Pelabuhan Manila
| Pelabuhan Manila Port of Manila Pantalan ng Maynila | |
|---|---|
Panorama Pelabuhan Selatan Manila | |
| Lokasi | |
| Negara | Filipina |
| Lokasi | Port Area dan Tondo, Manila |
| Koordinat | 14°35′48″N 120°57′16″E / 14.59667°N 120.95444°E |
| UN/LOCODE | PHMNL[1] |
| Detail | |
| Mulai beroperasi | 12th century |
| Operator | Otoritas Pelabuhan Manila |
| Dimiliki oleh | Pemerintah Manila |
| Jenis | Alami/Buatan |
| Luas lahan | 137,5 hektare (340 ekar) |
| Jumlah Punggahan | 22 |
| Jumlah dermaga | 12 |
| Statistik | |
| Kedatangan kapal | 20.828(2012)[2] |
| Tonase kargo per tahun | 75.058.855(2012)[2] |
| Volume peti kemas per tahun | 4.523.339 SSDPK(2016)[3] |
| Arus penumpang | 72.438.609(2017)[2] |
| Situs web www | |
Pelabuhan Manila (Inggris: Port of Manila; Filipino: Pantalan ng Maynila) merupakan sebutan untuk sekumpulan pelabuhan-pelabuhan yang beroperasi di Metro Manila, yang terdiri dari Pelabuhan Utara Manila, Pelabuhan Selatan Manila, dan Terminal Kontainer Internasional Manila. Pelabuhan ini berlokasi di distrik Port Area dan Tondo di Kota Manila, yang menghadap ke Teluk Manila, dan merupakan gerbang pelayaran internasional terbesar dan terutama di Filipina. Otoritas Pelabuhan Filipina, sebuah badan usaha milik negara, merupakan badan yang mengelola Pelabuhan Manila (juga sebagian besar pelabuhan di negara ini).
Sejarah
[sunting | sunting sumber]
Perdagangan di Teluk Manila telah lama dilakukan setidaknya pada abad kesembilan hingga abad kedua belas, ketika Manila menjadi pusat perdagangan bagi negara-negara tetangga seperti Tiongkok dan Jepang yang ingin berdagang dengan pedagang India yang datang dari arah yang saat ini merupakan negara Malaysia dan Indonesia.[4] Selama masa penjajahan Spanyol, status Manila meningkat menjadi pusat perdagangan internasional yang melayani perdagangan dari negara Asia Timur, Spanyol Baru, Timur Tengah, hingga Spanyol dari abad ke-16 hingga abad ke-19, ketika pelabuhan di seluruh Filipina terbuka untuk semua jenis perdagangan. Manila juga menjadi pusat pelayaran galiung yang menghubungkan Filipina dengan Spanyol melalui Meksiko. Dari masa penjajahan Spanyol, masa penjajahan Amerika Serikat, hingga kemerdekaan Filipina, Pelabuhan Manila tetap menjadi pelabuhan utama kepulauan tersebut, baik untuk perdagangan regional maupun internasional.
Pelabuhan Manila merupakan bagian dari Jalur Sutra Maritim yang menghubungkan pesisir Tiongkok menuju Singapura. Secara keseluruhan, jalur maritim ini membantu pelayaran dari Tiongkok, India, Mombasa, hingga ke negara-negara di Laut Tengah melalui Terusan Suez.[5][6]
Lokasi
[sunting | sunting sumber]Jalur masuk menuju Teluk Manila memiliki lebar seluas 19 kilometer, yang kemudian meluas hingga 48 kilometer. Mariveles, di provinsi Bataan, merupakan tempat berlabuh bagi kapal yang hendak memasuki pelabuhan utara, dan Sangley Point, yang merupakan bekas lokasi Pangkalan Angkatan Laut Cavite. Di kedua sisi teluk terdapat puncak-puncak gunung berapi yang ditumbuhi dedaunan tropis. Sekitar 40 kilometer di utara adalah Semenanjung Bataan dan di selatan adalah provinsi Cavite.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "UNLOCODE (PH) – PHILIPPINES". service.unece.org. Diakses tanggal April 26, 2020.
- 1 2 3 "Port Statistics". Diarsipkan dari asli tanggal August 9, 2014. Diakses tanggal December 13, 2014.
- ↑ "The CIA World Factbook – Philippines". Central Intelligence Agency. Diakses tanggal September 20, 2017.
- ↑ Philippines, The. The Columbia Encyclopedia, Sixth Edition. 2001–07 Diarsipkan July 28, 2008, di Wayback Machine.
- ↑ China Bypasses Philippines in Its Proposed ‘Maritime Silk Road’
- ↑ Belt and Road benefits the Philippines
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Port of Manila: Review and History World Port Source, 2005–2014