Pembicaraan:Konfrontasi Indonesia–Malaysia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Saya melihat artikel ini hanyalah sebuah terjemahan dari dari artikel yang sama dalam bahasa Inggris. Seharusnya -sebagai salah satu pihak yang terlibat- kita (warga Indonesia) bisa mengetahui lebih banyak masalah ini, bukan sekadar menerjemahkan dari orang "bule" saja. Maaf kalau ada kata-kata yang salah ya..

Terjemahan dari orang "bule" untuk menggunakan kata anda itu bisa dipakai sebagai permulaan. Seperti pada artikel2 sejarah lainnya. Nanti bisa kita tambah dan kurangi sendiri. Sebab tidak semua penulis kita bisa riset ke perpustkaan sendiri. Tidaklah seyogyanya kita langsung mengecap apa semua hasil "orang bule" itu buruk. Apakah kita sendiri sudah baik? Maka marilah kita kembangkan menjadi sebuah sintesis. Meursault2004 09:14, 13 Mei 2005 (UTC)

Link ke Kompas itu ancur  Azmi   Bicara  22:49, 31 Agustus 2008 (UTC) itu loh  Azmi   Bicara  22:49, 31 Agustus 2008 (UTC)

Dari Pembentukan Dwikora[sunting sumber]

dipindah ‑Bennylin debat 00.15, 26 Februari 2013 (WIB)

Pada tahun 1961, Indonesia sering terlibat perseteruan dengan Belanda soal hak tanah Papua yang berujung dengan program Tri Komando Rakyat (Trikora). Tetapi, satu masalah belum terselesaikan, Presiden Indonesia, Soekarno kembali membuat "panas" dengan menentang keberadaan Negara Federasi Malaja karena dianggap sebagai gerakan kemerdekaan Negara Kalimantan Utara (NKU) yang dibentuk oleh Tengku Azahari, ditambah lagi dengan Inggris yang ikut campur dengan menjalin kerjasama militer dengan Federasi Malaya sehingga Inggris berhak memakai basis militer di Sembawang, Singapura selama 99 tahun. Untuk menandingi kerjasama militer Inggris-Federasi Malaja, Ir. Soekarno pada 3 Mei 1964 dalam sebuah rapat besar membentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang beranggotakan prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), termasuk di dalamnya pasukan katak (Kopaska). Akhir dari operasi ini adalah menjalankan beberapa misi rahasia di Malaya, namun ternyata malah membawa sial bagi Kopaska karena personel Brimob yang ditugaskan membawa perintah pembatalan operasi sulit bertemu pelaksana operasi dan tak bisa sampai di lapangan. Akibatnya 2 angota Dwikora yaitu Soewarno dan Prijatna gagal melaksanakan misi dan tertangkap orang Malaya. Mereka diajukan ke Pengadilan Malaya, beruntung tuduhannya ringan hanya sebagai penyelundup komoditi alam dan dikenai 3 bulan penjara dan dikurangi masa tahanannya karena kelakuannya yang baik di penjara. Setelah bebas pada awal 1964, personel Kopaska ini mengakhiri pengabdiannya di Kopaska TNI AL dengan pangkat terakhir pembantu letnan satu (Peltu).