Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah tingkat otonomi dan penentuan diri individu atau komunitas. Hal ini memungkinkan mereka untuk mewakili kepentingan individu atau komunitas mewakili kepentingan mereka secara bertanggung jawab dan mandiri, yang berarti mereka dapat bertindak atas wewenang mereka sendiri. Pemberdayaan merupakan sebuah proses progresif yang menjadikan seseorang lebih kuat dan lebih percaya diri, terutama dalam mengendalikan kehidupannya dan menuntut hak-haknya. Pemberdayaan sebagai tindakan mengacu pada proses pemberdayaan diri dan dukungan profesional kepada individu, yang memungkinkan mereka untuk mengatasi rasa ketidakberdayaan dan kurangnya pengaruh, serta untuk mengenali dan menggunakan sumber daya yang mereka miliki.
Istilah pemberdayaan (empowerment) sendiri berasal dari psikologi komunitas Amerika Serikat dan dikaitkan dengan ilmuwan sosial Julian Rappaport. Pada tahun 1981, ia menerbitkan In Praise of Paradox, di mana ia mengusulkan "model pemberdayaan" sebagai solusi atas paradoks kehidupan komunitas dan perubahan sosial.[1]
Dalam konteks pekerjaan sosial, pemberdayaan membentuk pendekatan praktis intervensi yang berorientasi pada sumber daya. Di bidang pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan demokrasi, pemberdayaan dapat dipandang sebagai alat untuk meningkatkan tanggung jawab warga negara. Pemberdayaan adalah konsep kunci dalam wacana tentang peningkatan keterlibatan warga negara. Pemberdayaan sebagai sebuah konsep, yang ditandai dengan pergeseran dari persepsi yang berorientasi pada kekurangan menuju persepsi yang lebih berorientasi pada kekuatan, semakin banyak ditemukan dalam konsep manajemen, serta dalam bidang pendidikan berkelanjutan dan bantuan diri.
Pengertian
[sunting | sunting sumber]Robert Adams menunjukkan bahwa istilah "pemberdayaan" tidak dapat didefinisikan dalam satu pengertian tunggal, dan menyatakan bahwa definisi akademis atau spesialis yang kaku dapat menghilangkan arti kata dan praktik terkait dari orang-orang yang seharusnya menjadi pemiliknya.[2] Meski demikian, ia menawarkan definisi minimal dari istilah tersebut, yakni "kapasitas individu, kelompok, dan/atau komunitas untuk mengendalikan keadaan mereka, menggunakan kekuasaan, dan mencapai tujuan mereka sendiri, dan proses di mana, secara individu dan kolektif, mereka mampu membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk memaksimalkan kualitas hidup mereka."[3]
Sementara itu, Rappaport dalam In Praise of Paradox menulis bahwa pemberdayaan "dipandang sebagai suatu proses: mekanisme di mana orang, organisasi, dan komunitas memperoleh kendali atas kehidupan mereka."[4]
Pemberdayaan sosiologis seringkali membahas anggota kelompok yang telah dikecualikan dari proses pengambilan keputusan oleh proses diskriminasi sosial, seperti diskriminasi berdasarkan disabilitas, ras, etnis, agama, atau gender. Pemberdayaan sebagai metodologi juga dikaitkan dengan feminisme.
Proses
[sunting | sunting sumber]Pemberdayaan adalah proses memperoleh kesempatan dasar bagi masyarakat yang terpinggirkan, baik secara langsung oleh masyarakat tersebut, maupun melalui bantuan dari pihak lain yang tidak terpinggirkan yang memiliki akses yang sama terhadap kesempatan tersebut. Hal ini juga mencakup upaya aktif untuk menggagalkan upaya penolakan terhadap kesempatan tersebut. Pemberdayaan juga mencakup mendorong dan mengembangkan keterampilan untuk kemandirian dan keberlanjutan diri, dengan fokus pada penghapusan ketergantungan akan sedekah atau bantuan kesejahteraan di masa depan bagi individu dalam kelompok tersebut. Proses ini bisa sulit untuk dimulai dan diimplementasikan secara efektif.
Strategi
[sunting | sunting sumber]Salah satu strategi pemberdayaan adalah membantu masyarakat yang terpinggirkan untuk menciptakan organisasi nirlaba mereka sendiri. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa hanya masyarakat yang terpinggirkan itu sendiri yang dapat mengetahui apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat mereka, dan bahwa kendali organisasi oleh pihak luar justru dapat memperkuat marginalisasi. Organisasi amal yang dipimpin dari luar komunitas, misalnya, dapat melemahkan komunitas dengan memperkuat ketergantungan mereka pada bantuan kesejahteraan. Organisasi nirlaba dapat menargetkan strategi yang menyebabkan perubahan struktural, mengurangi kebutuhan akan ketergantungan yang berkelanjutan. Sebagai contoh, organisasi nirlaba internasional seperti Palang Merah dapat menfokuskan diri pada peningkatan kesehatan masyarakat adat, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk membangun infrastruktur seperti memasang sistem pengiriman dan pemurnian air, meskipun kurangnya sistem tersebut sangat berdampak langsung dan negatif terhadap kesehatan. Kewenangan semacam itu dapat dialihkan kepada organisasi nirlaba masyarakat adat tersebut, yang dapat memastikan bahwa mereka memiliki hak atas infrastruktur tersebut dan dapat menetapkan agenda mereka sendiri, membuat rencana mereka sendiri, mencari sumber daya yang dibutuhkan, melakukan sebanyak mungkin pekerjaan yang mereka mampu, dan bertanggung jawab atas proses dan hasil proyek mereka.
Kritik
[sunting | sunting sumber]Sebelum dapat disimpulkan bahwa suatu kelompok tertentu membutuhkan pemberdayaan, perlu dilakukan diagnosis defisit yang biasanya dilakukan oleh para ahli yang menilai masalah kelompok tersebut. Asimetri mendasar dari hubungan antara para ahli dan kelompok target biasanya tidak dipertanyakan oleh proses pemberdayaan. Hal ini juga perlu dipandang secara kritis untuk menilai sejauh mana pendekatan pemberdayaan benar-benar dapat diterapkan pada semua kelompok. Sangat dipertanyakan apakah orang, misalnya seseorang dalam situasi krisis (seperti mengalami depresi akut) berada dalam posisi untuk mengambil keputusannya sendiri. Menurut Albert Lenz, orang cenderung berperilaku regresif dalam situasi krisis akut dan cenderung menyerahkan tanggung jawab kepada para profesional.[5] Oleh karena itu, harus diasumsikan bahwa implementasi konsep pemberdayaan membutuhkan tingkat komunikasi dan refleksi minimum dari orang-orang yang terlibat.
Kritik lain mengenai pemberdayaan yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa proses tersebut menyiratkan bahwa dorongan untuk perubahan berasal dari pihak eksternal di luar individu atau kelompok. Misalnya, dalam perawatan kesehatan, pasien yang didorong oleh dokternya untuk melacak gejalanya dan menyesuaikan pengobatannya sesuai dengan gejala yang dialami merupakan pemberdayaan, sedangkan pasien yang memutuskan sendiri bahwa mereka ingin meningkatkan dosis pengobatannya dan dengan demikian mulai mengdiagnosis diri merupakan contoh dari "pemberdayaan diri". Istilah tersebut "menggambarkan kekuatan pasien dan pengasuh informal untuk melakukan aktivitas yang tidak diwajibkan oleh perawatan kesehatan dan untuk mengambil kendali atas kehidupan dan manajemen diri mereka sendiri dengan peningkatan efikasi diri dan kepercayaan diri".[6]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Angela Rose
- Bantuan diri
- Desentralisasi
- Delegasi
- Hak minoritas
- Hak perempuan
- Kedaulatan diri
- Kekuasaan
- Kesadaran hukum
- Keterlibatan pekerja
- Ketidakberdayaan yang diajarkan
- Optimisme yang diajarkan
- Pembangunan kapasitas
- Pemberdayaan gender
- Pemberdayaan kaum muda
- Pendidikan populer
- Psikologi positif
- Sains khalayak
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Rappaport, Julian. In praise of paradox. A social policy of empowerment over prevention, in: American Journal of Community Psychology, Vol. 9 (1), 1981, 1–25 (13)
- ↑ Adams, Robert. Empowerment, participation and social work. New York: Palgrave Macmillan, 2008, p.6.
- ↑ Adams, Robert. Empowerment, participation and social work. New York: Palgrave Macmillan, 2008, p.xvi
- ↑ Rappaport, J. (1984). Studies in empowerment: Introduction to the issue. "Prevention in Human Services," 3, 1–7.
- ↑ Albert Lenz: Empowerment und Ressourcenaktivierung – Perspektiven für die psychosoziale Praxis.
- ↑ Scott Duncan, Therese (2023). Patients' self-empowerment: patients and informal caregivers taking the lead. Karolinska Institutet. ISBN 978-91-8016-891-5. Diakses tanggal 5 February 2024.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Adams, Robert. Empowerment, participation and social work. New York: Palgrave Macmillan, 2008.
- Christens, Brian. Community Power and Empowerment. Oxford: Oxford University Press, 2019.
- Humphries, Beth. Critical Perspectives on Empowerment. Birmingham: Venture, 1996.
- Rappaport, Julian, Carolyn F. Swift, and Robert Hess. Studies in Empowerment: Steps toward Understanding and Action. New York: Haworth, 1984.
- Schutz, Aaron. Empowerment: A Primer. New York: Routledge, 2019.
- Thomas, K. W. and Velthouse, B. A. (1990) "Cognitive Elements of Empowerment: An 'Interpretive' Model of Intrinsic Task Motivation". Academy of Management Review, Vol 15, No. 4, 666–681.
- Wilkinson, A. 1998. Empowerment: theory and practice. Personnel Review. [online]. Vol. 27, No. 1, 40–56. Accessed February 16, 2004.
- Empower Employment in India Diarsipkan 2021-06-20 di Wayback Machine.