Palatum

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gambar rongga mulut yang dibuka. Yang berwarna kuning adalah Palatum durum. Yang berwarna merah adalah Palatum molle. Yang berwarna biru adalah Raphe palati

Palatum adalah bangun tulang cekung yang membentuk atap mulut di belakang alveolus atau tulang yang terdapat pada langit-langit mulut.[1] Letak palatum berada antara rongga mulut dan rongga hidung. Palatum turut membentuk atap cavum oris dan dasar cavum nasi. Palatum dibentuk oleh prosesus palatal dari prosesus maksilaris yang tumbuh ke arah medial yang bergabung dengan septum nasalis pada garis tengah. Pembentukan ini kira-kira terjadi pada usia kehamilan 9 minggu.[2]

Palatum keras dibentuk selama masa pertumbuhan oleh proses maksilaris dan tulang palatina yang bersatu di garis median dan ditutupi oleh membran mukosa istimewa yang keras (durum) dan memiliki rugae. Palatum durum membentuk 2/3 bagian anterior palatum.[3] Sedangkan, palatum lunak adalah jaringan aktif yang membentang dari batas posterior durum ke arah bawah dan belakang, terdiri dari lipatan membran mukosa yang menutupi otot. struktur kelenjar, pembuluh darah, dan saraf. Selama penelanan, palatum lunak akan naik membantu menutup bagian hidung dari faring.[4] Palatum lunak membentuk 1/3 bagian posterior.[3]

Palatum lunak dan keras harus diinspeksi untuk menemukan celah komplit atau celah submukosa, dan memperhatikan konturnya jika lengkungan palatum sangat tinggi atau uvulanya bifida. Pada palatum keras, di salah satu lipatan (rafe) mungkin dapat dijumpai pengelompokan sel epitel yang sifatnya sementara, disebut mutiara Epstein. Kista retensi yang serupa mungkin juga ditemukan pada gusi. Keduanya menghilang secara spontan. biasanya dalam beberapa minggu setelah lahir. Kelompok folikel berwarna putih kecil atau kuning, atau ulkus di atas dasar eritematosa mungkin ditemukan pada penopang tonsil anterior, paling sering pada umur han ke-2 atau ke-3. Dengan penyebab yang belum diketahui, mereka hilang tanpa pengobatan dalam 2 sampai 1 hari. [5]

Anatomi[sunting | sunting sumber]

Struktur anatomi pada palatum keras antara lain foramen incisivum, foramen palatinus mayor, foramina palatinus minor dan rugae palatine.

  • Foramen incisivum berada di posterior gigi insisivus pertama rahang atas. Foramen ini merupakan muara dari kanalis insisivus yang dilalui oleh N.nasopalatinus. Foramen insisivum secara klinis tidak terlihat karena tertutupi oleh papilla incisiva.
  • Foramen palatinus mayor berada di sebelah medial gigi molar pada tepi lateral palatum keras. Foramen ini dilalui oleh arteri, vena, dan nervus palatinus major.
  • Foramen palatinus minor dilalui oleh arteri, vena, dan nervus palatinus minor yang memvaskularisasi dan menginervasi palatum lunak dan struktur-struktur yang berdekatan dengannya, seperti tonsilla palatina.
  • Rugae palatine merupakan rigi yang berjejer secara tranversal dan tidak teratur pada mukosa palatum keras. Rugae palatine merupakan rigi atau crista rendah pada linea mediana di palatum dari M. uvulae sampai papila incisiva. Palatum lunak merupakan bagian dari palatum yang bersifat fibromuskular dan tidak memiliki komponen tulang. Meskipun tidak tersusun oleh tulang, struktur palatum lunak ini diperkuat oleh aponeurosis palatinus yang melekat pada bagian posterior palatum keras.[3]

Celah palatum[sunting | sunting sumber]

Celah palatum merupakan keadaan terpisahnya atap rongga mulut. Celah pada palatum dapat mengakibatkan masalah gangguan pada berbicara, pendengaran, penelanan, fungsi pernafasan, perkembangan wajah, dan keadaan malposisi gigi-geligi. Selain itu, celah palatum dapat menimbulkan gangguan fisiologis terutama pada faring yang berhubungan dengan fosa nasal, bicara, dan pendengaran. Klasifikasi celah palatum adalah sebagai berikut.

  • Celah pada palatum lunak.
  • Celah pada palatum lunak dan palatum keras tetapi tidak memiliki paramen insisivus.
  • Celah palatum unilateral pada palatum dan prepalatum. Vomer melekat pada maksila di sisi yang tidak bercelah.
  • Celah palatum bilateral lengkap pada palatum dan prepalatum.[6]

Faktor penyebab terjadinya celah palatum adalah genetik dan lingkungan. Sebagai contoh, faktor genetik adalah sindroma patau (trisomi 13) dihubungkan dengan pembentukan celah dari bibir atau maksila. Sedangkan, faktor lingkungan adalah efek dari teratogen khusus seperti pengaruh folik antogonis atau anti kejang.[2]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tim Penyusun KBBI. "Palatum". kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2020-11-23. 
  2. ^ a b Underwood, JCE (2008). Patologi. Jakarta: EGC. hlm. 5. ISBN 978-979-448-406-7. 
  3. ^ a b c M.Sc, drg Juwita Raditya Ningsih (2018). Ilmu Dasar Kedokteran Gigi. Surakarta: Muhammadiyah University Press. hlm. 106. ISBN 978-602-361-129-4. 
  4. ^ Sumawinata, Narlan (2003). Senarai Istilah Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC. hlm. 132. ISBN 978-979-448-623-8. 
  5. ^ Behrman, Kliegman, Arvin (2009). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC. hlm. 538. ISBN 978-979-448-464-7. 
  6. ^ Zainul, Cholid (2013). "Celah Palatum". Stomatognatic. 10 (2): 99–104. ISSN 2442-4935.