Saudagar Minangkabau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Pedagang Minangkabau)
Langsung ke: navigasi, cari

Saudagar Minangkabau merujuk pada profesi sekelompok masyarakat yang berasal dari ranah Minangkabau.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Selama berabad-abad, perdagangan hasil tambang dan pertanian Minangkabau telah menjadi sumber utama dalam kemajuan ekonomi Samudera Hindia yang dinamis. Pedagang-pedagang besar Minangkabau telah melakukan perdagangan sejak abad ke-7. Mereka menjadi pedagang berpengaruh yang beroperasi di pantai barat dan pantai timur Sumatera. Perdagangan emas pada mulanya menjadi perdagangan utama masyarakat Minang. Lembah Tanah Datar merupakan tempat penting sebagai penghasil emas untuk ekonomi Minangkabau.[2]:69 Upaya mencari emas kadang-kadang mendorong terjadinya perpindahan penduduk. Keberadaan orang Minangkabau di barat laut Jambi, disebabkan oleh upaya pencarian emas.[3]:79 Diundang oleh Raja Regale dan para pendahulunya, banyak orang Minang menyeberang Selat Malaka menuju Johor untuk mengumpulkan debu emas dan bongkahannya. Pedagang emas Minangkabau sering adalah wiraswastawan terkemuka, yang mengandalkan sistem politik Tanah Datar untuk memberikan perlindungan apabila ia membawa kafilahnya yang terdiri atas seratus orang lebih berjalan menuruni lereng berbatu Bukit Barisan menuju pelabuhan di pantai barat. Pada akhir abad ke-18, tambang-tambang emas mulai habis dan perdagangannya mencapai titik nadir.

Setelah cadangan emas mengalami penurunan, perdagangan komoditas menjadi basis utama bisnis orang-orang Minang. Perdagangan lada, akasia, dan gambir berkembang pesat pada abad ke-15 hingga abad 18.[4] Dilanjutkan dengan perdagangan kopi pada abad ke-18 hingga 19. Mereka membawa barang dagangan dari pedalaman Minangkabau ke Selat Malaka atau Samudera Hindia untuk dijualkan kepada pedagang-pedagang asing. Ke pantai timur, perdagangan banyak dilakukan melalui sungai-sungai besar seperti Kampar, Siak, Indragiri, dan Batang Hari. Dari kegiatan perdagangan ini, banyak pedagang Minang yang bermigrasi dan mendirikan koloni di sepanjang pesisir barat dan timur Sumatra, bahkan hingga ke semenanjung Malaysia. Di pantai barat mereka mendirikan pos-pos dagang di Meulaboh, Barus, Sorkam, Natal, Tiku, Pariaman, Padang, hingga Bengkulu. Di pesisir timur, koloni dagang mereka terbentang dari Batubara, Pelalawan, hingga Jambi.

Sejak kemunculan Kerajaan Sriwijaya dan dilanjutkan dengan Kesultanan Malaka, banyak pedagang Minangkabau yang bekerja untuk kerajaan. Peranan pedagang Minangkabau mulai menurun sejak dikuasainya pantai barat Sumatera oleh Kesultanan Aceh, kemudian oleh Belanda.[5]. Dibukanya Penang dan Singapura di Selat Malaka, menggairahkan kembali perdagangan antara Minangkabau dengan dunia luar. Dari perdagangan komoditas dengan kota-kota tersebut, banyak desa-desa di Dataran Tinggi Minangkabau yang mendadak kaya raya. Di samping menjadi pedagang perantara, pedagang Minang juga banyak yang menjadi pedagang lintas selat, yang mana peran ini banyak dimainkan oleh pengusaha Minang yang bermukim di Batubara. Dengan kapal-kapal mereka, pedagang ini mengangkut aneka komoditas yang datang dari pedalaman untuk dijual di pasaran Singapura.[2] Selain berdagang di Selat Malaka, para pebisnis lintas selat ini juga beroperasi di pantai barat Sumatera, Kepulauan Karimata, Selat Sunda, Laut Jawa, Laut Sulu, hingga Kepulauan Maluku. Di samping tiga orang bersaudara: Nakhoda Bayan, Nakhoda Intan, dan Nakhoda Kecil; Nakhoda Mangkuto, yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Nakhoda Muda, merupakan beberapa pedagang lintas selat yang sukses berdagang komoditas.[6]

Pada paruh kedua abad ke-18, tanaman dan industri baru berkembang pesat di Minangkabau. Hal ini segera merangsang para pengusaha dan pedagang untuk meraih kekayaan yang lebih. Kekayaan inilah kemudian yang meletakkan jalan serta fondasi bagi berkembangnya Gerakan Padri, sebuah gerakan pembaruan keagamaan yang dipelopori oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Di pantai muncul tambak-tambak garam, di daerah Agam budidaya kapas maju dengan pesat dan menyediakan bahan untuk penenunan katun yang makin lama makin giat. Di Kabupaten Lima Puluh Kota ditanam pohon gambir yang pada waktu itu dipakai sebagai obat, yang kemudian menjadi komoditas ekspor.[7]:106

Pada awal abad ke-19, pedagang-pedagang Eropa terutama Belanda, mulai mendominasi perdagangan Minangkabau. Perang Padri yang berlangsung selama 30 tahun lebih berusaha untuk mengusir pedagang-pedagang Belanda yang banyak beroperasi di daerah pedalaman. Mereka berusaha untuk memonopoli semua komoditas dagang yang dihasilkan ranah Minangkabau. Kekalahan pasukan Padri, telah meluluhlantakan perdagangan Minangkabau sekaligus penguasaan wilayah ini dibawah pemerintahan Hindia-Belanda.[2] Meski berada di bawah cengkeraman kolonial Hindia-Belanda, pada masa inipun ranah Minang juga melahirkan beberapa pengusaha besar, di antaranya ialah Abdul Gani Rajo Mangkuto dan Muhammad Saleh. Pada tahun 1914, beberapa pedagang Minang yang dikepalai oleh Taher Marah Soetan mendirikan Sarikat Usaha. Selain untuk memperkuat bisnis orang Minang, serikat ini juga bertujuan untuk memajukan pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.[8]

Kebangkitan pedagang Minang terjadi kembali pasca-kemerdekaan. Di antara tahun 1950–1970, banyak pengusaha Minangkabau yang sukses berbisnis. Antara lain Hasyim Ning, Rahman Tamin, Sidi Tando, dan Rukmini Zainal Abidin. Pada masa itu, mereka termasuk kelompok masyarakat yang paling besar kekayaannya di Indonesia.[7]:107 Di zaman Orde Baru, kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pedagang Tionghoa sangat merugikan pedagang Minangkabau. Kesulitan berusaha dialami oleh pedagang Minang pada saat itu, terutama masalah pinjaman modal di bank serta pengurusan izin usaha. Di penghujung era Orde Baru, beberapa pengusaha Minang yang dimotori oleh Abdul Latief, Aminuzal Amin, Nasroel Chas, dan Fahmi Idris mendirikan perusahaan joint venture Nagari Development Corporation (NDC), yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Minangkabau.

Kultur[sunting | sunting sumber]

Berdagang merupakan salah satu kultur yang menonjol dalam masyarakat Minangkabau. Bagi masyarakat Minang, berdagang tidak hanya sekadar mencari nafkah dan mengejar kekayaan, tetapi juga sebagai bentuk eksistensi diri untuk menjadi seorang yang merdeka. Dalam budaya Minang yang egaliter, setiap orang akan berusaha untuk menjadi seorang pemimpin. Menjadi subordinat orang lain, sehingga siap untuk diperintah-perintah, bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Prinsip "lebih baik menjadi pemimpin kelompok kecil daripada menjadi anak buah organisasi besar" (elok jadi kapalo samuik daripado ikua gajah) merupakan prinsip sebagian besar masyarakat Minang. Menjadi seorang pedagang merupakan salah satu cara memenuhi prinsip tersebut, sekaligus menjadi orang yang merdeka. Dengan berdagang, orang Minang bisa memenuhi ambisinya, dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginannya, hidup bebas tanpa ada pihak yang mengekang sehingga banyak perantau muda Minangkabau lebih memilih berpanas-panas terik di pinggir jalan, berteriak berjualan kaos kaki, daripada harus kerja kantoran, yang acap kali disuruh dan dimarah-marahi.[rujukan?]

Berkembangnya kultur dagang dalam masyarakat Minang, disebabkan adanya harta pusaka tinggi yang menjamin kepemilikan tanah dan keberlangsungannya bagi setiap kaum di Minangkabau. Dengan kepemilikan tanah tersebut, posisi masyarakat Minang tidak hanya sebagai pihak penggarap saja, melainkan juga menjadi pedagang langsung yang menjual hasil-hasilnya ke pasaran.[rujukan?]

Selain itu, kultur merantau yang menanamkan budaya mandiri, menjadikan profesi berdagang sebagai pekerjaan pemula untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karenanya menjadi pedagang kaki lima sering menjadi pekerjaan awal bagi banyak perantau Minang.[rujukan?]

Jenis usaha[sunting | sunting sumber]

Restoran[sunting | sunting sumber]

Usaha rumah makan merupakan jenis usaha yang banyak digeluti oleh pedagang Minang. Jaringan restoran Minang atau yang biasa dikenal dengan restoran Padang tersebar ke seluruh kota-kota di Indonesia, bahkan hingga ke Malaysia dan Singapura. Di samping itu terdapat juga usaha restoran yang memiliki ciri khas dan merek dagang yang dijalani oleh pedagang dari daerah tertentu. Pedagang asal Kapau, Agam biasanya menjual nasi ramas yang dikenal dengan Nasi Kapau. Pedagang Pariaman banyak yang menjual Sate Padang. Sedangkan pedagang asal Kubang, Lima Puluh Kota menjadi penjual martabak, dengan merek dagangnya Martabak Kubang. Restoran Sederhana yang dirintis oleh Bustaman menjadi jaringan restoran Padang terbesar dengan lebih dari 60 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Malaysia, Restoran Sari Ratu yang didirikan oleh Auwines, salah satu Restoran Padang yang sukses.

Restoran Padang dan Jumlah Cabang (2009)[9]
Nama Restoran Jumlah Lokasi
Sederhana 60 Jabotabek, Bandung, Semarang, Denpasar, Surabaya, Makassar
Simpang Raya 30 Jabotabek, Bandung, Balikpapan, Cianjur
Sederhana Bintaro 24 Jabotabek, Cimahi[10]
Sari Ratu 17 Jabotabek, Kuala Lumpur, Genting Highlands[11]
Garuda 16 Medan, Jabotabek, Bandar Lampung, Singapura[12]
Pagi Sore 8 Palembang, Jakarta, Singapura
Natrabu 7 Jakarta, Denpasar[13]
Sarimande Metropolitan 5 Jabotabek
Martabak Kubang 4 Jabotabek, Padang
Sate Padang Mak Sukur 4 Padang Panjang, Jakarta

Kerajinan[sunting | sunting sumber]

Orang Minang banyak melakukan perdagangan dari hasil kerajinan. Para pedagang ini banyak yang menggeluti kerajinan perak dan kulit. Kebanyakan dari mereka berasal dari Silungkang, Sawahlunto dan Pandai Sikek, Tanah Datar. Sedangkan kerajinan emas biasa digeluti oleh masyarakat Sungai Geringging, Pariaman dan Guguak Tabek Sarojo, Agam. Kawasan Melawai dan Blok M, merupakan lokasi utama para pedagang emas Minang di Jakarta.

Di samping itu, banyak pula yang menggeluti usaha jual-beli barang-barang antik. Bisnis ini biasanya digeluti oleh pedagang asal Sungai Puar, Agam.[14] Pedagang barang antik Minangkabau banyak ditemui di Cikini, Jakarta Pusat dan Ciputat, Tangerang Selatan. Jaringan pedagang antik Minang yang telah terbentuk sejak dekade 1930-an itu, banyak mengambil benda-benda keramik zaman Dinasti Ming atau Qing dari wilayah Sulawesi atau Maluku.

Percetakan[sunting | sunting sumber]

Bisnis percetakan merupakan jenis usaha yang banyak dijalankan oleh pedagang Minang. Usaha percetakan yang mereka jalani meliputi percetakan undangan dan buku. Bahkan dari usaha percetakan ini berkembang menjadi usaha penerbitan buku dan toko buku. Usaha percetakan banyak digeluti oleh pedagang asal Sulit Air, Solok. Beberapa pengusaha yang sukses menggeluti bisnis percetakan ini ialah Muhammad Arbie yang berbasis di Medan,[15] Asril Das (Bandung), Hamzah Lukman (Bogor), dan Rainal Rais (Jakarta).

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Bisnis pariwisata terutama jaringan perhotelan dan travel juga banyak digeluti oleh pengusaha Minangkabau. Di Jakarta, hotel-hotel kelas menengah banyak yang dimiliki oleh pengusaha Minang. Amir Rasydin Datuk Basa merupakan salah seorang pengusaha hotel yang memiliki jaringan cukup besar. Hotel milik pengusaha Minang yang cukup terkenal antara lain Hotel Ambhara, Hotel Sofyan, Hotel Grand Menteng, Hotel Sentral, Hotel Maharani, Oasis Amir Hotel, dan Hotel Mega. Di Pekanbaru, di samping Best Western Hotel milik Basrizal Koto, ada Hotel Pangeran yang dimiliki oleh Datuk Pangeran. Sedangkan di Medan, terdapat Hotel Madani yang dikelola oleh Masri Nur. Tidak hanya di Indonesia, pengusaha Minang juga menggarap bisnis penginapan hingga ke mancanegara. Salah satunya adalah Fahmi Idris yang mengembangkan Regent Beverly Whilshire, di kawasan Beverly Hills, California.[16]

Di industri travel banyak pula pengusaha Minang yang ikut ambil bagian. Salah satunya ialah Rahimi Sutan, yang mengelola Natrabu Tour,[17] serta Jefri Van Novis dengan bendera Bonita Tour and Travel. Di Sumatera Barat, Nelson Septiadi merupakan salah seorang pengusaha Minang yang bergelut di bisnis taman hiburan. Ia merupakan pemilik Minang Fantasi, sebuah arena permainan terbesar kedua di Indonesia.[18]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Bisnis pendidikan juga menjadi pilihan bagi orang Minang. Usaha ini biasanya digeluti oleh para pendidik yang pada mulanya bekerja pada sekolah negeri atau swasta. Dari pengalaman tersebut, mereka bisa mengembangkan sekolah, universitas, atau tempat kursus sendiri yang akhirnya berkembang secara profesional. Di Jakarta, terdapat beberapa universitas atau perguruan tinggi milik orang Minang, yaitu Universitas Jayabaya didirikan oleh Moeslim Taher, Universitas Persada Indonesia YAI didirikan oleh Julius Sukur, Universitas Borobudur didirikan oleh Basir Barthos, serta The London School of Public Relations yang didirikan oleh Prita Kemal Gani. Sedangkan di kota Medan, Djanius Djamin, yang dikenal sebagai aktivis, akademisi dan pengusaha juga mendirikan perguruan tinggi yang bernama Universitas Tri Karya.

Media[sunting | sunting sumber]

Bakat menulis dan ilmu jurnalistik yang dimiliki oleh orang Minang, telah melahirkan beberapa perusahaan media besar di Indonesia, di antaranya Kartini Grup yang didirikan oleh Lukman Umar, Femina Grup yang didirikan oleh putra-putri Sutan Takdir Alisjahbana, Galamedia yang didirikan oleh Syamsuyar Adnan, dan stasiun televisi TV One yang didirikan oleh Abdul Latief. Di Malaysia, Hussamuddin Yaacub merupakan konglomerat Minang yang merajai bisnis media cetak negeri tersebut. Bersama kakaknya Fickry Yaacub, ia mendirikan Karangkraf Grup.[19]

Selain itu, beberapa media ternama yang didirikan oleh orang Minang adalah koran Oetoesan Melajoe oleh Mahyuddin Datuk Sutan Maharadja pada tahun 1915, majalah Panji Masyarakat oleh Hamka, koran Pedoman oleh Rosihan Anwar, koran Waspada oleh Ani Idrus, dan harian Berita Indonesia oleh Rusli Amran.

Tekstil[sunting | sunting sumber]

Komposisi Etnis Pemilik Toko di Pasar Kota Kembang Bandung (1970)[14]
Etnis Jumlah Persentase
Tionghoa 80 56,74
Minangkabau 40 28,37
Sunda 18 12,76
India 2 1,42
Jawa 1 0,71

Di pasar tradisional kota-kota besar Indonesia, pedagang Minangkabau banyak yang menggeluti perdagangan tekstil. Di Jakarta, pedagang Minangkabau mendominasi pusat-pusat perdagangan tradisional, seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Blok M, Pasar Jatinegara, dan Pasar Bendungan Hilir. Dominansi pedagang tekstil Minangkabau juga terjadi di Medan dan Pekan Baru. Jika di Medan pedagang Minangkabau mendominasi Pasar Sukaramai, maka di Pekan Baru mereka dominan di Pasar Pusat. Di luar itu, beberapa sentra pengusaha tekstil Minang adalah Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Pekalongan. Di Surabaya, mereka sering dijumpai di Pasar Turi. Sedangkan di Bandung, para pedagang Minang banyak menempati Pasar Kota Kembang. Pada masa Orde Lama, Rahman Tamin merupakan salah seorang pengusaha tekstil terbesar di Indonesia.

Keuangan[sunting | sunting sumber]

Bisnis di industri keuangan, seperti perbankan, sekuritas, dan asuransi juga merupakan pilihan bagi pengusaha Minang. Bahkan pengusaha Minang, Sutan Sjahsam yang juga adik perdana menteri pertama Indonesia Sutan Sjahrir, merupakan perintis pasar modal di Indonesia. Sjahsam juga seorang pialang saham dan mendirikan perusahaan sekuritas, Perdanas. Di samping Sjahsam, ekonom Syahrir juga aktif dalam bisnis sekuritas dengan mendirikan perusahaan Syahrir Securities. Di bisnis perbankan, pengusaha asal Sungai Puar Anwar Sutan Saidi, mendirikan Bank Nasional pada tahun 1930.[20] Di masa Orde Baru, beberapa pengusaha Minang yang terjun di bisnis perbankan antara lain Hasyim Ning (Bank Perniagaan Indonesia) dan Anwar Syukur (Bank Anrico).

Kesehatan dan Kosmetik[sunting | sunting sumber]

Industri kesehatan juga merupakan bidang yang banyak digeluti oleh pengusaha Minang. Beberapa dokter dari kalangan Minangkabau, banyak yang membuka rumah sakit serta rumah bersalin yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, di antaranya adalah Rizal Sini yang mendirikan RSIA Bunda. Di samping itu, ada pula pengusaha Minang yang terjun ke industri obat-obatan. Salah satunya adalah Rukmini Zainal Abidin. Bersama suaminya ia mendirikan pabrik obat PT Abdi dan jaringan Apotek Tunggal.[21] Perempuan Minang lainnya, Nurhayati Subakat, berhasil menjual produk-produk kosmetik, dengan merek dagang Wardah dan Zahra.[22]

Properti[sunting | sunting sumber]

Sejak berkembangnya industri properti pada dasawarsa 1980-an, banyak pengusaha Minang yang terjun ke dalam bisnis ini. Mereka banyak membangun proyek perumahan, apartemen, dan sentra bisnis di kota-kota utama Indonesia. Di tahun 1991, Nasroel Chas meluncurkan pusat bisnis prestisius, Sudirman Central Business District di kawasan Senayan, Jakarta.[23] Proyek ini merupakan proyek percobaan bagi pengembangan pusat-pusat bisnis di seluruh Indonesia. Pengusaha properti lainnya adalah Is Anwar Datuk Rajo Perak, yang mengembangkan gedung perkantoran di kawasan Matraman, Jakarta. Belly Saputra, pengembang asal Muara Labuh, Solok Selatan, membangun beberapa kompleks apartemen di Jakarta dan Bandung. Ia juga berencana akan mengembangkan kawasan hunian mewah bagi ekspatriat Jepang di Pulau Batam.[24] Pengusaha Minang lainnya, Nuzli Arismal yang dijuluki sebagai "raja pasar", banyak mengelola pusat-pusat perbelanjaan. Diantaranya adalah Blok F Tanah Abang (Jakarta), Pasar Cipadu (Tangerang), dan Abdurrahman bin Auf Trade Center (Bandung).

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Industri pertambangan adalah salah satu bisnis yang diminati oleh pengusaha Minang. Mereka mulai banyak menggeluti bidang ini sejak dibukanya permodalan asing pada masa Orde Baru. Pengusaha Minang yang sukses di bidang ini antara lain Aminuzal Amin dan Oesman Sapta Odang. Di Malaysia pada akhir abad ke-19, Mohamed Taib bin Haji Abdul Samad merupakan pengusaha pertambangan yang sukses. Bersama saudaranya, Abbas bin Haji Abdul Samad, dia membuka pertambangan timah di Selangor. Setelah lepas dari Inggris, Tunku Imran dan Tunku Naquiyuddin dari keluarga kerajaan Negeri Sembilan, merupakan pengusaha pertambangan yang memiliki kekayaan cukup besar di Malaysia.

Silaturahmi saudagar[sunting | sunting sumber]

Untuk membangun jaringan dan silaturahmi antarpedagang Minangkabau, maka diadakanlah pertemuan yang dikenal dengan Silaturahmi Saudagar Minang. Silaturahmi ini pertama kali diadakan di Padang pada tahun 2007 yang dihadiri tak kurang dari 700 pengusaha Minang dari seluruh dunia.[25][26]

Saudagar sukses[sunting | sunting sumber]

  • Djohor Soetan Perpatih, menjadi seorang pedagang sukses pada tahun 1930-an. Bersama saudaranya Djohan Soetan Soelaiman, dia mendirikan toko Djohan Djohor yang terkenal dengan aksi mendiskon barang yang menyebabkan toko-toko Tionghoa di Pasar Senen, Pasar Baru, dan Kramat (ketiganya berada di Jakarta) menurunkan harga dagangannya.
  • Anwar Sutan Saidi, ia merupakan salah satu dari sedikit konglomerat Indonesia sebelum masa kemerdekaan dan merupakan pendiri Bank Nasional.
  • Hasyim Ning, merupakan pengusaha Minang sejak era Orde Lama. Bisnisnya bergerak di bidang otomotif, yaitu sebagai agen tunggal pemegang merek mobil-mobil asal Eropa dan Amerika Serikat. Dia juga merupakan pendiri Lippo Bank. Hasyim pernah dijuluki pers sebagai "Raja Mobil dan Henry Ford Indonesia". Dia sempat dituding sebagai boneka kapitalis ketika pada tahun 1954 perusahan yang dipimpinnya, Indonesia Service Company, mendapat kredit lunak sebesar 2,6 juta dollar AS dari Development Loan Fund.[27] Selain itu, bisnis Hasyim juga merambah perhotelan dan biro perjalanan.
  • Rahman Tamin, seorang pengusaha tekstil dengan merek Ratatex (Rahman Tamin Textile) yang terkenal hingga mancanegara. Tamin mengendalikan berbagai macam bisnisnya yang membentang antara Padang-Singapura-Jakarta.
  • Abdul Latief merupakan sosok sukses pengusaha Minangkabau di Jakarta. Bisnis Abdul Latief meliputi properti dan media dibawah bendera ALatief Corporation. Pasaraya dan TV One merupakan perusahaan terbesar milik Latief. Selain sukses sebagai pengusaha, Latief juga menjabat sebagai menteri Tenaga Kerja di pemerintahan Orde Baru.
  • Basrizal Koto merupakan pengusaha asal Pariaman yang menggeluti bisnis media, hotel, pertambangan, dan peternakan. Basrizal yang dikenal dengan Basko memiliki hotel yang berbasis di Pekanbaru dan Padang. Selain itu, dia memiliki peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara.[28]
  • Datuk Hakim Thantawi, merupakan pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan dan perdagangan di bawah bendera Grup Thaha.
  • Fahmi Idris merupakan salah satu pengusaha Minang yang juga seorang politisi. Fahmi mendirikan grup bisnis Kodel yang bergerak dibidang perdagangan, industri, dan investasi. Fahmi yang telah berbisnis sejak tahun 1967, sempat berhenti kuliah dari FEUI untuk mulai berwirausaha.
  • Muhammad Saleh adalah seorang nakhoda Minangkabau, yang memulai bisnisnya dengan membawa barang serta aneka komoditas dari satu kota ke kota lainnya di pantai barat Sumatra. Kemudian Saleh memperluas bisnisnya dengan menjadi kontraktor garam, serta komoditas untuk pasaran pedalaman Minangkabau.[29]
  • Rahimi Sutan, pengusaha Minangkabau yang sukses menggeluti bisnis travel, biro perjalanan, dan rumah makan. Saat ini Natrabu Tour, perusahaan travel miliknya, bertebaran di seluruh daerah tujuan wisata di Indonesia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
  • Tan Sri S.M. Nasimudin, seorang pengusaha Malaysia keturunan Minangkabau. Ia merupakan pendiri sekaligus pemilik konglomerasi NAZA Group, yang bergerak pada bisnis otomotif, keuangan, properti, dan perkebunan.
  • Tunku Naquiyuddin, konglomerat Malaysia, pemilik dan chairman pada perusahaan Antah Holdings Berhad yang bergerak di banyak bidang usaha.
  • Tunku Tan Sri Abdullah, merupakan pengusaha Minang-Malaysia yang sukses. Dibawah bendera Melewar Corporation, bisnisnya meliputi produksi baja dan manufaktur.

Pengusaha muda[sunting | sunting sumber]

Dari kalangan generasi muda, mulai dikenal beberapa nama yang telah memperlihatkan prestasi sebagai pedagang/pengusaha yang tangguh, diantaranya:

  • Adrizal, pengusaha muda, pendiri dan pemilik merek dagang Preview yang produknya menjadi market leader di Indonesia dan menembus pasar mancanegara.
  • Andre Rosiade, pengusaha muda Indonesia yang memulai usahanya dari skala kecil dan saat ini telah mengelola beberapa perusahaan.
  • Fahira Fahmi Idris, seorang pengusaha yang memulai usahanya dari bisnis parsel. Ia juga dikenal sebagai Ketua Umum DPP Saudagar Muda Minang.
  • Fahrina Fahmi Idris, seorang pengusaha muda yang bergerak di bisnis jasa keamanan, jasa konstruksi, serta desain interior. Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).
  • Muhammad Lutfi, pendiri dan pemilik Mahaka Grup yang bergerak di bidang penerbitan, media massa, energi dan lain-lain. Ia pernah menjabat Ketua HIPMI dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebelum jadi duta besar Indonesia untuk Jepang.
  • Raja Sapta Oktohari, pengusaha muda Indonesia, pewaris OSO Group yang dipercaya menjabat Ketua Umum HIPMI.
  • Roby Irwanto, pengusaha muda yang bergerak di beberapa bidang terutama properti. Perusahaannya, PT BroadBiz Asia telah membangun proyek hunian di beberapa wilayah di Indonesia.
  • Roni Yuzirman, pengusaha garmen dan tekstil. Juga dikenal sebagai pendiri Tangan di Atas, suatu komunitas yang menghimpun puluhan ribu wiraswastawan muda/lemah di berbagai wilayah di Indonesia.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Jejak Para Perantau" Kompas.com, 9 September 2013.
  2. ^ a b c Dobbin, Christine (2008). Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847. ISBN 979-373-126-5. 
  3. ^ Marsden, William (1966). The History of Sumatra. London: Oxford University Press. 
  4. ^ "Jejak Perdagangan Rempah" Kompas.com, 7 September 2013.
  5. ^ Reid, Anthony (1992). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680. Yayasan Obor. 
  6. ^ Mūda, Nakhodā (1961). In Gerardus Willebrordus Joannes Drewes. De Biografie van een Minangkabausen Peperhandelaar in de Lampongs (dalam bahasa Belanda). Martinus Nijhoff. 
  7. ^ a b Lombard, Denys (1996). "Jaringan Asia". Nusa Jawa: Silang Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 
  8. ^ Audrey R. Kahin, Rebellion to Integration: West Sumatra and the Indonesian Polity, 1926-1998, Amsterdam University Press, 1999
  9. ^ Rachmawati, Mila (2009). Sukses Bisnis Rumah Makan Padang. Niaga Swadaya. 
  10. ^ http://www.majalahfranchise.com/?link=berita&id=222 Rumah Makan Sederhana Bintaro, Berbeda dengan Rumah Makan Padang Lainnya Info Franchise Indonesia
  11. ^ http://www.sariratu.com/about/historical.html Sari Ratu Official Website
  12. ^ http://www.restorangaruda.com/branch/ Restoran Garuda Official Website
  13. ^ http://www.antara-sumbar.com/eng/index.php?mod=pariwisata&j=2&hal=3 LKBN Antara Sumbar
  14. ^ a b Naim, Mochtar (1973). Merantau. Gadjah Mada University Press. 
  15. ^ http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0307/08/dikbud/415150.htm
  16. ^ Majalah Tempo, Rumah BSB, Markas Kodel, 31 Maret 1990
  17. ^ http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0305/25/latar/331202.htm
  18. ^ padang-today.com Mifan, Dufan Terbesar kedua di Tanah Air
  19. ^ Antara Rahsia Kejayaan Datuk Hussamuddin Yaacub, Pengasas Kumpulan Karangkraf sinarharian.com.my
  20. ^ http://www.cimbuak.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1076
  21. ^ Sebuah Hacienda Di Salemba, Majalah Tempo, 27 Oktober 1973
  22. ^ Jackie Ambadar, Miranty Abidin, Yanty Isa; Rencana Usaha, 2010
  23. ^ Tanpa Pinjaman dari Luar, Majalah Tempo, 4 Juli 1992
  24. ^ propertybatam.com Pengembang Jakarta Bangun Rumah Mewah di Kamp Vietnam Barelang
  25. ^ http:///www.saudagarminang.com
  26. ^ "700 Pengusaha Padang se-Dunia Bertemu Saat Lebaran" ANTARA News, 14 Agustus 2007.
  27. ^ Navis, Ali Akbar (1986). Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasyim Ning. Grafitipers. 
  28. ^ http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-minggu/profil/1id70615.html
  29. ^ Nagazumi, Akira (1986). "Rantau Pariaman, Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX". Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang. Yayasan Obor Indonesia.