Lompat ke isi

Pecahan satuan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pizza yang dipotong-dipotong. Setiap potongannya kira-kira 1/8 dari pizza itu

Pecahan satuan adalah suatu pecahan bernilai positif dengan sebuah bilangan merupakan penyebutnya, . Pecahan satuan merupakan invers perkalian dari pembilang pecahan, yang pastinya bilangan asli positif. Contohnya seperti 1/1, 1/2, 1/3, 1/4, 1/5, dan seterusnya. Sebagai ilustrasi, ketika suatu objek dibagi menjadi bagian yang sama, setiap bagian tersebut dapat digambarkan sebagai pecahan satu dari keseluruhan objek tersebut.

Mengalikan dua pecahan satuan menghasilkan pecahan satuan lain, tetapi hal ini tidak berlaku untuk operasi aritmetika. Dalam aritmetika modular, pecahan satuan dapat diubah menjadi bilangan cacah, yang memungkinkan pembagian modular berubah menjadi perkalian. Setiap bilangan rasional dapat dinyatakan sebagai jumlah dari pecahan satuan yang berbeda, yang dikenal dengan sebutan pecahan Mesir berdasarkan pemakaiannya dalam matematika Mesir kuno. Banyak jumlah tak terhingga mengenai pecahan satuan menjadi sangat berguna dalam bidang matematika yang lain.

Dalam geometri, pecahan satuan digunakan untuk mengkarakteristik kelengkungan grup segitiga dan singgungan lingkaran Ford. Pecahan satuan umumnya digunakan dalam fair division [en], dan penerapan yang terkenal ini digunakan didunia pendidikan sebagai awal mula memahami pecahan-pecahan yang lain. Selain itu, pecahan satuan juga umum ditemukan dalam teori probabilitas karena principle of indifference [en]. Penerapan lainnya juga ditemukan di dalam optimisasi kombinatorik serta analisis pola frekuensi di dalam rangkaian spektral hidrogen.

Arimetika

[sunting | sunting sumber]

Pecahan satuan adalah bilangan rasional yang dapat dituliskan dalam bentukyang disini adalah penyebut pecahan yang berupa bilangan asli positif. Pecahan satuan merupakan invers perkalian dari bilangan bulat positif. Ketika suatu objek dibagi menjadi bagian yang sama, setiap bagian itu menyatakan dari keseluruhan objek.[1]

Aritmetika elementer

[sunting | sunting sumber]

Ketika mengalikan sebarang dua pecahan satuan, menghasilkan pecahan satuan yang lain:[2]Akan tetapi, ini tidak berlaku untuk operasi penambahan, pengurangan,[3] atau pembagian antara dua pecahan satuan. Sebab, hasilnya malah menjadi bukan pecahan satuan:

Pada rumus terakhir, setiap pecahan dapat dinyatakan sebagai hasil bagi dari dua pecahan satuan.[4]

Aritmetika modular

[sunting | sunting sumber]

Dalam aritmetika modular, sebarang pecahan satuan dapat diubah menjadi bilangan cacah dengan menggunakan algoritma Euklides diperluas.[5][6] Konversi ini digunakan untuk mengerjakan pembagian modular, yaitu ketika dibagi oleh , modulo , dapat diperlakukan dengan mengubah pecahan satuan menjadi bilangan cacah modulo , lalu mengalikan bilangan itu.[7]

Agar memahami lebih lanjut, misalkan relatif prima dengan (kalau tidak, pembagian oleh tidak dapat didefinisikan modulo ). Algoritma Euklides diperluas untuk faktor persekutuan terbesar dapat digunakan untuk mencari bilangan bulat dan , sehingga identitas Bézout terpenuhi:Dalam aritmetika modulo-, suku dapat dieliminasi, yang merupakan nol modulo .Artinya, adalah invers modular , bilangan yang ketika dikalikan oleh menghasilkan bilangan itu. Akibatnya,[5][6] Dengan demikian, pembagian oleh (modulo ) alih-alih dapat dikerjakan dengan mengalikan oleh bilangan bulat .[7]

Kombinasi

[sunting | sunting sumber]

Penjumlahan terhingga

[sunting | sunting sumber]

Setiap bilangan rasional positif dapat ditulis sebagai penjumlahan dari pecahan satuan yang berbeda, yang dilakukan dengan banyak cara. Sebagai contoh,

Penjumlahan-penjumlahan di atas dinamakan pecahan Mesir, sebab orang-orang Mesir kuno menggunakannya sebagai gagasan bilangan rasional lebih umum. Hingga sekarang, masih ada yang menganalisis metode yang digunakan oleh Mesir kuno untuk memilih representasi untuk bilangan rasional, dan kemudian menghitungnya dengan representasi yang dipilih.[8] Topik mengenai pecahan Mesir juga masih menarik perhatian di dalam teori bilangan modern, seperti masalah Erdős–Graham[9] dan konjektur Erdős–Straus[10] yang melibatkan penjumlahan pecahan satuan, sama halnya dengan definisi dari bilangan harmonik Ore.[11]

Pola segitiga sferis dengan simetri cerminan di sepanjang sisi segitiga. Pola cerminan sferis seperti pada gambar yang terdiri dari , , dan segitiga di masing-masing titik sudut. Disini hanya ada ketika berlaku pertidaksamaan .

Dalam teori grup geometri, grup segitiga diklasifikasi menjadi kasus Euklides, kasus sferis, dan kasus hiperbolik. Klasifikasi menjadi tiga kasus itu ditentukan oleh penjumlahan pecahan satuan yang masing-masing sama dengan satu, lebih besar daripada satu, atau lebih kecil daripada satu.[12]

Deret tak terhingga

[sunting | sunting sumber]

Banyak deret tak terhingga yang masih terkenal melibatkan pecahan satuan:

  • Deret harmonik, deret yang melibatkan penjumlahan dari semua pecahan satuan positif. Hasil deret ini divergen, dan jumlah parsialnyahampir mendekati logaritma alami dari ditambah konstanta Euler–Mascheroni.[13] Mengubah setiap operasi tanda penambahan dengan pengurangan secara bergantian menghasialkan deret harmonik selang-seling, yang hasilnya adalahlogaritma alami dari 2:[14]
  • Rumus Leibniz untuk π adalah:[15]
  • Masalah Basel melibatkan concerns jumlah dari pecahan satuan yang dikuadratkan:[16] Hal yang serupa untuk konstanta Apéry yang merupakan bilangan irasional didapatkan melalui penjumlahan pecahan satuan yang dipangkatkan dengan tiga.[17]
  • Deret geometrik biner ialah:[18]

Matriks Hilbert adalah matriks persegi yang elemen-elemennya pada antidiagonal ke- yang sama-sama bernilai pecahan satuan . Artinya, matriks memiliki elemenSebagai contoh, matriksadalah matriks Hilbert. Matriks ini memiliki sifat yang tidak biasa, bahwa semua elemen di dalam invers matriksnya adalah bilangan bulat.[19] Sama halnya, Richardson (2001) mendefinisikan matriks yang elemen-elemennya adalah pecahan satuan yang penyebutnya merupakan bilangan Fibonacci: yang disini melambangkan bilangan Fibonacci ke- . Richardson menyebut matriks itu matriks Filbert, dan menyebutnya lagi bahwa matrik itu memiliki sifat yang sama karena memiliki inversnya yang berupa bilangan bulat.[20]

Adjacency dan lingkaran Ford

[sunting | sunting sumber]
Pecahan dengan lingkaran Ford bersinggungan yang berbeda berdasarkan pecahan satuan

Dua pecahan dan (dalam bentuk pecahan sederhananya) dikatakan adjacent apabila yang menyiratkan bahwa dua pecahan tersebut berbeda satu sama yang lain oleh suatu pecahan satuan: Sebagai contoh, dan saling adjacent, sebab dan . Akan tetapi, ada beberapa pasangan pecahan yang selisihnya pecahan satuan, tetapi tidak adjacent; sebagai contoh, dan berbeda, tetapi tidak adjacent, karena .[21]

Istilah ini diambil dari kajian lingkaran Ford, yang merupakan sistem lingkaran yang menyinggung garis bilangan pada titik yang dilabeli pecahan sekaligus memiliki pecahan dengan penyebut dikuadratkan sebagai diameter lingkaran. Pecahan dan dikatakan adjacent jika dan hanya jika lingkaran Ford adalah lingkaran yang saling bersinggungan.[21]

Pembagian yang adil dan pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Pecahan satuan sering kali diperkenalkan terlebih daulu di dalam dunia pendidikan, karena pecahan satuan dapat dijelaskan secara visual, yang menggambarkannya sebagai bagian yang sama dari secara keseluruhan.[22][23] Contoh yang sering umum dipakai adalah ketika membagi makanan yang sama besar bagiannya kepada orang-orang lain, sekaligus sebagai latihan dalam mengerjakan konsep fair division [en]. Contoh dari kedua hal tersebut merupakan cara mengajar murid-murid untuk memahami pecahan satuan[24]

Peluang dan statistika

[sunting | sunting sumber]
Dadu bermuka enam memiliki peluang 1/6 untuk setiap mata dadu yang muncul.

Dalam distribusi seragam mengenai ruang diskret, semua peluangnya adalah pecahan satuan yang sama. Menurut principle of indifference [en], peluang dari bentuk tersebut sering kali muncul dalam perhitungan statistik.[25]

Peluang tak sama yang berkaitan dengan pecahan satuan juga ada di hukum Zipf. Hukum ini berbunyi, bahwa untuk setiap fenomena teramati yang melibatkan pemilihan item dari suatu barisan terurut, peluang bahwa item ke- yang terpilih sebanding dengan pecahan satuan .[26]

Optimisasi kombinatorik

[sunting | sunting sumber]

Dalam kajian masalah optimisasi kombinatorik, masalah bin packing melibatkan barisan input dari item dengan ukuran yang berupa pecahan, yang mestinya diletakkan di dalam bin yang memiliki kapasitas (ukuran total dari item saat diletakkan ke dalam tiap bin) bernilai satu. Penelitian mengenai permasalahan ini meliputi kajian masalah bin packing yang restriktif, yang disini ukuran itemnya juga merupakan pecahan satuan.[27][28]

Motivasi dari permasalahan ini adalah menjadikan uji kasus untuk metode bin packing yang lebih umum. Adapula yang melibatkan pinwheel scheduling [en], kumpulan pesan-pesan yang sama panjangnya mestinya tiap-tiap pesan disiarkan secara berulang pada jumlah kanal komunikasi yang terbatas, dengan tiap pesan memiliki delay maksimum di antara awal mulanya siaran yang berulang. Item yang delay-nya lebih besar panjang suatu pesan mestinya memenuhi pecahan setidaknya dari slot waktu pada kanal saat ditugaskan, supaya solusi masalah scheduling hanya berasal dari solusi untuk masalah bin packing yang kanalnya dinyatakan sebagai bin dan pecahan dinyatakan sebagai ukuran item.[27]

Selain untuk masalah bin packing dengan sebarang ukuran item, permasalahan tersebut juga berguna untuk membulatkan tiap ukuran item hingga pecahan satuan besar selanjutnya, yang kemudian mengaplikasikan algoritma bin packing yang khusus untuk ukuran pecahan satuan. Terlebih lagi, metode harmonic bin packing [en] berlaku untuk hal ini, yang kemudian mengepakkan setiap bin menggunakan item yang ukurannya berupa pecahan satuan yang hanya sekali dibulatkan.[28]

Rangkaian spektrum hidrogen pada skala logaritmik. Frekuensi dari sinar emisi sebanding dengan selisih pasangan pecahan satuan.

Menurut rumus Rydberg, aras energi foton dapat diserap atau dihasilkan atom hidrogen dihydrogen atom sebanding dengan selisih dari dua pecahan satuan. Penjelasan fenomena ini dapat dilihat pada model Bohr, yang menggambarkan aras energi dari orbit elektron di dalam atom hidrogen sebanding invers dengan pecahan satuan yang dikuadratkan, dan energi foton dikuantisasi menjadi selisih dua aras.[29]

Arthur Eddington berpendapat bahwa konstanta struktur halus berupa pecahan satuan. Eddington awalnya mengira bahwa konstanta tersebut bernilai 1/136, yang kemudian mengubah teorinya menjadi 1/137. Akan tetapi, teorinya disangkal karena estimasi dari konstanta struktur hasil saat ini (hingga ke 6 digit di belakang) kira-kira bernilai 1/137,036.[30]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Cavey, Laurie O.; Kinzel, Margaret T. (February 2014), "From whole numbers to invert and multiply", Teaching Children Mathematics, 20 (6): 374–383, doi:10.5951/teacchilmath.20.6.0374, JSTOR 10.5951/teacchilmath.20.6.0374
  2. Solomon, Pearl Gold (2007), The Math We Need to Know and Do in Grades 6 9: Concepts, Skills, Standards, and Assessments, Corwin Press, hlm. 157, ISBN 978-1-4129-1726-1
  3. Betz, William (1957), Algebra for Today, First Year, Ginn, hlm. 370
  4. Humenberger, Hans (Fall 2014), "Egyptian fractions – representations as sums of unit fractions", Mathematics and Computer Education, 48 (3): 268–283, ProQuest 1622317875
  5. 1 2 Templat:Introduction to Algorithms
  6. 1 2 Goodrich, Michael T.; Tamassia, Roberto (2015), "Section 24.2.2: Modular multiplicative inverses", Algorithm Design and Applications, Wiley, hlm. 697–698, ISBN 978-1-118-33591-8
  7. 1 2 Brent, Richard P.; Zimmermann, Paul (2010), "2.5 Modular division and inversion", Modern Computer Arithmetic (PDF), Cambridge Monographs on Applied and Computational Mathematics, vol. 18, Cambridge University Press, hlm. 65–68, arXiv:1004.4710, doi:10.1017/cbo9780511921698.001, ISBN 978-1-139-49228-7, S2CID 441260
  8. Guy, Richard K. (2004), "D11. Egyptian Fractions", Unsolved problems in number theory (Edisi 3rd), Springer-Verlag, hlm. 252–262, ISBN 978-0-387-20860-2
  9. Croot, Ernest S. III (2003), "On a coloring conjecture about unit fractions", Annals of Mathematics, 157 (2): 545–556, arXiv:math.NT/0311421, doi:10.4007/annals.2003.157.545, MR 1973054, S2CID 13514070
  10. Elsholtz, Christian; Tao, Terence (2013), "Counting the number of solutions to the Erdős–Straus equation on unit fractions" (PDF), Journal of the Australian Mathematical Society, 94 (1): 50–105, arXiv:1107.1010, doi:10.1017/S1446788712000468, MR 3101397, S2CID 17233943
  11. Ore, Øystein (1948), "On the averages of the divisors of a number", The American Mathematical Monthly, 55 (10): 615–619, doi:10.2307/2305616, JSTOR 2305616
  12. Magnus, Wilhelm (1974), Noneuclidean Tesselations and their Groups, Pure and Applied Mathematics, vol. 61, Academic Press, hlm. 65, ISBN 978-0-08-087377-0, MR 0352287
  13. Boas, R. P. Jr.; Wrench, J. W. Jr. (1971), "Partial sums of the harmonic series", The American Mathematical Monthly, 78 (8): 864–870, doi:10.1080/00029890.1971.11992881, JSTOR 2316476, MR 0289994
  14. Freniche, Francisco J. (2010), "On Riemann's rearrangement theorem for the alternating harmonic series" (PDF), The American Mathematical Monthly, 117 (5): 442–448, doi:10.4169/000298910X485969, JSTOR 10.4169/000298910x485969, MR 2663251, S2CID 20575373
  15. Roy, Ranjan (1990), "The discovery of the series formula for π by Leibniz, Gregory and Nilakantha" (PDF), Mathematics Magazine, 63 (5): 291–306, doi:10.1080/0025570X.1990.11977541, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2023-03-14, diakses tanggal 2023-03-22
  16. Ayoub, Raymond (1974), "Euler and the zeta function", The American Mathematical Monthly, 81 (10): 1067–86, doi:10.2307/2319041, JSTOR 2319041, diarsipkan dari asli tanggal 2019-08-14, diakses tanggal 2023-03-22
  17. van der Poorten, Alfred (1979), "A proof that Euler missed ... Apéry's proof of the irrationality of " (PDF), The Mathematical Intelligencer, 1 (4): 195–203, doi:10.1007/BF03028234, S2CID 121589323, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-07-06
  18. Euler, Leonhard (September 1983), "From Elements of Algebra", Old Intelligencer, The Mathematical Intelligencer, 5 (3): 75–76, doi:10.1007/bf03026580, S2CID 122191726
  19. Choi, Man Duen (1983), "Tricks or treats with the Hilbert matrix", The American Mathematical Monthly, 90 (5): 301–312, doi:10.2307/2975779, JSTOR 2975779, MR 0701570
  20. Richardson, Thomas M. (2001), "The Filbert matrix" (PDF), Fibonacci Quarterly, 39 (3): 268–275, arXiv:math.RA/9905079, Bibcode:1999math......5079R, doi:10.1080/00150517.2001.12428733
  21. 1 2 Ford, L. R. (1938), "Fractions", The American Mathematical Monthly, 45 (9): 586–601, doi:10.1080/00029890.1938.11990863, JSTOR 2302799, MR 1524411
  22. Polkinghorne, Ada R. (May 1935), "Young-children and fractions", Childhood Education, 11 (8): 354–358, doi:10.1080/00094056.1935.10725374
  23. Empson, Susan Baker; Jacobs, Victoria R.; Jessup, Naomi A.; Hewitt, Amy; Pynes, D'Anna; Krause, Gladys (April 2020), "Unit fractions as superheroes for instruction", The Mathematics Teacher, 113 (4): 278–286, doi:10.5951/mtlt.2018.0024, JSTOR 10.5951/mtlt.2018.0024, S2CID 216283105
  24. Wilson, P. Holt; Edgington, Cynthia P.; Nguyen, Kenny H.; Pescosolido, Ryan C.; Confrey, Jere (November 2011), "Fractions: how to fair share", Mathematics Teaching in the Middle School, 17 (4): 230–236, doi:10.5951/mathteacmiddscho.17.4.0230, JSTOR 10.5951/mathteacmiddscho.17.4.0230
  25. Welsh, Alan H. (1996), Aspects of Statistical Inference, Wiley Series in Probability and Statistics, vol. 246, John Wiley and Sons, hlm. 66, ISBN 978-0-471-11591-5
  26. Saichev, Alexander; Malevergne, Yannick; Sornette, Didier (2009), Theory of Zipf's Law and Beyond, Lecture Notes in Economics and Mathematical Systems, vol. 632, Springer-Verlag, ISBN 978-3-642-02945-5
  27. 1 2 Bar-Noy, Amotz; Ladner, Richard E.; Tamir, Tami (2007), "Windows scheduling as a restricted version of bin packing", ACM Transactions on Algorithms, 3 (3): A28:1–A28:22, doi:10.1145/1273340.1273344, MR 2344019, S2CID 2461059
  28. 1 2 van Stee, Rob (June 2012), "SIGACT news online algorithms column 20: The power of harmony" (PDF), ACM SIGACT News, 43 (2): 127–136, doi:10.1145/2261417.2261440, S2CID 14805804
  29. Yang, Fujia; Hamilton, Joseph H. (2009), Modern Atomic and Nuclear Physics, World Scientific, hlm. 81–86, ISBN 978-981-283-678-6
  30. Kilmister, Clive William (1994), Eddington's Search for a Fundamental Theory: A Key to the Universe, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-37165-0