Pelabuhan Tegal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pelabuhan Tegal
Pelabuhan - panoramio.jpg
Kapal Cantrang yang akan bersandar di Pelabuhan Tegal.
Lokasi di Jawa Tengah
Lokasi
Negara Indonesia
LokasiTegalsari, Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah
Koordinat6°51′08″S 109°08′16″E / 6.852280°S 109.137864°E / -6.852280; 109.137864
Detail
JenisPelabuhan Perikanan
Otoritas pelabuhanKSOP kelas IV Tegal
OperatorPT Pelindo III Regional Jawa Tengah

Pelabuhan Tegal, dikenal pula dengan Pelabuhan Pelindo Tegal atau Pelabuhan Tegal Timur adalah salah satu Pelabuhan Perikanan yang berada di Kota Tegal, Jawa Tengah. Meski merupakan pelabuhan perikanan, pelabuhan ini tidak dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, melainkan dikelola oleh PT Pelindo III Regional Jawa Tengah.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Keberadaan pelabuhan Tegal sudah ada sejak abad ke-15, dimana Ki Gede Sebayu mengembangkan sebuah pelabuhan tua di muara Kali Gung untuk mengangkut bahan pangan. Karena wilayah di sekitar pelabuhan tersebut adalah tanah subur yang digunakan untuk pertanian, maka kemudian dinamakan Tetegal.

Pelabuhan Tegal semakin dikenal setelah penjelajah dan pedagang asal Portugis yakni Tome Pires menyinggahi pelabuhan ini pada akhir abad ke-15. Tome Pires mengatakan bahwa Tetegual adalah wilayah dengan pelabuhan yang ramai dan memiliki tanah yang subur.

Pelabuhan Tegal pun semakin ramai pada zaman Mataram, dimana Tegal dan Pekalongan menjadi kota yang penting dalam sektor maritim di wilayah Mataram. Tegal juga menjadi daerah yang ditunjuk Sultan Agung sebagai tempat untuk membawa beras dengan perahu yang diperlukan bagi persediaan pangan tentara Mataram saat berperang melawan VOC di Batavia. [1]

Pada abad ke-18, Tegal jatuh ke tangan Hindia Belanda, dan disinilah pelabuhan mulai dikembangkan. Pada masa itu Pelabuhan Tegal sudah berfungsi sebagai pusat berlabuhnya kapal-kapal dagang. bahkan Pelabuhan Tegal sampai disebut sebagai Haven Zucker (Pelabuhan Gula), dikarenakan pada masa itu pula wilayah Tegal menjadi salah satu sentra produksi gula di Karesidenan Pekalongan, sehingga pelabuhan Tegal dijadikan tempat pengiriman gula menuju ke berbagai daerah di Hindia Belanda.[2]

Tidak hanya itu, pelabuhan Tegal juga menjadi salah satu pusat pengangkutan kapal penumpang dan surat. Salah satu perusahaan jasa layanan kapal penumpang yang melayani pelabuhan Tegal saat itu adalah Rotterdamsche Lloyd (RL) dan Stoomvaart Maatshappij Nederland (SMN) yang membuka rute pelayaran menuju ke berbagai kota di Hindia Belanda. [3]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Pelabuhan Tegal terletak di Jalan RE Martadinata no 19, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat. Untuk membedakannya dengan Pelabuhan Perikanan Pantai Jongor milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pelabuhan ini juga dikenal dengan nama Pelabuhan Tegal Timur, Pelabuhan Pelindo Tegal atau Pelabuhan Bacin. Pelabuhan ini berada di muara Sungai Bacin, sungai yang disodet dari Sungai Kali Gung. Sodetan tersebut bermula di Jalan Serayu, Mintaragen kemudian mengalir ke utara melewati Panggung Baru dan bermuara di Muara Bacin.

Pada dekade 1970-an, Pelabuhan Tegal merupakan salah satu Pelabuhan Bongkar Muat terbesar setelah Pelabuhan Kalibaru, Jakarta Utara. Pelabuhan Tegal ini juga menjadi tempat sandarnya kapal-kapal Pelra (Pelayaran Rakyat) yang membawa komoditas Kayu dari Kalimantan. Sebaliknya, dari Pelabuhan Tegal kapal-kapal Pelra itu membawa komoditas Sembako (Sembilan Bahan Pokok ke Kalimantan). Keadaan tersebut berlangsung hingga tahun 1983, dimana Pelindo mengoptimalkan fungsi Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan niaga utama di wilayah pesisir Jawa bagian barat. Dari sinilah Pelabuhan Tegal berubah menjadi pelabuhan niaga dan perikanan terpadu, setelah sebagian besar aktivitasnya dipindahkan ke Pelabuhan Cirebon.

Perayaan dan tradisi[sunting | sunting sumber]

Berbagai perayaan dan tradisi juga kerap kali diselenggarakan di pelabuhan ini.

Setiap tahunnya pada pertengahan bulan Sura, para nelayan di pelabuhan ini menggelar Sedekah Laut, yakni pelarungan sesaji berupa ancak yang dihias ke tengah laut. Hal ini adalah wujud rasa syukur nelayan atas kekayaan hasil laut Kota Tegal.

Etnis Tionghoa di Kota Tegal juga mengadakan sembahyang dan gotong Toapekong di pelabuhan ini di hari ke-15 setelah imlek setiap tahunnya.

Mitos[sunting | sunting sumber]

Keberadaan pelabuhan Tegal tidak bisa dilepaskan dari mitos tentang Nyai Rantam Sari. Nyai Rantam Sari, dipercaya oleh masyarakat sebagai penunggu Laut Jawa di wilayah Tegal dan Brebes. Cerita yang beredar, dikisahkan Rantam Sari adalah seorang wanita cantik yang setia pada kekasihnya, namun kemudian dikecewakan. Karena putus asa, ia menghanyutkan dirinya ke laut.

Di pelabuhan Tegal, kisah Nyai Rantam Sari mulai dipercaya oleh masyarakat sekitar setelah seorang pemancing ikan mengaku pernah berjumpa dengan sosok Nyai Rantam Sari tersebut di dermaga pelabuhan Tegal.[4]

Dari kisah tersebut, masyarakat mempercayai roh Nyai Rantam Sari sebagai tempat pertolongan untuk melindungi anak perempuan yang masih perawan dari ancaman nafsu jahat seorang lelaki. Bahkan pada hari-hari tertentu, masyarakat menyediakan sesaji khusus untuk menghormati roh Nyai Rantam Sari tersebut.

Rencana Pengembangan[sunting | sunting sumber]

Karena berada di posisi yang strategis, Pemerintah pun ikut andil dalam mengembangkan Pelabuhan Tegal. Beberapa rencana sudah disiapkan oleh pemerintah guna perkembangan Pelabuhan Tegal.

Pelindo akan mengintegrasikan pelabuhan dengan rencana pengembangan kawasan wisata pantai serta pemukiman di sekitar pelabuhan[5]. Selain itu, Pemerintah Kota Tegal juga sedang berupaya dalam pengerukan Sungai Bacin yang dimana semakin dangkal, sehingga nantinya Pelabuhan Tegal bisa dilalui kembali oleh kapal-kapal bermuatan besar, seperti batu bara.

Insiden[sunting | sunting sumber]

  • Sebanyak 17 kapal nelayan di Pelabuhan Tegal terbakar hebat pada tanggal 29 Januari 2022. Kebakaran berawal dari hubungan arus pendek listrik pada salah satu kapal yang baru sampai dari melaut. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah, dan hilangnya pekerjaan dari awak kapal.[6]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Alamsyah. 2016. "Deskripsi Hinterland di Karesidenan Tegal abad XIX". Jurnal. Semarang:Universitas Diponegoro
  2. ^ Imam Mudien. 2001. "Terminal Barang Pelabuhan Tegal". Skripsi. Yogyakarta:Universitas Islam Indonesia
  3. ^ Rizqi Fauzan Mustofa: Tegal Kota Bahari, Bukan Slogan Belaka, diakses 29 Desember 2021
  4. ^ sawitplus.co: Dewi Rantamsari Ini Penguasa Pantai Tegal, diakses 04 Februari 2022
  5. ^ Supply Chain Indonesia: Pemkot Tegal Sambut Baik Langkah Awal Pelindo III Kembangkan Pelabuhan Tegal, diakses 20 Mei 2017
  6. ^ Yohanes Liestyo Poerwoto: Kebakaran Kapal di Tegal: Kapal Terbakar Tambah Jadi 17 Unit, Nelayan Rugi Miliaran Rupiah, diakses 03 Februari 2022

Pranala luar[sunting | sunting sumber]