Penanaman pohon

Penanaman pohon adalah proses memindahkan bibit pohon, umumnya untuk kehutanan, reklamasi lahan, atau tujuan lanskap. Penanaman pohon berbeda dari transplantasi pohon yang lebih besar dalam arborikultur, serta berbeda dari penyebaran biji pohon yang lebih murah tetapi lebih lambat dan kurang dapat diandalkan. Pohon memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungannya dengan meningkatkan kualitas udara, memperbaiki iklim, menghemat air, menjaga kesuburan tanah, dan mendukung kehidupan satwa liar. Selama proses fotosintesis, pohon menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
Dalam silvikultur, kegiatan ini dikenal sebagai "reboisasi" atau "aforestasi," tergantung pada apakah area yang ditanami sebelumnya pernah berhutan atau tidak. Kegiatan ini melibatkan penanaman bibit pohon di atas lahan di mana hutan telah ditebang atau rusak akibat kebakaran, penyakit, atau aktivitas manusia. Pohon ditanam di berbagai bagian dunia, dan strategi penanaman dapat sangat berbeda antar negara, wilayah, maupun antara perusahaan reboisasi yang berbeda. Penanaman pohon didasarkan pada ilmu kehutanan dan, jika dilakukan dengan benar, dapat menghasilkan regenerasi yang berhasil pada area yang telah gundul. Namun, hutan yang ditanam jarang meniru keanekaragaman hayati dan kompleksitas hutan alami.[1]
Karena pohon menyerap karbon dioksida dari udara saat tumbuh, penanaman pohon dapat digunakan untuk membantu membatasi perubahan iklim. Proyek penghijauan gurun juga didorong oleh upaya meningkatkan keanekaragaman hayati dan pemulihan sistem air alami, serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial melalui bertambahnya jumlah lapangan kerja di bidang pertanian dan kehutanan.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Manusia telah menanam pohon secara selektif selama ribuan tahun di seluruh dunia untuk menyediakan makanan, tempat tinggal, kayu, dan produk pohon lainnya, serta untuk tujuan hiasan dan upacara. Spesies berkayu pertama yang kemungkinan besar ditanam adalah pohon zaitun di tenggara Eropa sekitar 4000 SM. Ada juga banyak referensi Alkitab mengenai penanaman pohon, misalnya dalam catatan Perjanjian Lama tentang Abraham yang menanam pohon tamarisk untuk memperingati perjanjian Beersheba (Kejadian 21:33).[2]
Konsep menanam banyak pohon secara bersamaan dalam skala besar untuk menggantikan pasokan bahan pertama kali berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan, dan secara bertahap melahirkan perkebunan kehutanan.[2] Catatan tertua tentang perkebunan konifer berasal dari Nuremberg pada 1368,[3] meskipun penanaman pohon dalam skala besar mungkin telah dilakukan sejak abad ke-13 di wilayah ini untuk menghutankan kembali area yang telah dieksploitasi.[4]
Seiring manusia Neolitikum mulai menjalani kehidupan yang lebih menetap, dan dengan perkembangan teknologi pertanian serta pertumbuhan peradaban, semakin banyak pohon harus ditebang dan dikumpulkan sebagai sumber kayu dan produk hutan lainnya serta untuk membuka lahan bagi tanaman. Mengingat terbatasnya produk pohon tanpa penanaman kembali yang memadai, disadari bahwa pembukaan hutan dan kayu harus dikontrol, dan hutan harus dikelola serta dilestarikan untuk sumber daya alam yang disediakannya seiring meningkatnya permintaan. Di Inggris, hal ini terlihat dari undang-undang awal yang disahkan pada 1457 untuk mendorong penanaman pohon.[5] Namun, meskipun ada undang-undang tersebut, perusakan hutan yang terus-menerus sejak periode Anglo-Saxon pada abad ketujuh belas telah menyebabkan apa yang disebut "kelaparan kayu".[6]
Di wilayah tropis, terdapat sejarah panjang penanaman pohon jati untuk kayu, yang dimulai sejak abad ke-15 di Jawa. Permintaan akan jati berkelanjutan untuk konstruksi umum dan pembuatan kapal meningkat dengan kedatangan Portugis pada abad ke-15 dan Belanda pada abad ke-17. Industri penanaman jati kemudian dikendalikan dan dimonopoli oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda.[2]
Di Amerika Utara, penanaman pohon di padang rumput barat dilakukan oleh para imigran dari timur pada abad ke-19. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kayu dan produk pohon lainnya serta untuk membangun pohon penahan angin bagi pertanian, karena pohon yang tumbuh alami sangat jarang di Dataran Besar Amerika Utara.[7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Stephens, S. Sky; Wagner, Michael R. (2007). "Forest Plantations and Biodiversity: A Fresh Perspective". Journal of Forestry. 105 (6): 307–313. doi:10.1093/jof/105.6.307.
Lower biodiversity in plantation forest compared to other forests was reported by 94% of the reviewed studies.
- 1 2 3 Evans J. 2009. "The history of tree planting and planted forests." Planted Forests: Uses, Impacts and Sustainability. Published jointly by FAO and CAB International, pp. 5–22. [9781845935641.pdf (slu.se)]
- ↑ Rubner K. 1925. Die pflanzengeographischen Grundlagen des Waldbaus. J. Neumann.
- ↑ Ortloff W. 1999. "Sustainability issues in Switzerland's forests." New Forests 18: 59–73.
- ↑ Harris E, Harris J. 2003. Wildlife Conservation in Trees and Forests. Second Edition, pg. 29. Research Studies Press Ltd. ISBN 0863802060
- ↑ Hoskins WG. 1967. The Making of the English Landscape. Hodder and Stoughton Ltd.
- ↑ Droze WH. 1977. Trees, Prairies, and People: A History of Tree Planting in the Plains States (Vol. 10). Texas Woman's University.