Pembelajaran penemuan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pembelajaran penemuan atau discovery learning merupakan pembelajaran berbasis inkuiri dan termasuk berbasis konstruktivis. Pembelajaran penemuan dikemukakan oleh Jerome S. Bruner, seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Buku Bruner yang berjudul The Process of Education yang diterbitkan tahun 1960 merupakan rangkuman dari hasil konferensi Woods Hole yang diadakan tahun 1959.[1]

Konsep dasar[sunting | sunting sumber]

Pembelajaran Penemuan dapat terjadi setiap kali peserta didik tidak diberikan jawaban yang tepat melainkan difasilitasi materi untuk menemukan jawaban sendiri. Pembelajaran penemuan terjadi dalam situasi penyelesaian masalah dan peserta didik memanfaatkan pengalamannya sendiri dan pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.

Dengan pembelajaran penemuan, peserta didik ditekankan untuk belajar mandiri, memanipulasi objek, melakukan eksperimen atau penyelidikan dengan peserta didik lain sebelum membuat  generalisasi.[2] Pembelajaran penemuan memberikan kesempatan secara luas kepada peserta didik dalam mencari, menemukan, dan merumuskan konsep-konsep dari materi pembelajaran.[3]

Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses, yaitu: memperoleh informasi baru, transformasi informasi, menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Menurutnya, ketiga proses tersebut berlangsung hampir bersamaan.[4]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Pembelajaran penemuan banyak melibatkan proses mental peserta didik dalam rangka penemuannya. Dalam hal ini proses mental individu dalam mengasimilasi konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Pembelajaran penemuan memiliki karakteristik sebagai berikut.[5]

  • Berpusat pada peserta didik (student centered). Pelibatan guru dalam pembelajaran dilakukan dengan bimbingan yang terbatas. Strategi pengajaran berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada peserta didik sebagai penerima informasi tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi dan peserta didik aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya lebih tinggi atau lebih banyak.[5]
  • Pembelajaran Penemuan memberikan kesempatan secara luas kepada peserta didik dalam mencari, menemukan, dan merumuskan konsep-konsep dari materi pembelajaran. Peran guru hanya memfasilitasi dalam mengembangkan penalaran dan kemampuan berpikir peserta didik secara bebas dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.[5]
  • Peserta didik belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.[5]

Metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga materi pelajaran dapat bertahan lama dalam ingatan. Pengetahuan yang ditemukan dan diperoleh peserta didik dapat bertahan lama dalam memori ingatan mereka dibandingkan metode konvensional dengan ceramah yang cenderung materinya dihafal dibandingkan dimaknai.

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Contoh penerapannya, melalui belajar penemuan, peserta didik melakukan penyelidikan mandiri tentang Kemacetan di Kota Bandung untuk menemukan penyebab permasalahan-permasalahan kemacetan dari berbagai sumber dan menganalisanya. Guru mengarahkan dan memfasilitasi pembelajaran dengan bimbingan yang sangat terbatas.[6]

Berdasarkan hal tersebut, maka sesuai konsep yang disampaikan dalam pembelajaran, peserta didik memanfaatkan berbagai sumber, menelusuri secara mandiri, kemudian menemukan jawaban bahwa kemacetan di Kota Bandung disebabkan oleh (misalnya): jumlah (volume) kendaraan yang sangat banyak; rendahnya disiplin pengemudi; banyak angkot yang berhenti sembarangan; rendahnya kesadaran hukum dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas.[6]

Tanpa melakukan penelitian langsung ke lapangan, maka jawaban peserta didik dapat dibenarkan dan guru dalam pembelajaran ini mengarahkan pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru.

Contoh lain, tentang konsep Keunggulan Lokasi. Guru memfasilitasi peserta didik untuk “menemukan” konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam aspek keruangan dan konektivitas antarruang dan waktu dalam lingkup nasional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia.[6]

Masalah yang dilontarkan dalam lembar kerja siswa yang disajikan adalah tentang pengaruh keunggulan lokasi terhadap kegiatan ekonomi. Melalui pembelajaran penemuan ini, guru mengarahkan dan mendorong peserta didik untuk mengeksplorasi materi dari berbagai sumber pembelajaran (buku teks, internet, media massa, dsb) sehingga peserta didik dapat menemukan konsep keruangan dan konektivitas antarruang. Dalam pembelajaran penemuan ini, guru membatasi diri untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik harus terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran.[6]

Sebelum melepas peserta didik secara mandiri untuk mencari dan menemukan konsep-konsep berkaitan tema pembelajaran yang dilakukan, peran guru terlebih dahulu adalah mengarahkan peserta didik mengenai tujuan pembelajaran dan memberikan pengetahuan awal melalui contoh-contoh dan menggunakan berbagai media tentang interaksi antara manusia dan lingkungan, interaksi antarmanusia.

Daftar Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Dahar, Ratna Wilis (1996, Cetakan Kedua). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga. hlm. 97. 
  2. ^ Suryosubroto, B. (2009). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. hlm. 178. 
  3. ^ Bruner, Jerome, S. (1961). The act of discovery. Massachusetts, USA: Harvard Educational Review. hlm. 31 (1): 21–32. 
  4. ^ Bruner, J.S. and, Anglin, J.M. (1973). Beyond the Information Given: Studies of Psychology of Knowing. New York: Norton. 
  5. ^ a b c d Octavian, Catur Nurrochman (2015). Model-model pembelajaran IPS yang inovatif : tinjauan teoritis dan praktis untuk guru dan calon guru. Bandung: Rizqi Press. hlm. 73. ISBN 978-602-9098-89-1. 
  6. ^ a b c d Octavian, Catur Nurrochman (2015). Model-model pembelajaran IPS yang inovatif : tinjauan teoritis dan praktis untuk guru dan calon guru. Bandung: Rizqi Press. hlm. 72. ISBN 978-602-9098-89-1.