat harus memegang atau mengenakan alat tersebut pada saat penggunaan atau tepat sebelumnya dan alat tersebut harus digunakan dengan benar untuk mencapai suatu tujuan
  3. Penggunaan alat harus memicu perubahan bentuk, posisi dan kondisi objek lain, organisme lain, atau si pengguna itu sendiri[3].

Ahli-ahli etologi membedakan alat dengan "proto-alat" yang didefinisikan sebagai suatu instrumen yang tidak terlepas dari lingkungannya atau tidak dimanipulasi secara fisik oleh hewan (seperti batu raksasa atau permukaan tanah yang keras).[4] Contoh dari proto-alat adalah burung-burung yang menjatuhkan kacang atau tulang ke batu (seperti hering berjanggut dan hering mesir). Beberapa hewan (terutama yang tinggal di penangkaran dan telah menjadi subjek percobaan) menggunakan "meta-alat", yaitu alat yang digunakan untuk membuat atau memperoleh alat lain.[5] Contohnya, simpanse dapat membuat suatu tongkat menjadi runcing untuk mengejar buruannya.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jacques Lecomte (2013). Les 30 notions de la psychologie. Dunod. hlm. 149. 
  2. ^ Jean-Pierre Jost (2015). La Communication et l'intelligence chez les animaux ou « Smart Faune ». Connaissances et Savoirs. hlm. 86. 
  3. ^ Robert W. Shumaker, Kristina R. Walkup, Benjamin B. Beck (2011). Animal Tool Behavior. The Use and Manufacture of Tools by Animals. JHU Press. hlm. 43. 
  4. ^ Jean-Pierre Jost (2015). La Communication et l'intelligence chez les animaux ou « Smart Faune ». Connaissances et Savoirs. hlm. 89. 
  5. ^ Jean-Pierre Jost (2015). La Communication et l'intelligence chez les animaux ou « Smart Faune ». Connaissances et Savoirs. hlm. 96. 
  6. ^ Jean-Pierre Jost (2015). La Communication et l'intelligence chez les animaux ou « Smart Faune ». Connaissances et Savoirs. hlm. 106.