Penaklukan Kerajaan Inka oleh Spanyol

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Penaklukan Kerajaan Inka oleh Spanyol
Bagian dari Kolonisasi Amerika oleh Spanyol
Montaje 2 conquista del Peru.png
Tanggal 1532–1572
Lokasi Amerika Selatan bagian barat
Hasil Kemenangan Spanyol
Perubahan
wilayah
Bekas wilayah Inka dijajah Spanyol
Pihak terlibat

Bendera Spanyol Imperium Spanyol
Bendera Spanyol Conquistador
Bendera Spanyol Virreinato del Perú
Sekutu penduduk asli:

Kerajaan Inka
Negara Neo-Inka
Komandan
Francisco Pizarro
Diego de Almagro
Gonzalo Pizarro
Hernando Pizarro
Juan Pizarro
Hernando de Soto
Sebastián de Benalcázar
Pedro de Alvarado
Francisco de Toledo
Atahualpa  (POW)
Quizquiz
Chalcuchimac
Rumiñawi
Manco Inca
Túpac Amaru I

Penaklukan Kerajaan Inka oleh Spanyol adalah salah satu peristiwa penaklukan yang paling penting selama upaya kolonisasi Amerika oleh Spanyol. Setelah melakukan penjelajahan selama bertahun-tahun, 180 conquistador Spanyol yang dipimpin oleh Francisco Pizarro berhasil menangkap Sapa Inka Atahualpa dalam Pertempuran Cajamarca pada tahun 1532. Peristiwa ini memulai kampanye militer panjang yang berlangsung selama beberapa dasawarsa dan diakhiri oleh kemenangan Spanyol pada tahun 1572 dan penjajahan wilayah Inka di bawah kendali pemerintahan kolonial Virreinato del Perú. Penaklukan Inka juga memicu kampanye militer ke wilayah Chile dan Kolombia saat ini, serta ekspedisi ke Cekungan Amazon.

Beberapa ahli (seperti Jared Diamond) meyakini bahwa Kerajaan Inka sudah melewati masa kejayaannya dan sedang mengalami kemunduran, meskipun penaklukan oleh Spanyol adalah pemicu utama keruntuhan Kerajaan Inka.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Ketika bangsa Spanyol tiba di perbatasan Kerajaan Inka pada tahun 1528, bangsa Inka memiliki salah satu peradaban terbesar pada masa pra-Kolumbus. Wilayah mereka terbentang dari Ancomayo di utara (kini dikenal dengan nama Sungai Patía di wilayah selatan Kolombia saat ini) hingga Sungai Maule di selatan (kini bagian dari Chile, serta dari pesisir Samudra Pasifik di barat hingga daerah hutan Amazon di timur. Kerajaan ini juga memiliki dataran yang bergunung-gunung. Dalam waktu kurang dari satu abad, bangsa Inka telah memperluas wialyahnya dari 400.000 km² pada tahun 1448 menjadi 1.800.000 km² pada tahun 1528. Wilayah yang luas ini memiliki iklim dan kebudayaan yang beragam. Maka dari itu, bangsa Inka mendesentralisasikan kekuasaan kepada penguasa-penguasa lokal yang diawasi oleh pejabat-pejabat Inka. Namun, berdasarkan mekanisme administratif yang ditetapkan oleh Kerajaan Inka, semua wilayah kekaisaran berada di bawah kendali Kaisar.[1] Para ahli memperkirakan bahwa jumlah penduduk Kerajaan Inka kurang lebih sebesar 16.000.000.[2]

Pada tahun 1528, Kerajaan Inka dipimpin oleh Kaisar Huayna Capac. Ia adalah putra dari pemimpin sebelumnya, Túpac Inca, dan cucu Pachacuti, seorang kaisar yang telah menaklukkan banyak wilayah dan memperluas Kerajaan Inka dari pusat budaya dan tradisionalnya di sekitar wilayah Cuzco. Setelah naik tahta, Huayna Capac meneruskan kebijakan penaklukan dan memimpin pasukan Inka ke wilayah Ekuador saat ini di utara.[3] Walaupun ia harus memadamkan sejumlah pemberontakan pada masa kekuasaannya, kekuasaan mutlaknya tidak dipertanyakan. Namun, perluasan wilayah menimbulkan beberapa masalah. Banyak wilayah Inka yang memiliki kebudayaan yang berbeda dan berupaya melawan upaya penjajahan. Wilayah kerajaan yang luas, medan yang sulit, dan terbatasnya komunikasi (yang harus dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan menaiki kapal) mempersulit pembentukan pemerintahan yang efektif. Huayna Capac bergantung kepada anak-anaknya untuk mendukung rezimnya. Ia memiliki banyak anak sah dan tidak sah (sah berarti lahir dari saudara perempuan-istrinya di bawah sistem Inka), terdapat dua anak laki-laki yang paling penting. Pangeran Túpac Cusi Hualpa, juga dikenal dengan nama Huáscar, adalah anak Coya Mama Rahua Occllo dari garis keturunan kerajaan. Anak kedua adalah Atahualpa, anak tidak sah yang kemungkinan lahir dari anak perempuan raja terakhir Quitu, salah satu negara yang ditaklukan oleh Huayna Capac.[2] Atahualpa tampaknya telah menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Huayna Capac pada tahun-tahun ketika ia berada di utara untuk menaklukkan Ekuador. Maka dari itu, Atahualpa memiliki hubungan yang lebih baik dengan pasukan-pasukan Inka dan para jenderalnya. Pada tahun 1528, Huayna Capac dan anak sulungnya yang telah dinobatkan sebagai penerus, Ninan Cuyochi, mendadak meninggal dunia (kemungkinan karena variola, penyakit yang dibawa oleh bangsa Spanyol ke Amerika). Pada saat itu, Huáscar berada di ibukota di Cuzco, sementara Atahualpa berada di Quitu bersama dengan pasukan utama Inka. Huáscar diproklamirkan sebagai Sapa Inka di Cuzco, tetapi militer Inka menyatakan kesetiaannya kepada Atahualpa. Maka meletuslah Perang Saudara Inka.[3] Peristiwa ini sangat membantu Conquistador Pizarro dan pasukannya dalam upaya penaklukan Inka.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Covey (2000).
  2. ^ a b Means (1932).
  3. ^ a b Prescott, W.H., 2011, The History of the Conquest of Peru, Digireads.com Publishing, ISBN 9781420941142

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Bauer, Brian S. (1991). "Pacariqtambo and the Mythical Origins of the Inca". Latin American Antiquity 2 (1): 7–26. JSTOR 971893. doi:10.2307/971893. 
  • Betanzos, Juan de; Hamilton, Roland; Buchanan, Dana (1996). Narrative of the Incas. Austin: University of Texas Press. ISBN 0-292-75560-0. 
  • Covey, R. Alan (2000). "Inka Administration of the Far South Coast of Peru". Latin American Antiquity 11 (2): 119–138. JSTOR 971851. doi:10.2307/971851. 
  • Gibson, Charles (1978). "Conquest, Capitulation, and Indian Treaties". The American Historical Review 83 (1): 1–15. JSTOR 1865900. doi:10.2307/1865900. 
  • Hemming, John (1970). Conquest of the Incas. New York: Harcourt. ISBN 0-15-122560-5. 
  • Innes, Hammond (1969). Conquistadors. New York: Alfred A. Knopf. 
  • Kubler, George (1945). "The Behavior of Atahualpa, 1531–1533". The Hispanic American Historical Review 25 (4): 413–427. JSTOR 2508231. doi:10.2307/2508231. 
  • Kubler, George (1947). "The Neo-Inca State (1537–1572)". The Hispanic American Historical Review 27 (2): 189–203. JSTOR 2508415. doi:10.2307/2508415. 
  • Lockhart, James. Spanish Peru, 1532-1560 : a social history. Madison, Wis. : University of Wisconsin Press, c1994.
  • Lockhart, James. The men of Cajamarca; a social and biographical study of the first conquerors of Peru, Austin, Published for the Institute of Latin American Studies by the University of Texas Press [1972]
  • Lovell, W. George (1992). "'Heavy Shadows and Black Night': Disease and Depopulation in Colonial Spanish America". Annals of the Association of American Geographers 82 (3): 426–443. doi:10.1111/j.1467-8306.1992.tb01968.x. 
  • Macquarrie, Kim (2007). The Last Days of the Incas. New York: Simon and Schuster. ISBN 978-0-7432-6049-7. 
  • Means, Philip A. (1932). Fall of the Inca Empire and the Spanish Rule in Peru, 1530–1780. New York: Scribner. 
  • Newson, Linda A. (1985). "Indian Population Patterns in Colonial Spanish America". Latin American Research Review 20 (3): 41–74. JSTOR 2503469. 
  • Seed, Patricia (1991). "'Failing to Marvel': Atahualpa's Encounter with the Word". Latin American Research Review 26 (1): 7–32. 
  • Wachtel, The Vision of the Vanquished: The Spanish Conquest of Peru Through Indian Eyes, 1530-1570, translated by Ben and Sid Reynolds. 1977.