Lompat ke isi

Penggambaran budaya Augustus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Penggambaran budaya Augustus mencakup representasi Augustus (63 SM–14 M), pendiri Kekaisaran Romawi dan kaisar Romawi pertama, dalam seni rupa, sastra, teater, musik, film, televisi, dan budaya populer. Sejak zaman kuno, citranya dipakai untuk menyampaikan gagasan mengenai kemenangan, perdamaian, legitimasi dinasti, kebajikan penguasa, dan kekuasaan kekaisaran. Dalam karya-karya kemudian, Augustus juga digambarkan secara lebih ambivalen sebagai pemimpin yang mengakhiri perang saudara sekaligus penguasa yang mengikis tatanan Republik Romawi.[1][2]

Augustus dikenal dengan sejumlah nama dalam sumber sejarah dan karya budaya. Representasi masa mudanya biasanya menyebutnya sebagai Oktavianus atau Oktavian, sedangkan nama Caesar dan Augustus lebih umum digunakan untuk masa setelah naiknya kekuasaan.[3] Ia sering tampil sebagai tokoh utama, tetapi juga hadir sebagai tokoh pendukung dalam karya mengenai Julius Caesar, Markus Antonius, Kleopatra VII, Livia Drusilla, dan anggota dinasti Julio-Klaudian lainnya.

Nama bulan Agustus

[sunting | sunting sumber]

Salah satu warisan budaya Augustus yang paling luas adalah nama bulan Agustus. Bulan kedelapan dalam kalender Romawi sebelumnya disebut Sextilis dan diubah namanya untuk menghormati Augustus pada 8 SM. Menurut Macrobius, bulan tersebut dipilih karena sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan kekuasaan Augustus, termasuk jatuhnya Aleksandria, berlangsung pada bulan itu.[4]

Cerita populer bahwa Augustus menambahkan satu hari agar panjang bulan Agustus menyamai bulan Juli tidak didukung sejarah kalender. Sextilis telah memiliki 31 hari sebelum namanya diubah. Cerita tersebut berasal dari tradisi abad pertengahan yang kemudian dikaitkan dengan Johannes de Sacrobosco.[5]

Seni rupa Romawi

[sunting | sunting sumber]

Potret resmi

[sunting | sunting sumber]

Augustus merupakan salah satu tokoh yang paling banyak digambarkan dalam seni rupa Romawi. Lebih dari 250 potret pahat dirinya diketahui masih bertahan, selain gambar pada uang logam, permata berukir, relief, medali kaca, dan patung kecil.[6] Banyaknya salinan dan variasi menunjukkan bahwa potret Augustus disebarluaskan secara sistematis ke berbagai wilayah kekaisaran.

Citra resmi Augustus biasanya memperlihatkan wajah tenang, muda, dan hampir tidak mengalami penuaan. Strategi visual ini membedakannya dari tradisi potret Republik akhir yang menonjolkan usia dan pengalaman melalui ciri-ciri wajah yang realistis. Roland R. R. Smith mengidentifikasi beberapa tipe utama potret Augustus dan menekankan bahwa keragaman bentuk tersebut tetap mempertahankan unsur visual yang dapat dikenali sebagai citra sang penguasa.[7]

Tipe yang paling dikenal adalah tipe Prima Porta, yang dikembangkan sekitar 27 SM ketika Senat menganugerahkan gelar Augustus kepadanya. Potret tipe ini menggambarkan seorang pemimpin berwajah muda dengan ekspresi terkendali, rambut tertata, dan kewibawaan yang tidak bergantung pada usia. Contohnya yang paling terkenal adalah Augustus dari Prima Porta, sedangkan Augustus Via Labicana menampilkan dirinya sebagai imam kepala dengan kepala tertutup toga.[8]

Tipe lain yang dibahas dalam penelitian arkeologi meliputi tipe Actium atau Alcúdia, Béziers–Spoleto, Forbes, dan Lucus Feroniae. Tipe Alcúdia diperkirakan muncul sekitar 40 SM, ketika Oktavianus mulai menggunakan sebutan Divi filius atau “putra seorang dewa”. Tipe tersebut menampilkan energi dan kemudaan yang sesuai dengan citra seorang pemimpin baru dalam konflik setelah pembunuhan Julius Caesar.[7]

Kameo dan benda berukir

[sunting | sunting sumber]

Lingkungan istana Augustus juga menghasilkan sejumlah kameo besar yang menggabungkan potret kekaisaran dengan atribut ilahi. Benda-benda ini kemungkinan ditujukan bagi kalangan elite dan keluarga istana karena menampilkan gagasan pendewaan yang lebih terbuka dibandingkan patung untuk ruang publik.[9]

Karya-karya terpenting meliputi:

  • Gemma Augustea, yang menggambarkan Augustus dalam suasana kemenangan dan berdekatan dengan dunia para dewa;
  • Kameo Besar Prancis, yang menampilkan anggota dinasti Julio-Klaudian;
  • Kameo Blacas, potret Augustus mengenakan aegis Minerva dan sabuk pedang;[10]
  • kameo Augustus yang kemudian digunakan kembali pada Salib Lothair pada Abad Pertengahan.

Sastra zaman Augustus

[sunting | sunting sumber]

Masa pemerintahan Augustus lama dipandang sebagai salah satu puncak sastra Latin dan sering disebut sebagai bagian dari “Zaman Keemasan” sastra Romawi. Perubahan politik dari republik menuju pemerintahan satu orang turut mengubah pola perlindungan terhadap penulis. Gaius Maecenas menjadi pelindung sejumlah penyair dan berperan sebagai penghubung antara lingkungan sastra dengan penguasa.[11]

Karya Vergilius, Horatius, Ovidius, dan Livius ikut membentuk citra Augustus dan tatanan politik baru. Aeneis menghubungkan berdirinya Roma, keturunan Aeneas, dan masa depan kekaisaran dengan pemerintahan Augustus. Meskipun sering dibaca sebagai karya yang mendukung tatanan Augustus, epos tersebut juga memungkinkan pembacaan kritis mengenai biaya manusia dari perang, penaklukan, dan kekuasaan.[11]

Horatius menulis puisi mengenai perdamaian, kemenangan, dan pemulihan kehidupan sipil, tetapi karyanya juga mempertahankan jarak ironis terhadap kekuasaan. Ovidius memperoleh ketenaran besar pada masa Augustus, sebelum dibuang ke Tomis pada 8 M. Pengasingannya dan ungkapan carmen et error—“sebuah puisi dan sebuah kesalahan”—kemudian menjadi salah satu episode paling sering dibahas dalam hubungan antara sastra dan kekuasaan Augustus.[12]

Pada masa modern, istilah “Augustan” juga digunakan secara analogis untuk menyebut periode sastra yang dianggap tertib, klasik, dan didukung patronase negara. Dalam sastra Inggris, istilah tersebut terutama dikaitkan dengan karya awal abad ke-18, termasuk tulisan Alexander Pope, Jonathan Swift, dan John Dryden.

Tradisi Alkitab dan Kristen

[sunting | sunting sumber]

Augustus disebut dalam Injil Lukas 2:1 sebagai penguasa yang memerintahkan sensus di seluruh dunia Romawi. Dalam narasi tersebut, sensus menjadi alasan Yusuf dan Maria melakukan perjalanan ke Betlehem menjelang kelahiran Yesus. Penyebutan ini menempatkan Augustus dalam kronologi Kristen sebagai penguasa dunia pada saat kelahiran Kristus.

Tradisi Kristen kemudian membentuk legenda pertemuan Augustus dengan Sibila Tiburtina. Dalam cerita yang disebarluaskan antara lain melalui Legenda Emas, Augustus bertanya apakah dirinya patut disembah sebagai dewa. Sang sibila kemudian memperlihatkan penglihatan Perawan Maria dan bayi Kristus, yang kekuasaannya akan melampaui para dewa Romawi. Adegan tersebut menjadi tema penting seni Kristen sejak akhir Abad Pertengahan.[13]

Sastra Abad Pertengahan

[sunting | sunting sumber]

Dalam Komedi Ilahi, Dante Alighieri menyebut Augustus sebagai penguasa yang baik dan menghubungkannya dengan kehidupan serta peninggalan Vergilius. Augustus juga muncul sebagai Oktavianus dalam karya Geoffrey Chaucer, termasuk The Book of the Duchess dan The Legend of Good Women.

Octavian, sebuah roman berbahasa Inggris Pertengahan dari abad ke-14, menampilkan tokoh bernama Kaisar Oktavianus dalam cerita petualangan keluarga. Karya tersebut merupakan adaptasi dan ringkasan dari roman Prancis Lama abad ke-13. Tokoh serta alurnya tidak dimaksudkan sebagai biografi historis Augustus, tetapi menunjukkan bagaimana nama kaisar tersebut bertahan sebagai penanda kemegahan Romawi dalam sastra abad pertengahan.[14]

Sastra modern dan komik

[sunting | sunting sumber]

Augustus menjadi tokoh utama maupun pendukung dalam banyak novel sejarah modern. Penggambarannya berkisar dari negarawan yang penuh perhitungan hingga penguasa dingin yang mengorbankan keluarga dan lawan politik demi stabilitas negara.

  • Dalam I, Claudius (1934) karya Robert Graves, Augustus digambarkan sebagai penguasa yang pada dasarnya berniat baik, tetapi terjebak dalam intrik keluarga dan pengaruh Livia.
  • I Loved Tiberius (1959) karya Elisabeth Dored menampilkan Augustus dalam kisah yang berpusat pada Tiberius dan lingkaran keluarga kekaisaran.
  • Novel epistoler Augustus (1972) karya John Williams membangun kisah hidup Augustus melalui surat, catatan, dan dokumen rekaan. Novel tersebut memenangkan Penghargaan Buku Nasional untuk Fiksi tahun 1973.[15]
  • Augustus (1986) karya Allan Massie disusun sebagai autobiografi fiktif sang kaisar.
  • Augustus menjadi tokoh pendukung dalam The Memoirs of Cleopatra (1997) karya Margaret George.
  • Oktavianus tampil dalam dua novel terakhir seri Masters of Rome karya Colleen McCullough, yaitu The October Horse (2002) serta Antony and Cleopatra (2007).
  • Give Me Back My Legions! (2009) karya Harry Turtledove berpusat pada kekalahan Romawi dalam Pertempuran Hutan Teutoburg dan reaksi Augustus.
  • Oktavianus berperan penting dalam Dictator (2015), bagian terakhir trilogi Cicero karya Robert Harris.
  • Dalam seri novel fantasi sejarah karya Michael Livingston, The Shards of Heaven (2015) dan The Gates of Hell (2016), Augustus menjadi tokoh sentral dalam konflik yang menggabungkan sejarah Romawi dengan unsur supernatural.
  • Augustus tampil dalam edisi ke-30 komik The Sandman, “August”, yang kemudian dihimpun dalam Fables & Reflections.

Seni rupa setelah zaman kuno

[sunting | sunting sumber]

Representasi Augustus dalam seni Eropa kemudian sering menggabungkan sejarah Romawi dengan simbol Kristen atau gagasan mengenai penguasa ideal.

Tema Augustus dan Sibila Tiburtina banyak dilukis sejak akhir Abad Pertengahan. Seniman yang mengolah tema tersebut meliputi Master of the Tiburtine Sibyl, Jan van Scorel, Philip Galle, Antoine Caron, dan Wolfgang Katzheimer. Dalam penggambaran tersebut, kekuasaan duniawi Augustus ditempatkan di bawah wahyu kelahiran Kristus.

Karya penting lainnya meliputi:

  • Eleven Caesars (1536–1540), seri potret kaisar karya Titian;
  • Augustus und Kleopatra (1761) karya Anton Raphael Mengs;
  • Cléopâtre et Octavian (1788) karya Louis Gauffier;
  • Virgil Reading the Aeneid to Augustus, Livia, and Octavia karya Jean-Auguste-Dominique Ingres. Ingres berulang kali mengolah adegan Vergilius membacakan Buku VI Aeneis, ketika penyebutan Marcellus menyebabkan Octavia jatuh pingsan.[16]
  • The Age of Augustus, the Birth of Christ (sekitar 1852–1854) karya Jean-Léon Gérôme, yang menghubungkan perdamaian kekaisaran dengan kelahiran Kristus.

Monumen dan arsitektur

[sunting | sunting sumber]

Pada masa Romawi, Augustus diperingati melalui kuil, altar, forum, gapura kemenangan, uang logam, dan patung di seluruh kekaisaran. Bentuk-bentuk tersebut tidak hanya mengenang individu, tetapi juga mengomunikasikan tatanan politik dan keagamaan baru yang berpusat pada keluarga kekaisaran.[17]

Monumen yang berkaitan erat dengan citra dan ingatan budaya Augustus meliputi:

Setelah kematian Augustus pada 14 M, kultus kekaisaran mengembangkan penghormatan kepadanya sebagai Divus Augustus. Kuil dan altar untuk Augustus yang didewakan membantu mempertahankan citranya sebagai pendiri tatanan kekaisaran.

Dalam drama Eropa, Augustus paling sering muncul dalam kisah mengenai kematian Julius Caesar dan konflik melawan Markus Antonius.

  • Dalam Julius Caesar dan Antony and Cleopatra karya William Shakespeare, ia tampil sebagai Oktavius atau Caesar. Shakespeare mengontraskan sifatnya yang dingin, strategis, dan disiplin dengan Antonius yang romantis dan impulsif.
  • Cinna ou la Clémence d'Auguste (1641) karya Pierre Corneille menempatkan kemurahan hati Augustus sebagai tema utama. Keputusannya mengampuni para perencana pembunuhan menjadi lambang kemampuan penguasa mengendalikan diri.
  • Augustus menjadi tokoh utama dalam Gloriana, or the Court of Augustus Caesar (1676) karya Nathaniel Lee.
  • Dalam All for Love (1677) karya John Dryden, kekuasaan Augustus menentukan latar politik cerita, meskipun tokohnya tidak tampil langsung di panggung.
  • Produksi Roman Tragedies karya Toneelgroep Amsterdam, yang pertama kali dipentaskan pada 2007, menggabungkan tiga drama Romawi Shakespeare dan menempatkan kisahnya dalam estetika politik kontemporer.

Musik dan opera

[sunting | sunting sumber]

Augustus dan konflik pada akhir Republik Romawi turut menjadi tema karya musik dan opera, baik sebagai tokoh yang tampil langsung maupun sebagai kekuatan politik di balik cerita.

  • Julius Caesar (1851), sebuah pembukaan konser karya Robert Schumann;
  • Cleopatra (1876), opera karya Lauro Rossi;
  • Cléopâtre (1914), opera karya Jules Massenet dengan libreto Louis Payen;
  • Antony and Cleopatra (1966), opera karya Samuel Barber;
  • I, Claudius and Claudius the God (2019), opera karya Igor Escudero yang diadaptasi dari novel Robert Graves.

Augustus telah muncul dalam film sejak masa awal sinema. Dalam film mengenai Julius Caesar, ia biasanya diperlihatkan sebagai ahli waris muda; dalam film mengenai Antonius dan Kleopatra, ia menjadi lawan politik yang disiplin dan tidak sentimental. Penggambaran audiovisual modern cenderung bergerak antara rekonstruksi sejarah, melodrama keluarga, dan proyeksi persoalan politik masa kini.[18]

Tahun Karya Pemeran Augustus/Oktavianus
1908 Antony and Cleopatra William V. Ranous
1913 Antony and Cleopatra Ignazio Lupi
1917 Cleopatra Henri De Vries
1934 Cleopatra Ian Keith
1953 Julius Caesar Douglass Watson
1953 Serpent of the Nile Michael Fox
1958 Herod the Great Massimo Girotti
1963 Cleopatra Roddy McDowall
1970 Julius Caesar Richard Chamberlain
1972 Antony and Cleopatra John Castle
1980 Los Cántabros Andrés Resino
1999 Cleopatra Rupert Graves

Televisi memungkinkan kehidupan Augustus digambarkan dalam rentang waktu yang lebih panjang daripada film. Sejumlah produksi menekankan kehidupan keluarga, pembentukan dinasti, dan transformasi Oktavianus muda menjadi penguasa tunggal.[18][19]

Tahun Produksi Pemeran Augustus/Oktavianus Keterangan
1963 The Spread of the Eagle David William Miniseri BBC yang mengadaptasi drama-drama Romawi Shakespeare.
1968 The Caesars Roland Culver Drama televisi BBC mengenai dinasti Julio-Klaudian.
1976 I, Claudius Brian Blessed Menampilkan Augustus sebagai penguasa tua yang terlibat dalam konflik suksesi dan intrik keluarga.
1983 The Cleopatras Rupert Frazer Miniseri BBC mengenai dinasti Ptolemaik.
2003 Imperium: Augustus Peter O'Toole dan Benjamin Sadler Menggambarkan Augustus tua yang mengenang perjalanan politiknya sebagai Oktavianus muda.
2005 Rome Max Pirkis dan Simon Woods Mengikuti perubahan Oktavianus dari pemuda terpelajar menjadi penguasa yang ambisius dan keras.
2005 Empire Santiago Cabrera Berlatar setelah pembunuhan Julius Caesar.
2009–2013 Horrible Histories Mathew Baynton Penggambaran komedi dan edukatif.
2021–2023 Domina Tom Glynn-Carney dan Matthew McNulty Kisah kebangkitan Livia Drusilla dan pembentukan rumah tangga kekaisaran Augustus.

Serial HBO–BBC–RAI Rome mendapat perhatian khusus dalam kajian penerimaan klasik. Serial tersebut menampilkan Oktavianus sebagai tokoh yang kecerdasannya disertai kekejaman, kontrol diri, dan perkembangan psikologis yang problematis. Penggambaran ini berbeda dari citra resmi Romawi yang menonjolkan kesalehan, ketenangan, dan kemudaan abadi.[19]

Radio dan siniar

[sunting | sunting sumber]
  • Dalam drama radio BBC Radio 4 Caesar! (2003–2007), Augustus diperankan oleh Adam Levy dan Richard Johnson.
  • Derek Jacobi memerankan Augustus dalam adaptasi radio I, Claudius pada 2010; sebelumnya ia memerankan Claudius dalam adaptasi televisi BBC tahun 1976.
  • Kehidupan Augustus menjadi pokok lebih dari seratus episode dalam siniar Life of Caesar, yang dibawakan Cameron Reilly dan Ray Harris Jr. dari 2015 hingga 2018.

Permainan video

[sunting | sunting sumber]

Augustus kerap digunakan dalam permainan strategi sebagai personifikasi kemampuan administratif, ekspansi wilayah, dan pembangunan Kekaisaran Romawi.

  • Dalam Civilization IV, Augustus ditambahkan sebagai pemimpin Romawi melalui ekspansi Warlords. Namanya juga berada pada peringkat tertinggi dalam skala penilaian akhir permainan.
  • Dalam Civilization V, ia kembali menjadi pemimpin Romawi dengan kemampuan khusus “The Glory of Rome”.
  • Augustus menjadi pemimpin yang dapat dimainkan dalam Civilization VII. Kemampuan khasnya, Imperium Maius, menekankan hubungan antara ibu kota, kota-kota bawahan, produksi, pembelian bangunan, dan perkembangan budaya.[20]
  • Augustus merupakan salah satu tokoh utama dalam permainan Shadow of Rome.
  • Kampanye Imperator Augustus dalam Total War: Rome II menggambarkan perebutan kekuasaan antara Oktavianus, Markus Antonius, dan Lepidus setelah runtuhnya Triumvirat Kedua.
  • Dalam Assassin's Creed Origins, Augustus disebut sebagai anggota Order of the Ancients dan juga muncul dalam seri komik yang terkait dengan permainan tersebut.

Penamaan lain

[sunting | sunting sumber]

Nama Augustus juga dipakai untuk berbagai kapal, lembaga, bangunan, dan tempat sebagai rujukan terhadap prestise Kekaisaran Romawi. Contohnya termasuk kapal samudra Italia MS Augustus yang diluncurkan pada 1926 dan MS Augustus yang diluncurkan pada 1950. Penggunaan nama tersebut merupakan bentuk peringatan budaya, meskipun tidak selalu melibatkan penggambaran visual atau naratif sang kaisar.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Goodman, Penelope J. (2018). "Best of Emperors or Subtle Tyrant?". Afterlives of Augustus, AD 14–2014. Cambridge University Press. hlm. 1–26. doi:10.1017/9781108529167.001. ISBN 9781108423687.
  2. Pyy, Elina (2018). The Semiotics of Caesar Augustus. Bloomsbury Academic. ISBN 9781474277228.
  3. Syme, Ronald (1958). "Imperator Caesar: A Study in Nomenclature". Historia: Zeitschrift für Alte Geschichte. 7 (2): 172–188. JSTOR 4434568.
  4. Macrobius. "1.12.35". Saturnalia.
  5. Nothaft, C. Philipp E. (2018). Scandalous Error: Calendar Reform and Calendrical Astronomy in Medieval Europe. Oxford University Press. hlm. 122. doi:10.1093/oso/9780198799559.001.0001. ISBN 9780198799559.
  6. "Marble portrait of the emperor Augustus" (dalam bahasa Inggris). The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  7. 1 2 Smith, R. R. R. (1996). "Typology and Diversity in the Portraits of Augustus". Journal of Roman Archaeology. 9: 30–47. doi:10.1017/S1047759400016482.
  8. "Bust of Emperor Augustus ("Prima Porta" type)" (dalam bahasa Inggris). Museo Nacional del Prado. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  9. Henig, Martin, ed. (1983). A Handbook of Roman Art. Phaidon. hlm. 155–157. ISBN 0714822140.
  10. "The Blacas Cameo" (dalam bahasa Inggris). British Museum. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  11. 1 2 Farrell, Joseph (2005). "The Augustan Period: 40 BC–AD 14". Dalam Harrison, Stephen (ed.). A Companion to Latin Literature. Blackwell. hlm. 44–57. ISBN 9781405108227. {{cite book}}: Periksa |isbn= value: checksum
  12. Millar, Fergus (1993). "Ovid and the Domus Augusta: Rome Seen from Tomoi". The Journal of Roman Studies. 83: 1–17. doi:10.2307/300976.
  13. "The Tiburtine Sibyl Showing the Virgin and Child to Augustus" (dalam bahasa Inggris). RISD Museum. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  14. Hudson, Harriet, ed. (1996). "Octavian". Four Middle English Romances. Western Michigan University for TEAMS. ISBN 9781580440165.
  15. "Augustus" (dalam bahasa Inggris). National Book Foundation. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  16. "Virgil Reading the Aeneid to Augustus, Livia, and Octavia" (dalam bahasa Inggris). The Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.
  17. Galinsky, Karl (1996). Augustan Culture: An Interpretive Introduction. Princeton University Press. hlm. 323–327. ISBN 9780691058900.
  18. 1 2 Serrano, Alba; Martínez, Alberto Prieto (2019). "Narrativas audiovisuais sobre a Antiguidade Clássica: a representação do Imperador Augusto no cinema e na TV". ICONO 14. 17 (2): 59–81. doi:10.7195/ri14.v17i2.1383.
  19. 1 2 West, Martin (2019). "Turning Gold into Lead: Sexual Pathology and the De-mythologizing of Augustus in HBO's Rome (2005–2007)". Screening the Golden Ages of the Classical Tradition. Edinburgh University Press. doi:10.3366/edinburgh/9781474424394.003.0010.
  20. "Augustus" (dalam bahasa Inggris). 2K Games. Diakses tanggal 4 Agustus 2026.

Bacaan lebih lanjut

[sunting | sunting sumber]
  • Galinsky, Karl (1996). Augustan Culture: An Interpretive Introduction. Princeton University Press. ISBN 9780691058900.
  • Goldsworthy, Adrian (2014). Augustus: First Emperor of Rome. Yale University Press. ISBN 9780300178722.
  • Goodman, Penelope J., ed. (2018). Afterlives of Augustus, AD 14–2014. Cambridge University Press. ISBN 9781108423687.
  • Pyy, Elina (2018). The Semiotics of Caesar Augustus. Bloomsbury Academic. ISBN 9781474277228.
  • Smith, R. R. R. (1996). "Typology and Diversity in the Portraits of Augustus". Journal of Roman Archaeology. 9: 30–47. doi:10.1017/S1047759400016482.