Pengeboman Semarang Salatiga Ambarawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pengeboman Semarang Salatiga Ambarawa
Bagian dari Agresi Militer Belanda I
Mitsubishi Ki-51-1.jpg
Salah satu contoh pesawat pengebom tukik Guntei yang digunakan
Tanggal29 Juli 1947
LokasiSemarang, Salatiga, dan Ambarawa
Hasil Kemenangan Strategis Indonesia
Belanda tidak terpengaruh atas serangan tersebut
Pihak terlibat
 Indonesia  Belanda
Tokoh dan pemimpin
Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma
Komodor Udara Halim Perdanakusuma
-
Kekuatan
2 Yokosuka K5Y
1 Mitsubishi Ki-51
-
Korban
Tidak Ada Tidak Diketahui

Pengeboman Semarang Salatiga Ambarawa merupakan operasi udara pertama kali yang dilakukan oleh TNI AU dalam Perang Revolusi Kemerdekaan yang menargetkan markas tentara Belanda di tiga kota yaitu: Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Operasi ini dilakukan pada tanggal 29 Juli 1947 pukul 05.00.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda mengingkari Perjanjian Linggarjati dengan melancarkan Agresi Militer Belanda I. Pesawat-pesawat Belanda terus membombardir sasaran-sasaran strategis milik Republik Indonesia. Selain menimbulkan korban jiwa, serangan-serangan itu membuat Indonesia kehilangan banyak lapangan udara beserta pesawat-pesawat yang dimilikinya. Operasi ini awalnya sebuah ide untuk membalas dendam dengan melancarkan serangan udara ke daerah pendudukan Belanda, namun operasi ini sempat ditolak oleh beberapa perwira AURI. Kemudian operasi ini direstui oleh KSAU Komodor Suryadarma dan Wakil KSAU, Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma, merestuinya meskipun mereka tidak memerintahkan operasi tersebut.[1]

Dimulainya Operasi Udara[sunting | sunting sumber]

Operasi udara ini dimulai pada tanggal 29 Juli 1947 pada pukul 05.00 dengan sasaran Semarang dan Salatiga. Operasi ini awalnya menggunkan pesawat dive bomber Guntai, fighter Hayabusha, dan dua basic trainer Cureng, namun Hayabusha tidak dapat menjalankan misi karena kerusakan Synchronization gear. Jumlah bom yang dibawa sebesar 300 kg bom, masing masing pesawat yaitu Cureng 2x 25 kg, Guntei 4x 50 kg.[2] Setelah menjalankan briefing para kadet mengudara tepat pukul 05.00 dengan bantuan lampu mobil yang diparkir di pinggir runway sebagai taxi way lights dan sorotan lampu sebuah pesawat yang diparkir di ujung runway.[1] Setelah mengudara rombongan itu kemudian menuju ke kota yang dituju, tetapi salah satu cureng terpisah dari rombongan dan berinisiatif mengebom markas belanda di Ambarawa. Rombongan itu berasil mengebom markas Belanda di 3 kota dan kembali ke pangkalan dengan selamat.

Kadet yang terlibat[3][sunting | sunting sumber]

Cureng No. 1 diawaki oleh Kadet Udara 1 Suharnoko Harbani dengan Rear Gunner Kaput.

Cureng No.2 diawaki oleh Kadet Udara 1 Sutarjo Sigit dengan Rear Gunner Sutarjo.

Guntei diawaki oleh Kadet Udara 1 Mulyono dengan Rear Gunner Abdulrachman.

Hayabusha diawaki oleh Kadet Udara 1 Bambang Saptoaji. (Batal Terbang)

Kejadian Setelahnya[sunting | sunting sumber]

Setelah pengeboman 3 kota, Belanda mengerahkan beberapa pesawat Kittyhawk untuk melakukan penyisiran untuk mencari pesawat AURI yang terisa. Setelah operasi tersebut sebuah pesawat carter maskapai india bernama Dakota VT-CLA diikuti dan ditembak jatuh oleh 2 pesawat Kittyhawk belanda yang diawaki oleh Lettu B.J. Ruesink dan Serma W.E. Erkelens. Akibat kejadian itu AURI kehilangan 3 perwira pentingnya yaitu Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, juru radio Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo.

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Pemboman Udara Pertama Indonesia". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2020-05-02. 
  2. ^ KISAH HEROIK OPERASI UDARA PERTAMA AURI 1947, diakses tanggal 2020-05-02 
  3. ^ AAU, Oleh Pen (2019-07-29). "Pengeboman Tiga Kota: Semarang, Salatiga dan Ambarawa Bukti Nyata Keberanian Kadet Sekolah Penerbang". tni-au.mil.id. Diakses tanggal 2020-05-02.