Lompat ke isi

Pelayanan kesehatan di Belanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Rumah Sakit Universitas Erasmus, Rotterdam

Pelayanan kesehatan di Belanda dibedakan berdasarkan tiga dimensi: (1) tingkat layanan, (2) fisik versus mental, dan (3) jangka pendek vs jangka panjang.

Tiga tingkat ini menunjukkan alur rujukan pasien dalam sistem. Tingkat pertama adalah tempat orang pertama kali mencari bantuan medis, seperti huisartsen (dokter umum) yang tergabung dalam huisartsenposten (pusat layanan primer/Unit Gawat Darurat 24 jam) dan ruang gawat darurat (SpoedEisende Hulp / SEH) di rumah sakit. Dari sini, pasien dapat dirujuk ke tingkat kedua, yaitu perawatan spesialis di rumah sakit, klinik, atau layanan jangka panjang. Akses ke tingkat kedua umumnya memerlukan rujukan dari dokter tingkat pertama dan diatur oleh asuransi kesehatan. Untuk kasus yang lebih kompleks, pasien dapat dirujuk ke tingkat ketiga, yaitu perawatan dengan spesialisasi tinggi seperti terapi nuklir, yang biasanya tersedia di rumah sakit universitas.[1]

Dari tahun 2012 hingga 2020, pengeluaran kesehatan menurun dari 10,9% menjadi 10,5% dari PDB.[2]

Seorang pasien diangkut ke ambulans di Amsterdam, 26 September 1980

Dari tahun 1941 hingga 2006, Belanda memiliki dua sistem asuransi kesehatan jangka pendek: publik dan privat. Sistem publik dijalankan oleh dana kesehatan nirlaba dan dibiayai melalui potongan premi dari gaji (bersama pajak penghasilan). Mereka yang berpenghasilan di bawah batas tertentu berhak atas asuransi publik, sementara yang berpenghasilan di atas batas itu wajib memiliki asuransi privat.[3] Sekitar dua pertiga penduduk tercakup oleh dana publik, dan sepertiga sisanya memiliki asuransi privat.[4] Dengan meningkatnya biaya kesehatan, sistem ini menjadi tidak berkelanjutan. Profesor Patrick Jeurissen dari Universitas Radboud mengatakan kepada Vox, "Sistem lama benar-benar mencapai batasnya."[4]

Pada tahun 2006, Belanda menerapkan sistem baru berbasis risk equalization pool (penyeimbangan risiko). Setiap warga wajib memiliki paket asuransi dasar. Penduduk yang tidak mendaftar akan otomatis didaftarkan dan dikenakan tambahan tarif 20% di atas premi normal.[4] Perusahaan asuransi wajib menerima semua pendaftar tanpa membedakan kondisi kesehatan. Pemerintah memberi kompensasi kepada asuransi untuk peserta berisiko tinggi[5] dan menanggung sekitar 75% dari total biaya premi. Sebagian besar perusahaan asuransi bersifat nirlaba.[4] Per Januari 2020, premi tahunan rata-rata sekitar €1.400. Peserta bisa membayar langsung atau meminta penggantian dari layanan yang bekerja sama dengan asuransi. Paket dasar mewajibkan pembayaran pribadi €385 pertama tiap tahun, dengan opsi menaikkan hingga €885 untuk mendapatkan diskon.[4] Layanan dasar seperti kunjungan pertama ke dokter umum dan vaksin flu dibebaskan dari biaya pribadi agar tetap terjangkau bagi semua.[6]

Perawatan darurat dan primer

[sunting | sunting sumber]
112 (nomor telepon darurat)
Sebuah ambulans di Hoofddorp

Belanda memiliki jaringan 160 pusat layanan kesehatan primer darurat yang buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu, sehingga klinik selalu mudah dijangkau.[7] Layanan ini terdiri dari 121 pusat praktik dokter umum yang buka di luar jam kerja, serta 94 unit gawat darurat (UGD) dengan fasilitas bedah, 90 di antaranya berada di rumah sakit dan buka 24/7.[8] Di 71 lokasi, layanan dokter umum dan ruang gawat darurat berada di rumah sakit yang sama, menjadikan total 160 lokasi layanan darurat di seluruh negeri. Menurut analisis Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Belanda, 99,8% penduduk dapat mencapai UGD atau rumah sakit dengan layanan obestetri darurat dalam waktu 45 menit pada tahun 2015.[9]

Untuk pertanyaan medis mendesak di luar jam praktik dokter keluarga, warga dapat menghubungi pusat layanan dokter umum lewat telepon. Dokter atau asistennya akan memberikan saran; jika dianggap mendesak, pasien diminta datang ke klinik, atau dirujuk ke rumah sakit bila lebih serius. Untuk keadaan darurat berat, Belanda menggunakan nomor 112 untuk memanggil ambulans.

Tingkat penggunaan antibiotik di Belanda tergolong sangat rendah, yakni 9,8 dosis harian per 1.000 penduduk per hari pada tahun 2015.[10]

Rekam medis elektronik

[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar dokter umum[11] serta seluruh apotek dan rumah sakit di Belanda telah menggunakan rekam medis elektronik (EHR). Di rumah sakit, sistem manajemen pesanan terkomputerisasi dan pencitraan medis (PACS) juga telah digunakan secara luas. Meskipun fungsionalitas EHR terus ditingkatkan di berbagai institusi, infrastruktur nasionalnya belum sepenuhnya diterima secara umum.

Pada tahun 2012, sistem EHR nasional dijalankan kembali di bawah kepemilikan bersama dokter umum, apotek, dan rumah sakit. Sejak Januari 2013, pasien diwajibkan memberikan izin eksplisit agar data mereka dapat dibagikan melalui infrastruktur nasional.

Sistem EHR nasional ini bersifat virtual, berfungsi sebagai server referensi yang "mengetahui" di mana rekam medis pasien disimpan di sistem lokal.

EDIFACT masih menjadi cara utama untuk pertukaran data pasien secara elektronik antara rumah sakit dan dokter umum.

Pemerintah Belanda mewajibkan tiga jenis skrining kesehatan nasional:

Selain itu, terdapat skrining prenatal bagi ibu hamil untuk mendeteksi penyakit menular dan kelainan janin seperti sindrom Down, Edward, dan Patau, disertai USG struktural (SEO), tes pendengaran bayi baru lahir, dan tes darah tumit neonatal.[12]

Dokter umum di Belanda tidak menyarankan pemeriksaan kesehatan rutin tahunan, namun perusahaan tetap diwajibkan melakukan pemeriksaan fisik tahunan bagi karyawannya.[13]

Rumah sakit

[sunting | sunting sumber]
Rumah Sakit Haga, Den Haag
Pusat Medis Zuyderland di Heerlen

Sebagian besar rumah sakit dan perusahaan asuransi kesehatan di Belanda dijalankan secara privat namun bersifat nirlaba, sementara sebagian besar penyedia asuransi berbentuk perusahaan nirlaba.[14]

Di Belanda, terdapat tiga jenis rumah sakit: rumah sakit universitas, rumah sakit umum, dan rumah sakit "top-klinis" atau pengajaran tingkat lanjut. Ada delapan rumah sakit universitas yang masing-masing terhubung langsung dengan fakultas kedokteran universitas besar. Rumah sakit ini merupakan yang terbesar di Belanda, dengan jumlah dan jenis spesialis serta peneliti terbanyak, dan mampu memberikan perawatan paling kompleks dan spesialis.[15]

Secara keseluruhan, terdapat sekitar 90 organisasi rumah sakit di Belanda, beberapa di antaranya mengelola lebih dari satu rumah sakit fisik akibat merger.[16] Dari jumlah tersebut, antara 26 hingga 28 organisasi tergabung dalam STZ (Samenwerkende Topklinische opleidingsZiekenhuizen), yaitu asosiasi rumah sakit pengajaran top-klinis.[16] Rumah sakit jenis ini tidak terikat langsung pada universitas tertentu, tetapi memiliki beragam spesialis medis dan menawarkan layanan umum maupun kompleks. Mereka bekerja sama dengan rumah sakit universitas untuk mendukung pendidikan mahasiswa kedokteran dan perawat, serta menyediakan perawatan spesialis. Mahasiswa magang sering ikut mendampingi dokter dalam berbagai prosedur medis.[15] Selain berfungsi sebagai pusat pelatihan, setiap rumah sakit top-klinis biasanya memiliki satu atau dua bidang spesialisasi utama dan melakukan penelitian yang berfokus pada pasien, dengan tujuan meningkatkan hasil pengobatan dan penerapan praktis.[16] Sementara itu, rumah sakit umum menangani masalah kesehatan yang lebih ringan dan akan merujuk pasien ke fasilitas yang lebih spesialis bila diperlukan.

Kecuali dalam keadaan darurat, kunjungan ke rumah sakit di Belanda harus melalui rujukan dari tenaga medis, seperti dokter umum (GP).[17]

Perbandingan internasional

[sunting | sunting sumber]
Total pengeluaran kesehatan sebagai persentase dari PDB untuk Belanda dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya dari 2005 hingga 2008
Perkembangan harapan hidup di Belanda berdasarkan gender

Pada tahun 2015, Belanda mempertahankan posisinya sebagai peringkat pertama dalam Indeks Kesehatan Konsumen Eropa (Euro Health Consumer Index), yang membandingkan sistem kesehatan di Eropa, dengan skor 916 dari maksimum 1.000 poin. Belanda merupakan satu-satunya negara yang selalu berada di tiga besar sejak indeks ini pertama kali diterbitkan pada 2005. Berdasarkan 48 indikator seperti hak pasien, aksesibilitas, pencegahan, dan hasil perawatan, Belanda menempati posisi teratas di antara 37 negara Eropa selama lima tahun berturut-turut.[18] Belanda juga menempati peringkat pertama dalam studi yang membandingkan sistem kesehatan di Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jerman, dan Selandia Baru.[19]

Sejak reformasi besar sistem kesehatan pada tahun 2006, skor Belanda terus meningkat setiap tahun. Menurut Health Consumer Powerhouse, sistem kesehatan Belanda disebut sebagai "sistem yang kacau tapi terkelola”" (managed chaos system), karena pasien memiliki kebebasan luas untuk memilih penyedia asuransi maupun layanan kesehatan. Namun, perbedaannya dengan negara lain adalah kekacauan tersebut dikelola dengan baik, keputusan medis dibuat melalui dialog antara pasien dan tenaga kesehatan.[20]

Dalam survei Toward Higher-Performance Health Systems yang diterbitkan pada November 2007 oleh jurnal kebijakan kesehatan internasional menunjukkan bahwa masyarakat Belanda memiliki pandangan paling positif terhadap sistem kesehatan mereka dibandingkan Jerman dan lima negara berbahasa Inggris lainnya. Dalam survei tersebut, 59% warga Belanda menyatakan sangat yakin akan mendapatkan layanan kesehatan yang aman dan berkualitas tinggi, dibandingkan hanya 35% warga Amerika Serikat.[21]

Berdasarkan data publik, survei pasien, dan penelitian independen, Belanda secara konsisten menempati peringkat teratas atau mendekati terbaik di antara 32 negara Eropa. Pada tahun 2009, direktur riset Health Consumer Powerhouse, Dr. Arne Bjornberg, berkomentar:

Ketika Belanda memperluas keunggulannya di antara negara-negara dengan kinerja terbaik, Euro Health Consumer Index menunjukkan bahwa Belanda mungkin telah menemukan pendekatan yang sukses. Negara ini menggabungkan persaingan dalam pendanaan dan penyediaan layanan dalam kerangka yang diatur dengan baik. Terdapat alat informasi yang mendukung konsumen untuk membuat pilihan secara aktif. Belanda juga lebih awal memulai upaya pemberdayaan pasien, yang kini jelas memberikan hasil positif di banyak bidang. Selain itu, politisi dan birokrat relatif tidak terlalu ikut campur dalam keputusan operasional terkait penyediaan layanan kesehatan di Belanda![22]

Sekitar 2,7% dokter di Belanda berasal dari luar negeri, jauh lebih rendah dibandingkan Inggris yang mencapai hampir 30%.[23]

Waktu tunggu

[sunting | sunting sumber]

Daftar tunggu di Belanda meningkat sejak tahun 1980-an akibat pembatasan anggaran yang diberlakukan pada sektor rumah sakit[butuh rujukan]. Untuk mengatasinya, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan guna meningkatkan kapasitas layanan rumah sakit. Pada tahun 2001, sistem anggaran tetap rumah sakit diganti menjadi pembayaran berbasis aktivitas (dengan batasan tertentu)[butuh rujukan]. Selain itu, pembatasan jumlah spesialis yang berhak menerima pembayaran dari dana asuransi kesehatan sosial — yang sebelumnya menutupi dua pertiga populasi — dihapus. Rata-rata waktu tunggu untuk pasien rawat inap turun dari 8,6 minggu menjadi 5,5 minggu pada 2003, dan untuk pasien rawat jalan dari 6,4 minggu menjadi 5,1 minggu.

Pada tahun 2005, sebagai bagian dari reformasi sistem kesehatan, diperkenalkan sistem pembayaran per kasus pasien di rumah sakit. Seiring waktu, persentase kasus yang biayanya dapat dinegosiasikan antara rumah sakit dan perusahaan asuransi meningkat. Perusahaan asuransi juga memantau waktu tunggu — yang wajib dipublikasikan oleh rumah sakit — serta membantu pasien menemukan layanan dengan waktu tunggu terpendek, bahkan di luar negeri. Pembayaran tetap bagi dokter spesialis diganti menjadi pembayaran per pasien, yang mendorong peningkatan produktivitas mereka. Pada tahun 2011, rata-rata waktu tunggu untuk sebagian besar operasi menjadi 5 minggu atau kurang.[24]

Menurut Commonwealth Fund 2010 Health Policy Survey yang melibatkan 11 negara, 70% responden Belanda menyatakan menunggu kurang dari 4 minggu untuk bertemu spesialis, dan 16% menunggu 2 bulan atau lebih. Untuk operasi elektif, 59% menunggu kurang dari 4 minggu, dan hanya 5% yang menunggu 4 bulan atau lebih, angka yang sebanding dengan responden di Amerika Serikat.[25]

Asuransi kesehatan di Belanda bersifat wajib, dan sistemnya didukung oleh dua bentuk asuransi utama:

  • Zorgverzekeringswet (ZYW) atau asuransi dasar, yang menanggung layanan medis umum.
  • Wet langdurige zorg (WLZ), yang menanggung perawatan jangka panjang seperti keperawatan intensif (sebelumnya dikenal sebagai Algemene Wet Bijzondere Ziektekosten (AWBZ)).

Penduduk Belanda otomatis diasuransikan oleh pemerintah untuk WLZ, sedangkan setiap orang wajib memiliki asuransi kesehatan dasar (basisverzekering) sendiri, kecuali anak di bawah 18 tahun yang secara otomatis tercakup dalam asuransi orang tuanya. Warga yang tidak mengambil asuransi dapat dikenakan denda. Perusahaan asuransi wajib menawarkan paket dasar yang sama bagi semua orang berusia di atas 18 tahun, tanpa membedakan usia atau kondisi kesehatan. Dalam sebagian besar kasus, penolakan atau pembebanan syarat khusus terhadap pendaftar adalah ilegal.[26][27] Berbeda dengan banyak negara Eropa lainnya, pemerintah Belanda hanya bertanggung jawab atas aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan, bukan pengelolaannya secara langsung.

Sistem pembiayaan kesehatan Belanda menggunakan dua skema utama sejak Januari 2006. Perawatan jangka panjang, terutama yang melibatkan rawat inap permanen atau semi-permanen serta biaya disabilitas seperti kursi roda, ditanggung oleh asuransi wajib yang dikendalikan negara berdasarkan WLZ yang pertama kali diberlakukan pada 1968 (saat itu bernama AWBZ). Pada tahun 2009, skema ini mencakup sekitar 27% dari total pengeluaran kesehatan.[28]

Untuk perawatan medis jangka pendek, digunakan sistem asuransi kesehatan wajib dengan perusahaan asuransi swasta, yang harus menyediakan paket dengan cakupan layanan yang telah ditetapkan.[5] Jenis asuransi ini menanggung sekitar 41% dari total pengeluaran kesehatan.[29]

Sumber pendanaan lainnya berasal dari pajak (14%), pembayaran pribadi (9%), paket asuransi tambahan opsional (4%), dan beragam sumber lain (4%).[29] Keterjangkauan dijaga melalui subsidi berbasis pendapatan serta premi yang disesuaikan dengan penghasilan individu dan pemberi kerja.

Ciri khas sistem di Belanda adalah premi tidak boleh didasarkan pada kondisi kesehatan atau usia. Risiko antar perusahaan asuransi disesuaikan melalui mekanisme penyeimbangan risiko (risk equalization) dan pool risiko (risk pool) bersama. Pembiayaan layanan kesehatan jangka pendek berasal dari 50% pemberi kerja, 45% peserta asuransi, dan 5% pemerintah. Anak-anak di bawah 18 tahun mendapatkan cakupan gratis, sementara warga berpenghasilan rendah menerima subsidi (zorgtoeslag) untuk membantu membayar premi. Rata-rata, peserta membayar €159 per bulan untuk asuransi dasar (basisverzekering) atau sekitar US$166 pada tahun 2025, dengan variasi sekitar 10% antar penyedia asuransi, serta pengurangan wajib (eigen risico) sebesar €385 (US$401) per tahun sejak tahun 2020.[30][31]

Belanda memiliki sistem kesehatan dua tingkat. Layanan primer dan kuratif seperti dokter umum, rumah sakit, dan klinik dibiayai oleh asuransi wajib swasta, sedangkan perawatan jangka panjang bagi lansia, pasien terminal, dan penderita gangguan mental kronis ditanggung oleh asuransi sosial yang dibiayai melalui pajak khusus berdasarkan Algemene Wet Bijzondere Ziektekosten (AWBZ) sejak 1968.

Perusahaan asuransi swasta wajib menyediakan paket asuransi dasar universal dengan harga tetap yang mencakup layanan primer dan pengobatan termasuk obat resep. Premi yang dibayar sama untuk semua, tanpa membedakan usia atau kondisi kesehatan. Menolak calon peserta, memberi syarat khusus, atau menolak pembiayaan pengobatan dokter adalah tindakan ilegal. Pendanaan sistem ini berasal dari: 50% pajak gaji yang dibayarkan pemberi kerja ke dana regulator kesehatan, 5% kontribusi pemerintah, dan 45% premi langsung dari peserta kepada perusahaan asuransi. Sebagian perusahaan membayar premi karyawan sebagai fasilitas kerja. Semua perusahaan asuransi juga mendapat tambahan dana dari regulator.

Regulator memantau klaim peserta dan dapat mendistribusikan ulang dana berdasarkan jumlah klaim yang diajukan. Dengan demikian, perusahaan asuransi yang menanggung biaya lebih tinggi akan menerima kompensasi lebih besar, sehingga tidak ada insentif untuk menolak peserta berbiaya tinggi. Perusahaan bersaing dalam penentuan harga premi 45% dan berusaha menekan biaya rumah sakit sambil menjaga mutu. Regulator persaingan mengawasi agar tidak ada monopoli atau kartel, sementara regulator asuransi memastikan semua paket dasar memiliki cakupan identik.

Perusahaan asuransi dapat menawarkan layanan tambahan berbayar, seperti perawatan gigi. Premi standar untuk dewasa sekitar €159 per bulan. Warga berpenghasilan rendah bisa mendapat subsidi, sedangkan anak di bawah 18 tahun diasuransikan gratis karena biayanya ditanggung dari dana regulator.

Warga dan ekspatriat yang wajib mengikuti sistem ini dapat berpindah perusahaan asuransi setiap tahun. Premi tahun berikutnya harus diumumkan sebelum periode pendaftaran terbuka, dan asuransi lama tetap menanggung biaya hingga perpindahan selesai.

Pada 2022, biaya asuransi dasar naik sebesar €127 menjadi €1.649 per tahun, dan diskon untuk asuransi kolektif dilarang.[32] Sebagian besar paket asuransi memberi kebebasan pasien memilih tempat perawatan. Untuk membantu, pemerintah menyediakan situs Zorginzicht (pengumpulan data) dan KiesBeter (informasi kinerja penyedia layanan).[33] Pasien yang tidak puas dapat berganti asuransi di akhir tahun dengan beberapa pengecualian.

Kelompok minoritas tertentu di Belanda, terutama beberapa cabang Kalvinis Ortodoks dan Kristen Evangelis, menolak memiliki asuransi karena alasan agama. Untuk mengakomodasi keberatan ini, sistem di Belanda menyediakan klausul khusus untuk keluar (opt-out). Dalam kasus ini, pajak gaji yang biasanya dibayarkan pemberi kerja untuk asuransi kesehatan tidak dimasukkan ke sistem redistribusi pemerintah, tetapi (setelah permohonan ke otoritas pajak) dikreditkan ke rekening tabungan kesehatan pribadi. Individu dapat menggunakan dana tersebut untuk membayar biaya medis, tetapi jika saldo habis, ia harus menanggung biaya sendiri. Jika orang tersebut meninggal dunia dan masih ada sisa dana, jumlah itu akan menjadi bagian dari warisan.

Apabila pemilik rekening tabungan kesehatan memutuskan untuk bergabung kembali dengan sistem asuransi, otoritas pajak akan memasukkan sisa dana di rekening tersebut ke dana risiko bersama.

Aturan mengenai opt-out ini dirancang agar mereka yang menolak asuransi dapat keluar dari sistem tanpa membebani sistem publik. Namun, pada akhirnya penyedia layanan kesehatan tetap wajib memberikan perawatan darurat, tanpa memandang status asuransi atau kemampuan finansial.[butuh rujukan]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. J.M. Boot, 'De Nederlandse Gezondheidszorg', Bohn Stafleu van Loghum 2011
  2. "How are costs contained?". www.commonwealthfund.org. 5 June 2020.
  3. World Health Organization: The WORLD HEALTH REPORT 2000
  4. 1 2 3 4 5 Scott, Dylan (17 January 2020). "The Netherlands has universal health insurance — and it's all private". Vox. Diakses tanggal 24 February 2020.
  5. 1 2 http://www.minvws.nl/en/themes/health-insurance-system/ Ministry of Health, Welfare and Sport
  6. "Eigen risico zorgverzekering 2024| Consumentenbond".
  7. Professor Arne Björnberg, Ph.D (26 January 2016). Euro Health Consumer Index – Outcomes in EHCI 2015 (PDF) (Report). Health Consumer Powerhouse. ISBN 978-91-980687-5-7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 June 2017. Diakses tanggal 27 January 2016.
  8. G.J. Kommer (RIVM) (2016). "Aanbod acute zorg — Volksgezondheidenzorg.info" [Acute care provisions] (dalam bahasa Belanda). Netherlands National Institute for Public Health and the Environment. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-07-29. Diakses tanggal 29 July 2017.
  9. GJ Kommer; R Gijsen; LC Lemmens; M Kooistra; C Deuning (3 June 2015). "Beschikbaarheid, specialisatie en bereikbaarheid van Spoedeisende hulp in Nederland - Analyse gevoelige ziekenhuizen — RIVM" [Availability, specialisation and reachability of Emergency medical aid in the Netherlands - Analysis of sensitive hospitals] (dalam bahasa Belanda). Netherlands National Institute for Public Health and the Environment. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-08-16. Diakses tanggal 29 July 2017.
  10. "UK antibiotic consumption twice that of the Netherlands, WHO report finds". Pharmaceutical Journal. 14 November 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 22 December 2018. Diakses tanggal 22 December 2018.
  11. Terry K (15 November 2012). "EHR Adoption: U.S. Remains The Slow Poke". Informationweek. Diarsipkan dari asli tanggal 4 November 2013. Diakses tanggal 11 January 2020.
  12. "Population screening programmes". National Institute for Public Health and the Environment. Diakses tanggal 17 September 2024.
  13. "Health checks". Healthcare for Internationals. Diakses tanggal 17 September 2024.
  14. Ralf Götze (2010): "The Changing Role of the State in the Dutch Healthcare System", TranState Working Papers 141
  15. 1 2 "Hospitals in the Netherlands". IamExpat foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2017-07-29. Diakses tanggal 29 July 2017.
  16. 1 2 3 Van de Laak, Bart (19 December 2014). "Wat betekent het als een ziekenhuis zich 'topklinisch' noemt — Wegwijs.nl" [What does the title 'top-clinical' mean about a hospital?] (dalam bahasa Belanda). Wegwijs. Diarsipkan dari asli tanggal 8 June 2023. Diakses tanggal 29 July 2017.
  17. "What to do when you need healthcare". Holland Times. Diakses tanggal 17 September 2024.
  18. "Outcomes in EHCI 2015" (PDF). Health Consumer Powerhouse. 26 January 2016. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 June 2017. Diakses tanggal 27 January 2016.
  19. "U.S. scores dead last again in healthcare study". Reuters. 23 June 2010.
  20. "Health Consumer Powerhouse – Health Care System's Indexes and reports". Diarsipkan dari asli tanggal 4 March 2022. Diakses tanggal 28 December 2020.
  21. Schoen, Cathy; Osborn, Robin; Doty, Michelle M.; Bishop, Meghan; Peugh, Jordon; Murukutla, Nandita (1 January 2007). "Toward Higher-Performance Health Systems: Adults' Health Care Experiences In Seven Countries, 2007". Health Affairs. 26 (Supplement 2): w717 – w734. doi:10.1377/hlthaff.26.6.w717. PMID 17978360.
  22. "Archived copy" (PDF). www.healthpowerhouse.com. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 September 2015. Diakses tanggal 14 January 2022. Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
  23. "The Bedpan: The NHS doesn't exist to provide jobs for migrants". Health Service Journal. 3 February 2019. Diakses tanggal 17 March 2019.
  24. Siciliani, L., M. Borowitz and V. Moran (eds.). (2013). Waiting Time Policies in the Health Sector: What Works? (pp. 184, 187, 189-195). Paris: OECD Health Policy Studies, OECD Publishing. Retrieved from http://www.quotidianosanita.it/allegati/allegato2476022.pdf
  25. The Commonwealth Fund. (2010). Commonwealth Fund 2010 Health Policy Survey in 11 Countries. New York, NY: Author. Accessed from http://www.commonwealthfund.org/~/media/files/publications/chartbook/2010/pdf_2010_ihp_survey_chartpack_full_12022010.pdf
  26. "RTLZ: Promovendum accepteert je alleen als je hoger opgeleid bent, mag dat? | Weblog Moneywise.nl". weblog.moneywise.nl.
  27. Vegterlo, Anne (7 November 2015). "Een verzekering, alleen voor slimme mensen". NRC.
  28. "Zorgrekeningen; uitgaven (in lopende en constante prijzen) en financiering" (dalam bahasa Belanda). Centraal Bureau voor de Statistiek: StatLine. 20 May 2010. Diakses tanggal 16 May 2011.
  29. 1 2 CBS StatLine accessed 07 Juli 2022 https://www.cbs.nl/nl-nl/cijfers/detail/84047NED
  30. "Zorgpremie 2025".
  31. "Wat is het eigen risico van mijn zorgverzekering en wanneer betaal ik dit?" [What is my health insurance deductible and when do I pay it?] (dalam bahasa Belanda). Ministry of General Affairs. 13 November 2015. Diakses tanggal 24 September 2024.
  32. "Half of Dutch can't afford health insurance premiums; More expect to switch insurers". NL Times. 10 November 2022. Diakses tanggal 14 November 2022.
  33. Nederland, Zorginstituut. "KiesBeter". www.kiesbeter.nl.