Parakang
Parakang merupakan makhluk mitologi di Sulawesi Selatan. Parakang ini diyakini berasal dari orang yang bersekutu dengan setan. Di daerah Melayu, makhluk ini lebih dikenal dengan sebutan kuyang. Sementara di daerah Thailand lebih dikenal dengan istilah Kresek.[1]
Karakteristik
[sunting | sunting sumber]Keberadaan parakang hanya dapat diketahui orang tertentu, namun makhluk ini dicirikan dengan matanya yang tajam, rambut berantakan, hidung agak merah, dan bau yang khas.[2] Parakang ini dapat berubah wujud menjadi makhluk lain seperti hewan ataupun tumbuhan walaupun fisiknya sebagai manusia tetap ada dalam keadaan tertidur.[3]
Jenis
[sunting | sunting sumber]Dalam mitologi Bugis, parakang dapat dibedakan menjadi dua jenis parakang. Jenis parakang pertama adalah wanita yang pada malam-malam tertentu, melepaskan kepalanya dan terbang pergi. Jenis ini juga terkait dengan makhluk poppo dalam mitologi Bugis.[1]
Jenis parakang kedua termasuk parakang yang berkeliaran di darat dan selokan rumah korbannya sehingga menyebabkan bau menyengat. Parakang biasanya mengincar janin bayi, bayi yang baru lahir, balita, dan orang dewasa. Pada beberapa kasus orang yang terkena parakang mungkin tidak sadar dengan kondisinya, tetapi orang-orang di sekitarnya mungkin lebih menyadarinya. Jenis parakang kedua ini tubuhnya tetap di rumah sementara jiwanya, meninggalkan rumah untuk mencari korban.[1]
Korban dari parakang ini tidak dapat disembuhkan hanya dengan pengobatan medis, melainkan juga membutuhkan pengobatan alternatif.[1]
Alasan kemunculan
[sunting | sunting sumber]Pesugihan dan pelaris
[sunting | sunting sumber]Dalam bahasa Bugis lebih dikenal dengan istilah mattiro deceng (pembuka pintu rezeki). Di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa tempat yang terkait dengan istilah ini, termasuk Soppeng. Beberapa penduduk setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Panther, yang merujuk pada salah satu jenis mobil yang dianggap cepat pada periode 1990 – 2000. Istilah-istilah ini merujuk pada aktivitas persekutuan dengan dukun dan setan yang ditujukan untuk memperoleh kekayaan secara cepat tanpa usaha sewajarnya atau untuk mendatangkan lebih banyak pembeli dalam usaha yang dijalankan.[1] Beberapa yang menemui parakang juga bertujuan untuk mengharapkan umur panjang.[2]
Dukun yang ditemui tidak serta-merta memberikan kekayaan itu, melainkan memberikan persyaratan misalnya dengan mengorbankan anak kecil. Selain itu, biasanya pelaku juga mempersembahkan sapi atau babi. Bahkan ritual ini juga melibatkan makhluk lain seperti tuyul.[1]
Faktor keturunan
[sunting | sunting sumber]Pada beberapa kasus, anak dari pelaku ritual parakang secara sukarela menerima mewariskan ilmu orang tuanya, karena tidak tega melihat siksaan yang dialami orang tuanya menjelang kematian. Konon, parakang mengalami kematian yang menyakitkan dalam periode berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan.[1]
Pewarisan kepada yang bukan keturunan
[sunting | sunting sumber]Ilmu parakang ini bisa diturunkan tidak hanya pada keturunan langsung, tetapi juga orang terdekat di akhir hayat parakang ini. Parakang tidak akan mati sebelum memindahkan ilmunya, sehingga terkadang yang menjadi korban adalah perawat yang menjaganya. Pada akhir hayatnya, parakang akan berulang kali mengucapkan kata lemba yang dalam bahasa Bugis berarti (bergerak). Jika perawat merespons dengan mengulangi kata yang sama, lemba, maka pengetahuan parakang akan berpindah ke perawat. Namun, jika memiliki iman yang kuat, akan terjaga dari ilmu sesat ini.[1]
Dukun hitam
[sunting | sunting sumber]Jika orang yang terlalu sering mengunjungi dukun hitam, orang dengan kemampuan sihir untuk membahayakan orang lain, dengan niat jahat maka ia dapat berubah secara bertahap menjadi parakang tanpa disadari. Parakang baru ini kerap menimbulkan perilaku kejam sebagaimana niat jahatnya dahulu dan mengganggu orang lain.[1]
Menuntut ilmu sihir (supranatural)
[sunting | sunting sumber]Beberapa orang yang ingin mempelajari ilmu sihir, bisa saja gagal atau melanggar aturan yang diberikan, dalam kondisi tersebut ia bisa menjadi parakang.[1][3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Yeyeng, Andi Tenri; Tajuddin, Muhammad Saleh; Saleh, Eliza Farahdiba (2024). "The Spirit of Parakang in The Bugis Myth of Indonesia: an Islamic Educational Perspective". Jurnal Adabiyah. 24 (2): 251–271.
- 1 2 Liputan6.com. "7 Hantu dari Bugis yang Terkenal Menyeramkan". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-02-09. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 Nawir, Hasrul. "Mengenal Parakang, Makhluk Jadi-jadian yang Buat Resah Warga Sidrap". detiknews. Diakses tanggal 2026-02-09.