Pakantan, Mandailing Natal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Pakantan
(Peta Lokasi) Kecamatan Pakantan, Mandailing Natal.svg
Peta lokasi Kecamatan Pakantan
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Utara
KabupatenMandailing Natal
Pemerintahan
 • Camat-
Populasi
 • Total- jiwa
Kode pos
22998
Kode Kemendagri12.13.21 Edit the value on Wikidata
Luas- km²

Pakantan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara, Indonesia.

Kecamatan Pakantan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Pakantan adalah sebuah Kecamatan yang terletak di hulu sungai Gadis (Batang Gadis), dilereng Gunung Kulabu diwilayah Kabupaten Mandailing Natal paling selatan, berjarak 12 km dari Muara Sipongi / jalan Raya Lintas Sumatra mengarah ke barat. Pakantan terdiri dari delapan desa (huta):

  • 1. Huta Dolok
  • 2. Huta Gambir
  • 3. Huta Lancat
  • 4. Huta Lombang
  • 5. Huta Padang
  • 6. Huta Toras
  • 7. Huta Julu
  • 8. Silogun

Wilayahnya yang strategis dengan hamparan persawahan yang membentang luas, diapit oleh dua buah sungai kecil: Sijorni dan Mompang, dibelah dua oleh sungai Pahantan dengan kesejukan airnya serta dikelilingi perbukitan bak dipagari / dibentengi Gunung Kulabu, terlihatlah serupa bentuk kuali (wajan) dan beriklim dingin karena ketinggiannya 1200 meter di atas permukaan laut. Pada tahun 2007 Pakantan ditetapkan sebagai salah satu kecamatan di kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatra Utara.

Kode pos untuk Kecamatan Pakantan adalah: 22998.[1]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Ulu Pungkut dan Muara Sipongi
Timur Pasaman, Sumatra Barat
Selatan Pasaman, Sumatra Barat
Barat Ulu Pungkut

Kekerabatan dan Silsilah[sunting | sunting sumber]

Pakantan didiami oleh suku Batak. Beberapa marga yang terdapat di Pakantan antara lain: Lubis, Nasution, Batubara Hasibuan, dan Lintang (Lintang adalah suatu marga yang terbentuknya di Pakantan).

Seperti halnya sub suku Batak lainnya, sistem sosial yang digunakan oleh masyarakat Pakantan adalah "Dalihan Na Tolu". Sistem sosial Dalihan Na Tolu teguh dipegang oleh masyarakat Pakantan hingga kini sehingga pernikahan semarga adalah hal yang sangat dilarang dan tidak bisa dilakukan oleh masyarakat Pakantan.

Menurut Tarombo ( silsilah ) marga Lubis di Pakantan, nenek moyang marga Lubis adalah berasal dari Datu Sang Maima Na Bolon. Beberapa generasi selanjutnya dari keturunan Datu tersebut yaitu Namora Pande Bosi (yang kedua) memiliki anak kembar bernama Langkitang dan Baitang. Dari keturunan dari Baitang kerajaannya menyebar di wilayah Mandailing Julu dan Pakantan sedangkang kerajaan dari keturunan Langkitang kerajaannya menyebar di Mandailing Godang.

Raja Mangalaon Tua yang merupakan raja di Pakantan pertama dari keturunan Baitang membuka perkampungan Pakantan sekitar tahun 1540.

Letak Geografis[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu wilayah batas Mandailing Godang sampai Sayur Matinggi, Angkola Jae. Ke hilir Mandailing Julu sampai ke Limo Manis, tidak termasuk Muara Sipongi ke hulu dan juga tidak termasuk wilayah Pakantan.

Karena dahulu Gouverment (pemerinta Belanda) sudah menetapkan satu kampung tempat Raja Panusunan seperti Mandailing Kecil ada empat, yaitu: Tamiang - Manambin - Singengu dan Tambangan.

Begitu juga dengan Pakantan yang dibagi menjadi: Pakantan Buhit (Pakantan Dolok) disebut juga Tamiang, dan Pakantan Lombang.

Dalam keseharian (pada tempo dulu) apabila ada masyarakat Pakantan yang akan meninggalkan wilayah Pakantan dan ditanya: "mau pergi ke mana?" maka akan dijawab: "giot tu Mandailing" (pergi ke Mandailing). Hal itu disebabkan karena wilayah Pakantan dulunya bukan bagian dari wilayah Mandailing, dan masyarakatnya selalu mempertahankan identitas adat budayanya sebagai "halak Pakantan" (orang Pakantan) atau "urang Pakantan."

Pakantan termasuk dalam wilayah adat wilayah Muarasipongi. Pakantan berbatasan langsung dengan Rao di Pasaman. Itu sebab nya Pakantan juga menganut adat matrilineal, yang disebut Sumando Serikat, yaitu perempuan menjemput lelaki. Pakantan menganut prinsip pemerintahan Tigo Tungku Sejarangan, yaitu kepemimpinan bersama antara para Datuk (yang memimpin setiap suku/sako yang ada di Pakantan), para ulama d

an Raja Panusunan Bulung.

Pakantan terbagi dua kuria, yaitu Kuria Pakantan Dolok dan Kuria Pakantan Lombang. Akibat campur tangan Belanda Pakantan terbagi dua, yaitu pada masa Raja Panusunan ke-4. Raja Panusunan Bulung terakhir dari Pakantan Dolok adalah Partomuan Lubis gelar Patuan Dolok III (1932-1946), yang merupakan raja ke-7 Tamiang atau raja ke-11 Pakantan, dan ada pula Raja Panusunan Bulung Pakantan Lombang, yaitu Mangaraja Dolok alias Raja Mangatas (1920-1946).

Kini, Raja Panusunan Bulung Pakantan Dolok, yang berfungsi sebagai kepala adat sekarang terbagi dua, yaitu Patuan Dolok Lubis dan H. Chandra Lubis gelar Sutan Lembang. Kedua-dua nya dari Bagas Godang Tamiang. Untuk Kuria Pakantan Lombang sebelum nya dipimpin oleh Raja Panusunan Bulung Aboe Bakar Lubis gelar Sutan Singasoro, dan sekarang dipimpin Ursan Lubis gelar Sutan Singasoro.

Pakantan termasuk wilayah adat Mandailing Julu, yang terdiri atas kuria-kuria yang dipimpin keturunan Namora Pande Bosi. Ada 7 Kuria di Mandailing Julu, yaitu :

Kuria Tamiang

Kuria Singengu

Kuria Manambin

Kuria Tambangan

Kuria Pakantan Dolok

Kuria Pakantan Lombang

Kuria Sayur Maincat

Ciri Khas Adat Budaya[sunting | sunting sumber]

Ditemui banyak ciri khas peradatan dan budaya yang berbeda dengan tempat lain sekitarnya termasuk Mandailing.

Seperti halnya:

- Di Mandailing dikenal adanya Raja Panusunan sedangkan di Pakantan tidak ada, tetapi di Pakantan ada yang disebut dengan "Pamutus Hata"

- Di Mandailing di kenal "Anak Boru / Pisang Raut" namun di Pakantan dikenal dengan istilah "Parserean / Parsinggiran"

- Di Mandailing dikenal "Mora" sedangkan di Pakantan dikenal dengan istilah "Hula-hula"

- Di Mandailing alat kesenian Gordang Sambilan digunakan sebagai pelengkap adat namun di Pakantan kesenian Gordang Sambilan bukan hanya sebagai pelengkap adat namun dalam sejarahnya juga digunakan sebagai pemanggil "Baso" atau ritual tersebut dikenal dengan sebutan "Manyarama".

- Tiga irama Gordang Sambilan yang berasal asli dari Pakantan yaitu: Sarama Datu, Sarama Babiat dan Pemulihon.

- Masyarakat Pakantan memiliki bahasa dengan dialek khas yang juga berbeda dengan masyarakat di Mandailing pada umumnya.

Kesenian Gordang Sambilan dan Gondang dari Pakantan sudah sangat terkenal dari zaman dahulu sampai ke mancanegara, bahkan sampai saat ini pun kesenian Pakantan masih selalu menjadi yang terdepan.

Di Medan, Kesenian Gunung Kulabu (kesenian khas Pakantan) dengan Gondang dan Gordang Sambilan nya paling menonjol daripada wilayah lainnya di Tapanuli Selatan, sehingga sempat melalang buana hingga ke "Negara Paman Sam". Begitu juga di Jakarta, sempat hadir di Istana Bogor saat peresmian pernikahan putri wakil presiden saat itu yaitu Bapak H. Adam Malik.

Pada bulan November 2017 Grup Kesenian Gunung Kulabu dari Pakantan kembali dipercaya sebagai pengisi acara adat dalam kegiatan pernikahan putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Medan.

Kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Pakantan sangat kental dengan persaudaraannya tanpa pernah memandang dari kekayaan dan keyakinannya masing-masing. Itu sebabnya kemasyarakatan di Pakantan selalu terjalin kompak, harmonis dan penuh dengan toleransi.

Di Pakantan dua agama yang yaitu Islam (mayoritas) dan Kristen selalu bisa hidup berdampingan secara harmonis

Misi Zending Belanda pernah menugaskan Hendrick Dirks untuk berkiprah di Pakantan. Atas persetujuan kepala kuria Pakantan Lombang, Raja Mangatas, ia mendapat pinjaman tanah tahun 1871. Akhirnya Dirks membuat rumah diatas tanah pinjaman tersebut. Kemudian kampung itu dikenal dengan nama Huta Bargot.

Masuknya penyebaran agama Kristen ke Pakantan, sudah lebih dulu dibandingkan masuknya Kristen ke daerah Silindung dan Toba. Ajaran Kristen ke Pakantan dibawa oleh penginjil dari Rusia dan Swiss tahun 1821, sedangkan ajaran Kristen yang dibawa ke Toba. Itulah sebabnya gereja tertua di Tapanuli Selatan terletak di Pakantan Huta Bargot.

Dalam suatu perkumpulan, yang namanya "Halak Pakantan" selalu tampil pada jajaran terdepan, yang memiliki falsafah: "harus menjadi yang terdepan, atau tidak sama sekali". Sifat agresif ini dapat terlihat di rantau baik dalam berbagai bidang, seperti dalam hal kesenian.

Dapat disimpulkan bahwa halak Pakantan selalu berusaha menjadi yang terdepan baik secara individu maupun kebersamaan.

Tokoh dari Pakantan[sunting | sunting sumber]

  • Parlindungan Lubis, Ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda 1938-1941.
  • Sakti Lubis dan Martinus Lubis,pejuang melawan Belanda di Tembung tahun 1947.
  • Sutan Mompang Soripada, komandan Resimen Tapanuli Selatan.
  • Ronggur Patuan Malaon, mantan Kepala Kehutanan Luar Jawa dan Madura.
  • Prof. DR AP Parlindungan,pakar Hukum Agraria dan mantan Rektor USU.
  • Kolonel Purn. Dahlan Lintang Mantan Kastaf Kodam II BB.
  • Alm. Samsi B Nasution Pengusaha Jakarta.
  • Dr. Ir. Adnan Buyung Nasution, S.H., pakar Hukum, pejuang HAM dan penasihat Presiden.

Referensi[sunting | sunting sumber]