Pandemi koronavirus di Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Pandemi koronavirus 2019 di Jepang
COVID-19 Cases by prefectures of Japan.svg
Peta berdasarkan prefektur yang mengkonfirmasi kasus terinfeksi (hingga tanggal 15 Maret)
PenyakitCOVID-19
Galur virusSARS-CoV-2
LokasiJepang
Kasus pertamaPrefektur Kanagawa
Tanggal kemunculan16 Januari 2020
(5 bulan, 2 minggu dan 3 hari)
AsalWuhan, Hubei, Republik Rakyat Tiongkok
Kasus terkonfirmasi814[1]
Kasus pulih157
Kematian
24[1]

Pandemi koronavirus 2019–2020 di Jepang pertama kali dikonfirmasi pada tanggal 16 Januari 2020, menjadikan Jepang sebagai negara kedua setelah Thailand yang mengkonfirmasi kasus koronavirus di luar Tiongkok.[2][3] Hingga tanggal 15 Maret, telah ada 825 kasus tercatat di Jepang dengan total 22 kasus kematian.[1] Jumlah tersebut tidak termasuk 697 kasus yang terkonfirmasi di kapal pesiar Diamond Princess yang berlabuh di Yokohama.[4]

Pandemi koronavirus adalah pandemi yang disebabkan koronavirus (COVID-19) dan menyerang sistem pernafasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian mengumumkan pandemi koronavirus sebagai pandemi dunia pada tanggal 11 Maret 2020.[5]

Kronologi[sunting | sunting sumber]

Kasus COVID-19 di Jepang  ()
     Meninggal        Sembuh        Dalam perawatan

Jan Jan Feb Feb Mar Mar 15 hari terakhir 15 hari terakhir

Tanggal
Jumlah kasus
2020-01-16
1(n.a.)
2020-01-17
1(+0%)
2020-01-18
1(+0%)
2020-01-19
1(+0%)
2020-01-20
1(+0%)
2020-01-21
1(+0%)
2020-01-22
1(+0%)
2020-01-23
1(+0%)
2020-01-24
3(+200%)
2020-01-25
3(+0%)
2020-01-26
4(+33%)
2020-01-27
6(+50%)
2020-01-28
7(+16%)
2020-01-29
11(+57%)
2020-01-30
14(+27%)
2020-01-31
17(+21%)
2020-02-01
20(+18%)
2020-02-02
20(+0%)
2020-02-03
20(+0%)
2020-02-04
23(+15%)
2020-02-05
25(+8.7%)
2020-02-06
25(+0%)
2020-02-07
25(+0%)
2020-02-08
26(+4.0%)
2020-02-09
26(+0%)
2020-02-10
26(+0%)
2020-02-11
26(+0%)
2020-02-12
28(+7.7%)
2020-02-13
33(+18%)
2020-02-14
41(+24%)
2020-02-15
53(+29%)
2020-02-16
59(+11%)
2020-02-17
65(+10%)
2020-02-18
73(+12%)
2020-02-19
85(+16%)
2020-02-20
93(+9.4%)
2020-02-21
105(+13%)
2020-02-22
132(+26%)
2020-02-23
144(+9.1%)
2020-02-24
157(+9.0%)
2020-02-25
164(+4.5%)
2020-02-26
186(+13%)
2020-02-27
210(+13%)
2020-02-28
230(+10%)
2020-02-29
239(+3.9%)
2020-03-01
254(+6.3%)
2020-03-02
268(+5.5%)
2020-03-03
284(+6.0%)
2020-03-04
317(+12%)
2020-03-05
349(+10%)
2020-03-06
408(+17%)
2020-03-07
455(+12%)
2020-03-08
488(+7.3%)
2020-03-09
514(+5.3%)
2020-03-10
568(+11%)
2020-03-11
620(+9.2%)
2020-03-12
675(+8.9%)
2020-03-13
716(+6.1%)
2020-03-14
780(+8.9%)
2020-03-15
814(+4.6%)
2020-03-16
829(+1.8%)
2020-03-17
873(+5.3%)
2020-03-18
914(+4.7%)
2020-03-19
950(+4.0%)
2020-03-20
1,007(+6.0%)
2020-03-21
1,054(+3.9%)
2020-03-22
1,086(+3.0%)
2020-03-23
1,128(+3.9%)
2020-03-24
1,193(+5.7%)
2020-03-25
1,291(+8.3%)
2020-03-26
1,364(+5.7%)
2020-03-27
1,387(%)
Data bersumber dari Kementerian Ketenagakerjaan dan Kesehatan Jepang dan World Health Organization, dilaporkan dari pukul 10:00|CET di hari tersebut hingga 10:00|CET di hari berikutnya (18:00|JST di hari tersebut – 18:00|JST di hari berikutnya).

Kasus koronavirus pertama di Jepang dikonfirmasi pada tanggal 16 Januari 2020. Korban tersebut tinggal di Prefektur Kanagawa dan memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan, dimana ia melakukan kontak dekat dengan seorang pasien koronavirus.[2][3] Pada tanggal 24 Januari, kasus kedua dikonfirmasi,[6] diikuti dengan kasus ketiga pada keesokan harinya.[7] Setelahnya, jumlah kasus terus bertambah dengan total 17 kasus terkonfirmasi di akhir bulan Januari.[8]

Pada tanggal 13 Februari, kasus kematian pertama yang disebabkan oleh koronavirus tercatat di Jepang. Korban adalah seorang wanita berusia 80 tahun yang tinggal di Prefektur Kanagawa.[9] Menantunya yang bekerja sebagai seorang sopir taksi di Tokyo, juga adalah salah satu korban koronavirus terkonfirmasi.[10] Jumlah korban terus bertambah, bersamaan dengan angka kematian yang meningkat. Pada akhir bulan Februari, 239 kasus dikonfirmasi di Jepang dengan 5 diantaranya dinyatakan meninggal dunia karena koronavirus.[11]

Jumlah kasus koronavirus meningkat drastis di bulan Maret. Hingga tanggal 15 Maret, setidaknya 814 kasus telah terkonfirmasi dengan total 24 orang meninggal.[1]

Reaksi[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 3 Januari, Jepang menolak semua turis yang terbang dari atau ke Hubei, serta seluruh pemegang paspor China yang berasal dari Hubei. Jepang juga memerintahkan seluruh turis asing untuk mengisi deklarasi daftar pertanyaan apakah mereka pernah atau akan melakukan perjalanan ke Hubei dalam jangka waktu 14 hari.[12] Pada tanggal 12 Februari, Jepang juga melakukan pelarangan masuk kepada seluruh turis atau pemegang paspor asal Zhejiang.[13] Karena wabah yang terus meluas, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, akhirnya mengeluarkan perintah untuk meliburkan seluruh SD, SMP, maupun SMA mulai tanggal 2 Maret hingga akhir liburan musim semi, yang biasanya pada awal bulan April.[14][15]

Untuk mengatasi virus ini, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Sosial Jepang memerintahkan pemerintahan prefektur dan kota untuk membangun pusat konsultasi dan ruang rawat jalan khusus COVID-19 di fasilitas-fasilitas kesehatan daerah mereka. Hal itu dilakukan untuk mencegah pasien terduga koronavirus yang melakukan pengecekan di rumah sakit melakukan penularan terhadap pasien lainnya.[16] Pusat konsultasi tersebut diperkenalkan kepada Abe kepada publik pada tanggal 14 Februari beserta pemberitahuan langkah mengecekan diri jika mencurigai dirinya terkena koronavirus yang benar.[17][18] Abe juga memperkenalkan "Kebijakan Dasar untuk Pengontrolan Penyakit Novel Koronavirus" (新型コロナウイルス感染症対策の基本方針) pada tanggal 25 Februari sebagai kebijakan dasar yang ditetapkan oleh pemerintah dalam menghadapi COVID-19.[19]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Pelarangan penerbangan dari Jepang[sunting | sunting sumber]

Karena kasus koronavirus yang bertambah luas di Jepang, beberapa negara melakukan pelarangan penerbangan internasional dari Jepang. Berikut beberapa negara tersebut:

Kapal pesiar Diamond Princess[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 4 Februari, saat kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di perairan Jepang, 10 orang penumpang dinyatakan positif terjangkit koronavirus.[30] Pada hari itu juga, kapal tersebut langsung dikarantina di Pelabuhan Yokohama.[31] Hingga tanggal 14 Maret, telah ada 697 kasus terkonfirmasi dari kapal tersebut dengan total 7 kematian.[4]

Penundaan Olimpiade Tokyo 2020[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Don Ward Hackett (14 Maret 2020). "Japan's Prime Minister Accelerates Coronavirus Testing" (dalam bahasa Inggris). Vax Before Travel. Diakses tanggal 15 Maret 2020. 
  2. ^ a b Walter, Sim (16 Januari 2020). "Japan confirms first case of infection from Wuhan coronavirus; Vietnam quarantines two tourists". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 Januari 2020. Diakses tanggal 16 Januari 2020. 
  3. ^ a b "WHO | Novel Coronavirus – Japan (ex-China)". WHO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Januari 2020. 
  4. ^ a b Valerie Dante (13 Maret 2020). "Parlemen Jepang loloskan UU darurat coronavirus" (dalam bahasa Indonesia). alinea.id. Diakses tanggal 15 Maret 2020. 
  5. ^ "WHO Director-General's opening remarks at the media briefing on COVID-19 - 11 March 2020". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-14. 
  6. ^ "Japan confirms 2nd new virus case, braces for Chinese tourist influx" (dalam bahasa Inggris). Kyodo News. 24 Januari 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 Februari 2020. Diakses tanggal 8 Februari 2020. 
  7. ^ "Japan confirms third case of new coronavirus infection". Japan Times (dalam bahasa Inggris). 25 Januari 2020. 
  8. ^ "Coronavirus: 3 New Cases in Japan, Total Now 17" (dalam bahasa Inggris). nippon.com. 31 Januari 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  9. ^ "Japan confirms its first COVID-19 death: Health minister". CNA (dalam bahasa Inggris). 13 Februari 2020. Diakses tanggal 13 Februari 2020. 
  10. ^ "Japan reports first COVID-19 death as three more domestic infection cases logged". Japan Times. 13 February 2020. ISSN 0447-5763. Diakses tanggal 15 Februari 2020. 
  11. ^ "国内の状況について(3月1日12時時点版)" (dalam bahasa Jepang). Ministry of Health, Labour and Welfare of Japan. 1 Maret 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  12. ^ "Important Notice on New Restrictions related to Novel Coronavirus : Embassy of Japan in the Philippines". ph.emb-japan.go.jp (dalam bahasa Inggris). 3 Februari 2020. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 Februari 2020. Diakses tanggal 8 Februari 2020. 
  13. ^ "Japan expands entry restrictions to virus-hit Zhejiang". Nikkei Asian Review (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 Februari 2020. 
  14. ^ "PM Abe asks all schools in Japan to temporarily close over coronavirus" (dalam bahasa Inggris). Kyodo News. 27 Februari 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  15. ^ "All schools in Japan told to close until April over virus outbreak". The Japan Times Online (dalam bahasa Inggris). The Japan Times. 27 Februari 2020. Diakses tanggal 27 Februari 2020. 
  16. ^ "新型肺炎「帰国者・接触者相談センター」設置へ 専門外来への受診を促す". 毎日新聞 (Mainichi) (dalam bahasa Jepang). 3 Februari 2020. Diakses tanggal 9 Maret 2020. 
  17. ^ "Ninth Meeting of the Novel Coronavirus Response Headquarters" (dalam bahasa Inggris). Prime Minister of Japan and His Cabinet. 14 Februari 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  18. ^ "新型コロナウイルスに関する帰国者・接触者相談センター". Ministry of Health, Labour, and Welfare. 13 Februari 2020. Diakses tanggal 14 Maret 2020. 
  19. ^ "新型コロナウイルス感染症対策の基本方針 (Basic Polices for Novel Coronavirus Disease Control)" (PDF). Prime Minister of Japan and His Cabinet (dalam bahasa Jepang). 25 Februari 2020. Diakses tanggal 6 Maret 2020. 
  20. ^ a b c d e f g h i j k l m n "18 countries, regions restricting entry from Japan over virus". Mainichi Daily News (dalam bahasa Inggris). 3 March 2020. Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  21. ^ a b c d e f g h "新型コロナウイルス(日本からの渡航者・日本人に対する 各国・地域の入国制限措置及び入国・入域後の行動制限)". Ministry of Foreign Affairs of Japan (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 Maret 2020. Diakses tanggal 6 Maret 2020. 
  22. ^ "Coronavirus outbreak: Bangladesh restricts passengers from 4 countries". Dhaka Tribune (dalam bahasa Inggris). 4 Maret 2020. Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  23. ^ "North Korea suspends foreign tourism over coronavirus fears: tour companies". Reuters (dalam bahasa Inggris). 22 Januari 2020. Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  24. ^ "Seven provinces in Italy, Japan, and Iran added to Malaysia's Covid-19 travel ban list". thestar.com.my (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  25. ^ "Kazakhstan bars entry for nationals of China, Japan, Iran, Italy, South Korea". akipress.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 7 Maret 2020. 
  26. ^ "Tajikistan shuts border to nationals of 35 countries: sources". Reuters (dalam bahasa Inggris). 2 Maret 2020. Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  27. ^ a b c d e "7 countries restrict entry from Japan to thwart new virus spread". 25 Februaro 2020. Diakses tanggal 8 Maret 2020 – via Mainichi Daily News. 
  28. ^ "Papua New Guinea bans travellers from all 'Asian ports'". news.yahoo.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Maret 2020. 
  29. ^ a b c "IATA - International Travel Document News". iatatravelcentre.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 9 Maret 2020. 
  30. ^ Peel, Charlie; Snowden, Angelica (6 Februari 2020). "Coronavirus: Cases double on Diamond Princess overnight, still in lockdown". The Australian (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 6 Februari 2020. 
  31. ^ Thompson, Julia; Yasharoff, Hannah. "Coronavirus cases on Diamond Princess soar past 500, site of most infections outside China". USA Today (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 18 Februari 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]